
Kamar Mayat
Part 25
***
Sejenak aku tertegun, seakan tak percaya dengan apa yang diucapkan dokter David tadi. (Ah... mungkin saja aku salah dengar)aku membatin.
Aku memandang dokter David, wajahnya tampak begitu menakutkan. Rahangnya mengeras, terdengar suara giginya gemeretak.
Matanya merah seperti orang yang sedang menahan marah. Dia menatap aku tajam penuh selidik. Aku bergidik, ternyata diri ini memang tadi tak salah mendengar. Dokter David betul mengatakan hal itu, kalau dia tak akan segan membunuh orang yang mencampuri urusan pribadinya.
[Kenapa dokter David tiba-tiba marah gitu ya, sampai bilang mau bunuh orang segala. Bukannya waktu itu dia sendiri yang nyuruh aku untuk baca-baca buku, daripada memeriksa cermin. Apa semua itu berarti ada hubungannya sama hilangnya dokter Indri ya? Jangan-jangan, dokter Indri meninggal karena dibunuh dokter David? Hii ... sadis banget kalau memang benar]aku membatin
"Ta ... tapi ... tapi saya memang sedang cari buku untuk saya baca, Dok. Kan kemarin Dokter sendiri yang bilang, kalau saya harus banyak baca, daripada memeriksa cermin itu," kataku terbata-bata, sembari menunjuk ke arah cermin. Keringat dingin mulai mengalir di kedua pelipis, aku sangat ketakutan.
Dokter David tersenyum sinis padaku.
"Sudah, kamu nggak perlubanyak alasan lagi, Andri! Saya tadi lihat kok, kamu sedang meneliti buku-buku ini satu per satu sambil mengguncangnya. Kamu pasti berharap akan menemukan sesuatu di dalam buku-buku ini yang berhubungan dengan saya kan? Saya juga dapat info dari Yusuf, kalau kamu tanya-tanya soal saya ke Fadli! Untuk apa kamu cari tahu siapa saya? Apa kita pernah kenal
sebelum ini? Apa kamu punya
dendam atau masalah pribadi dengan saya?" tanya dokter David
dengan nada tinggi. Kelihatan
sekali kalau dia sedang marah
besar padaku.
Aku menelan ludah, sebab tak bisa lagi mengelak. Nyaliku semakin ciut. Semua yang dokter David bilang, benar adanya. Aku hanya menunduk, tak berani menatap wajahnya.
[Duh ... kenapa jadi rumit banget sih masalah ini. Siapa lagi itu Yusuf yang barusan dibilang dokter David. Kenapa dia bisa tahu, kalau aku tanya soal dokter David ke Kak Fadli? Tahu dari mana dia ya? Apa Kak Fadli yang bilang padanya?]
"Saya mau, kamu bereskan lagi buku-buku ini sekarang! Dan ingat kata-kata saya tadi, jangan sekali-kali ikut campur urusan saya, kalau kamu belum mau mati! Paham kamu?" bentak dokter David, membuatku makin ketakutan.
"I.. iya, Dok. Sa ... saya paham. Saya minta maaf," kataku dengan gemetaran. Seluruh tulang yang menempel di badan, seperti lepas dari persendian, membuatku merasa lemas dan lunglai.
Dokter David lalu meninggalkan ruangan kamar mayat. Aku segera membereskan buku-buku yang aku taruh di atas brankar, memasukannya kembali ke lemari
kaca dan menyusunnya dengan
rapi. Salahku sendiri, kenapa tadi
menaruh buku-buku itu di luar,
bukannya langsung menatanya
lagi di dalam lemari.
"Andri, kamu nggak kenapa-napa?" tanya Kak Budiman yang menghampiriku dengan tergesa gesa. Aku menghentikan pekerjaanku. Lalu memandang Kak Budiman.
"Kakak kenapa lari-lari?"
"Kakak khawatir sama kamu,
Andri. Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Kak Budiman lagi, sembari memeriksa badanku. Tampak kekhawatiran di wajahnya.
__ADS_1
"Saya nggak kenapa-napa kok,
Kak. Kakak tahu dari mana kalau
saya bakalan kenapa-napa? "
tanyaku heran, sebab tadi Kak Budiman tak ada di dalam ruangan kamar mayat waktu dokter David sedang marah-marah.
"Tadi itu Kakak udah sampai
pintu. Tiba-tiba Kakak dengar
dokter David sedang marah sama
kamu. Terus Kakak keluar lagi, sembunyi di pinggir dinding kamar
mayat. Kamu juga sih, Andri.
Ngeyel kalau dibilangin. Begini kan
jadinya."
"'Soalnya saya penasaran banget, Kak. Saya yakin, suatu saat nanti saya pasti bisa membongkar misteri hilangnya dokter Indri. Cepat atau lambat," kataku dengan mantap.
