Tragedi Cinta Segitiga

Tragedi Cinta Segitiga
Bab 7 : Takut


__ADS_3

Kamar Mayat


Part 7


***


Kak Budiman dan kak Ilyas saling berpandangan, membuat aku semakin tak mengerti dan penasaran.


"Kak kenapa pada liat liatan gitu sih? Memangnya ada yang salah dengan ucapanku barusan?" tanyaku ingin tahu.


Kedua kakak senior ku itu tetap tak menjawab pertanyaan ku.


Mereka hanya terlihat menghela napas dalam. Kak Ilyas terlihat mengedipkan mata ke arah kak Budiman, Mungkin itu kode agar dia tak memberitahu kepadaku yang sebenarnya.


"Kita jalan lagi aja yuk , Andri , mungkin tadi kamu salah lihat.


mana mungkin dokter Indri duduk di poliklinik gigi malam hari begini, Kayak gak ada kerjaan yang lain aja" Kata kak Budiman , setelah beberapa saat


kami hanya berdiri diam di koridor.


Aku sangat tahu kalau kakak


seniorku ini sedang berusaha mengalihkan pembicaraan. Sebab tadi aku melihat dengan jelas sekali waktu kak Ilyas mengedipkan mata ke arah kak Budiman.


"Nggak mungkin kalau saya salah lihat, kak. Mata saya masih normal kok, belum minus apalagi plus atau katarak. saya betulan tadi melihat dokter Indri ada di depan poliklinik gigi duduk sendiri , makanya saya berhenti soalnya ingin tau apa yang sedang dia lakukan di situ" Kata ku bersikukuh.


Kak Budiman dan Kak Ilyas


diam saja, mereka tak menanggapi ucapanku.


Aku lalu menengok lagi ke


belakang, melihat ke arah poliklinik


gigi, dimana tadi tampak dokter Indri sedang duduk di sana. Aku bermaksud akan memberitahukan pada kak Budiman dan kak Ilyas,


bahwa dokter Indri memang ada di sana. Dan penglihatanku memang masih jelas dan tak bermasalah.


Tapi , ternyata dokter Indri


sudah tak ada lagi di depan poliklinik gigi. sejenak pandangan ku lalu mengitari sekitar tempat itu, mencari sosok dokter Indri. Namun tak membutuhkan waktu lama dokter Indri tetap tak terlihat lagi di sana.


Beberapa kali aku mengucek mata,


dan mempertajam penglihatan,


barangkali saja aku salah lihat.


Tapi benar sosok dokter Indri tetap tak tampak lagi di sana.


(Lho... kemana perginya


dokter Indri ya? Padahal tadi aku jelas banget lihat dia sedang duduk sendiri di depan ruangan poliklinik gigi itu. Apa dia pergi ke kamar mayat lagi. Tapi kan ini sudah malam, Sudah waktunya pergantian shift.

__ADS_1


Ngapain dokter Indri kembali lagi ke kamar mayat)


Dengan masih merasa


bingung, beberapa waktu aku terpaku melihat bagian depan ruang poliklinik gigi tersebut.


"Andri! Ngapain lagi kamu masih berdiri di situ?" Teriak kak Ilyas mengagetkan. Ternyata kedua kakak seorang ku itu sudah berjalan jauh di depan.


Dengan sedikit berlari aku segera menyusul kak Budiman dan kak Ilyas , yang sudah hampir sampai di pelataran RS. Kamu kemudian menuju ke tempat di mana sepeda motor kami di parkir. Ada beberapa orang perawat yang juga sedang mengeluarkan sepeda motor mereka dari tempat parkir. Mereka baru saja selesai dinas sore.


"Andri, kami berangkat duluan ya. kamu hati hati di jalan."


kata kak Ilyas , saat sepeda motor yang di kendarainya melintas pelan di depanku. Dia berboncengan dengan kak Budiman.


Kak Ilyas pernah bilang, kalau rumah mereka memang satu arah. Jadi mereka berdua selalu berboncengan jika kebetulan dinas di shift yang sama.


"Iya kak,Kakak hati hati juga di jalan" ucapku, sembari berusaha mengeluarkan sepeda motor dari tempat parkir.


