Tragedi Cinta Segitiga

Tragedi Cinta Segitiga
Bab 30 : Akhir Misteri (End)


__ADS_3

Kamar Mayat


***


Part 30


Aku tak segera menjawab


pertanyaan Pak Satpam tersebut.


Aku masih sibuk menenangkan


degupan jantung yang serasa


hampir copot. Orang-orang yang


mengelilingiku tampak penasaran


dengan apa yang sebenarnya


terjadi.


Salah seorang ibu lalu memberiku segelas air minum. "Ini diminum dulu, Pak. Biar Bapak agak tenang," kata si ibu, seraya memberikan gelas berisi air minum, dan aku segera meminumnya hingga habis tak bersisa.


"Coba Bapak ceritakan, ada apa sebenarnya? Kenapa tadi Bapak sampai lari-lari sambil berteriak minta tolong," kata Pak Satpam, setelah beberapa saat. Mungkin dilihatnya aku sudah mulai tenang.


"Saya tadi mau dibunuh Pak


Danang, Pak," kataku, membuat


kaget semua orang yang ada di


sekitarku. Mereka terlihat melongo, seakan tak percaya dengan apa yang aku ucapkan. Beberapa orang lainnya sibuk bertanya-tanya siapa Pak Danang itu. Mungkin mereka penunggu pasien yang tak mengenal Pak Danang sebelumnya.


"Kok bisa, Pak Danang sampai mau membunuh Bapak? Gimana ceritanya?" tanya Pak Satpam lagi.


Aku kemudian menceritakan apa yang baru saja terjadi. Ketika Pak Danang melarangku untuk mendekati cermin yang ada di dalam kamar mayat. Karena diri ini tak mengindahkan ucapannya, tiba-tiba Pak Danang mengayunkan


linggis ke wajahku.


"Beruntung saya bisa menghindar, sehingga luput dari serangan linggis Pak Danang. Kemudian saya berlari keluar kamar mayat sambil berteriak minta tolong," kataku mengakhiri


cerita.


Suasana seketika menjadi riuh. Masing-masing orang berbicara mengomentari ceritaku.


"Sekarang Pak Danang ada di mana?" tanya Pak Satpam.


"Tadi waktu saya lari ke sini sih dia masih ada di ruang kamar mayat," jawabku.


"Kalau begitu sekarang kita ke sana" tegas Pak Satpam. Maka kami beramai ramai menuju ke ruang kamar mayat sampai di sana, tampak Mbah Tono sedang


duduk di kursi panjang. Wajahnya


terlihat murung. Dia tak mengatakan apa pun saat kami datang.


Pak Satpam, aku dan beberapa orang kemudian masuk ke ruangan dalam. Pak Danang sudah tak ada di sana. Entah ke mana dia perginya.


Betapa kami sangat terkejut saat melihat pemandangan yang ada di depan mata. Beberapa orang ibu yang ikut masuk spontan berteriak dengan sangat keras.

__ADS_1


Ya.. aku melihat sebuah tangan yang menjulur dari balik dinding, di tempat cermin terpasang. Dua orang satpam lalu mencari alat untuk membongkar dinding tersebut. Dan apa yang kami lihat selanjutnya, membuat kami lebih terkejut lagi, ketika dinding berhasil dibongkar, lalu mayat perempuan yang tertanam di sana berhasil dievakuasi. Mayat perempuan itu adalah mayat dokter Indri.


"Astaghfirullahaladziim..."


Aku dan semua yang melihat kejadian itu mengucap istighfar berulang kali. Kami sama sekali tak habis pikir, kenapa sampai ada mayat ditanam di dinding dan tak


ada satu orang pun yang mengetahui hal itu.


"Pak Danang tadi pergi ke mana, Mbah?" tanya salah seorang satpam pada Mbah Tono setelah mayat dokter Indri di taruh di atas brankar.


"Saya nggak lihat dia perginya ke mana, tapi mungkin pulang ke rumahnya." jawab Mbah Tono.


Suasana ruang kamar mayat seketika menjadi ramai. Orang-orang silih berganti berdatangan ingin melihat apa yang terjadi.


Tak lama kemudian, beberapa orang polisi datang, setelah mendapat laporan dari Pak Satpam. Aku, Mbah Tono dan beberapa orang lalu dimintai keterangan oleh polisi. Dan kami diminta agar datang ke kantor


polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut.


Menjelang subuh, keluarga dokter Indri datang. Mereka menangis sejadinya di samping jenazah dokter Indri. Polisi pun meminta pada mereka supaya datang ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.


