
Di kantor Kenzo mendapatkan kabar kalau Daddynya akan datang, ia begitu sangat malas kalau daddynya datang pasti akan membahas calon istrinya yang kabur itu.
Kenzo terus saja menatap Kinan dia sangat mencintai Kinan, dan dia tidak mau menikah dengan gadis yang sudah dijodohkan dengan dia. Walaupun bercadar tapi Kinan masih begitu menarik karena mata coklatnya begitu memikat.
Tak lama pintu pun terbuka dan terlibat Mr. Aberto masuk ke dalam, tapi Mr. Aberto bingung kenapa ada wanita di ruangan putranya. Karena setahunya sekretaris Kenzo memiliki ruangan tersendiri begitu juga dengan asisten pribadinya.
"Siapa kamu?" tanya Mr. Aberto.
"Dia sekretaris ku," bukan Kinan yang menjawab melainkan Kenzo.
"Bukankah, Sekretaris mempunyai ruangan tersendiri. Tapi kenapa malah berada disini," ucap Mr. Aberto.
"Sudahlah, kenapa malah bahas dia. Untuk apa Daddy datang kesini?" tanya Kenzo pura-pura tak tahu.
"Kita duduk dulu," ucap Mr. Aberto.
Kenzo dan Mr. Aberto duduk di sofa sedangkan Kinan hanya diam menatap interaksi bos dan big bosnya itu. Mereka pun mulai membahas tentang calon istrinya Kenzo.
"Cih, kenapa Daddy menyuruhku untuk mencarinya? Jika dia kabur berarti ia tidak mau dijodohkan denganku," tolak Kenzo.
"Tapi, Ken. Dia gadis yang baik dan dia juga gadis yang langka." ucap Mr. Aberto.
"Dad, aku berhak memilih siapa yang akan menjadi pasanganku," ucap Kenzo dengan tegas.
"Daddy, tidak mau tahu kamu harus mencari keberadaan calon istri kamu," ucap Mr. Aberto dengan tegas kemudian pergi meninggalkan ruangan Kenzo.
Sedangkan Kenzo hanya mendengus kesal, dia pun tidak habis pikir kenapa daddynya begitu kekeh ingin menikahkan dia dengan putri dari sahabat daddynya.
Kinan yang melihat itu sempat heran, apa yang dibicarakan oleh Kenzo dan Daddynya. Seperti serius sekali.
"Sudahlah, aku tak perlu tau," gumam Kinan.
Di sisi lain, Keenan merenung dalam mobil, dia masih memikirkan yang tadi saat berkunjung ke toko kue milik Ara. Ya, tentang sikap Ara yang berbeda.
__ADS_1
Dia memutuskan untuk pulang dengan membawa kue yang dia beli tadi.
Sesampainya di rumah. Keenan yang henda masuk dihadang oleh Mommynya. Keenan hanya mendengus, pasti sang mommy hanya menanyakan keberadaan calon menantunya yang kabur itu.
"Wait, kamu dari mana? Ada kabar dari calon menantu Mom?" tanya Mrs. Anderson.
"Tidak ada." Hanya dua kata yang keluar dari mulut Keenan, membuat sang mommy mencebik. Bisa-bisanya putranya itu sangat dingin.
"Kamu cari dong, sayang. Gimana kalo terjadi sesuatu dengan calon menantu Mom? gimana kalo sampai lecet? Mom nggak mau itu terjadi," ucap Mrs. Anderson. Keenan hanya diam tanpa menimpali ucapan Mommnya.
"Itu apa?" sambungnya dengan merebut paper bag yang ada di tangan Keenan.
"Eh, Mom, itu milikku." Terlambat, sebab yang mommy sudah melahap kue yang dibelinya tadi.
"Enak, kamu beli di mana?" tanya Mrs. Anderson.
"Dari toko kue yang baru buka Mom."
Keenan pun mengekor masuk ke dalam rumah sambil tersenyum tipis membayangkan Ara yang begitu telaten bekerja. Bahkan tanpa disadari Mom dan Daddynya hingga menatap curiga, karena seekor beruang kutub tersenyum adalah momen yang sangat langka.
"Bagaimana hasil pencarianmu?" tanya Mr. Anderson membuyarkan lamunannya.
