
Kriiing Gggg!
Alarm Yasmin berbunyi sangat keras hingga memenuhi seluruh penjuru mansion. Kinan yang kamarnya bersebelahan dengan kamar Yasmin terkejut setengah mati.
"Kiamat!" teriak Kinan.
"Astaghfirullah, alarm siapa sih ini!" ucap Kinan dengan kesal.
Kinan pun langsung menuju sumber suara dan mendapati awalnya dari kamar Yasmin. Kinan langsung menerobos masuk karena Yasmin yang tak kunjung mematikan alarmnya.
"Bayi dugong! Astagaaa!" teriak Kinan lagi mendapati Yasmin yang masih tampak sangat lelap dalam balutan selimut.
Kinan memijit pelipisnya, pusing dengan kelakuan adiknya yang tak berakhlak. Namun, bukan Kinan namanya jika ia tak mampu melampiaskan rasa kesalnya. Ide-ide jahil pun bermunculan di benak Kinan.
"Rasain kamu bayi dugong! Makannya jangan ganggu pagi indah seorang Kinan," ucapnya sambil tertawa pelan.
Kinan langsung pergi dari kamar Yasmin dan mulai bersiap-siap ke kantor juga melayani Kenzo.
Tak berapa lama, Yasmin terbangun dan langsung menuju dapur karena haus. Sedang Ara yang sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk masak sangat terkejut dengan kehadiran Yasmin.
"Astaghfirullah, tuyul!" teriak Ara.
"Hei, Markonah! Abis perang dimana kamu? Tapi tumben loh kamu pagi-pagi udah cantik," ucap Ara menahan tawa.
Yasmin pun hanya menatap kakaknya dengan raut bingung dan datar khas orang bangun tidur dan langsung kembali ke kamar setelah selesai minum.
"Ahh, malas sekali aku hari ini. Semoga saja Mr. Darren sudah pindah planet," desah Yasmin malas.
Yasmin langsung menyambar handuknya dan pergi ke kamar mandi dengan mata setengah terpejam. Yasmin yang takut dengan cermin pun tak mengindahkan kehadiran cermin di kamar mandi dan malah lebih memilih menutupinya menggunakan kain.
"Morning everyone!" teriak Yasmin yang sudah siap untuk berangkat ke kampus.
"Markonah, kamu belum mandi ya?" tanya Ara.
"Annabelle, kamu udah siap? Mau Kak Kinan anterin nggak?"
Yasmin langsung duduk tanpa menjawab pertanyaan kedua kakaknya.
"Mor-. Pengemis darimana ini?" tanya Kenzo dengan wajah datar.
"Kakak ipar, Honey. Siapa yang ngizinin pengemis masuk ke rumah?" tanya Kenzo lagi.
"Mana ada pengemis kakak ipar?" tanya Yasmin sambil terus memakan roti.
"Kau diamlah pengemis. Aku bukan kakak iparmu. Cuma Yasmin yang berhak memanggilku dengan sebutan itu," tegas Kenzo membuat Yasmin terkejut. Tak biasanya Kakak iparnya berbicara seperti ini.
Sedangkan Ara dan Kinan, jangan ditanya. Mereka berdua sudah berusaha sekuat tenaga menahan tawa. Rencana Kinan kali ini berhasil mengerjai bayi dugong.
"Honey, duduk dan diamlah. Biar aku siapin sarapanmu," ucap Kinan malas membuat Ara dan Yasmin tersedak akan panggilan 'Honey'
__ADS_1
"Sej-," ucapan Ara terhenti saat mendengar ocehan Kinan.
"Diamlah, Kak. Demi kebaikan bersama," ucap Kinan seraya menyiapkan sarapan untuk Kenzo.
Ara dan Yasmin hanya mengedikkan bahunya, mungkin nanti bisa tanya-tanya ke Kinan lagi.
"Ah iya, kau pengemis kenapa masih di sini?" tanya Kenzo dengan raut tidak suka.
"Dia itu bayi dugong, jadi diamlah," bisik Kinan membuat Kenzo hampir tersedak.
"Astaga, mereka berdua ini ada aja kelakuan ajaibnya," batin Kenzo.
Yasmin yang notabennya memang suka makan pun diam saja, menganggap obrolan para kakaknya itu unfaedah. Memilih abai dan meneruskan sarapannya.
Ara, Kinan, juga Kenzo juga berusaha menahan tawa agar tidak ketahuan.
"Astoge," teriak Yasmin saat melihat jam pergelangan tangannya sudah siang. Artinya dia sudah harus berangkat sebelum terlambat.
Di pintu depan mansion Yasmin berpapasan dengan beberapa pekerja Kenzo yang hendak bersih-bersih. Mereka tampak tertawa melihat Yasmin dari kejauhan.
"Ada apa? Kenapa kalian tertawa? Aku kan sedang tidak stand up comedy,"ucap Yasmin dengan polosnya.
"Anu Nona. Ini," ucap salah satu tak berani mengatakan yang sebenarnya namun menyodorkan sebuah cermin kecil.
"Huaaa! Kak Ara, Kak Kinan. Kalian kejam sekali," teriak Yasmin sambil merengek.
