Tragedi Cinta Segitiga

Tragedi Cinta Segitiga
Bab 29 : Akhirnya Terungkap


__ADS_3

Kamar Mayat


Part 29


***


"Ohh .. pantas saja kalau gitu, Kak Fadli kelihatan sangat patuh pada Pak Danang waktu saya lihat. Ternyata dia adik iparnya Pak Danang" kataku sambil manggut-manggut. Kami kemudian melanjutkan obrolan. Sepanjang hari, hingga menjelang pergantian shift, kami membicarakan rencana apa yang akan kami lakukan selanjutnya,dalam menyelidiki kasus hilangnya dokter Indri.


Kami berbicara dengan sangat pelan tentu saja, sebab khawatir akan ada yang mendengar pembicaraan kami.


Kebetulan pula tak ada kiriman


jenazah, baik dari UGD maupun


dari ruang perawatan. Jadi obrolan kami bisa berlangsung lama, tanpa ada gangguan. Hanya saat dokter David datang ke ruangan untuk mengontrol dan ketika waktu salat tiba, obrolan kami tersebut terjeda sejenak.


"Kak, kita ngobrolnya pindah aja ke depan yuk," ajakku pada Kak Budiman dan Kak Ilyas, sembari


melihat jarum jam yang melingkar


di tangan. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam.


Sebentar lagi pasti Pak Danang datang, dan aku tak ingin melihat mukanya berlama-lama. Oleh karena itu, aku mengajak kedua kakak senior untuk pindah ke depan kamar


mayat. Agar saat Pak Danang datang dan melakukan operan, diri


ini tak perlu melihat mukanya yang


sadis itu, sebab aku tak akan masuk ke ruangan dalam selama operan berlangsung.


Meskipun tampak bingung, kedua kakak senior itu mengikuti saja saat aku berjalan menuju ke luar ruangan. Kami pun duduk di bangku panjang, seraya menunggu Pak Danang datang.


Dan benar saja, tak sampai 3 menit kemudian, Pak Danang datang. Dia memandangku sekilas, dengan tatapan penuh kebencian, lalu masuk ke ruangan dalam. Kak Budiman dan Kak Ilyas mengikuti. Sedangkan aku tetap duduk di depan.


Tak sampai lima belas menit kemudian, kedua kakak senior itu


keluar dari ruangan dalam. Kak


Budiman lalu memberikan tas-ku.


Sebab tadi aku lupa membawanya


keluar dan kami pun segera pulang


***


Keesokan harinya, aku mendapatkan jadwal dinas malam. Sebelum pukul tujuh aku sudah berangkat. Bergegas aku menyusuri koridor menuju ke kamar mayat, begitu selesai memarkirkan sepeda motor.


"Kak, saya izin salat isya dulu


ya" pamitku pada Kak Budiman


dan Kak Ilyas, saat sampai di


kamar mayat. Mereka sedang duduk sembari mengobrol. Kulihat tak

__ADS_1


ada jenazah di atas brankar. Setelah kedua kakak senior itu memberikan izin, segera aku pergi ke mushola. Di sepanjang jalan aku bertemu dengan beberapa orang perawat dan penunggu pasien, yang juga akan ke mushola. Karena memang waktu salat isya baru saja tiba.


Ketika sampai di depan kamar Operasi, aku melihat dokter Indri ada di sana. Dia sedang duduk sembari melihat ke arahku.


Meskipun merasa takut, aku berusaha untuk bersikap biasa


saja, agar terlihat tetap tenang. Padahal bulu kuduk di leher dan kedua tangan sudah meremang


dari tadi. Aku lalu menoleh ke kiri


dan kanan. Sepertinya mereka yang berjalan di sebelah kanan kiriku tak ada yang melihat sosok dokter Indri. Pandangan mereka tetap lurus ke depan. [Aneh! Kenapa sepertinya


hanya aku saja yang melihat dokter Indri ya? Atau mereka juga melihatnya tapi pura-pura biasa saja, seperti yang aku lakukan?]aku membatin, Begitu sampai di mushola, aku langsung mengambil air wudhu dan mendirikan sholat isya berjama'ah. Setelah selesai sholat, aku buru-buru kembali ke ruang kamar mayat, agar bisa jalan bersama dengan beberapa orang saat berada di koridor. Terus terang aku merasa takut jika harus berjalan


sendirian dan melihat dokter Indri.


"Kak, mau operan sekarang apa nanti?" tanyaku, ketika sampai di ruangan dalam kamar mayat. Kak Budiman dan Kak Ilyas sedang bermain HP.


"Terserah kamu aja, Andri. Mau sekarang boleh, nanti juga boleh," jawab Kak Budiman, seraya memasukan HP-nya ke dalam tas.


