Tragedi Cinta Segitiga

Tragedi Cinta Segitiga
Bab 26 : Cerita Yang Sulit Di Percaya Dari Kak Fadli


__ADS_3

Kamar Mayat


Part 26


***


"Hah? Yang benar, Kak? Kak Fadli serius? Kok bisa?" Aku memberondong Kak Fadli dengan beberapa pertanyaan sekaligus. Karena terus terang, aku belum sepenuhnya percaya dengan yang dikata kan Kak Fadli barusan. Masa iya sih, dokter David itu seorang bisex? Sangat sulit untuk bisa dipercaya.


"Ya begitulah adanya. Kalau orang yang belum tahu memang sulit untuk percaya. Tapi kami yang dinas di kamar Operasi sudah tahu sejak lama."


"Jadi, dokter David itu pacaran sama dokter Indri dan Kak Anfa, Kak?"


"Nggak begitu. Dia malah nggak pacaran sama salah satu dari mereka. Dokter David mencintai dokter Indri dan Anfa, tapi dokter Indri yang pacaran sama Anfa."


"Lalu, Kak Fadli tahu dari mana kalau dokter David mencintai dokter Indri dan Kak Anfa. Dia kan nggak berhubungan dengan salah satu dari mereka?"


Kak Fadli tersenyum, membuat aku makin penasaran.


"Hal itu kalau di kamar Operasi


bukan rahasia lagi. Sebelum pacaran sama Anfa, dokter David


pernah menyatakan cintanya pada


dokter Indri. Tapi dokter Indri menolak, dia lebih memilih Anfa,


nggak tahu kenapa. Sejak itu,


dokter Indri sering datang ke kamar Operasi nemuin Anfa. Gitu juga dengan dokter David, dia sering datang ke kamar OK kalau ada pasien yang harus diotopsi dengan segera. Mereka bertiga sering ketemu di kamar Operasi. Kami yang tugas di sana, sering memperhatikan tingkah laku


dokter David saat dia menatap


dokter Indri dan Anfa. Dia akan


terlihat sangat marah jika melihat Anfa sama dokter Indri sedang


bermesraan di depan dia. Padahal


Anfa hanya sekadar bicara mesra


atau memegang tangan dokter Indri."


"Mungkin karena dokter David mencintai dokter Indri, Kak. Bukan karena dia juga mencintai Kak Anfa."

__ADS_1


Kak Fadli kembali tersenyum.


"Begitu selesai melakukan otopsi, kami para perawat yang dinas di kamar Operasi kan suka istirahat dan ngobrol santai sama dokter David, membicarakan hasil otopsi yang baru dilakukan. Nah saat itu, dokter David pasti akan duduk di sebelah Anfa, pegang-pegang tangan, mukul manja gitu, pokoknya kayak yang dilakukan dokter Indri ke Anfa. Kami yang lihat sampai merasa risih sendiri, apalagi Anfa yang mengalami langsung." Aku tambah melongo mendengar cerita Kak Fadli.


"Kenapa nggak ada yang ngasih tahu ke dokter David, kalau apa yang dia lakukan itu nggak betul, Kak. Padahal dia bisa saja kan, cari perempuan lain pengganti dokter Indri."


"Ngasih tahu dia kalau bisex itu nggak bener maksudnya? Mana


kami berani, Andri. Dia itu dokter


ahli forensik satu-satunya di RS Jaya Putra ini. Sudah pasti pihak RS akan lebih mempertahankan dia


daripada orang yang melaporkannya. Dan dokter David


sangat tahu akan hal itu, makanya


dia kayak yang nggak peduli dengan apa yang dia lakukan. Dia yakin banget, nggak akan ada orang yang berani ngelaporin apa yang dia lakukan ke pihak RS." Aku manggut-manggut. Pantas saja dokter David bertindak seenaknya, karena dia pikir tak ada orang yang akan berani melaporkannya, aku membatin.


"Kalau gitu, apa ada kemungkinan dokter David terlibat dalam kasus hilangnya dokter Indri ya, Kak?"


"Wah.. kalau soal itu sih Kakak nggak tahu, Andri. Soalnya kasus ini sudah ditangani pihak kepolisian, tapi sampai sekarang belum juga terungkap siapa pelaku di balik peristiwa hilangnya dokter Indri."


"Oh iya, Kak. Apa Kak Fadli cerita ke Kak Yusuf, kalau saya tanya-tanya soal dokter David ke Kakak?"


"Kok Kak Yusuf bisa tahu ya?"


"Maksudnya gimana, Andri? Coba kamu ngomong yang jelas, biar Kakak paham apa yang kamu maksud."


Aku lalu menceritakan kejadian saat dokter David marah padaku dan dia bilang kalau dapat info dari Kak Yusuf bahwa aku menanyakan tentang dirinya pada Kak Fadli.


