
Seminggu kemudian setelah kejadian Ara kecelakaan, kini Ara dan Kinan sedang membersihkan toko barunya. Karena Kinan sudah berjanji ingin menyewa toko kue untuk sang kakak.
"Kak, ini mau ditaruh dimana?" tanya Kinan kepada Ara.
"Taruh di sebelah sana aja," jawab Ara sambil menunjuk ke arah meja.
Kinan pun menuruti ucapan sang kakak, dia sengaja tidak masuk kerja karena Kinan ingin membantu Ara, sedangkan Yasmin masih di mansion Kenzo. Kinan tidak mengizinkan Yasmin membuat rusuh di toko.
Seusai beres-beres Ara menyuruh karyawannya untuk menyapu dan mengepel lantai, sedangkan Kinan dan Ara ke dapur untuk membuat kue.
"Kakak yakin mau bikin roti sebanyak ini," ucap Kinan.
"Iya dong, Kakak baru saja mencoba resep baru tapi kamu yang harus nyobain dulu," ucap Ara.
"Oke, aku penasaran rasanya seperti apa," ucap Kinan dengan semangat.
Mereka pun berkutat dengan alat-alat membuat kue, memang Ara sangat pandai membuat kue karena Mom Jia selalu ngajarin Ara. Kalau Kinan dan Yasmin jangan ditanya mereka tidak suka dengan alat-alat dapur, mereka lebih makan dibandingkan harus repot-repot bikin.
Ketiga putri dari keluarga Pratama itu memiliki keahlian masing-masing, makanya banyak yang bilang kalau Ara, Kinan dan Yasmin itu gadis yang sangat unik dan langka.
"Gimana rasanya, enak tidak?" tanya Ara.
Kinan pun mencoba kue yang baru saja dibikin oleh Ara, tidak diragukan lagi Ara memang paling jago dalam seperti itu.
"Enak banget Kak," jawab Kinan.
"Really," ucap Ara.
"Of course, my sister," ucap Kinan.
"Bikin yang banyak Kak, aku yakin kalau Yasmin pasti suka dengan kue buatan Kakak," lanjut Kinan.
"Oke, kamu bantuin Kakak dan tidak ada penolakan," ucap Ara tegas.
Kinan mencebikkan bibirnya, baru saja dia ingin pamit pulang malah di suruh bantuin bikin kue lagi. Sedangkan Ara sudah hafal dengan kelakuan adiknya hanya terkekeh.
"Kamu tuh harus belajar masak, nanti kalau kamu nikah anak dan suami kamu mau di kasih makan apa," ucap Ara.
"Kan bisa sewa asisten rumah tangga, gampang bukan," jawab Kinan.
Ara menoyor kening adiknya, dia heran kenapa Kinan begitu malas dalam hal seperti itu.
__ADS_1
"Tapi terkadang suami itu pengen ngerasain masakan istrinya, jadi mulai sekarang kamu harus belajar masak," ucap Ara dengan tegas.
"Iya-iya baiklah," ucap Kinan.
Kinan pun mulai membantu Ara membuat kue. Sesekali Kinan iseng mengerjai Ara dengan menyuruh ya memberi contoh. Padahal, itu hanya alibinya saja karena Kinan malas menggunakan tangannya untuk mengaduk adonan.
Juga, selagi Kinan terbebas dari Kenzo yang sangat menyebalkan itu is memanfaatkan waktunya itu dengan sebaik-baiknya.
"Kak, cara menggunakan alat ini bagaimana?" tanya Kinan dengan raut polos.
Ara yang melihat Kinan memegang loyang kue hanya menggelengkan kepala. Ia lelah melihat adiknya yang entah itu terlalu polos atau bodoh.
"Itu, letakkan di meja saja. Setelahnya kau olesi seluruh permukaannya dengan margarin. Gunakan kuas di sampingmu itu," jawab Ara.
Ara dan Kinan tampak sangat sibuk dan serius dengan apa yang sedang mereka kerjakan itu.
Kalau Yasmin, jangan ditanya. Ia sedang Mengerjakan tugas-tugas kuliahnya yang terbengkalai setelah insiden besar yang menimpanya.
Tak jarang, ada sebersit rasa tak ingin kembali ke kampus itu. Karena itu berarti ia akan bertemu dengan dosen killernya dan tertindas lagi olehnya.
"Ahhh, tak bisakah aku berhenti kuliah saja? Rasanya aku hampir mati Mengerjakan tugas sebanyak ini," keluh Yasmin sambil menyandarkan punggungnya pada kursi.
Akhirnya ia berjalan menuju dapur. Namun tak mendapat apapun di kulkas selain sayuran.
Ara dan Kinan yang sudah selesai membuat kue pun tersenyum cerah melihat kue buatan mereka terlihat sangat sempurna tanpa celah. Kinan pun berpamitan untuk memberikan kue kepada Yasmin yang mungkin saja sudah sekarat karena kelaparan.
