Tragedi Cinta Segitiga

Tragedi Cinta Segitiga
Bab 2 : Dokter Indri


__ADS_3

Kamar Mayat


Part 2


***


Aku lalu mengusap leher dan kedua tangan. (siapa perempuan itu ya? Apa dia dokter RS ini. Tapi kenapa tiba tiba aku jadi merinding waktu lihat wajahnya) Karena merasa penasaran, aku kemudian menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. bermaksud akan melihat lagi perempuan yang memakai jas dokter tadi. Tapi ternyata, perempuan itu sudah tak ada lagi. Aku mengucek ucek kedua mata ku, untuk memperjelas penglihatan. Namun perempuan tersebut tetap tak terlihat lagi.


Pandanganku lalu mengitari sekeliling koridor, mencari sosok


perempuan itu. Namun hasilnya


nihil. Dia tak terlihat lagi. Kemana perginya perempuan tadi ya? kenapa cepat sekali jalannya. Padahal sepertinya belum ada lima menit aku berjalan, batinku, seraya masih mencob amencari keberadaan perempuan berjas dokter itu.


"Sedang cari siapa, Mas?" tanya seseorang mengagetkanku. Aku menoleh ke arah datangnya sumber suara. Ternyata si Mas Cleaning service yang ku temui waktu pertama kali datang ke RS ini tadi.


"Oh... Ehh... nggak ada, Mas"


jawabku sambil tersenyum.


Aku lalu meneruskan langkah, menuju ke tempat dimana sepeda motor ku di parkir. Suasana RS


sudah tampak lebih ramai dari waktu awal aku datang. Terlihat


bangku pengunjung yang ada di depan setiap ruangan poli klinik,


semuanya hampir penuh terisi.


***


Keesokan harinya, tepat pukul


tujuh pagi aku sudah berangkat


dari rumah menuju ke RS Jaya Putra. Jalanan mulai ramai oleh kendaraan yang lalu lalang.


Begitu sampai di pelataran


RS, aku segera memarkirkan


sepeda motor dan bergegas


masuk ke gedung RS Jaya Putra.


Aku lalu mencari letak kamar


Mayat. dalam hati aku merutuki


diri sendiri, kenapa kemarin aku tak menanyakan di mana kamar mayat itu berada. Pada Pak Jarwo atau si Mas Cleaning service itu atau pada orang yang ku temui di RS ini. Jadi hari ini tak harus sibuk mencari lagi.


Segera aku menuju ke


bangunan paling belakang dari RS Jaya Putra. Sebab ingatku,


biasanya kan kamar mayat itu selalu berada di bagian paling belakang bangunan, begitu pikir ku.


Akhirnya aku menemukan


kamar mayat tersebut, setelah berulang kali bertanya kepada beberapa orang pesawat yang kebetulan lewat di koridor RS.


Tok... tok... tok...


Permisi... selamat pagi....


Aku mengetuk pintu yang di


atasnya tertera tulisan 'Kamar Mayat' sambil mengucapkan salam.


tak ada yang menyahut.


Aku mengulangi sekali lagi,


dengan suara lebih keras,

__ADS_1


barang kali saja suara ketukan dan salamku tak terdengar dari dalam.


Namun tetap tak ada yang menjawab.


Perlahan aku membuka pintu


kamar mayat itu, lalu masuk , setelah beberapa ku tetap tak


ada yang menyahut dari dalam.


Udara dingin seketika menjalar di


sekujur tubuh. Aku masuk ke


ruangan bagian dalam. Tampak


seorang perempuan memakai jas dokter sedang menulis di atas meja. Aku segera menghampiri.


(Ternyata di dalam ada orang,tapi kenapa dia nggak jawab salamku? Apa mungkin nggak kedengaran dari sini?)


"Selamat pagi, Dok. Saya Andri" sapaku ramah


Perempuan itu mengentikan pekerjaannya. Dia lalu menengadahkan wajah menatapku. Aku melongo, ternyata dia adalah perempuan yang aku lihat kemarin siang di koridor , ketika aku baru dari ruang Personalia. Namanya Dokter Indri, terbaca dari papan nama yang ada di jas putihnya.


"Selamat pagi, Dok. Saya Andri. Saya pegawai baru yang di tempatkan di kamar mayat ini"


kataku memperkenalkan diri sekali lagi, seraya tersenyum.


