Tragedi Cinta Segitiga

Tragedi Cinta Segitiga
Bab 10 : Kisah Dokter Indri


__ADS_3

Kamar Mayat


Part 10


***


"Apa dokter Indri sebelumnya


dinas di kamar mayat ini juga,


Kak?" tanyaku.


"Nggak di sini. Dia dinas di


poliklinik gigi. Dokter Indri itu


dokter gigi" jawab kak Ilyas


"Ohh ... gitu. Tapi kenapa saya


sering lihat dokter Indri ada di sini


ya, kak?" tanyaku lagi.


"Nggak tahu juga kami kalau


soal itu, Andri. sebab sampai sekarang pun kematian dokter Indri masih jadi misteri" Jawab Kak Budiman.


Aku menautkan kedua alis,


tak paham dengan apa yang


di katakan oleh kakak seniorku itu.


"Jadi misteri? Maksudnya jadi misteri gimana ya, Kak?"


tanyaku ingin tahu dan penasaran.


Tiba tiba aku semakin penasaran.


Kak Budiman menarik napas


dalam.


"Iya, kematian dokter indri masih jadi misteri. Soalnya


sampai sekarang, nggak ada


seorang pun yang tahu


keberadaan dokter Indri dimana"


Jawab kak Budiman, membuatku


makin bingung.


"Kok bisa sampai nggak ada


yang tahu, Kak? Tadi katanya


dokter Indri sudah meninggal?


Memangnya nggak ada orang


yang ikut menguburkan


jenazahnya?" tanyaku.


"Menurut cerita yang kami


dengar dan yang beredar di lingkungan RS Jaya Putra selama ini, dokter Indri waktu hari itu pamit


pada keluarganya untuk pergi


ketemuan sama temannya. Tapi


sampai keesokan paginya, dokter Indri nggak pulang. Keluarganya


mengira, kalau dokter Indri


langsung berangkat ke RS untuk piket. Karena biasanya juga


seperti itu. Tapi sampai dua hari


kemudian, dokter Indri belum juga


pulang. Keluarganya lalu mencari


dokter Indri ke RS Jaya Putra, tapi


nggak ada satu pun orang yang


melihatnya di RS. Sebab pada hari


itu dokter Indri kebetulan sedang libur. Jadi semua orang RS


mengira kalau dia nggak


berangkat kerja. Akhirnya


keluarganya melaporkan hilangnya


dokter Indri ke pihak yang


berwajib. Tapi sampai sekarang


pun masih belum diketahui


keberadaannya" cerita kak Ilyas


dengan panjang lebar.


Aku manggut manggut. Rasa


penasaranku yang awalnya hanya


sebatas ingin tahu, sekarang


berubah menjadi ingin menyelidiki.


Aku merasa ada yang aneh


dengan kejadian hilangnya dokter


Indri. Masa iya sih, tak ada satu


pun orang yang mengetahui, kemana perginya dokter Indri pada

__ADS_1


hari itu. Baik keluarganya maupun


orang orang di lingkungan RS Jaya Putra. Menurut itu suatu hal


yang mustahil. Paling tidak pasti


ada seorang yang melihat dokter


Indri hari itu.


"Terus teman dokter Indri


yang mau dia temui itu siapa,


Kak?" tanyaku.


Kak Budiman dan kak Ilyas


memandangku dengan tatapan


yang entah. Mereka berdua


tiba tiba terkekeh. Aku mengerutkan


dahi melihat tingkah mereka.


"Kenapa ketawa,Kak? Apa ada yang lucu dengan pertanyaan


saya barusan?" tanyaku.


"Kamu itu aneh,Andri. Ya


darimana kami akan tahu soal itu.


Kami berdua ini kan bukan


keluarganya dokter Indri. Juga


bukan polisi yang menangani


kasusnya. Dokter Indri juga nggak


bilang ke kamu dia mau ketemu sama siapa hari ini. Yakan, Yas"


jawab kak Budiman, masih dengan terkekeh, diikuti oleh kak Ilyas.


Aku tersenyum sendiri


menyadari kebodohanku. Semua


itu rasa penasaran yang sangat.


"Ya barang kali saja kak


Budiman sama kak Ilyas


mendengar ceritanya" kataku


sembari menggaruk kepala yang tak gatal, dan tersenyum malu.


"Udah ahhhh, nggak usah


dibahas lagi soal dokter Indri.


Mendingan kita ngobrolin yang


lain saja" kata kak Ilyas


bilang, kalau dokter Indri sudah meninggal. Padahal kan keberadaannya saja nggak ada


yang tahu" kataku penasaran.


"Andri ... Andri... tadi kamu


sendiri aja langsung bisa ngambil


kesimpulan, kalau dokter Indri itu udah meninggal. Padahal kamu


baru beberapa hari dinas di sini.


Apalagi kami yang sudah lebih lama dari kamu dinas di ruang kamar mayat ini" Jawab kak Ilyas.


"Soalnya saya sering lihat dokter Indri, Kak" kataku.


"Nah itu sudah tahu jawabannya. Kenapa kamu tanya lagi" kata kak Ilyas .


"Jadi... jadi kakak berdua ini juga sering melihat dokter Indri?" tanyaku memastikan.


