
Siang ini, Yasmin masih berkutat dengan dokumen di tangannya. Padahal, ini adalah jam makan siang. Dalam benaknya, dia tahu ini adalah ulah Kenzo.
Kenzo si casanova memang punya banyak cara untuk mendekati Kinan. Ya, dengan cara memberi tugas yang lumayan banyak salah satunya. Sebab ruangan mereka yang menjadi satu, jadi memudahkan Kenzo mengawasi gerak-gerik Kinan.
Saat tengah serius mengerjakan berkas-berkas yang menumpuk itu, Kinan dikejutkan oleh seorang wanita yang menerobos masuk. Posisinya, sekarang Kinan berada dalam ruangan seorang diri. Sontak saja dia terkejut melihat kedatangan wanita itu.
"Sayang! Kamu di mana?" teriak wanita itu.
"Mbak? Bisa diam tidak?" tegur Kinan, sebab konsentrasinya sedikit terganggu.
"Mbak? Hei, seenaknya kamu manggil aku Mbak?" ucap wanita itu dengan nada tinggi, lantaran tidak suka jika dipanggil 'Mbak'.
"Memangnya kenapa? Kamu perempuan, masa aku panggil Om," jawab Kinan santai.
"Kamu-," geram wanita itu seraya menunjuk ke arah Kinan.
"Apa?" ucap Kinan.
Kenzo datang dengan membawa makanan di tangannya.
"Sayang!" ucap wanita itu dengan nada manja, sambil bergelayut di tangan Kenzo membuat Kinan risih dengan itu semua.
"Siapa dia?" batin Kinan.
"Sisil! Jaga sikapmu!" bentak Kenzo dengan nada tidak suka.
Iya, nama wanita itu adalah Sisil. Dia salah satu perempuan yang menyukai Kenzo sejak lama. Dengan berbagai cara dia lakukan untuk mendapatkan Kenzo. Namun, tak pernah berhasil.
Sisil yang begitu lengket pada Kenzo membuat sudut hati Kinan teriris. Namun, wajahnya menampilkan raut muak.
"Siapa?" tanya Kinan dingin.
Kenzo yang mendapati Kinan menatapnya tajam langsung berusaha menepis tangan Sisil yang bergelayutan manja pada lengannya.
"Honey, aku bisa jelasin semuanya," bujuk Kenzo.
"Untuk apa? Saya cuma mau satu hal. Kalian jangan berpacaran disini, terlalu mengganggu pekerjaan saya," jawab Kinan menohok.
"Hei perempuan sok suci! Kamu siapa Berani-beraninya memerintah atasan," ucap Sisil dengan tatapan benci.
Kenzo yang tak mengambil tindakan apapun membuat Kinan kesal hingga meninggalkan ruangannya. Kinan membawa laptopnya dan beberapa pekerjaan yang sedang ia kerjakan.
__ADS_1
Kenzo yang berusaha mengejar Kinan dihentikan oleh Sisil. Kenzo bukannya tak mau mengusir Sisil, tapi Sisil lah yang terlalu sulit di tendang jauh-jauh dari dirinya. Terlebih lagi, Sisil merupakan putri dari salah satu koleganya.
"Iih, mau kemana? Perempuan kayak dia itu ngga cocok bersanding sama kamu sayang," ucap Sisil sambil bergelayutan manja di lengan Kenzo.
"Lepaskan Sisil, selagi aku masih bersikap baik padamu," ucap Kenzo muak dengan perilaku Sisil.
Namun, tiba-tiba terbesit sebuah ide untuk mengetes perasaan Kinan terhadapnya. Karena Kenzo ingin tahu apakah Kinan cemburu dengan Sisil atau tidak.
"Haruskah ku coba saja ide gila ini?" gumam Kenzo pada dirinya sendiri.
"Hah? Sayang, barusan kamu bilang apa?" tanya Sisil yang samar-samat mendengar gumaman Kenzo.
"Tidak apa-apa. Sayang, bagaimana kalau kita ke kantin saja! Kebetulan aku belum makan siang," ucap Kenzo pura-pura baik sebenarnya dia sangat malas.
"Kenapa harus dikantin sayang? Kita ke restoran mahal saja," ucap Sisil.
"Kalau kamu tidak mau terserah," ucap Kenzo yang males berdebat.
Akhirnya Sisil pun mau dan benar tebakan Kenzo kalau Kinan sedang berada di kantin juga, Kenzo pun langsung menggandeng tangan Sisil. Membuat Sisil salah tingkah karena dia berfikir jika Kenzo sudah menerima dirinya.
Sedangkan, Kinan hanya mendengus kesal karna harus melihat pemandangan yang sangat menjijikan. Kenzo memilih untuk duduk di belakang Kinan, dia ingin melihat reaksi Kinan seperti apa.
"Sayang, kamu mau pesan apa?" tanya Sisil.
"Ayo cemburulah," batin Kenzo.
Namun, Kinan hanya acuh karena dia memang tidak mempunyai perasaan dengan Kenzo. Karena dia masih menunggu cinta pertamanya itu. Karena tidak mendapatkan respon dari Kinan itu membuat Kenzo kesal.