"Kak, aku pulang dulu ya, mau liat bayi dugong. Takutnya udah mati gegara nggak dikasih makan," pamit Kinan sambil menenteng sekotak kue.
"Iyaaa. Ah iya, Kinan. Kalau bayi dugong males-malesan tolong jitak ya biar kapok," ucap Ara sambil tertawa.
"Siap Komandan. Kinan mah baik kalo disuruh Kakak," sahut Kinan dengan tangan hormat dan tertawa.
Ara pun kembali ke dapur dan meminta tolong pada Mita dan Nisa untuk membantunya menyusun kue-kue di etalase.
Kring! Bel di ujung pintu berbunyi tanda ada pelanggan yang masuk.
Ara masih tetap fokus menghiasi kue-kue hasil karyanya bersama Kinan tadi. Sedang yang melayani pelanggan ada Mita dan Nisa.
"Permisi Mbak, saya mau sepotong kue coklat. Mmm, apa disini menyediakan minuman juga?" tanya pelanggan yang ternyata itu Daddy Heri.
"Tentu sa-" ucapan Ara terhenti ketika dia melihat siapa yang ada di depannya.
__ADS_1
"Daddy," lirihnya.
Daddy Heri pun seperti mengenali suara gadis yang ada di depannya ini, dengan cepat Ara mengubah suaranya agar daddynya tidak curiga.
"Sebentar Tuan, saya buatkan susu coklatnya dulu," ucap Ara dengan suara yang disamarkan.
"Loh, saya kan belum pesan minumannya Mbak, tapi kenapa Mbak bisa tahu jika saya menyukai susu coklat," ucap Daddy Heri yang begitu bingung.
Ara merutuki kebodohannya kenapa dia bisa lupa, memang benar daddynya belum memesan minuman.
"Ah, saya cuma menebak saja Tuan. Di musim dingin seperti ini lebih cocok minum susu coklat hangat," ucap Ara berkilah.
"Benar sekali, bikinin saya susu coklat dua dan beberapa kue dengan rasa yang berbeda," ucap Daddy Heri tersenyum.
"Baik Tuan," ucap Ara kemudian menyuruh karyawannya untuk membuatkan susu coklat dan mengambilkan beberapa kue.
Tak lama terlihat seorang wanita paruh baya masuk ke dalam, wanita itu adalah mom Jia. Ara terus menatap kedua orang tuanya, ia sangat merindukan mereka berdua.
"Mom, Dad. Aku merindukan kalian," gumam Ara dalam hati.
Ia pun menyeka air matanya, ingin rasanya dia memeluk kedua orang tuanya. Sedangkan, Mom Jia dan Daddy Heri mematung ketika mencoba kue yang dibuat Ara.
"Mom, rasanya seperti kue buatan Mom," ucap Daddy Heri.
"Iya Dad, padahal resep kue ini kan turun temurun dari keluarga Mom," ucap Mom Jia.
Ara yang tak mau ketahuan langsung bersembunyi dan menyuruh Mita untuk mengawasi dua pelanggan itu. Sedangkan Daddy Heri tampak berpikir.
"Mm, mungkin hanya kebetulan Mom. Kan bisa saja owner toko ini bereksperimen dengan berbagai resep," ucap Daddy Heri positive thinking.
"Iya kali ya Dad. Mom jadi kangen Yasmin yang suka ngabisin kue buatan Mom," balas Mom Jia sambil memandang lesu potongan kue di hadapannya.
Mereka melanjutkan menikmati kue dan susu coklat hangat sambil memegang tangan satu sama lain menguatkan.
Ara pun masih membungkam mulutnya. Mendengar obrolan Daddy dan Mommy yang samar-samar juga merindukan mereka bertiga.
"Maafkan kami, Mom, Dad. Sejujurnya kami tidak ingin seperti ini. Kami ingin seperti dulu, bisa bersama Mom dan Dad. Tapi, rasanya sulit. Entah kapan kita akan berkumpul lagi." Ara kembali meneteskan air mata, sedalam ini dia dan adik-adiknya merindukan orang tuanya.
Ara memilih pergi dari tempat itu, takut jika keberadaannya diketahui oleh Mommy dan Daddynya. Di dapur, dia lebih aman daripada di depan. Setidaknya, tadi dia bisa melihat orang tuanya dalam keadaan baik-baik saja.
Setelah menghabiskan kue dan minumannya, Mom jia dan Daddy Heri pergi meninggalkan toko kue itu. Tak lupa, mereka juga membeli kue untuk dibawa pulang. Ada sedikit rasa yang mengganjal dalam benak Mom Jia mengenai kue yang tadi dimakan. Namun, selalu dia tepis. Ya, seperti kita suaminya, mungkin sang owner tengah melakukan eksperimen.
__ADS_1