
Kamar Mayat
***
Part 21
Sampai Kak Ilyas datang untuk piket malam, tak ada jenazah yang dikirim ke kamar mayat. Dan aku tetap duduk di bangku depan, tak beranjak, kecuali saat pergi ke mushola untuk mendirikan salat asar dan magrib.
"Kamu seneng amat duduk di sini, Andri" kata Kak Ilyas, ketika dia datang. Dia lalu duduk di sampingku.
Aku tersenyum. "Hehe iya, Kak. Di dalam dingin banget hawanya, saya nggak tahan" kataku beralasan. Entah percaya atau tidak Kak Ilyas dengan ucapanku, tapi dia hanya diam saja.
"Ada kiriman jenazah nggak?"
"Nggak ada, Kak." Hening. Aku dan Kak Ilyas sama sama melihat ke arah koridor.
"Kamu mau operan sekarang apa nunggu nanti?" tanya Kak Ilyas setelah beberapa saat kami terhening.
"Sekarang juga nggak apa-apa, Kak. Biar saya bisa cepat pulang."
Kami pun beranjak dari duduk, lalu masuk ke ruangan dalam kamar mayat. Aku kemudian menunjukkan catatan yang kutulis di buku laporan harian.
"'Saya pulang sekarang ya, Kak," pamitku, begitu selesai operan.
"lya, kamu hati-hati di jalan."
Aku mengangguk, lantas mengambil tas dan memakai jaket. Kemudian berjalan menuju pintu keluar.
Di koridor masih lumayan ramai. Karena memang waktunya pergantian shift sore ke malam. Aku berpapasan dengan beberapa orang teman sejawat yang akan dinas malam, dan beberapa orang lainnya. Mungkin mereka penunggu pasien atau siapa.
Ketika lewat di depan ruang poliklinik gigi, terlihat sosok dokter Indri ada di sana. Dia sedang
memandang ke arahku. Seketika
diriku ini jadi merinding. Aku melihat ke kiri dan kanan. Tapi sepertinya
orang yang berjalan di sebelahku,
tak ada yang melihatnya. Mereka
terus saja berjalan menuju ke
pintu gerbang.
Padahal aku melihat keberadaan dokter Indri dengan jelas. (Aneh, apa cuma aku yang bisa melihat sosok dokter Indri ada di sana ya) kataku dalam hati.
***
Begitu sampai rumah, aku langsung mandi dan berganti pakaian, lalu menunaikan sholat isya dan makan malam bersama Ayah serta ibu. Mereka sudah kembali dari luar kota dan sengaja menunggu aku pulang dinas, untuk makan malam bersama.
"Ayah sama lbu kok sudah pulang aja? Kenapa nggak nginep aja sekalian di sana?" tanyaku, sambil
menyuap nasi ke mulut.
"Ibu khawatir ninggalin kamu sendirian, Andri. Lagipula besok
Ayahmu kan harus kerja juga"
jawab ibu.
Aku tersenyum malu. "Pasti lbu mau bilang kalau Andri penakut, oleh karena itu Ibu merasa khawatir kalau Andri berada di rumah sendirian kan. Sekarang Andri sudah berani kok, Bu." kataku.
Ayah dan lbu tertawa mendengar ucapanku. Kami lalu makan tanpa ada obrolan lagi sampai selesai.
"Andri mau ke kamar duluan ya, Yah, Bu. Mau ngelurusin kaki." pamitku, setelah selesai makan. Ayah dan ibu hanya mengangguk mengiyakan. Aku pun segera masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Sampai di dalam kamar, aku mengambil foto yang tadi kutemukan di lemari buku, dari dalam tas.
Aku pandangi foto itu. Sepertinya foto tersebut dibuat belum lama. Sebab wajah mereka tak begitu berbeda dengan yang aku lihat saat ini.
Aku cermati satu per satu wajah dalam foto itu. Dokter David, dokter Indri dan Kak Anfa. Wajah mereka tampak bahagia dan kelihatan sangat begitu akrab satu dengan yang lain. Ada hubungan apa di antara mereka bertiga ya? Adakah yang spesial, atau hanya sebatas teman kerja saja?
Tapi kenapa saat dokter Indri dinyatakan hilang,
baik dokter David maupun Kak Anfa tak ada yang mengetahuinya? Padahal jika mereka memang berhubungan baik, tak mungkin dokter Indri tak bercerita kepada mereka berdua, ke mana dia akan pergi pada hari itu. Atau ... jangan-jangan dokter Indri malah pergi bersama dokter David dan Kak Anfa? Atau mungkin dengan salah satu di antara mereka? Diri ini terus menduga duga misteri hilangnya dokter Indri
sambil berusaha menghubungkan
semua kejadian yang aku tahu selama dinas di ruang kamar mayat,
yang berkaitan dengan hilangnya
dokter Indri. Rasa penasaranku
semakin besar, dan aku ingin
sekali bisa mengungkap misteri
hilangnya dokter Indri.
