
Kamar Mayat
Part 24
***
Dokter David kemudian masuk ke mobilnya, setelah Mbah Tono pergi meninggalkan pelataran parkir. Tak lama, mobil yang dikendarai dokter David melintas di depanku.
(Kenapa Mbah Tono langsung pergi waktu lihat aku ya? Apa yang sedang mereka bicarakan tadi? Bikin aku makin penasaran aja)Aku membatin.
"Andri, Kakak pulang duluan ya," kata Kak Budiman, saat sepeda motor yang dia kendarai melintas di depanku.
"lya, Kak. Hati-hati ya di jalan."
"Kamu juga," kata Kak Budiman. Sepeda motor yang dikendarainya perlahan meninggalkan pelataran parkir.
Aku pun segera menghidupkan mesin sepeda motor dan mengendarainya dengan perlahan, meninggalkan pelataran parkir.
***
Keesokan harinya, aku kembali berangkat ke RS lebih pagi seperti kemarin. Diri ini masih penasaran dengan lemari kaca dan buku-buku yang ada di dalamnya. Aku ingin memeriksa lagi dengan lebih teliti semua buku dan barang-barang itu. Barangkali saja aku akan menemukan sesuatu di sana.
Bergegas aku berjalan menyusuri koridor yang masih tampak sepi, karena memang belum waktunya pergantian shift malam ke pagi. Aku hanya bertemu dan berpapasan dengan beberapa orang dan teman
sejawat di koridor.
Ketika sampai di ujung koridor, aku melihat Kak Ilyas sedang mengobrol dengan Mbah Tono di bangku depan ruang kamar mayat. Mereka tampak sangat serius. Terlihat dari gerakan
kepala Kak Ilyas yang berulang kali manggut-manggut, saat Mbah Tono bicara. Aku langsung menghentikan langkah, tak jadi menuju ke kamar mayat.
(Mbah Tono sama Kak Ilyas sedang ngobrolin apa ya. Kayaknya serius banget. Kalau aku datang ke sana, pasti mereka akan curiga. Nanti dikira mereka, aku menguping obrolan mereka) aku membatin
Entah datang dari mana, tiba-tiba aku mendapat ide untuk berjalan langsung saja ke kamar Operasi. Siapa tahu ada Kak Fadli di sana. Aku bisa minta dia untuk bercerita soal yang dia bilang kemarin sore.
Dengan penuh semangat, aku kemudian berjalan ke kamar Operasi, sambil berharap bertemu Kak Fadli di sana.
Tapi, sampai di depan ruang perawatan laki-laki, aku bertemu dengan Kak Anfa. Dia akan mengantar darah pasien baru ke ruang laboratorium.
"Loh.. Andri. Kamu mau ke mana? Pagi banget udah sampai sini?" tanya Kak Anfa. Dia menatapku penuh selidik.
"Eh ... Kak Anfa, kita ketemu lagi," kataku kikuk. Dalam hati aku merutuki diri sendiri, kenapa harus
ketemu Kak Anfa di sini. Padahal
aku ingin nya ketemu Kak Fadli.
"Kamu mau ke mana, Andri?" tanya Kak Anfa mengulangi.
"Saya mau ke musala, Kak," jawabku asal saja. Tak mungkin aku mengatakan pada Kak Anfa, kalau aku akan ke kamar operasi karena ingin bertemu dengan Kak Fadli. Bisa-bisa Kak Anfa akan curiga padaku.
"Oh ... Kakak kira mau ke mana," kata Kak Anfa. Entah dia percaya atau tidak dengan apa yang aku katakan, tapi dia hanya mengucapkan seperti itu.
"Kak Anfa kok udah dinas malam lagi? Bukannya kemarin lusa baru dinas malam bareng saya?" tanyaku heran, sebab baru beberapa hari yang lalu dia dinas malam ketika aku piket.
__ADS_1
"lya ini. Kakak gantian sama teman. Dia sedang ada keperluan. Eh ... Kakak mau ke laboratorium dulu ya, mau nganter darah pasien baru. Nanti keburu beku" kata Kak Anfa. Dia lalu meneruskan langkah ke arah depan.
Aku pun meneruskan perjalanan menuju musala. Ketika sampai di depan kamar operasi, ingin sekali aku berhenti. Tapi aku khawatir akan dilihat oleh Kak Anfa, sebab dia belum terlalu jauh berjalan, masih bisa terlihat dari depan kamar operasi.
Saat sampai di musala, aku tak melihat siapa pun, karena waktu subuh memang sudah habis beberapa waktu yang lalu. Suasana di sekelilingnya sangat sepi. Tiba-tiba aku merinding. Bergegas aku memutar arah, kembali menuju ke arah ruang kamar mayat, dengan sedikit berlari.
Ketika langkahku sampai di depan kamar operasi, aku melihat dokter Indri ada di sana. Dia sedang melihat ke arahku. Seketika aku langsung berlari, menyusuri koridor menuju ke kamar mayat, tanpa menoleh lagi ke belakang.