Dokter Indri tersenyum.


Tiba tiba aku merinding melihat


senyumnya. Aku salah tingkah.


antara takut dan merasa heran.


(Duh ... kenapa aku merinding gini ya, lihat senyum dokter Haji)


"Selamat pagi, selamat datang Andri. semoga kamu kerasan bekerja di sini" kata dokter Indri.


Dokter Indri menghela napas dalam.


"Tugas kamu di sini di antaranya yaitu memberikan pelayanan jenazah, baik yang datang dari RS ini maupun yang dari luar RS. Membantu memandikan jenazah, membuat surat kematian, membantu dokter melakukan otopsi, juga membantu pemakaman jenazah yang nggak punya keluarga" jawab dokter Indri.


Aku menelan ludah yang


terasa pahit. Tenggorokan tiba tiba


terasa kering. belum apa apa aku sudah membayangkan kejadian horor yang bakal aku alami di kemudian hari. Bagaimana mungkin aku harus memandikan jenazah dan membantu proses pemakamannya, sedangkan melihat mayat saja aku takut setengah mati.


"Apa masih ada yang masih kurang jelas, Andri? Dengan apa yang sudah saya sampaikan tadi" tanya dokter Indri.


"Ehhhh... ohh... nggak, Dok. Saya sudah cukup mengerti dengan apa yang baru saja dokter jelaskan"


jawabku gugup.


"Baiklah... kalau begitu saya


mau keluar dulu ya. Kamu tunggu


di sini. nanti juga teman yang lain


datang" Kata Dokter Indri. Dia lalu


beranjak dari duduk dan pergi


meninggalkan aku sendiri.


Pandanganku mengitari sekeliling ruangan yang berukuran sekitar 64 meter persegi ini.


Tampak ada 3 mayat yang masih


berada di atas brankar. Dengan

__ADS_1


kain putih menutupi seluruh tubuh


mereka, dan sebuah kertas kartun


masing masing mayat tersebut.


Dengan perasaan takut yang


teramat sangat, Aku menghampiri


brankar yang paling dekat. Sambil


membaca doa doa, perlahan aku membuka kain penutup mayat itu.


Mayat seorang laki laki setengah baya, yang wajahnya penuh dengan luka jahitan. Aku mengamati wajah si mayat,


dengan degupan jantung yang tak karuan.


Ketika akan menuju ke


brankar berikutnya, tiba tiba


masuk dua orang berseragam


putih seperti yang aku pakai. Usia


mereka tak berbeda jauh denganku. Aku lalu menghampiri mereka.


"Selamat pagi, kak saya Andri. saya di tugaskan di sini oleh Pak Jarwo." kataku sembari memperkenalkan diri


"Wahhh... tambah teman lagi


kita. Selamat datang Andri" Kata Kak Budiman sembari menyambut uluran tanganku.


"Semoga Kamu betah dinas di sini bareng kami, Andri" kata Kak Ilyas seraya tersenyum.


Kamu saling memperkenalkan


diri masing masing. ternyata kak Budiman dan kak Ilyas sudah tiga tahun dinas di kamar mayat.


Mereka alumni SPK yang sama. Dan 3 tahun itu,


mereka belum pernah di pindahkan ke ruangan lain.


"Itu Mayat siapa ya, kak. kok


masih ada di sini" tanya ku.


"Itu Mayat yang belum


di ketahui identitasnya. Korban kecelakaan lalu lintas. Baru datang tadi malam. Jadi belum di ambil oleh pihak keluarga mereka" jawab kak Ilyas


"Terus kalau nggak ada juga


pihak dari keluarga yang ngambil


gimana?" tanyaku lagi.


"Kita tunggu sampai batas


maksimal 2×24 jam. Kalau nggak ada juga yang ngambil, ya kita langsung makamkan" Jawab kak Budiman.


"Yang bantu pemakaman itu siapa, kak?" tanyaku.


"Ya kitalah. Siapa lagi, Tugas kita sebagai penjaga kamar mayat salah satunya memang membantu proses pemakaman jenazah yang nggak di kenal"


jawab kak Ilyas.


Aku tersenyum kecut


mendengarnya. Apa aku akan mampu bertahan dinas di kamar mayat ini ya, aku membatin.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2