Pukul tujuh Kak Ilyas dan Kak


Budiman datang. Mereka sangat terkejut dengan apa yang mereka


lihat. Suasana kamar mayat sudah


sepi seperti biasanya. Orang-orang


yang semalam berkumpul sudah


kembali ke tempat mereka


orang keluarga dokter Indri yang


masih menunggu di dalam ruangan.


"Apa yang sudah terjadi, Andri?" tanya Kak Budiman.


Aku lantas menceritakan kejadian tadi malam. Kedua orang kakak senior itu sampai membeliak mendengar ceritaku. "Untung nggak terjadi apa-apa sama kamu, Andri," kata Kak Ilyas, setelah aku selesai bercerita. Wajahnya tampak khawatir.


Aku tersenyum. "Kak, saya pulang sekarang ya, mau mandi terus siap-siap ke kantor polisi. Saya diminta datang ke sana hari ini," pamitku, selesai kami melakukan operan.


***


Sekitar pukul setengah sepuluh aku sampai di kantor polisi. Sudah ada Pak Danang, Pak Satpam dan beberapa orang yang datang, yang juga akan dimintai keterangan. Saat Pak Danang memberikan keterangan, aku ikut mendengarkan dengan duduk di dalam ruang pemeriksaan. Pak Danang bilang, kalau memang dia yang menanam jasad dokter Indri di dinding kamar mayat, dengan dibantu oleh Yusuf dan atas suruhan dokter David.


Aku hanya bisa mengucap


istighfar berkali-kali mendengar


pengakuan Pak Danang. Belum


sempat aku mendengar keseluruhan BAP (Berita Acara Pemeriksaan) Pak Danang, aku sudah dipanggil untuk dimintai keterangan.


Hampir selama 4 jam aku dimintai keterangan. Setelah itu aku langsung pulang. Aku lihat Pak Danang belum selesai, tapi aku tak


berniat lagi untuk mendengarkan.


Sebab hari sudah menjelang senja. Biarlah besok saat sidang di pengadilan aku akan menghadiri untuk mengetahui dengan jelas, apa motif di balik semua misteri ini.

__ADS_1


***


Empat bulan kemudian, perkara misteri hilangnya dokter Indri mulai disidangkan setiap minggu. Aku hadir sebagai saksi. Dari sidang tersebut terungkap kronologis kejadian dua tahun yang lalu, saat dokter Indri pergi meninggalkan rumah untuk menemui temannya.


Rupanya yang akan dia temui


adalah Kak Anfa yang mengirimkan pesan SMS, agar dia menemuinya di kamar mayat. Meskipun merasa heran, kenapa harus di kamar mayat, sebab Kak Anfa sudah tak lagi dinas di sana. Ketika akan menanyakan hal itu, nomor Kak Anfa sudah tak aktif lagi. Akhirnya dokter Indri berangkat ke RS Jaya Putra dan langsung menuju ruang kamar mayat.


Namun ternyata, yang dia temui di kamar mayat bukan Kak Anfa, melainkan dokter David. Dia memakai HP Kak Anfa yang dicuri


oleh Yusuf. Dokter David akan


memperkosa dokter Indri, tentu


saja dia melawan. Karena emosi,


dokter David lalu memukul kepala dokter Indri memakai korentang


(alat untuk menjepit) berkali-kali, hingga tewas.


Setelah mengetahui dokter Hani meninggal, dokter David lalu memanggil Kak Yusuf untuk membantunya menyuntikan cairan


formalin ke dalam tubuh dokter


Indri. Awalnya Kak Yusuf menolak,


tapi dia diancam. Begitu selesai,


dokter David segera menghubungi


Pak Danang dan menyuruhnya agar


menanam tubuh dokter Indri di


dinding, dengan imbalan sejumlah uang. Dia juga memerintahkan Pak


Danang??? untuk menaruh cermin di


dinding tersebut.


Semua pekerjaan itu bisa dilakukan dengan cepat dan aman, sebab posisi ruang kamar mayat ada di bagian paling belakang RS Jaya Putra, yang orang tak akan bisa melihat apa yang sedang terjadi, jika tidak langsung datang ke sana.


Ketika kemudian keluarga dokter Indri melaporkan berita kehilangan, tak satu pun orang di RS Jaya Putra yang mengaku melihatnya.


Mereka lebih memilih bungkam daripada harus berurusan dengan


pihak kepolisian. Enam bulan kemudian, majelis hakim menjatuhkan kepada dokter David, 20 tahun kurungan penjara kepada Pak Danang dan Kak Yusuf.


Setelah kejadian itu, aku mengajukan pengunduran diri dari


RS Jaya Putra, sebab apa yang aku


alami selama dinas di sana, selalu


menghantui pikiranku.


***


Tamat...

__ADS_1


__ADS_2