
Terlihat tiga gadis yang sedang sibuk membereskan pakaian mereka, gadis itu adalah Ara, Kinan, dan Yasmin. Kakak beradik yahg memiliki sifat yang bertolak belakang.
Hari ini mereka berencana untuk liburan ke rumah sang nenek dan kakeknya yang berada di kota M, Karna memang mereka sedang cuti kuliah dan sekolah.
"Kak Ara, bisa ambilin topi aku yang ada di depan Kakak itu," ucap Kinan sambil menunjuk ke arah topi yang ada di depan sang Kakak.
Ara pun mengambilkan topi milik Kinan, sedangkan Yasmin masih sibuk memasukan buku novel dan snack ke dalam kopernya.
"Bayi dugong, jangan banyak-banyak bawa snacknya. Kita ini mau ke rumah Oma bukan mau camping," ucap Kinan yang heran dengan adik bungsunya itu.
"Yaelah, Kak Kinan diam aja nanti juga Kakak nyomot makanan aku," ucap Yasmin.
"Sudah-sudah, kalian kalau tidak ribut sehari aja bisa tidak," sela Ara.
"Tidak," ucap Kinan dan Yasmin secara bersamaan.
Ara hanya menggelengkan kepalanya andai membunuh tidak di penjara, mungkin dia sudah membuang kedua adiknya itu ke sungai Amazon.
Setelah selesai packing mereka pun keluar dari kamar, karena sudah waktunya makan malam.
"Morning Mom, Dad," sapa Kinan saat sudah sampai di meja makan.
"Ngadi-ngadi nih anak," celetuk Mom Jia.
"Malam, Mom, Dad," sapa Ara.
"Tumben kalem," celetuk Mom Jia, membuat Ara dan Kinan mencebik.
"Mana adik kalian?" tanya Daddy Heri.
"Good malam semua," sapa Yasmin, sedangkan yang lain hanya berdehem saja.
"Makan dulu, ributnya nanti aja," peringat Mom Jia.
Makan malam terlihat sangat tenang, sebab sudah menjadi kebiasaan di keluarga ini jika makan tak ada yang boleh bicara. Hanya denting sendok dan garpu yang terdengar. Selesai makan, Ara membantu Mom merapikan meja makan. Sedangkan yang lain menuju ruang keluarga untuk berbincang santai.
"Kalian udah packing?" tanya Daddy Heri.
"Sudah, Dad. Baru aja selesai tadi," jawab Kinan.
"Memangnya kalian yakin mau ke rumah Oma? Jauh loh di sana?" tanya Mom Jia yang tiba-tiba datang dari dapur bersama Ara.
__ADS_1
"Jadi dong, Mom. Kami rindu Oma makanya kami ke sana, iya kan Kak?" seru Yasmin.
"Hilih bilang aja mau liburan." Ara menyomot snack yang ada di tangan Yasmin.
"Ish, ambil sendiri napa," sewot Yasmin.
"Ogah." Mom Jia dan Daddy Heri hanya geleng kepala melihat kelakuan tiga putrinya yang tak pernah akur, meski mereka saling menyayangi.
"Sudah-sudah. Ayo makan dulu. Abis itu kalian bertiga tidur biar besok nggak kesiangan," ucap Daddy Heri.
"Siap Dad," jawab Yasmin sambil hormat.
Setelah selesai makan malam, Ara, Kinan dan Yasmin pamit untuk tidur. Mereka kompak mencium pipi Daddy Heri dan Mom Jia bergantian sebelum tidur.
Sebelum benar-benar tidur, mereka mengobrol di kamar Ara. Merencanakan apa saja yang akan mereka lakukan nanti di rumah Oma.
"Kak, di rumah Oma nanti banyak jajan nggak ya," tanya Yasmin sambil berfikir.
"Astaga Yasmin. Sini ikut Kakak ke kamar mandi, mau Kakak cuci otak kamu biar ga mikirin jajan mulu," balas Kinan.
"Psikopat."
Yasmin langsung terdiam melihat wajah Kinan yang menyeramkan ketika marah.
"Sudah-sudah. Lihat ini, lingkungan rumah Oma pemandangannya sangat indah," ucap Ara sambil menunjukkan beberapa foto di ponselnya.
"Waahhhh, aku bakal betah pasti," sahut Yasmin dengan mata berbinar.
