
Kamar Mayat
Part 22
***
Dokter David beranjak dari duduk. Dia lalu menuju ke meja kerjanya, dan mengambil botol air minum dari dalam tasnya. Dia segera meminumnya sampai habis setengah botol. Kelihatan sekali kalau dia sangat gelisah. Wajahnya pucat tapi tegang.
Aku dan kedua kakak seniorku
hanya diam melihat hal itu. Kami
saling berpandangan, tanpa mengucap sepatah kata pun. Mungkin dalam hati mereka sama dengan apa yang aku pikirkan.
"Bud, coba kamu bilang sama keluarga dari jenazah tersebut, hasil otopsi baru bisa diambil habis zuhur. Jadi sebaiknya mereka pulang aja dulu. Nanti siang baru datang lagi ke sini" Kata dokter David.
"Baik, Dok."
Kak Budiman kemudian keluar dari ruangan kamar mayat, untuk memberitahukan keluarga jenazah perempuan itu. Sedangkan Kak Ilyas dan aku menunggu di sisi brankar.
"Kak Ilyas nggak pulang?" tanyaku pada Kak Ilyas.
"Bentar lagi, Andri" jawabnya. Tak berapa lama, Kak Budiman masuk. Dia lalu melaporkan pada dokter David, bahwa dia sudah melaksanakan instruksi, memberitahu keluarga jenazah perempuan itu, agar kembali lagi nanti, sebab hasil otopsi baru ada selepas waktu zuhur. Kak Budiman kemudian menghampiri kami, aku dan Kak Ilyas, yang masih berada di dekat brankar jenazah.
"Bud, aku pulang ya" kata Kak Ilyas, begitu Kak Budiman sampai di dekat kami.
"lya, Yas hati hati" kata Kak Budiman.
"Iya, Bud" ucap Kak Ilyas
Kak Ilyas lalu mengambil tas nya dan berpamitan pada dokter David, yang masih terlihat gelisah.
Beberapa kali dia masih saja mengelap keringat yang mengucur dari wajahnya.
"Andri, kita duduk aja dulu yuk. Cape kalau berdiri terus di sini." ajak Kak Budiman. Dia lantas menuju ke meja kerjanya, dan aku mengikuti.
Begitu duduk, aku kemudian menulis di selembar kertas, yang tulisannya: 'Kak, saya nemu foto dokter Indri di lemari buku.' Aku lantas memberikan kertas itu pada Kak Budiman.
Sengaja aku menulis, bukan bicara, sebab khawatir akan didengar oleh dokter David.
"'Sstt ... Andri" kata Kak Budiman, sambil menempelkan jari telunjuknya di mulutnya, setelah
membaca tulisanku. Mungkin dia
merasa tak enak hati, karena dilihatnya dokter David masih
tampak gelisah. Aku pun akhirnya
diam saja, duduk sambil membaca baca buku laporan harian kamar mayat.
"Bud, kita mulai otopsi lagi." kata dokter David, dua puluh menit kemudian. Dia lalu berjalan
ke arah brankar.
"Baik, Dok." kata Kak Budiman, sembari beranjak dari duduk, kemudian menuju ke tempat jenazah, dan aku mengikuti.
Sekarang aku yang bertugas
memegangi jenazah, menggantikan Kak Ilyas. Wajah jenazah perempuan itu sudah berubah seperti semula, bukan lagi wajah dokter Indri. Selama otopsi berlangsung, kami saling diam, padahal aku ingin sekali bertanya tentang banyak hal, yang berkaitan dengan otopsi tersebut. Tapi aku khawatir akan mengganggu
konsentrasinya dokter David dalam
melakukan pemeriksaan.
Dokter David hanya bicara saat selesai memeriksa bagian mata, rambut dan organ vital jenazah perempuan itu. Dia memberikan keterangan yang harus dicatat oleh Kak Budiman. Menjelang waktu zuhur, otopsi selesai dilakukan, yang memerlukan
__ADS_1
waktu sekitar 3 jam. Setelah itu, dokter David meninggalkan ruangan kamar mayat. Sedangkan aku dan Kak Budiman bergantian salat zuhur di mushola.
***
Pukul setengah satu siang, keluarga jenazah datang. Setelah dokter David selesai memberikan penjelasan tentang hasil otopsi,
mereka kemudian membawa
pulang jenazah perempuan itu.
Dokter David pun pergi setelah
itu.
Aku dan Kak Budiman kemudian membereskan dan membersihkan semua peralatan yang baru saja dipakai untuk otopsi.
"Andri, mau apa kamu buka buka buku itu?" tanya Kak Budiman nampak keheranan, sebab dilihatnya aku sedang membuka beberapa buku yang ada di lemari kaca.
"Saya penasaran, Kak. Siapa tahu saya nemu sesuatu lagi," jawabku, tanpa menoleh. Mataku sibuk meneliti setiap buku yang ada di dalam lemari kaca tersebut.
"Nanti habis asar aja kamu
lihat bukunya. Biar dokter David
udah pulang," larang Kak Budiman. Wajahnya nampak khawatir.