Aku kemudian memakai jaket


yang tersimpan di dalam jika sepeda motor. Aku memang selalu membawa jaket dan baju ganti setiap berpergian kemana saja,


untuk berjaga jaga kalau tiba tiba turun hujan, jadi tidak kedinginan


karena memakai baju basah.


Setelah itu, Aku menghidupkan mesin motor dan perlahan meninggalkan pelataran RS Jaya Putra.


***


(Kenapa kak Budiman dan kak Ilyas kayak orang heran gitu ya, waktu aku bilang soal dokter Indri. kenapa mereka berdua seperti nggak percaya dengan ucapanku. Apa ada yang salah dari ucapanku tentang dokter Indri ya,Bukankah wajar saja kalau aku tadi lihat dokter Indri? Tapi kenapa juga kak Ilyas tadi aku lihat mengedipkan mata ke arah kak Budiman,


seolah sebuah kode agar dia tak bicara padaku)


Bermacam macam pertanyaan


singgah di kepala, dan diri ini


merasa aneh dengan reaksi kedua


kakak seniorku tadi. Aku jadi


penasaran, kenapa kak Budiman dan kak Ilyas bersikap seperti itu.


Aku mencoba untuk menebak nebak, tapi tak juga ku temukan jawabannya. Sampai rasa kantuk mulai menyerang , dan entah pukul berapa akhirnya aku tertidur


****


Keesokan harinya, aku sampai


lebih awal di tempat dinas. Kak Budiman dan kak Ilyas belum datang, saat aku tiba di kamar mayat.


Pak Danang tadi bilang akan keluar , mau cari sarapan dulu katanya. kebetulan pikirku,

__ADS_1


daripada aku harus berlama lama melihat wajah laki laki setengah baya itu, yang sama sekali tak bersahabat.


"Kamu sudah datang, Andri?


pagi sekali?" Tanya dokter Indri.


Dia tiba tiba sudah berada di dekatku.


"Eh ... iya , Dok Kebetulan tadi jalanan nggak begitu macet, jadi saya bisa cepat sampai di sini"


jawabku


"Oh... begitu" kata dokter Indri.


Dia lalu menuju ke meja kerjanya dan duduk di sana.


"Maaf , Dok kemarin waktu saya menghadap Pak Jarwo,


Beliau bilang saya disuruh lapor ke dokter David. Tapi kok dari kemarin saya belum ketemu sama dokter David ya" Kataku, setelah beberapa saat


Dokter Indri menengadahkan


wajahnya. Tiba tiba wajah cantik itu berubah jadi menakutkan.


Rahangnya mengeras, Giginya terdengar gemeretak, mulutnya terkatup rapat. Dia seperti orang yang sedang menahan marah. Dia memandangku dengan tatapan mata yang sungguh mengerikan,


tanpa ucapan sepatah kata pun.


Aku menjadi salah tingkah di buat olehnya.


Seketika aku langsung merinding. Bulu kuduk di kedua tangan meremang dan detakan jantungku terpacu tak karuan.


"Sa... saya... saya minta maaf , Dok kalau kata kata saya tadi ada yang salah. Tapi sungguh , Saya nggak sengaja. Saya cuma ingin tanya" kataku dengan menundukkan kepala. Karena terus terang, aku merasa sangat takut,


melihat wajah cantik dokter Indri


yang tiba tiba berubah menjadi sangat menyeramkan.


Dokter Indri diam saja, Aku makin salah tingkah. Karena merasa bingung, aku buru buru pergi dari hadapan dokter Indri.


Menuju meja kak Budiman dan duduk di sana. Aku tak berani melihat dokter Indri lagi.


Kenapa wajah dokter Indri


tiba tiba berubah menakutkan gitu ya? Apa ada yang salah dengan perkataan ku tadi? Kenapa dia seperti tidak suka waktu aku menyebut nama dokter David ya?


Aku membatin.


Dua menit berlalu. Aku belum berani menatap ke arah dokter Indri. Aku makin merinding.


(Aneh! Kenapa aku jadi malah tambah merinding gini ya)


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2