"Tak ada. Lagi pula sepertinya dia juga tak mau menjadi istriku, juga aku sudah menemukan seseorang yang ingin ku jadikan istri," jawab Keenan cuek.
"Tidak bisa! Kamu hanya akan menikah dengan putri sulung keluarga Pratama. Dad tidak menerima penolakan," bentak Mr. Anderson pada putranya.
Keenan yang jengah dengan sikap ayahnya pun langsung berlalu pergi ke kamarnya untuk istirahat dan mengecek beberapa email yang masuk.
Sedangkan Mrs. Anderson sangat terkejut dengan nada tinggi sang suami yang jarang sekali terdengar. Namun, Mrs. Anderson mencoba menenangkan sang suami.
Didikan keras di keluarga Anderson tak jauh berbeda dengan keluarga Wijaya. Dimana mereka dididik untuk memegang teguh janji yang sudah di buat.
Tampak Darren yang tengah bersantai di ruang keluarga dengan televisi yang sedang memutar film spongebob lengkap dengan cemilan di tangannya. Sesekali tertawa melihat tingkah konyol patrik dan spongebob.
__ADS_1
Drrttt ddrrrttt
Darren sontak menyambar ponsel yang ada di meja. Berharap itu orang yang sedang ia tunggu-tunggu.
"Ah, sial. Cuma operator," cebik Darren sambil membanting ponselnya pelan pada sofa.
Sialnya, Darren malah kepikiran Yasmin. Ia merasa sedikit rindu pada gadis polos yang selalu ia repotkan itu.
"Kira-kira, kamu sedang apa sekarang?" gumam Darren sambil berpikir untuk menghubungi Yasmin.
Ketika sedang asik memikirkan Yasmin, Mr. Wijaya baru pulang dari kantor dan langsung duduk di sebelah putranya. Mrs. Wijaya pun ikut menghampiri dengan secangkir teh hangat di tangannya untuk suami tercinta.
"Son, tak bisakah kamu berhenti saja jadi dosen dan menggantikan Dad mengurus perusahaan?" tanya Mr. Wijaya sambil mencoba membujuk Darren.
"Tidak mau Dad, aku tidak tertarik dengan perusahaan Dad itu," jawab Darren santai.
"Baiklah kalau begitu. Lantas, bagaimana dengan perkembangan pencarian putri bungsu keluarga Pratama yang sudah kami jodohkan denganmu?" tanya Mr. Wijaya.
Untuk sesaat Darren terdiam memikirkan apa yang harus diutarakannya. Karena ia sendiri tengah bimbang dengan perasaannya hanya karena seorang mahasiswa baru yang ia temui baru-baru ini. Mrs. Wijaya pun hanya menyimak percakapan kedua pria yang sangat di cintanya itu.
"A-," Darren yang baru hendak menjawab langsung dipotong oleh Mr. Wijaya.
"Dad, tidak menerima penolakan apapun. Keluarga kita dikenal sebagai keluarga yang selalu memegang teguh janjinya. Jadi, ingat itu son," ucap Mr. Wijaya sambil berlalu pergi untuk bersih-bersih dan istirahat.
Mrs. Wijaya yang melihat putranya sedikit murung pun menepuk bahunya kemudian menyusul suaminya.
Darren pun menjambak rambutnya frustasi lantaran ia dilema oleh perasaan dan keluarganya. Bahkan, wajah Yasmin yang memerah terakhir kali masih lekat dalam ingatannya. Seperti nikotin yang begitu candu.
"Ah, apa yang harus ku lakukan," desah Darren sambil menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa.
Entah kenapa dia merasa tidak suka dengan putri bungsu dari keluarga Pratama itu. Dia lebih tertarik dengan mahasiswa baru yang lemot dan unik itu.
Karna tidak mau ambil pusing Darren pun bergegas menuju ke kamarnya, dia ingin beristirahat sejenak agar bisa berfikir dengan tenang. Darren merupakan putra tunggal di keluarga Wijaya. Orang tuanya adalah pengusaha nomor tiga se Asia Tenggara. Namun, walaupun begitu dia tidak berminat untuk terjun ke dunia bisnis sepert Daddynya. Dia lebih suka menjadi dosen di Universitas miliknya sendiri dibandingkan dengan membantu perkerjaan Daddynya. Dan dia juga harus mencari tahu tentang calon istrinya itu.
__ADS_1