Aku menautkan kedua alis. "Memangnya kenapa, Kak?" tanyaku dengan heran.
"Nggak enak aja sama dokter
David kalau dia lihat kamu sedang bongkar bongkar lemari miliknya. Soalnya lemari itu punya dia."
Ohh ... pantas saja Kak Budiman tampak khawatir.
Ternyata lemari kaca ini milik dokter David. Dan pantas juga kenapa foto yang aku ambil kemarin ada di salah satu buku yang tersimpan di lemari ini, aku bergumam.
bicaranya terdengar agak memaksa. Wajar saja menurutku dia bersikap demikian.
"Tapi kemarin dokter David bilang ke saya, kalau saya boleh kok baca baca buku yang ada diruangan ini. Malah dia bilang, daripada saya ngurusi yang lain, yang nggak ada hubungannya sama pekerjaan saya sebagai penjaga mayat, mendingan saya banyak baca."
"Masa iya sih dokter David bilang kayak gitu ke kamu," kata Kak Budiman nampak tak percaya dengan perkataan ku.
"Beneran, Kak. Saya nggak bohong."
"Ya udah deh Andri, terserah kamu aja. Kalau nanti dokter David marah,
kamu tanggung sendiri akibatnya
ya. Kakak nggak ikutan," kata Kak
Budiman dengan wajah serius.
"Iya,Kak" jawabku singkat.
Aku lalu mulai memeriksa lagi setiap buku yang ada di dalam lemari kaca. Sembari berharap
akan menemukan sesuatu di salah
satu buku-buku itu.
"Kakak ke mushola duluan ya, Andri. Sudah masuk waktu asar" pamit Kak Budiman, seraya menepuk pundakku, yang masih asik memeriksa isi lemari.
"lya, Kak," kataku, tanpa menoleh.
Kak Budiman kemudian berjalan ke arah pintu keluar, terdengar dari suara langkah kakinya.
__ADS_1
"Kamu sedang cari apa Andri?" tanya seseorang, yang suaranya tak asing di telingaku, ketika aku masih asikbmembuka-buku beberapa buku.
Seketika aku merinding. Bulu kuduk di kedua tangan langsung meremang, aku menelan ludah.
Jantungku berdetak tak karuan. Sebab diri ini sangat mengenali
Suara itu.
Perlahan aku menengok ke arah sumber suara memanggil. Dan benar saja, aku melihat sosok dokter Indri sudah berada di dekatku. Badan ini spontan bergetar, saking merasa takut. Mulut ku hanya melongo tanpa bisa mengucap sepatah kata, meskipun dalam hati ingin sekali berteriak sekerasnya.
Tiba-tiba sosok dokter Indri tersenyum padaku, yang lagi-lagi terlihat
begitu menyeramkan di mataku.
Aku lalu memejamkan kedua mata, seraya membaca doa-doa yang aku hafal, dalam hati. Sebab suara tak bisa keluar dari tenggorokan. Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuh ini.
"Andri, cepetan sana ke mushola" seru Kak Budiman. Langkah kakinya terdengar mendekatiku.
Aku bernapas dengan lega. Akhirnya terbebas juga aku dari situasi menyeramkan ini. Perlahan aku membuka mata. Dokter Indri tak terlihat lagi.
"Kamu kenapa merem begitu?" tanya Kak Budiman dengan wajah keheranan.
"Tadi ada sosok dokter Indri datang, Kak" jawabku, sambil mengelap
keringat yang mengalir.
Kak Budiman menarik napas panjang. "Kasihan sekali dokter
Indri" gumamnya.
"lya, Kak. Oleh karena itu kita harus secepatnya mencari tahu sebab hilangnya dokter Indri."
"Ya sudah, Andri sekarang kamu
sholat asar dulu sana, nanti keburu habis waktunya," kata Kak Budiman.
Aku pun pergi ke mushola, dan Kak Budiman duduk di kursi depan ruang kamar mayat.
Sampai di mushola, aku segera
mengambil air wudhu dan sholat asar. Kali ini berjamaah dengan teman sejawat yang sedang dinas
Sore.
***
"Kak dinas sore di mana?" tanyaku, saat kami sedang berjalan di koridor menuju ke tempat dinas masing-masing.
"Di Kamar Operasi" jawab Kak Fadli,
nama perawat senior itu. Dia bilang sudah hampir 8 tahun dinas di sana. Kebetulan sekali, pikirku.
Aku bisa bertanya padanya tentang foto yang kutemukan kemarin.
"Kamu dinas di mana?" Kak Fadli balik bertanya.
"Di ruang kamar mayat. Kak, boleh nggak saya tanya sesuatu?"
"Soal apa?" Kak Fadli tanya balik padaku.
"Apa Kak Fadli tahu sama dokter David, dokter Indri dan Kak Anfa?"
Kak Fadli menghentikan langkahnya. Dia lalu menatapku.
"Bukan cuma tahu, tapi sangat tahu. Mereka bertiga itu terlibat cinta segitiga," jelas Kak Fadli, membuatku melongo dan keheranan.
__ADS_1
***
Bersambung...