"Kamu nggak takut apa?"
"Takut sama siapa, Kak? Sama dokter David?"
"Kakak rasa apa yang kamu lakukan sangat berbahaya untuk keselamatan diri kamu, Andri.
fokus sama kerjaan kamu aja, daripada nanti ada apa-apa sama
kamu, Andri."
"Nggak, Kak. Udah kepalang tanggung. Saya harus selesaikan
penyelidikan ini sampai selesai,
biar saya nggak penasaran lagi.
Apa pun resikonya." Kak Budiman menarik napas dalam saat mendengar perkataanku.
"Kalau begitu, terserah kamu, Andri. Yang penting Kakak sudah kasih peringatan ke kamu. Kamu memang keras kepala. Semoga saja nggak terjadi apa-apa sama diri kamu."
"Oh iya, Kak. Apa Kak Budiman tahu, siapa Yusuf itu? Tadi dokter David bilang, kalau Yusuf yang ngasih tahu ke dia soal saya."
"Kak Yusuf itu saudaranya
Pak Jarwo. Dia dinas di kamar
Operasi, bareng sama Kak Fadli."
Aku manggut-manggut. Kenapa Kak Yusuf harus kasih tahu ke dokter David soal aku ya? Apa pentingnya untuk dia? Apa dia juga ikut terlibat dengan hilangnya dokter Indri. Ah... makin banyak saja nama yang jadi tersangka ternyata dalam kasus ini, aku membatin.
***
Hingga menjelang waktu asar tiba, tak ada yang aku dan Kak Budiman lakukan, sebab tak ada kiriman jenazah yang datang. Kami hanya duduk di bangku panjang depan kamar mayat sambil mengobrol tentang banyak hal. Tapi, kami tak sedikit pun membicarakan soal misteri hilangnya dokter Indri. Kak
__ADS_1
Budiman yang melarang untuk
membicarakan hal itu. Karena dia
khawatir, jika tiba-tiba dokter
David muncul dan dia mendengar
kami sedang membicarakannya.
Pasti akan sangat bermasalah buat kami berdua. Kak Budiman juga melarang agar aku tak lagi membuka dan memeriksa isi dalam lemari kaca milik dokter David, sebab dia tak ingin terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan terhadap diriku.
"Kakak ke mushola duluan ya," pamit Kak Budiman, ketika waktu sholat asar tiba. Dia lalu beranjak dari duduk dan pergi ke arah mushola. Aku mengangguk mengiyakan.
Mungkin sebenarnya selama ini Kak Budiman dan juga teman sejawat yang lain merasa penasaran dengan misteri hilangnya dokter Indri. Atau bahkan ada kemungkinan juga di antara mereka sebetulnya ada yang mengetahui soal ini. Namun mereka enggan membicarakan hal tersebut, sebab menyangkut keselamatan jiwa mereka, aku membatin.
Kejadian tadi pagi, saat dokter David marah besar padaku, malah semakin membuat diri ini penasaran. Dan aku makin yakin, kalau dia memang terlibat dengan
hilangnya dokter Indri selama ini.
Tapi untuk membuktikan hal tersebut, aku kesulitan untuk
menggali dan mencari informasi
yang akurat, sebab sepertinya
semua karyawan di RS Jaya Putra ini menutup mulut mereka rapat-rapat terhadap masalah itu.
Tak lama berselang, Kak Budiman sudah kembali dari mushola. Bergegas aku menuju musala untuk mendirikan sholat asar.
"Ketemu lagi kita di sini, Andri" tegur seseorang, saat aku sedang memakai sandal, setelah selesai salat.
Aku menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Kak Fadli sedang tersenyum padaku. Dalam hati aku bersorak kegirangan.
"Eh... iya, Kak. Kak Fadli sedang dinas sore?" tanyaku.
"lya nih."
"Apa di kamar Operasi sedang sibuk, Kak?"
Kak Fadli tersenyum, mungkin dia sudah tahu maksudku bertanya seperti itu.
"Kebetulan sedang nggak sibuk sekarang. Kenapa? Kamu pasti mau nagih janji Kakak kemarin ya," kata Kak Fadli seraya bercanda, membuat aku malu.
"Hehehe iya, Kak. Soalnya saya penasaran banget sama yang Kak
Fadli bilang kemarin."
Kami kemudian duduk di depan mushola, tak jadi pulang ke
ruangan masing-masing.
"Maksud yang Kakak bilang kemarin tentang cinta segitiga itu, dokter David mencintai dokter Indri dan Anfa sekaligus juga mencintai dokter Indri" kata Kak Fadli, membuat mataku membeliak sangat lebar.
***
Bersambung...
__ADS_1