***
Keesokan harinya, aku sengaja berangkat ke RS Jaya Putra lebih
awal. Aku ingin melihat lihat isi
lemari buku lagi. Barangkali saja aku bisa menemukan sesuatu di sana, yang bisa dijadikan petunjuk atas kasus hilangnya dokter Indri
Tergesa gesa aku berjalan
menyusuri koridor menuju ke ruangan kamar mayat. Aku ingin segera sampai di sana, sebab hari ini Kak Budiman juga dinas pagi. Aku akan memberitahukan dia tentang foto itu dan ingin mendengar tanggapannya. Aku ingin
panjang lebar dengannya.
Tapi ternyata, keinginanku untuk melihat lihat isi lemari buku itu tak bisa dilaksanakan. Karena dari kejauhan aku melihat, di depan pintu kamar mayat banyak orang sedang berkumpul. Pasti ada kiriman jenazah, aku membatin.
"Ada apa ya, Pak?" tanyaku pada salah seorang bapak yang berdiri di dekat pintu kamar mayat.
"Itu mas, ada korban pembunuhan. Keluarganya minta diotopsi" jawab si bapak.
Aku segera masuk ke ruang dalam kamar mayat, setelah mengucapkan terima kasih pada bapak tersebut.
Di dalam, tampak dokter David sedang memeriksa mayat seorang perempuan yang usianya berkisar 30 tahun, dibantu oleh Kak Budiman dan Kak Ilyas. Dokter David memang seorang dokter ahli forensik satu satunya di RS Jaya Putra ini. Jadi setiap jenazah yang akan dilakukan
otopsi, harus melalui persetujuan
dia terlebih dulu. Kecuali jika pihak kepolisian yang meminta, dokter
David harus mau melakukan
otopsi setelah meminta persetujuan keluarga si mayat.
Pihak keluarga yang meminta agar dilakukan otopsi pada mayat perempuan itu. Karena mereka
Curiga dengan sebab kematian
perempuan tersebut. Dokter David
menyanggupi karena memang
kematian perempuan itu memenuhi kriteria untuk dilakukan otopsi, yaitu korban kekerasan yang tidak wajar atau mencurigakan seperti bunuh diri atau overdosis obat, penyebab
__ADS_1
kematiannya tidak diketahui.
Dokter David terlihat sedang melakukan pemeriksaan pada
pada mata si mayat, ini untuk
mengetahui karakteristik Lalu mengukur panjang rambut
dan memeriksa warna kulit. Sementara Kak Budiman sibuk
mencatat dan Kak Ilyas membantu memegangi mayat itu. Aku lalu menghampiri mereka, ingin mengetahui dari dekat seperti apa proses otopsi yang
sedang berlangsung.Tak sengaja
aku melihat ke arah dokter David.
Dia tampak gugup saat sedang
membuka mata mayat perempuan
itu. Keringat mengucur deras dari
wajahnya. Beberapa kali dokter
David mengusap dengan
lengannya. Aku mengernyitkan kening. (Kenapa dokter David gugup
begitu ya? Bukankah otopsi mayat
ini bukan yang pertama kalinya dia lakukan?) Aku membatin sambil merasa heran.
Rasa penasaranku semakin besar. Aku berdiri lebih mendekat ke arah mayat tersebut. Tiba-tiba aku melihat yang tidur di atas brankar itu adalah wajah dokter Indri.
Seketika aku terkejut melihatnya. Lalu mengucek-ucek mata agar bisa
lebih jelas melihat. Tapi wajah itu
tak berubah, jenazah yang sedang
diperiksa dokter David adalah
mayat dokter Indri.
Aku menelan ludah dengan susah payah. Aku kembali melihat ke arah dokter David Tangannya tampak bergetar. Untuk beberapa saat dia hanya bergeming sembari pandangan matanya melihat
mayat tersebut.
(Apa dokter David juga melihat kalau yang dilakukan otopsi itu dokter Indri ya? Kalau memang iya, kenapa dia mesti gugup dan gemetar seperti itu? Bukankah mereka selama ini berteman akrab) aku membatin.
Kak Budiman dan Kak Ilyas saling berpandangan. Pasti merasa heran dengan apa yang terjadi. Melihat dokter David yang gemetaran dan bermandi keringat.
"Maaf, Dok. Apa otopsinya dilanjutkan nanti saja?" tanya Kak
Budiman dengan hati hati.
Dokter David tampak terkejut. Dia lalu menoleh ke arah Kak Budiman.
"lya, Bud. Kita lanjutkan nanti
saja. Saya mau istirahat sebentar"
jawab dokter David. Tentu saja hal itu membuatku semakin keheranan. Ada apa sebenarnya dengan dokter David?
***
__ADS_1
Bersambung...