***
Sesampainya diruang kamar mayat
"Kamu kenapa lari-lari, Andri?" tanya Kak Ilyas heran, saat aku sampai di depan kamar mayat. Mbah Tono sudah tak ada lagi.
"Saya lihat hantu, Kak. Di
depan kamar Operasi" jawabku,
dengan napas yang masih terengah-engah. Aku lalu duduk di
sebelah Kak Ilyas. Kak Ilyas mengernyitkan kening. "Kamu ngapain pagi-pagi udah ke kamar operasi?"
"Tadi saya dari mushola, Kak.
Pas pulangnya saya lihat hantu di
kamar Operasi."
dulu?"
"Tadi waktu sampai ujung koridor, saya lihat ada Mbah Tono sedang ngobrol sama Kak Ilyas di sini. Makanya saya langsung aja ke mushola. Memangnya Kak Ilyas ngobrol apa sama Mbah Tono, kayaknya serius banget?"
"Menurut Kakak, nggak serius
banget sih. Tadi Mbah Tono bilang, dia mau melakukan ritual malam Jumat besok."
"Ritual apa, Kak?"
"Katanya sih ritual untuk ngusir semua hantu yang ada di RS ini. Biar mereka nggak pada gangguin karyawan yang kerja di sini, juga pasien yang sedang dirawat di RS ini."
Aku ingin sekali tertawa mendengar ucapan Kak Ilyas barusan. Tapi aku tahan, sebab kulihat wajah Kak Ilyas tampak serius. Aku khawatir dia akan tersinggung jika tiba-tiba aku tertawa
"Memangnya ada ya, Kak. Ritual kayak gitu?" tanyaku ingin tahu tanggapan Kak Ilyas soal ritual seperti itu.
"Kalau Kakak pribadi sih nggak percaya dengan yang model begituan. Syirik. Kalau mau ngusir
hantu ya dengan baca doa-doa,
ayat Kursi salah satunya. Tapi Mbah Tono kan salah satu orang paling tua dan paling lama yg kerja di RS Jaya Putra ini, jadi agak susah kalau mau ngasih tahu dia soal ritual tadi itu nggak boleh dalam ajaran agama Islam"
Aku manggut-manggut
mendengar perkataan Kak Ilyas.
__ADS_1
Ternyata dia tak seperti yang aku
pikirkan. Pengetahuan agamanya
cukup bagus rupanya.
"Memangnya Mbah Tono bilang kalau di RS Jaya Putra ini banyak hantunya ya, Kak?"
"lya. Salah satunya adalah hantunya dokter Indri. Mbah Tono bilang, banyak pasien dan penunggu pasien rawat inap yang didatangi. Juga karyawan baru, termasuk kamu. Kamu sering kan lihat sosok dokter Indri?"
Aku mengangguk. "lya Kak. Tapi apa nanti malah nggak makin banyak makhluk tak kasat mata yang datang ke sini kalau pakai acara ritual segala, Kak? Bukankah hal itu malah akan mendatangkan banyak makhluk halus?"
"Itu kan menurut kita yang
nggak percaya sama hal itu, Andri. Kalau kata Mbah Tono ya nggak kayak gitu. Udah ah, nggak usah dibahas lagi soal itu, nggak penting. Oh iya, kita operan sekarang aja yuk. Kakak kebetulan mau ada perlu pagi ini," kata Kak Ilyas sembari beranjak dari duduk.
Dalam hati aku bersorak kegirangan. (Wah .. kebetulan sekali. Aku bisa memeriksa lemari buku setelah Kak Ilyas pulang) aku membatin.
"Ayo, Kak."
Kami pun segera masuk dan melakukan operan. Ternyata tadi
malam ada satu jenazah yang dilakukan otopsi, permintaan dari
pihak kepolisian dan langsung
dibawa pulang lagi.
"Berarti dokter David tadi malam datang ke sini ya Kak?" tanyaku.
"Ya iyalah, masa Kakak yang
otopsi," jawab Kak Ilyas seraya
tertawa. "Kakak pulang sekarang ya"
Kak Ilyas kemudian keluar dari ruangan kamar mayat. Aku langsung membuka lemari kaca dan memeriksa buku-buku yang ada di
sana. Aku mengulangi dari awal.
"'Sedang cari apa kamu, Andri?" tanya dokter David, yang tiba-tiba sudah berada di dekatku. Padahal aku sama sekali tak mendengar suara langkah kakinya, mungkin saking asik memeriksa.
"Eh ... oh ... saya ... saya sedang nyari buku untuk dibaca, Dok" jawabku gugup.
"Jangan bohong kamu! Kamu pasti sedang cari sesuatu di lemari itu kan? Dengar, Andri! Saya nggak akan segan membunuh orang yang coba
mencampuri urusan saya!" bentak dokter David, membuatku
melongo.
***
Bersambung...
__ADS_1