"Kalau gitu sekarang aja, Kak," kataku. Aku dan Kak Budiman lalu


melakukan operan. Setelah selesai, kedua kakak senior itu langsung pulang.


***


Aku teringat kembali apa yang dikatakan oleh Kak Ilyas kemarin.


Bahwa dokter David pernah bilang


pada Pak Danang, agar membuat


menempel lebih kuat lagi, supaya sulit untuk ditarik.


Dengan rasa penasaran yang sangat, aku mendekati cermin itu.


Lalu berusaha untuk menarik sisi


sebelah kanan, sebab sisi sebelah


kiri sudah retak. Aku khawatir nanti pecah berantakan dan pasti akan menimbulkan masalah bagi diri ini. Tapi sulit sekali, meskipun sudah beberapa kali aku berusaha menariknya.


Tiba-tiba aku merinding, bulu kuduk berdiri. Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku bergegas berlari keluar ruangan dan duduk di bangku depan.Hingga pukul setengah 12


malam, aku masih duduk di bangku depan. Aku belum berani untuk masuk lagi. Tak lama berselang, terlihat Mbah Tono datang dengan membawa sebuah tungku kecil yang berasap beralaskan piring seng. Dia


kemudian duduk di sebelahku. Bau


dupa seketika menguar, membuat sesak napas. "Itu apa, Mbah?" tanyaku, sembari melihat ke arah tungku yang dibawanya, walaupun aku sudah mencium bau dupa.


"Ini dupa sama menyan, Mas. Saya mau melakukan ritual tengah malam nanti. Biar semua makhluk halus yang ada di RS Jaya Putra ini pergi menjauh biar nggak mengganggu


karyawan yang sedang tugas dan


pasien yang sedang dirawat. Dan

__ADS_1


saya akan memulai ritual itu dari


kamar mayat ini," jawab Mbah


Tono. "Maaf ya, Mbah. Ritual yang


akan Mbah Kasto kerjakan itu


nggak boleh. Dosa. Syirik itu


namanya. Menyekutukan Gusti


Allah," kataku dengan nada selembut mungkin, agar tak menyinggung perasaan orang tua


itu.


Mbah Tono tiba-tiba terkekeh.


"Mas Andri tahu apa? Mas kan belum lama kerja di sini. Saya sudah melakukan ritual ini sejak beberapa tahun yang lalu. Dan nggak ada orang yang pernah ngelarang."


Aku menghela napas dalam.


"Mungkin mereka nggak ada yang peduli sama Mbah. Saya ngasih tahu ke Mbah Tono, karena saya peduli."


Lama Mbah Tono terdiam. Mungkin dia sedang memikirkan ucapanku. "Terima kasih atas kepedulian


Mas Andri. Tapi maaf, saya harus tetap melakukan ritual ini," kata Mbah Tono. Dia lantas beranjak dari duduk dan masuk ke ruangan dalam kamar mayat.


Aku mengikutinya. Mbah Tono mulai mengelilingi kamar mayat, sambil merapalkan mantra atau apa. Dia mulai dari pojok ruangan sebelah cermin terpasang.


Tiba-tiba aku berpikir untuk memeriksa cermin, mumpung


Mbah Tono ada di dalam jadi aku


tak begitu merasa takut. Aku kemudian menarik sisi kanan bawah cermin itu, dengan sekuat tenaga.


"Andri! Kamu memang bandel rupanya!" teriak Pak Danang, yang tiba-tiba sudah berada di dalam, membuat aku kaget setengah mati.


Dia lantas mendekatiku. Jantungku berdetak tak karuan, sebab aku melihat Pak Danang membawa sebuah linggis. Pikiran buruk melintas di kepala.


"Harus berapa kali kamu dikasih tahu, jangan dekati cermin itu! Apalagi sampai coba-coba untuk menariknya!" hardik Pak Danang lagi.


Aku bergeming. Entah datang dari mana, aku punya keberanian untuk melawan Pak Danang. Kami pun saling beradu mulut. Terlihat Pak Danang marah besar padaku.


Sementara Mbah Tono masih saja mengelilingi ruangan, tanpa berusaha melerai kami.


Tiba-tiba Pak Danang mengayunkan linggis ke arahku. Beruntung aku cepat menghindar sehingga linggis itu mengenai cermin, yang langsung pecah berantakan.


Sejenak Pak Danang terpaku melihat pecahan cermin tersebut. Dengan sekuat tenaga aku langsung mendorongnya dan segera berlari keluar.


Aku berteriak-teriak minta tolong sembari berlari ke arah depan RS. Beberapa orang satpam dan beberapa orang lainnya berlarian menghampiri.


"Ada apa, Pak? Bapak kenapa sampai lari-lari kayak gini?" tanya


seorang satpam.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2