"Jadi dokter David tahu, kalau waktu itu kamu ngobrol sama kakak, padahal Kakak sama sekali nggak bilang ke siapa pun soal obrolan kita. Kakak malah nggak mikirin lagi setelah itu,"


"Oleh karena itu saya juga bingung, Kak. Kok Kak Yusuf bisa tahu soal obrolan kita. Terus kenapa dia bilang ke dokter David soal ini. Apa pentingnya untuk dia ya?"


"Mungkin waktu itu dia dengar


sendiri apa yang kita bicarakan, Andri. Tapi kalau soal kenapa Yusuf sampai bilang ke dokter David, Kakak juga nggak tahu. Ya sudah, nggak usah kamu pikirkan lagi hal itu. Yang harus kamu pikirkan sekarang, gimana caranya agar kamu sebisa mungkin menghindari pertemuan kamu sama dokter David jika hanya berdua saja. Kamu harus hati-hati, Andri. Jangan sampai kamu hanya berdua saja sama dokter David kalau sedang di ruangan. Kakak sih bukan nakutin, cuma ngingetin aja. Kan lebih baik kita waspada daripada sudah kejadian."


"lya, Kak. Terima kasih banyak


untuk semuanya. Saya mau balik


lagi ke ruangan kamar mayat ya. Takut ditungguin Kak Budiman, soalnya udah kelamaan di sini," kataku, seraya beranjak dari duduk.

__ADS_1


Kami pun segera meninggalkan mushola.


***


"Lama amat kamu di musholanya, Andri? Ngapain aja?" tanya Kak Budiman, begitu aku sampai di depan ruang kamar mayat.


Aku hanya tersenyum, kemudian duduk di sebelahnya. "Tadi saya ketemu sama Kak Fadli di mushola, Kak. Terus saya tanya-tanya soal dokter David ke dia. Kak Fadli cerita banyak soal dokter David, dokter Indri sama Kak Anfa. Dan saya dapat info soal mereka, yang bikin saya kaget setengah mati, Kak," kataku dengan berbisik. Aku khawatir akan ada orang yang mendengar ucapanku.


"Info apa itu, Andri. Kakak jadi penasaran," tanya Kak Budiman, juga dengan berbisik.


Aku lantas menceritakan apa yang kudengar dari Kak Fadli. Seperti halnya diri ini, Kak Budiman juga sangat terkejut mendengarnya. Matanya membeliak dan mulutnya


melongo.


"Kakak malah baru tahu soal itu, Andri" kata Kak Budiman, setelah aku selesai bercerita.


"Kak Fadli bilang, yang tahu memang cuma yang dinas di kamar Operasi, Kak."


Kami lalu sama-sama terdiam, tak berani membahas soal itu lebih lanjut lagi. Sebab khawatir akan ada yang mendengar pembicaraan kami


nanti. Kami kemudian mengobrol tentang hal yang lain, hingga waktu magrib tiba dan Kak Budiman pergi ke mushola.


***


"Kita duduk di dalam aja yuk. Banyak banget nyamuk di sini,"


ajak Kak Budiman, sepulangnya aku dari mushola. Kami pun segera masuk ke ruangan dalam.


Sampai di dalam kamar mayat, entah kenapa aku ingin sekali memeriksa cermin. Sementara Kak Budiman duduk sembari memainkan HP-nya. Aku mulai memeriksa cermin di bagian yang retak, yang berada di bawah sebelah kiri. Aku mengamati dengan lebih saksama. Ada rahasia apa sebenarnya dengan cermin ini.


Kenapa dokter David mewanti-wanti agar diri ini tak lagi mendekati cermin ini, aku membatin.


Aku berusaha untuk menarik cermin ke depan, tapi tentu saja tak bisa, sebab sudah dipasang sedemikian rupa agar menempel dengan kuat di dinding.


"Kamu masih bandel rupanya, Andri! Sudah beberapa kali diingatkan, agar jangan dekati cermin itu, tapi kamu tetap saja ngeyel! Kamu bakalan tahu akibatnya!" bentak pak Danang.


yang tiba-tiba sudah berada di dalam kamar mayat. Membuat aku sangat terkejut. Kak Budiman pun sama, dia tampak kaget dengan kedatangan Pak Danang yang tiba-tiba. Mungkin tadi dia sedang asik bermain HP, sampai tak menyadari kedatangan Pak Danang.


Aku mengernyitkan dahi. Merasa heran dengan apa yang dikatakan oleh Pak Danang. Apa jangan-jangan dia juga ikut terlibat dalam kasus hilangnya dokter Indri. Kenapa dia sampai sebegitu marahnya padaku? Aku membatin.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2