"Tapi sudah pasti aman kan Kak?" tanya Kinan sedikit ragu.
Ara pun dengan mantap menjawab meyakinkan adiknya yang tampak ragu itu. Apalagi Kinan memiliki pengalaman dirampok sebelumnya. Itu yang membuat Kinan ragu pada tempat-tempat asing yang akan ia datangi.
Ara pun memperingatkan kedua adiknya, "Tapi kalian harus jaga sikap ya disana."
Panjang lebar mereka bercerita hingga hampir lupa waktu. Dan akhirnya Kinan dan Yasmin kembali ke kamar mereka untuk istirahat. Sedang Ara mengecek lagi barang bawaannya yang sudah selesai ia packing.
"Loh, kok ini masih disini. Perasaan udah semua deh tadi," gumam Ara melihat beberapa keperluan mandinya yang masih tergeletak begitu saja di samping koper.
Ara pun tak ambil pusing, mungkin dia lupa memasukkannya tadi. Meskipun Ara bukanlah orang yang ceroboh seperti Yasmin.
Ketika semua sudah dipastikan tak ada yang tertinggal, Ara langsung cuci muka dan gosok gigi sebelum tidur.
__ADS_1
Malam yang semakin larut pun memaksa mata untuk memejam, mengistirahatkan badan yang sudah kelelahan.
Namun, sebelum tidur Kinan merasa ada yang ganjal. Tapi dia tidak terlalu peduli dengan itu, ia pun langsung cuci muka dan gosok gigi lalu bergegas untuk tidur.
Pagi harinya, Ara bangun terlebih dahulu dia memang suka membantu Mom Jia memasak untuk sarapan, sedangkan kedua adiknya yang tidak punya akhlak itu masih bergelung di dalam selimut tebal mereka.
"Kak, apa kamu yakin tidak mau Daddy temani?" tanya Daddy Heri.
"Tidak usah, Dad. Aku bisa jaga diri dan menjaga kedua adikku," ucap Ara.
"Tapi, mengapa perasaan Mom jadi tidak tenang kayak gini ya," sahut Mom Jia.
"Mom, jangan khawatir ya! Ara, Kinan dan Yasmin akan baik-baik saja," ucap Ara meyakinkan kedua orang tuanya itu.
"Baiklah, Daddy percaya jika kamu mampu menjaga Kinan dan Yasmin, tapi ingat setelah kalian sampai cepat kabarin Daddy," ucap Daddy Heri.
"Siap Dad," ucap Ara tersenyum.
Tak berapa lama Kinan dan Yasmin masuk ke ruang makan dan bergabung dengan kedua orang tua serta kakaknya.
"Tumben kalian bangun cepat," ucap Mom Jia.
"Kami memang tidur bareng Mom, katanya Yasmin pengen ngerasain kasur empuk milikku," celetuk Kinan.
"Yey, Kak Kinan fitnah aja. Kasur ku juga empuk memangnya punya Kak Kinan aja," ucap Yasmin yang tidak terima dengan tuduhan sang kakak.
"Sudah-sudah, kita sarapan dulu setelah Daddy antarkan kalian ke stasiun," ucap Daddy Heri menengahi.
Yasmin mencebikkan bibirnya sedangkan Kinan menjulurkan lidahnya kepada sang adik, mereka berdua memang suka ribut kadang akur juga, akan tetapi lebih banyak ributnya.
Setelah selesai sarapan mereka bergegas mengambil koper dan tas mereka masing-masing, lalu Daddy mengantarkan mereka ke stasiun, karena Ara, Kinan dan Yasmin ingin mencoba naik kereta.
Awalnya Daddy tidak mengizinkan mereka untuk naik kereta, tapi setelah Yasmin merengek-rengek akhirnya Daddy Heri pun luluh juga dan mengizinkan mereka untuk naik Kereta.
25 menit mereka sampai di stasiun, banyak orang yang menatap mereka karena kebetulan Daddy Heri adalah seorang Gubernur di Kota tersebut.
"Kalian hati-hati, kalau sudah sampai jangan lupa kabarin Daddy," ucap Daddy Heri.
"Siap Bos," ucap mereka bertiga secara bersamaan.
Mereka bertiga pun pamit dengan daddy Heri tak lupa mereka mencium tangan daddynya. Begitu juga dengan daddy Heri mencium kening ketiga putrinya itu.
__ADS_1