
Kamar Mayat
***
Part 27
"Andri! Kamu tuli ya? Cepat
menyingkir dari sana!" hardik Pak
Danang, sembari jari telunjuknya
menunjuk ke arahku.
"Loh .. memangnya kenapa? Apa urusannya sama Bapak, kalau
saya dekat-dekat sama cermin ini?" tanyaku dengan santai, tanpa ekspresi. Entah datang dari mana keberanian menjawab perkataan
Pak Danang. Padahal biasanya,untuk menatap mukanya saja aku tak berani, saking menakutkan.
Pak Danang ampak semakin geram, karena perintahnya tak di laksanakan olehku. Dia kemudian mendekat ke arahku. Lalu mendorong badan ini dengan sangat kuat dan kasar, agar aku segera menjauh dari cermin. Sampai diri ini hampir jatuh terjerembab ke lantai. Apa yang dilakukan Pak Danang, semakin menguatkan dugaanku bahwa ada apa-apa dengan cermin tersebut, yang berhubungan dengan hilangnya dokter Indri. Dan aku juga merasa yakin, kalau Pak Danang adalah salah seorang yang terlibat di dalam kasus itu.
"'Sekali lagi kamu dekati cermin ini, kamu tanggung sendiri akibatnya!"' bentak Pak Danang, dengan muka merah padam dan mata merah menyala karena marah.
"Kenapa Bapak begitu ngotot agar saya menjauh dari cermin itu? Saya jadi curiga, jangan-jangan ada hal rahasia yang disembunyikan di balik cermin itu," kataku dengan nada mengejek.
Melihat situasi yang mulai memanas dan genting, Kak Budiman segera bangkit dari duduk dan berusaha melerai. Dia menenangkan Pak Danang dan memintaku agar menjauh. "Sabar, Pak. Sabar. istighfar. Mohon Andri dimaafkan. Tadi dia nggak sengaja dekat-dekat
dengan cermin itu," kata Kak Budiman, sembari memegangi
tangan Pak Danang yang terkepal
menahan geram. Kak Budiman kemudian membawa Pak Danang ke
bangkunya dan memintanya agar duduk, untuk menghilangkan kemarahan.
Pak Danang mendengkus kesal.
Dia masih memandangku dengan
tatapan yang mengerikan. Kali ini aku berani membalas tatapannya.
Memangnya dia itu siapa, seenaknya saja memerintah,
bukannya kami semua yang ada di
kamar mayat ini sama-sama
petugas penjaga mayat, dan
kedudukan kami sama, hanya
__ADS_1
dibedakan oleh lamanya waktu bekerja, aku membatin.
Kak Budiman lalu mendekatiku, setelah membawa Pak Danang duduk dan menenangkannya.
"Sudah, Andri. Kamu jangan ladeni kemarahan Pak Danang ya. Maklumi saja. Nggak ada untungnya kalian bertengkar, apalagi kalau sampai berkelahi. Malu dilihat banyak orang, sudah bukan waktunya lagi untuk ribut karena hal sepele. Mungkin lebih baik kamu duduk di luar sementara ini," bujuk Kak Budiman seraya memegangi pundakku.
"Nggak bisa gitu dong, Kak. Memangnya dia itu siapa, main perintah seenaknya. Lagian apa kepentingan dia sama cermin itu, sampai ngelarang saya untuk nggak deket-deket di sana," kata ku kesal.
Tak lama, tampak Pak Danang
beranjak dari duduk, dan berjalan menghampiri kami. Mungkin amarahnya kembali muncul mendengar perkataanku tadi Dan
aku tak peduli.
"Kamu nantangin saya hah? Kamu belum tahu siapa saya ya?" tanya Pak Danang dengan membentak, setelah berada di dekat kami. Matanya melotot ke arahku.
"Saya bukan nantangin Bapak. Saya cuma nggak suka cara Bapak melarang saya mendekati cermin itu! Memangnya apa hak Bapak untuk ngatur-ngatur saya. Saya
juga nggak peduli Bapak itu siapa,
yang saya tahu kita di sini sama-sama petugas penjaga
kamar mayat! Kedudukan kita sama, nggak ada yang lebih tinggi!" balasku dengan membentak dan melotot juga ke arah Pak Danang.
Tanpa diduga, Pak Danang tiba-tiba menarik kerah bajuku ke arah wajahnya. Aku berusaha melepaskan, tapi cengkeramannya
terlalu kuat.
"Coba kamu bilang sekali lagi,
ingin dengar," kata Pak Danang, saat
wajah kami berjarak sangat dekat,
hampir bersentuhan.
"Saya nggak suka cara Bapak
melarang saya mendekati cermin itu!" seruku dengan suara lantang,
sampai menggema ke seluruh
ruangan kamar mayat.
