Tiga GadisBar-bar(Jatuh Cinta)

Tiga GadisBar-bar(Jatuh Cinta)
Melamar Pekerjaan


__ADS_3

Pagi ini adalah pagi pertama mereka di ruko ini. Ya walaupun hanya dua lantai, setidaknya bisa untuk ditinggali sementara waktu sampai uang terkumpul.


Kali ini, Kinan yang bangun terlebih dulu. Entah angin dari mana dia bisa bangun lebih dulu dari kakaknya. Dilihatnya, Ara dan Yasmin masih tertidur pulas setelah tadi salat shubuh. Saat ini, jam masih menunjukkan pukul lima pagi.


"Masih ada waktu, sebaiknya aku siapin berkas-berkasnya dulu, sebelum Kak Ara dan Yasmin bangun. Bisa-bisa direcokin ntar," gumam Kinan geleng-geleng kepala mengingat betapa durjananya sang kakak dan bayi dugong itu.


Kinan mulai menyiapkan berkas yang dibutuhkan untuk melamar pekerjaan. Lima belas menit kemudian, Ara terbangun. Dia melihat Kinan berkutat dengan kertas, dia bingung apa yang tengah dilakukan sang adik hingga seserius itu.


"Dek?" tanya Ara tiba-tiba.


"Astaghfirllah, setan!" teriak Kinan yang terkejut dengan kedatangan kakaknya, membuat Yasmin yang masih di alam mimpi ikut terbangun.


"Aaa, mana setan? Mana setan? Kakak tolongg, aku takut. " Yasmin langsung mencari kedua kakaknya. Sementara Kinan, dia ikut berlari ke arah Yasmin.


Ara hanya diam memasang wajah galaknya dengan tangannya yang dilipat.


"Astaghfirullah, ini Kakak kalian. Kalian perlu Kakak guyur air biar sadar?" ucap Ara pada kedua adiknya yang berpelukan sambil memejamkan mata karena ketakutan.


Yasmin pun langsung mengintip dari ekor matanya dan sontak mendorong Kinan karena ia mendapati Ara dengan wajah galaknya.


"Ish! Kak Kinan nih, ngapain coba peluk-peluk Yasmin? Orang cuma Kak Ara kok," cebik Yasmin pura-pura berani.


Kinan yang kesal dengan perlakuan Yasmin langsung menjitak kepala Yasmin.


"Heh, bayi dugong. Kamu tadi juga ketakutan kalo kamu lupa," kata Kinan sinis.


Akhirnya, Yasmin dan Kinan terus adu mulut membuat Ara semakin jengah dengan tingkah adik-adiknya.


Memang sudah biasa tak pernah ada pagi tenang bagi mereka bertiga. Apalagi, jika Yasmin sedang terbully.


"Kinan, tadi kamu ngapain?" tanya Ara yang sedang duduk menonton perdebatan Kinan dan Yasmin.


"Hah? Yang mana Kak?" tanya Kinan dengan polosnya.


Ara memijit pelipisnya pelan mendapati Kinan yang tertular kelemotan Yasmin.

__ADS_1


"Beh, gini nih kalo udah ketularan Yasmin. Tadi kamu pegang berkas-berkas apa Kinan sayang?" tanya Ara penuh penekanan.


Kinan pun masih berfikir, mencerna apa yang dimaksud Ara.


"O-oh itu, itu berkas buat lamar kerja Kak. Kan kita masih perlu bayar sewa ruko sama kuliahin bayi dugong ini," ucap Kinan sambil mencubit pipi Yasmin.


"E-eh? Aku? Kuliah lagi Kak? Aku bantuin Kak Ara sama Kak Kinan cari uang aja ya? Buat bayar kuliah kan mahal Kak," pinta Yasmin memelas.


Melihat tak ada tanda-tanda persetujuan dari kedua kakaknya, Yasmin pun hanya bisa terus mencoba membujuk keduanya.


Namun, tetap saja kedua kakaknya itu bersikeras menguliahkan Yasmin seperti sebelumnya. Karena bagaimana pun, pendidikan selalu diutamakan dalam keluarga Pratama. Apalagi sebagai keluarga terpandang yang memiliki bisnis bertaraf internasional. Tentulah harus ada pewaris yang mengelola perusahaan keluarga nantinya.


Kinan pun bersiap untuk mencari pekerjaan, dia harus semangat demi adiknya agar tidak putus kuliah. Tapi sebelum itu Kinan membantu kakaknya membereskan ruko karna mulai besok toko sudah mulai buka.


