Tragedi Cinta Segitiga

Tragedi Cinta Segitiga
Bab 28 : Ada Apa Sebenarnya


__ADS_3

Kamar Mayat


Part 28


***


Hampir lima menit lamanya aku berdiri di ujung koridor, sambil mengamati gerak gerik Pak Danang


dan Kak Fadli. Aku juga berusaha


untuk bisa mendengar lebih jelas


lagi apa yang sedang mereka bicarakan.


(Apa sebaiknya aku ambil saja sekarang HP-nya ya, mumpung masih ada Kak Fadli. Jadi Pak


Danang nggak akan mungkin melakukan macam-macam, karena ada orang lain. Lagian percuma juga nungguin di sini, obrolan mereka nggak bisa aku dengar. Malah badanku gatal semua digigit nyamuk) aku membatin, Maka aku segera menuju ke depan pintu kamar mayat, dimana Kak Fadli dan Pak Danang sedang mengobrol di bangku panjang.


Tampak wajah Kak Fadli agak terkejut saat melihat aku datang.


Dia pasti tak menyangka kalau aku


akan memergokinya sedang bersama Pak Danang. Kak Fadli terlihat kikuk. Sedangkan Pak Danang biasa saja, wajahnya tetap


masam untuk dilihat.


"Loh. Kak, sedang apa di sini?" tanyaku, pura-pura tak tahu kalau Kak Fadli sudah lama duduk bersama Pak Danang.


"Eh.. iya. Kamu kok balik lagi, Andri?" Kak Fadli balik bertanya. Dia masih tampak gugup.


"lya, Kak. Saya mau ambil HP yang ketinggalan di laci. Tadi saya lupa nggak masukin lagi ke dalam


tas," jawabku, lalu masuk ke ruangan dalam kamar mayat.


Aku segera mengambil HP Samsung SGH D 500 milikku dari dalam laci, lantas bergegas meninggalkan kamar mayat, setelah berpamitan pada Kak Fadli. Kasihan juga melihatnya tampak kikuk terlalu lama. Di sepanjang perjalanan


menuju rumah, aku masih memikirkan kata-kata Pak Danang


pada Kak Fadli tadi. Meskipun hanya sepenggal, tapi aku bisa mengambil kesimpulan kalau ucapan Pak Danang itu merupakan sebuah ancaman.


Tapi yang aku herankan, kenapa Kak Fadli hanya diam saja? Kenapa dia tak berani melawan Pak Danang? Bukankah Kak Fadli juga sudah cukup lama bekerja di RS Jaya Putra. Siapa sebenarnya Pak Danang itu, sampai para perawat senior pun tak punya keberanian untuk membantah ucapannya. Bermacam pertanyaan singgah di kepala.


***

__ADS_1


Keesokan harinya, aku sengaja berangkat agak siang ke RS Jaya Putra. Aku malas bertemu dengan Pak Danang dan melihat mukanya yang selalu masam dan tak pernah terlihat ramah padaku. Biarlah Kak Budiman sendiri yang melakukan operan, dia juga pasti akan memaklumi apa yang aku lakukan.


Bergegas aku menyusuri koridor, yang sudah mulai ramai pengunjung, setelah memarkirkan sepeda motor. Benar saja, ketika aku sampai di kamar mayat, Kak Budiman dan Kak Ilyas sudah melakukan operan, seperti perkiraanku. Sebab Pak Danang sudah tak ada lagi di dalam.


"Selamat pagi, Kak," sapaku, begitu masuk ke ruangan dalam ruang kamar mayat.


"Tumben kamu datangnya telat, Andri?" tanya Kak Budiman. Dia sedang membaca buku laporan. Sedangkan Kak Ilyas hanya menatap heran.


"lya, Kak. Saya sengaja datang telat," jawabku santai, sembari menaruh tas di atas meja, lalu duduk di sebelah Kak Ilyas. Kedua kakak senior itu tampak mengerutkan kening. Mereka lalu saling berpandangan.


"Sengaja kamu bilang? Memangnya ada apa, Andri? sampai kamu sengaja datang telat segala?" tanya Kak Ilyas bingung.


Aku tersenyum melihatnya.


"Saya malas ketemu sama Pak Danang, Kak. Saya nggak suka lihat mukanya yang nggak pernah senyum dan bersikap ramah ke


saya," jawabku, membuat Kak ilyas melongo. Sedangkan Kak Budiman hanya senyum-senyum.


