
Kamar Mayat
Part 23
***
"Maaf, Kak. Maksud dari terlibat cinta segitiga itu gimana ya kak? Apa dokter Indri berpacaran dengan dokter David dan Kak Anfa sekaligus?" tanyaku ingin tahu dan semakin penasaran.
"Bukan seperti itu maksudnya," jawab Kak Fadli, membuatku makin penasaran.
"Jadi gimana, saya masih kurang paham."
"Besok lain kali saja Kakak ceritakan, sekarang di Kamar Operasi sedang lumayan sibuk, kami masih menunggu pasien yang mau
operasi cito sore ini (tindakan segera, yaitu penanganan pasien
yang berpacu dengan waktu, sebab keterlambatan penanganan pasien akan berpengaruh kepada keselamatan jiwa pasien tersebut)'' kata Kak Fadli.
Meskipun merasa kecewa, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Tanggung jawab pekerjaan, sumpah jabatan, dan keselamatan pasien, tentu harus lebih diutamakan oleh Kak Fadli, ketimbang bercerita padaku
tentang sesuatu yang belum jelas
kebenarannya. Aku sangat memaklumi hal itu, dan tak
mungkin pula diri ini memaksa
Kak Fadli untuk bercerita, meskipun hanya sebentar.
"Kakak ke dalam dulu ya, Andri. Sampai ketemu lain waktu," pamit Kak Fadli, begitu kami sampai di depan kamar Operasi.
"Iya, Kak. Terima kasih atas infonya. Semoga lain waktu kita bisa ketemu lagi." harapku, sebelum Kak Fadli masuk ke
kamar Operasi. Kak Fadli tampak
menautkan kedua alis, sambil memandangku. Wajahnya penuh
tanda tanya. Mungkin dia tak
paham, kenapa aku mengucapkan
terima kasih padanya, atas info
yang dia berikan. Barangkali saja,
apa yang Kak Fadli katakan soal
dokter Indri yang terlibat cinta
segitiga dengan dokter David dan
Kak Anfa, adalah sesuatu yang
biasa saja. Karena mungkin hal
tersebut sudah bukan rahasia lagi
di antara sesama teman sejawat
__ADS_1
yang dinas di kamar Operasi. Padahal hal itu sangat berarti bagiku, sebagai tambahan informasi untuk bahan penyelidikan yang sedang aku lakukan, tentang misteri
hilangnya dokter Indri.
Meski demikian, Kak Fadli
tak bertanya padaku, untuk apa
aku mengucapkan terima kasih
padanya. Dia segera berjalan ke
arah pintu kamar Operasi dan bergegas masuk. Sementara aku
meneruskan langkah menuju ke ruang kamar mayat.
Di sepanjang perjalanan, banyak pertanyaan yang singgah di kepala, tentang apa yang baru saja aku dengar dari Kak Fadli. Aku masih belum paham apa maksudnya. Sebab tadi Kak Fadli
bilang, cinta segitiga di antara mereka itu bukan dokter Indri
berpacaran dengan dokter David
dan Kak Anfa sekaligus. Jika
bukan seperti itu, lantas seperti
apa?
"'Andri, kenapa muka kamu kok kayak yang bingung gitu?" tanya Kak Budiman, saat aku sampai di depan pintu kamar mayat. Dia sedang duduk di bangku panjang.
"Saya memang sedang bingung, Kak," jawabku, lalu duduk di sebelah Kak Budiman.
"Masa sih seperti itu ceritanya?" tanya Kak budiman, setelah aku selesai bercerita. Dia tampak tak percaya.
"Saya juga tadi kaget, Kak. Waktu dengar Kak Fadli bilang soal ini. Dan yang bikin saya belum paham, kata Kak Fadli yang dimaksud cinta segitiga di antara mereka itu bukan dokter Indri berpacaran sama mereka berdua."
"Jadi gimana maksudnya cinta segitiga di antara mereka?" Tanya kak Budiman.
"Nah itu dia yang saya belum tahu, Kak. Soalnya Kak Fadli belum cerita lanjutannya. Dia mau ada operasi cito. Eh, Kak. Memangnya Kak Budiman nggak pernah dengar atau tahu soal cerita ini apa?"
"Soal cerita apa?"
"Hubungan antara mereka bertiga."
"Kakak itu orangnya nggak kayak kamu, Andri. Suka penasaran dan selalu ingin tahu. Mana pernah Kakak tanya-tanya soal personal teman sejawat yang ada di RS ini. Apalagi yang beda ruangan. Sama yang satu ruangan pun, Kakak nggak tahu. Sama Ilyas contohnya. Mana Kakak tahu cerita soal pribadinya, padahal
hampir tiap hari kami ketemu, berangkat dan pulang kerja bareng," jawab Kak Budiman seraya bercanda.