Ingin sekali dia menggendong Kinan dan membawa pergi dari tempat itu, Kinan yang merasa ditatap dengan Kenzo hanya tersenyum mengejek dari balik cadarnya.
"Sayang, kenapa tidak dimakan? Nanti keburu dingin," ucap Sisil.
"Hem," Kenzo hanya berdehem menjawab ucapan Sisil.
Terpaksa Kenzo pun menyantap makananya, padahal dia sedang tidak lapar gara-gara ide konyolnya, dia malah terjebak dengan permainannya sendiri.
Setelah selesai makan Kinan pun langsung membayar makananya dan langsung pergi, Begitu juga dengan Kenzo yang pergi begitu saja meninggalkan Sisil di Kantin.
"Sayang, mau ke mana?" teriak Sisil.
"Sial! Siapa wanita sok suci itu? Awas kamu," gumam Sisil.
__ADS_1
Sisil memilih beranjak meninggalkan kantin, dia kesal lantaran Kenzo meninggalkannya begitu saja.
Sisi lain, Kenzo mengejar Kinan.
"Honey." Kenzo memanggil Kinan, tapi tak dihiraukan oleh Kinan.
"Honey, dengarkan aku dulu. Dia itu bukan siapa-siapa," ucap Kenzo.
Kinan terus melangkah hingga ke meja kerjanya. Dia memilih diam dan meneruskan pekerjaannya daripada menimpali panggilan Kenzo.
"Honey, ayolah, jangan begini. Dia bukan siapa-siapaku," jelas Kenzo frustrasi.
Kinan mengangkat sebelah alisnya, "Memangnya apa urusannya dengan saya Pak Kenzo? Sepertinya itu tidak penting bagi saya. Jika dia memang kekasih Bapak, ya tidak ada masalah."
Ucapan Kinan menohok Kenzo, meski Kinan sendiri juga ada rasa aneh dalam hatinya, rasanya tak tega mengatakan itu pada Kenzo. Namun, dia memilih abai.
Kenzo malah mengguyur rambutnya, dia bingung harus bagaimana menjelaskan semuanya pada Kinan.
Dia melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya. Membiarkan Kinan lebih dulu, mungkin bisa membuat Kinan lega.
"Dasar, idiot. Sudah jelas-jelas aku tak memiliki perasaan apapun padamu," batin Kinan.
"Aku harus bagaimana untuk membujuk Kinan?" batin Kenzo sambil berfikir dan memainkan bolpoin di tangannya.
Dua orang yang duduk bersebrangan itu sama-sama sibuk berperang dengan pikiran masing-masing. Yang satu mencari cara untuk bisa lebih dekat sedang yang lain mencari cara agar bisa menjauh untuk mengurangi masalah.
Kenzo yang sudah frustasi memikirkan bagaimana cara berbaikan dengan Kinan, memilih meminta saran pada sahabatnya. Karena sahabatnya yang terkenal dengan keplayboyannya pasti lebih paham soal wanita.
"Datanglah ke kantorku," pinta Kenzo melalui telepon yang langsung dimatikan tanpa persetujuan lawan bicaranya.
Tak lama kemudian, Alex masuk tanpa mengetuk pintu. Kenzo yang mendapati sahabatnya itu masuk tanpa mengetuk langsung memberinya tatapan tajam.
"Hei, mau ku potong tanganmu yang tak berguna itu?" ucap Kenzo pada Alex.
"Iya, baiklah. Maaf, lagi pu-laaa. Dia siapa?" tanya Alex setelah melihat Kinan yang tengah sibuk bekerja.
Kinan yang menyadari kehadiran Alex pun hanya mengangguk untuk menyapa. Kenzo yang melihat interaksi keduanya langsung mengajak Alex keluar karena bisa bahaya jika Kinan tergoda oleh Alex.
"Ayo ikut aku. Kita bicara di tempat lain saja," ucap Kenzo sambil mendorong Alex yang masih terpesona pada Kinan.
"Kinan, saya mau keluar sebentar. Jika ada pekerjaan mendesak tolong kamu urus dulu dan hubungin saya," perintah Kenzo pada Kinan yang di jawab dengan anggukan.
__ADS_1
Kinan pun merasa lega setelah kepergian Kenzo dan Alex yang artinya ia bisa bekerja dengan santai dan nyaman. Kinan sesekali menyandarkan punggungya pada kursi menatap langit-langit ruangannya. Sedang pikirannya yang kusut melayang jauh memikirkan cinta pertamanya yang masih tak pasti.
Apalah daya, Kinan tak bisa melakukan apapun pada perasaan yang masih bersarang di hatinya sejak lama. Bahkan, kehadiran Kenzo pun tak mampu menggeser cinta pertama yang terkadang ingin ia lepaskan. Jika dengan privilege Kenzo yang begitu luar biasa saja tidak mampu menggeser, apalagi jika Kinan harus melabuhkan hatinya pada orang yang dijodohkan dengannya itu.