Tiga GadisBar-bar(Jatuh Cinta)

Tiga GadisBar-bar(Jatuh Cinta)
Pria Gila


__ADS_3

Sepanjang siang Yasmin disibukkan dengan tumpukan buku yang menggunung di depan mata. Bahkan, teman dekatnya yang baru pun merasa iba atas kesialan Yasmin yang menjadi incaran Mr. Darren.


Seantero kampus bahkan tau, Mr. Darren sedang mengincar Yasmin. Yasmin yang polos pun hanya tau mengikuti apa yang di perintahkan Mr. Darren kepadanya tanpa bertanya apapun.


Setelah berjam-jam berkutat dengan buku-buku tebal itu di perpustakaan kampus, Yasmin langsung menyerahkan tugasnya pada Mr. Darren yang ternyata sedang sibuk dengan sebuah berkas di tangannya.


Tok tok tok


"Permisi Sir, saya Yasmin. Saya hendak menyerahkan tugas," ucap Yasmin dari balik pintu.


"Masuk," sahut Darren tanpa mengalihkan pandangan.


"Letakkan saja di meja," sambung Darren.


Yasmin pun meletakkan tugasnya di meja sambil berpamitan karena sudah tak ada keperluan lain lagi. Baru memegang hendel pintu, Darren langsung meletakkan berkas yang sedari tadi di pegangnya.


"Siapa yang izinkan kamu pergi dari sini?" Ucap Darren.


"A-ah, ti-tidak ada Sir," jawab Yasmin terbata.


Darren pun memeriksa tugas Yasmin dan betapa terkejutnya ia mendapati tugas Yasmin yang begitu bagus sesuai ekspektasi Darren.


"Tugas kamu jelek. Dan sebagai hukumannya, mulai besok kamu menjadi asisten saya. Tugasmu menyiapkan bahan materi sebelum saya mengajar, memeriksa absen dan jangan sampai ada yang ketahuan memalsukan absen. Jika itu terjadi, kamu yang akan bertanggungjawab. Juga satu lagi, ucapan dan perintah saya adalah mutlak," ucap Darren tersenyum miring.


"Wait! Kenapa mereka yang titip absen aku yang bertanggung jawab Sir!" ledak Yasmin tiba-tiba membuat Darren terkejut.


Darren yang mendapati sisi lain Yasmin hanya menyeringai sambil melangkah mendekat. Yasmin pun sontak mundur.


"S-sir, anda-anda. Maaf Sir, saya tidak bermaksud membentak anda," ucap Yasmin terbata sambil terus mundur.


Darren menyudutkan Yasmin ke pintu. Wajah Yasmin yang tampak memerah menunduk tak berani menatap dosen killernya itu.


"Kenapa? Tidak mau?" tanya Darren.


Yasmin hanya mematung, tersedot kedalam lamunannya. Membayangkan apa yang hendak dilakukan oleh Mr. Darren terhadapnya. Terlebih lagi, ruangannya tidak ada CCTV.


Tanpa Yasmin sadari, Mr. Darren sudah membuka pintu disebelahnya. Hingga Darren menatap Yasmin dengan sebelah alis yang terangkat.


"Saya menyuruh kamu keluar," lanjut Darren sambil menatap Yasmin hingga tersipu malu.


"A-ah, baiklah. Te-terima kasih Sir," ucap Yasmin.


"Satu lagi, saya sudah bilang bahwa ucapan saya mutlak. Jadi kamu tidak berhak tawar-menawar dengan saya," ucap Darren sambil menutup pintu.

__ADS_1


Yasmin yang kesal hanya bisa melampiaskan pada lantai. Juga, ia mendapati jantungnya yang berdegup begitu kencang ketika berdekatan dengan Mr. Darren.


"Aku ini apa-apaan. Kenapa malah deg-degan sama Mr. Darren. Mana mikir yang nggak-nggak lagi," ucap Yasmin sambil memukul kepalanya.


Sedangkan Darren di dalam ruangannya tampak gelisah, terbayang wajah Yasmin yang merona tadi. Namun, ia berusaha menetralkan perasaannya karena Yasmin adalah mahasiswanya.


"Ah, sial! Ada apa dengan diriku. Yang ku cintai hanya dia. Tidak mungkin aku jatuh cinta pada gadis ingusan itu hanya karena wajahnya yang mirip dengan dia," erang Darren sambil menjambak rambutnya frustasi.


Akhirnya Darren memilih pulang ke rumah keluarga Wijaya yang sebenarnya sudah dari 3 hari lalu Darren diminta pulang oleh ayahnya. Karena ada hal penting yang ingin ayahnya bicarakan dengannya.


Sedangkan Kinan sedang membantu kakaknya untuk menjaga toko, karena kebetulan hari ini dia libur kerja. Bukan libur sih lebih tepatnya meliburkan diri dari gangguan Kenzo.


Saat sedang asyik memainkan ponselnya terlihat seorang pria yang masuk ke dalam, membuat Kinan berhenti memainkan ponselnya.


"Selamat siang dan selamat datang di toko kue tiga serangkai, ada yang bisa saya bantu!" sapa Kinan dengan lembut.


"Siang, saya cuma mau tanya. Apakah mbak ini melihat jam tangan saya?" tanya Keenan.