"lh... Kak Budiman apaan sih. Saya penasaran itu ya karena hilangnya dokter Indri masih jadi misteri. Masa selama 2 tahun belum terungkap juga. Kalau dia nggak hilang, mana mungkin saya penasaran-lah, Kak," kataku, sembari pura-pura cemberut.
Kak Budiman semakin tertawa. "Iya, iya, Andri. Kakak cuma bercanda tadi. Gitu aja kamu marah. Kakak juga penasaran kok dengan hilangnya dokter Indri, sama kayak kamu. Cuma Kakak nggak punya
keinginan untuk nyari tahu lebih banyak lagi. Salut Kakak sama kamu Andri. Kamu terus nyari tahu biar rasa penasaran kamu itu cepat terjawab," kata Kak Budiman sambil menepuk pundakku.
Aku tersenyum mendengarnya. "Kak, kita masuk aja yuk. Saya mau lihat-lihat lemari buku lagi. Saya masih penasaran banget soalnya." ajakku.
Kami pun lalu masuk ke ruangan dalam kamar mayat. Kak Budiman kemudian duduk di kursi kerjanya, dan aku memeriksa lemari kaca. Tapi sampai kami bergantian shift malam dengan Kak Ilyas, aku tak menemukan sesuatu lagi di sana. Baik di dalam lemari maupun di buku-buku yang ada di situ. Apakah aku yang kurang teliti atau memang tak ada lagi barang yang bisa untuk
__ADS_1
menjadi petunjuk, entahlah.
Sebenarnya diri ini masih ingin memeriksa lemari buku itu lebih lama lagi, tapi Kak Budiman melarang. Dia bilang agar aku
menepati kesepakatan di antara
kami, bahwa yang mengetahui hal
ini hanya kami berdua. Sebab jika
aku masih terus saja memeriksa
isi lemari tersebut, dia khawatir
nanti Kak Ilyas akan curiga. Hal
itu nanti malah akan membuat
rencana yang sudah kami susun menjadi berantakan. Akhirnya aku
menuruti apa yang dikatakan Kak
Budiman.
Setelah Kak Budiman melakukan operan dengan Kak Ilyas, maka aku dan Kak Budiman pun segera pulang.
"Kak, kalau sama Mbah Tono,
Kak Budiman kenal nggak?"
tanyaku, ketika kami sedang
menyusuri koridor.
"Kenal banget sih nggak, cuma tahu aja kalau dia itu penjaga malam di RS ini. Kakak pernah dengar, katanya dia itu salah satu orang yang paling lama kerja di sini. Memangnya kenapa sama dia?." tanya Kak Budiman, sambil terus berjalan ke arah depan RS.
"Dia juga aneh orangnya, Kak."
"Tahu dari mana kamu?"
Aku kemudian menceritakan apa yang terjadi ketika aku dinas malam dan Mbah Tono tiba-tiba wajah dan tingkah lakunya berubah, saat aku mengatakan apakah ada kemungkinan kalau dokter Indri itu dibunuh.
"Masa Mbah Tono langsung pergi aja nggak bilang-bilang, pas saya ngomong kayak gitu." kataku, di akhir cerita.
"'Aneh. Kenapa dia bersikap kayak gitu ya?"
"Memang banyak banget orang aneh yang saya temui di RS Jaya Putra ini, Kak. Bikin saya tambah bingung dengan misteri hilangnya dokter Indri. Tapi juga bikin saya makin penasaran." Kak Budiman tertawa menanggapi.
Ketika sampai di pelataran parkir, aku melihat dokter David sedang berbincang dengan Mbah Tono. Mereka duduk di bangku yang ada di bawah pohon mangga. Meskipun malam hari, tapi lampu penerangan yang ada di pelataran itu cukup terang. juga jarak mereka yang tak terlalu jauhdengan posisi di mana aku berdiri. Sehingga aku bisa melihat dengan jelas sosok dokter David dan Mbah Tono.
"Kak, itu Mbah Tono sama dokter David ada di bawah pohon mangga. Mereka sedang ngobrolin apa ya? Kok saya curiga," kataku pada Kak Budiman dengan berbisik.
"Mungkin sedang ngobrol biasa. Kamu sendiri bilang kan,kalau waktu dinas malam kemarin ngobrol sama Mbah Tono."
Tiba-tiba Mbah Tono melihat ke arahku. Dia lalu bicara dengandokter David, entah apa yang dikatakannya. Setelah itu, dia beranjak dari duduk, kemudian pergi meninggalkan dokter David. Hal itu tentu saja membuat aku makin penasaran.
***
__ADS_1
Bersambung...