"Bukan cuma kami berdua


yang sering lihat dokter Indri,Andri. Tapi hampir semua Karyawan RS Jaya Putra ini pernah melihatnya" Jawab kak Ilyas.


Aku melongo mendengar


ucapan kak Ilyas itu.


"Tapi kenapa kakak berdua


nggak pernah cerita ke saya?"


tanyaku.


"Untuk apa kamu bercerita ke kamu soal dokter Indri,Andri.


Kami nggak cerita aja, kamu udah ketakutan gitu. Apalagi kalau kami cerita , mungkin kamu bakalan pingsan. Ya nggak Yas" kata kak Budiman sambil tertawa.


"Sudah, nggak usah kita


bahas lagi soal dokter Indri. Nanti


malah dia jadi sering datangi kamu lhoo Andri . nggak takut apa" kata kak Budiman.


Meskipun masih sangat


penasaran, aku tak berani lagi untuk bertanya lebih lanjut tentang


misteri hilangnya dokter Hani


kepada kedua orang kakak senior


itu. Kamu berganti topik obrolan.


Seputar pengalaman Kak Budiman dan kak Ilyas selama bertugas di kamar mayat ini. Yang menurutku seru tapi juga menegangkan. Sangat menguji nyali.


***


"Oh... iya Kak. Kalau dokter

__ADS_1


David itu kemana ya? Kok saya belum pernah lihat? Padahal kata


Pak Jarwo, saya di suruh lapor ke


dokter David , waktu pertama


datang ke sini" tanyaku.


Kami sedang duduk santai,


sambil menunggu pergantian shift malam dengan Pak Danang. Hari ini


tak ada yang kami kerjakan di kamar mayat. Sepanjang hari kami


hanya mengobrol, sembari sesekali aku menanyakan hal yang belum aku paham, sehubungan


dengan pekerjaanku sebagai


petugas ruang kamar mayat. Sebab tidak ada jenazah yang datang dari


ruang perawatan ataupun UGD (Unit Gawat Darurat).


"Dokter David masih ada


tugas luar. Dia sedang mengikuti


pelatihan di Bandung sampai besok.


Mungkin besok dia sudah masuk dinas" jawab kak Ilyas.


"Besok kan kamu dinas malam,Andri. Biasanya dokter David selalu datang ke sini,


melihat yang piket malam" kata kak Budiman.


"Eh ... apa iya, saya besok


dinas malam, kak?" tanyaku.


"Iya, Andri. Nih jadwal


dinasnya" Jawab kak Ilyas, , Seraya


memperlihatkan sebuah map yang


berisi jadwal dinas petugas kamar mayat.


Aku menelan ludah, Saat


membaca namaku tertulis dinas


malam di lembaran kertas polio


tersebut. Beberapa detik aku terpaku sambil menatap jadwal dinas itu.


"Andri! Kok malah bengong.


kamu pasti takut ya" Kata Kak Ilyas


sembari menepuk pundak ku.


"Nggak usah takut,Andri.


Paling juga kamu di isengin, di ajakin kenalan sama mereka"


kata kak Budiman sambil tertawa. Diikuti oleh Kak Ilyas.


menyebalkan sekali.


Sekitar 15 menit kemudian,


Pak Danang tampak memasuki ruangan kamar mayat. Dia berjalan menghampiri kami. Setelah sampai, dia lalu duduk di sebelah Kak Ilyas, berhadapan dengan aku. Sekilas aku memperhatikan wajahnya, Begitu bengis dan sadis , sama seperti waktu aku melihatnya pertama kali kemarin malam. Mungkin semua makhluk tak kasat mata yang ada di RS Jaya Putra ini tak akan ada yang berani padanya, karena melihat wajah pak Danang yang sangar dan menakutkan. Aku membatin sambil tersenyum dalam hati.


Pak Danang kemudian


berbincang dengan kedua kakak


seniorku. Dia sama sekali tak


mengajakku dalam obrolan mereka. Diri ini hanya menjadi pendengar , tanpa sedikit pun ikut bicara. Sesekali pak Danang memandangku dengan tatapan mata yang tak bisa di artikan.


Dingin dan penuh rasa curiga.


Entah kenapa .


(Kenapa Pak Danang sinis


seperti itu ya? Kayaknya dia nggak suka deh sama aku. Tapi kenapa dia nggak suka. Padahal Kami baru saja ketemu kemarin malam.


Apa aku sudah bikin kesalahan


sama dia yang nggak di sadari ya.


Atau itu cuma perasaanku aja)


"Sekarang kami pulang dulu ya , Pak. Takut pintu gerbangnya keburu di tutup. Selamat bertugas.


Besok malam gantian Andri yang piket" Kata kak Ilyas, Setelah


kurang lebih selama 10 menit


mereka berbincang.


Kak Yono kemudian beranjak


dari tempat duduk. di susul oleh Kak


Budiman dan aku. Kami lantas berjalan menuju pintu keluar.


Sekilas aku melihat Pak Danang


Sedang memandangku dengan


tatapan mata yang mengerikan.


Raut wajahnya sungguh


menyeramkan.


Aneh sekali orang itu. Kenapa


dia seakan sangat tak suka


padaku? Tatapan matanya seperti


yang menaruh rasa curiga.


Padahal aku sama sekali tak melakukan apapun padanya, Aku membatin.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2