Kinan pun langsung memberikan kapas yang sudah ia beri make up remover.
Yasmin yang merasa terbully langsung berlalu pergi dengan raut kesal. Sedangkan Ara, Kinan dan Kenzo tetap bergeming Tak memperdulikan Yasmin yang kesal.
Setibanya di kampus, Yasmin ragu-ragu untuk masuk. Mengingat kejadian pahit yang ia alami belum lama ini. Terlebih lagi, semua orang masih tampak berbisik-bisik di belakangnya juga ada beberapa yang memandangnya aneh.
"Ahh, harusnya aku tak berangkat saja jika begini," batin Yasmin.
"Ekhemmm!"
Sebuah deheman yang terdengar tepat dari belakang Yasmin membuatnya menepis agar orang tersebut mendahuluinya berjalan.
"Ekhemmm!"
Pria di belakang Yasmin kembali berdehem. Yasmin yang mulai terpancing emosi pun menoleh.
"Kenapa sih! Jalanan lebar woi. Gang-," ucapan Yasmin terhenti setelah melihat siapa yang di belakangnya itu.
"Sial! Kenapa si pembunuh berantai ada di sini sih. Aku kabur aja kali ya," batin Yasmin.
Baru hendak lari, tangan Yasmin sudah dipegang Darren dari belakang.
"Kau mau kemana kelinci kecil? Bukankah kau harus bertanggung jawab atas semua pekerjaanku yang terbengkalai belakangan ini?" bisik Darren lengkap dengan smirk kejamnya.
__ADS_1
Yasmin pun menelan ludah mendengar setiap penggal kata yang keluar dari mulut Darren.
"A-apa hubungannya denganku?" tanya Yasmin terbata.
"Memangnya siapa lagi, hmmm?" tanya Darren dengan lembut.
'Apa lagi ini ya salam, bisa-bisa meninggoy aku kalau begini. Tenggelamkan saja aku di Antartika,' batin Yasmin.
"Y-ya mana saya tau, itu 'kan pekerjaan bapak." Yasmin masih mencoba rilex, tetapi nihil. Dia masih saja terbata saat bicara dengan Darren.
"Oh, pekerjaanku, ya?" Yasmin hanya mengangguk polos, membuat Darren makin gemas.
"Ikut denganku." Darren menarik pelan Yasmin, tetapi yang ditarik malah diam di tempat. Sebab, Yasmin masih sedikit takut setelah kejadian kemarin yang menimpanya.
"Ta-tapi, Pak," ragu Yasmin.
"Tenang. Tidak akan ada yang berani mengganggumu lagi." Sorot mata Darren berhasil membuat Yasmin menurut. Yasmin pun pasrah ketika diseret menuju ruangan Darren si pembunuh berantai itu.
"Ngapain, Pak?" tanya Yasmin saat berada di depan pintu.
"Menagih tanggung jawab kamu," ucap Darren membuat Yasmin terperangah.
"Tanggung Jawab gimana, Pak?" tanya Yasmin polos.
"Sial! Bagaimana aku bisa masuk ke kandang singa. Sudah jelas pintunya dikunci, aaa menyebalkan,' batin Yasmin.
"Lihat itu," ucap Darren seraya menunjuk ke arah meja dengan tumpukan kertas yang hampir menggunung.
"Di situ ada kertas, Pak. Memangnya kenapa? Masa Bapak tidak tahu kalau itu kertas," ucap Yasmin asal.
"Kamu harus membantu saya mengerjakan semuanya," bisik Darren membuat Yasmin melotot.
"What?" kaget Yasmin.
"Pelankan suaramu, kelinci kecil." Spontan Yasmin langsung membekap mulutnya.
Yasmin menghadap ke belakang, hampir saja dia berteriak lantaran posisi Darren dan dirinya sangatlah dekat. Jadi, dia bisa mencium wangi parfum milik Darren.
"Cantik,"batin Darren yang tengah memandang Yasmin dari arah dekat.
"Astaga, apa-apaan ini?"batin Yasmin.
"Saya tahu kalau saya tampan," ucap Darren membuat Yasmin tersadar dan mundur dua langkah. Posisi tadi membuatnya tidak nyaman, lantaran terlalu dekat dengan Darren. Tidak hanya itu, sudah dipastikan muka Yasmin sudah memerah layaknya tomat.
"Ah, lebih baik kamu duduk dan bantu semua pekerjaan saya," perintah Darren.
"Kok-," ucapan Yasmin terhenti.
"Tidak ada penolakan," tegas Darren membuat Yasmin mencebik kesal. Mengapa harus dirinya yang membantu pembunuh berantai itu coba? Mengapa tidak orang lain saja? Antara kesal dan takut bercampur menjadi satu. Memilih menurut daripada terkena imbas lebih dari ini.
__ADS_1
"Kamu tidak tahu betapa khawatirnya aku kelinci kecil? Melihatmu baik-baik saja sudah cukup buatku lega. Setelah ini, aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu. Tidak akan,"batin Darren. Matanya tertuju pada Yasmin yang sibuk dengan kertas yang ada di tangannya.