"Tahu nggak, Kak. Kemarin itu HP saya ketinggalan. Terus saya balik lagi ke sini. Nah pas sampai di ujung koridor, saya lihat Kak Fadli sedang ngobrol serius sama Pak Danang di bangku depan. Saya nggak sengaja denger Pak Danang bilang: "Kamu jangan coba-coba." ke Kak Fadli. Tapi saya nggak denger apa lanjutannya." Aku bercerita pada


kedua kakak senior itu.


"Hah? Kamu balik lagi ke sini sendirian, Andri? Berani banget. Kamu nggak takut apa sama Pak Danang. Dia itu kayaknya udah benci setengah mati sama kamu. Terus Pak Danang sama Kak Fadli tahu nggak, kalau kamu nguping obrolan mereka?" tanya Kak Budiman dengan wajah tak percaya.


Soalnya mereka masih aja ngobrol, padahal saya udah berdiri lama di ujung koridor."


"Gimana reaksi mereka pas kamu datang?" tanya Kak Budiman, Tampaknya dia tertarik dengan ceritaku.


"Kalau Pak Danang sih biasa saja kayak biasanya. Mukanya masam dan sama sekali nggak ada ramahnya. Kak Fadli yang agak kaget pas lihat saya tiba-tiba datang. Kelihatan banget dia kikuk


waktu ngomong sama saya,"


jelasku.


"Tunggu sebentar, kalian ini dari tadi ngomongin apa sih? Kok aku nggak paham ya? Pak Danang, Kak Fadli, barang bukti foto, itu semua apa maksudnya?" tanya Kak Ilyas, sembari memandang ke arahku dan Kak Budiman bergantian. Wajahnya menyiratkan minta penjelasan.


Aku dan Kak Budiman saling senyum, melihat Kak Ilyas yang


tampak bingung.


"Kak Budiman aja Kak yang jelasin ke Kak Ilyas." pintaku. Kak Budiman lalu menceritakan semuanya dari


awal. Ketika dia dan aku sama-Sama merasa penasaran

__ADS_1


dengan misteri hilangnya dokter Indri. Dan kami bersepakat untuk


bertemu minggu depan, saat kami


libur bersamaan. Untuk membicarakan rencana dan langkah kami selanjutnya. Tak lupa, Kak Budiman juga menceritakan apa saja yang sudah kami dapatkan sebagai tambahan informasi. Beberapa kejadian yang kami alami dan cerita yang kami dengar dari beberapa kakak senior tentang beberapa nama yang kami curigai ikut terlibat dalam kasus hilangnya dokter Indri.


"Gitu ceritanya, Yas. Makanya sekarang ini kami berdua sedang


mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, yang kira-kira ada hubungannya dengan kasus hilangnya dokter Indri. Untuk kami jadikan barang bukti nantinya," kata Kak Budiman di akhir ceritanya.


Kak Ilyas manggut-manggut, tanda dia sudah mengerti dan paham.


"Ohh .. gitu. Kenapa kalian nggak ngajakin aku? Sebenernya aku juga kayak kalian, penasaran sama kasus ini. Malah aku pernah nggak sengaja denger dokter David ngomong ke Pak Danang untuk bikin cermin itu lebih nempel lagi ke dinding. Biar nggak bisa dilepas katanya," kata Kak Ilyas.


Spontan aku dan Kak Budiman melotot tak percaya.


"Yang bener kamu, Yas? Kamu nggak salah denger kan? Kapan


kamu dengernya?" tanya Kak


Budiman beruntun.


"Beneran aku denger jelas banget. Kupingku kan belum tuli, Bud. Aku dengernya waktu dinas malam kemarin," jawab Kak Ilyas.


"Tuh ... kan betul, Kak. Apa kata saya juga. Pasti ada apa-apanya sama cermin itu," kataku sambil menunjuk ke arah cermin.


"Terus apalagi yang kamu


denger, Yas?" tanya Kak Budiman


antusias.


"Nggak ada lagi Bud, cuma itu. Orang mereka langsung diam waktu aku datang." Kami bertiga lalu saling


menceritakan pengalaman masing-masing, yang berkaitan


dengan kasus hilangnya dokter Indri. Kami kemudian berusaha untuk menghubungkan setiap peristiwa tersebut, apakah ada kaitannya.


"Oh ... iya, Kak. Balik lagi ke soal Kak Fadli. Kira-kira Kakak berdua tahu nggak apa sebabnya Kak Fadli kok nggak berani membantah omongan Pak Danang. Soalnya saya ngerasa aneh aja, padahal dia kan perawat senior di RS Jaya Putra ini." kataku.


Kak Budiman dan Kak Ilyas saling berpandangan. "Loh ... memangnya kamu belum tahu, Andri? Pak Danang itu kan kakak iparnya Kak Fadli." jelas Kak Ilyas, membuatku melongo.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2