"Kakak, aku berangkat dulu ya! Do'akan aku supaya cepat dapet kerjaan." ucap Kinan kepada kakaknya.


"Iya pasti, kamu hati-hati. Kalau tidak dapat kerjaan lebih baik kita ngurus toko kue saja," ucap Ara.


Kinan mengangguk, lalu dia pun pergi mengunakan taksi online. Sebelum itu Kinan sudah mencari lowongan di perusahaan besar di Kota itu. Dan dia pun mendapatkannya.


20 menit, dia sampai di Kantor tersebut dia menatap gedung pencakar lagi itu, dimana gedung yang tidak jauh beda dengan kantor milik Daddynya.


"Astaghfirullah, pantat gue." ucap Kinan meringis kesakitan.


"Aku tadi nabrak apaan sih!. Kenapa keras sekali, masa barusan aku nabrak tembok," lanjut Kinan.


Pria yang menabrak Kinan pun hanya menatap dengan tatapan yang sulit diartikan, dia begitu kagum dengan sosok wanita berhijab yang ada di hadapannya itu.


"Woy, kenapa diam bae! Bantuin berdiri ngapa!" teriak Kinan yang merasa kesal karna pria itu hanya diam mematung.


"Oh iya,, maafkan aku. Tadi aku buru-buru maafkan aku," ucap Kenzo.


Iya pria itu adalah Kenzo Junior Aberto seorang presdir di Global Group. Pria Casanova dan tengil akan tetapi Kenzo baru pertama kali terpesona dengan kecantikan Kinan.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Kenzo dengan suara beratnya.

__ADS_1


"Cih! Ya, aku tidak apa-apa. Terima kasih! Terima kasih juga sudah membuatku terjatuh," ucap Kinan kesal.


Kinan yang risih dengan tatapan aneh pria yang ada di depannya itu langsung berlalu pergi menuju meja resepsionis menanyakan tentang lowongan pekerjaan.


"Permisi, selamat pagi Mbak. Apa benar perusahaan ini sedang membuka lowongan pekerjaan?" tanya Kinan pada sang resepsionis.


Baru saja sang resepsionis hendak menjawab, Kenzo yang berdiri agak jauh di belakang Kinan memberi kode agar resepsionis itu menyuruh Kinan datang keruangannya untuk interview.


Sang resepsionis yang awalnya kebingungan pun akhirnya paham setelah Kenzo memberi kode yang lebih mudah untuk dipahami.


"Ah, iya ada Mbak. Mbak bisa langsung interview sekarang juga di ruangan sebelah kanan di lantai paling atas." Jawab resepsionis.


Kinan yang mendengar hal itu langsung meraih tangan si resepsionis berterima kasih hingga si resepsionis merasa bingung dan canggung dengan reaksi Kinan yang berlebihan.


Sedangkan Kenzo yang tadi memperhatikan dari jauh langsung memasuki lift bersiap menyambut Kinan di ruangannya.


Kenzo bahkan merapikan rambutnya lagi ketika di lift. Ia ingin terlihat lebih baik ketika bertemu Kinan nanti.


"Ah, sepertinya aku memerlukan gel rambut." Lirih Kenzo pada bayangannya dalam cermin di lift.


Sedangkan Kinan yang bahagia mendapat kesempatan emas di depan mata melangkah dengan penuh percaya diri menuju lift.


Kinan sedikit gugup memang, tapi ia yakin dengan pengalaman kerjanya di perusahaan Daddy dapat menjadi point tambah untuknya.


"Huh, semangat Kinan. Demi Kak Ara dan Yasmin," ucap Kinan menyemangati dirinya sendiri.


Ketika sampai di depan pintu, Kinan menarik napas mencoba merilekskan diri sebelum interview. Setelah merasa lebih tenang, Kinan membuka pintu kaca buram di depannya perlahan.


"Kamu!"


Kenzo pun memasang wajah tenang tapi dalam hati dia senang karena bisa melihat gadis yang membuat jantungnya berdetak kencang.


"Astoge, ternyata dia Presdir di kantor ini," gumam Kinan.


"Hei, apa kau akan terus berdiri disitu!" teriak Kenzo.

__ADS_1


Kinan pun tersadar dari Lamunannya dan segera masuk, kini mereka saling berhadapan langsung. Kinan merasa risih karena Kenzo terus saja menatap dirinya.


"Ternyata bidadari itu memang benar-benar ada," gumam Kenzo.


__ADS_2