Ekspresi wajah Kinan berubah ketika Keenan memanggilnya dengan sebutan 'Mbak'. Tapi dia tidak tersulut emosi dan harus bisa menahan amarahnya.


"Hello, kenapa diam! Saya sedang bertanya dengan anda," ucap Keenan kembali.


"Eh.. Maaf. Tapi saya tidak melihat jam tangan anda, karena saya bukan pelayan toko ini." ucap Kinan penuh penekanan.


"Kalau bukan pelayan toko, kenapa mbak ada disini," ucap Keenan.


Baru saja Kinan mau menjawab terlihat Ara yang baru saja turun, dan melihat Keenan sudah berada disitu. Ara langsung menghampiri adiknya dan Keenan, karna dia tahu jika adiknya yang satu itu gampang tersulut emosi.


"Ada apa ini Dek?" tanya Ara.


"Ini Kak, Om ini tanya tentang jam yang tertinggal disini," ucap Kinan.


"Oh iya, Kakak yang menyimpan jam tangan itu. Sebentar saya ambilkan dulu tuan," ucap Ara kemudian mengambil jam tangan milik Keenan.


"Adik sama Kakak, begitu sangat berbeda," gumam Keenan tersenyum.


Kinan kembali memainkan ponselnya tak lama ada seseorang yang masuk ke dalam tokonya lagi. Orang itu adalah Kenzo yang ingin menemui Kinan.


"Honey!" panggil Kenzo.


Kinan yang merasa tidak asing dengan suara itu pun langsung menoleh ke arah pintu. Dan benar saja terlihat Kenzo yang sedang tersenyum dengannya.


Kinan hanya menghela napas, padahal hari ini dia ingin terbebas dari Kenzo malah Kenzo sendiri yang menghampirinya.

__ADS_1


"Honey, kenapa kamu tidak masuk kerja? Kenapa tidak mengabariku juga?" beberapa pertanyaan keluar dari mulut Kenzo membuat Kinan jengah.


"Tidak ada apa-apa, Pak," jawab Kinan dengan memutar bola matanya.


"Dia siapa, Honey?" tanya Kenzo yang mendapati Keenan berada di tempat yang sama.


"Om galak." Jawaban Kinan membuat Kenzo mengangkat sebelah alisnya. Sedangkan Keenan lebih memilih diam dan cuek.


Tak lama, Ara menghampiri mereka bertiga dengan membawa jam tangan milik Keenan. Dia berjalan cepat, agar Keenan tak menunggu lama. Dia berjalan tanpa melihat bagian bawah kursi yang menyembul.


Bruk.


Ara terjatuh dalam pelukan Keenan. Pandangan mereka bertemu, jantung keduanya sama-sama berdegup kencang. Cukup lama mereka berdua saling tatap, hingga suara Kenzo membuat Ara dan Keenan sadar.


"Oh, dia calon kakak ipar," celetuk Kenzo.


"Ah, ma-maaf Tuan. Saya tidak sengaja," ucap Ara sedikit terbata. Sedangkan Keenan cepat-cepat menetralisirkan jantungnya.


"Sial, kenapa jantungku?" batin Keenan.


"Sudah tak apa," ucap Keenan.


Ara pun memberikan jam tangan milik Keenan. Pipinya sudah merona sebab kejadian barusan. Bisa-bisanya dia masuk dalam pelukan Keenan. Apalagi jantungnya yang berdetak tak seperti biasanya.


"Terimakasih, permisi!" ucap Keenan tanpa menunggu jawaban.


"Beruang kutub." Kesal Ara lantaran Keenan berlalu begitu saja.


"Ya ampun, ada drama korea barusan. Ternyata kakakku tidak jomlo lagi, ya," ucap Kinan dengan nada meledek mendapat pelototan dari Ara.


Ada rasa senang, pun ada rasa kesal. Senang karena akhirnya sang kakak bisa mengenal lelaki tanpa harus dijodohkan. Kesalnya, kenapa harus om galak itu yang mendekati kakaknya.


"Aku pul, suasana macam apa ini?" tanya Yasmin yang masih di ambang pintu.


"Kakak ipar kenapa ada disini? Kak Kinan juga ngapain pake celemek?" sambung Yasmin dengan polosnya.


"Diam kamu bayi dugong! Dia bukan kakak iparmu," sahut Kinan kesal merasa diejek Yasmin.


Ara pun memberi tatapan mematikan pada Yasmin yang hanya di respon acuh oleh Yasmin.


"Punya adek laknat semua. Baiknya ku buang saja kalian ke Amazon dan kamu, ngapain kamu masih disini?" tanya Ara pada Kenzo yang tampak begitu lengket pada Kinan.


Ara yang merasa terancam langsung menyuruh Kinan mendekat padanya. Dan langsung mengusir Kenzo dengan kasar karena Kenzo tak terlihat seperti pria yang baik dimata Ara.

__ADS_1


"Ah, maaf. Sepertinya kakak ipar salah paham. Saya bos Kinan di kantor. Tapi kalo disini saya calon suami Kinan," ucap Kenzo tanpa beban.


Ara dan Yasmin sontak menatap Kinan berbarengan. Karena mereka tak tahu identitas Kenzo yang sebenarnya.


__ADS_2