Sesaat tampak wajah Pak Danang merubah. Dia menautkan kedua alisnya. Mungkin dia tak menyangka aku akan berani mengatakan hal tersebut. Kak Budiman buru-buru memisahkan kami, ketika kepalan tangan Pak Danang hendak mengayun ke wajahku. "Ya ampun ...sudah-sudah! Masa cuma gara-gara cermin kalian berdua sampai mau adu jotos gini sih," kata Kak Budiman, seraya berusaha melepaskan cengkeraman tangan Pak Danang dari kerah bajuku.
"Sudah, Pak. Andri. Kalian itu sudah sama-sama dewasa loh. Nggak malu apa, kalau nanti didengar dan dilihat banyak orang kalian sedang pada berantem? Mendingan sekarang kita operan saja. Ini sudah kelewat banyak waktunya, saya mau cepet pulang," kata Kak Budiman lagi. Dengan terpaksa Pak Danang melepaskan tangannya dari kerah bajuku. Sambil mendengkus dia menuju ke meja kerjanya.
Beberapa saat kemudian Kak
Budiman melakukan operan dengan Pak Danang. Setelah itu aku dan Kak Budiman lalu pulang. "Andri, tadi kamu apa-apaan sih. Kalau terjadi apa-apa sama kamu gimana?" kata Kak Budiman, saat kami berjalan
__ADS_1
menyusuri koridor RS Jaya Putra menuju ke pelataran tempat sepeda motor kami diparkir.
"Soalnya saya sebel banget sama kelakuan Pak Danang yang sok jagoan, Kak. Memangnya dia itu siapa main perintah seenak jidatnya saja."
"lya juga sih. Dia memang orangnya kayak gitu. Kalau kita nggak sabar-sabar, ya bakalan tiap hari berantem terus sama dia. Kalau saran Kakak, kamu jangan lagi berurusan sama dia, Andri. Mendingan ngalah aja," kata Kak Budiman. Aku diam saja, tak menanggapi.
"Eh ... iya, Kak. Aneh nggak
sih, kenapa tadi Pak Danang
tiba-tiba marah sama saya. Saya
jadi makin yakin, kalau di balik
cermin itu ada rahasia yang
berhubungan sama hilangnya dokter Indri. Dan Pak Danang ikut
terlibat di dalamnya," kataku, saat
kami sudah sampai di tempat
parkir.
"Udah, Andri. Nggak usah dibahas lagi soal itu. Kakak khawatir ada yang dengar pembicaraan kita. Takutnya nanti terjadi hal yang nggak diinginkan sama diri kamu," larang Kak Budiman. Tampak kekhawatiran di wajahnya.
Kak Budiman lalu menuju ke tempat sepeda motornya diparkir. Tak lama, dia kemudian menghidupkan mesin motornya.
"Mau pulang bareng nggak, Andri?" tanya Kak Budiman, ketika lewat di depanku.
"Nggak, Kak. Makasih."
"Ya udah kalau gitu Kakak duluan ya. Hati-hati kamu, Andri."
Saat akan menghidupkan mesin motor, aku baru ingat kalau HP-ku tertinggal di laci meja Kak Ilyas. Tadi aku menaruhnya di sana waktu akan ke mushola untuk shalat magrib. Dan diri ini lupa belum memasukkan lagi benda pipih itu ke dalam tas.
Bergegas aku menuju ke kamar mayat. Dengan sedikit berlari aku menyusuri koridor yang mulai sepi. Sebab pergantian shift sore ke malam sudah berlalu beberapa menit yang lalu. Tak kuhiraukan lagi nasihat Kak Budiman, agar aku sebisa mungkin menghindari pertemuan dengan Pak Danang.
Saat sampai di ujung koridor, aku melihat Kak Fadli sedang duduk di bangku depan kamar mayat dengan Pak Danang. Mereka tampak sedang menmbicarakan sesuatu. Sepertinya serius, terlihat dari wajah Kak Fadli yang memandang Pak Danang tanpa berkedip. Kenapa Kak Fadli ada di sana? Apa yang sedang dia
bicarakan dengan Pak Danang?
Kayaknya serius banget, aku membatin.
Seketika aku menghentikan
langkah, lalu berusaha menajamkan telinga. Mencoba untuk mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi Suara mereka tak terdengar
dengan jelas. Aku hanya mendengar sekilas, Pak Danang berkata : "Kamu jangan coba-coba..." pada Kak Fadli, tapi aku tak bisa mendengar apa kelanjutan kalimat itu.
Aku menautkan kedua alis, sambil mengira-ngira apa sebetulnya yang sedang mereka bicarakan. Kenapa Kak Fadli tampak begitu patuh pada Pak Danang? Siapa dia sebenarnya?
__ADS_1
***
Bersambung...