TSURUNE : KAZEMAI KOUKOU KYUUDOUBU YABAI - FUJIWARA NO AI (FUJIWARA'S LOVE) -

TSURUNE : KAZEMAI KOUKOU KYUUDOUBU YABAI - FUJIWARA NO AI (FUJIWARA'S LOVE) -
Prolog : Koi


__ADS_3

Tsurune, suara yang dihasilkan dari tali busur tepat setelah anak panah dilepaskan dari busurnya, disampaikan dengan baik oleh angin ke telinga para pendengar dengan anggun. 


Anak panah itu melesat dengan cepat dan mengenai target dengan tepat. Menancapnya anak panah oleh 'ochi' tersebut, menutup penampilan klub Kyudo Sekolah Menengah Kirisaki.


Terdengar sorak ria dan tepuk tangan heboh dari para penonton yang melihat penampilan ochi, yang menutup kemenangan dengan elegan itu.


"Pangeran Muda memang terbaik" ucap Hanamura Akane tersenyum melihat penampilan sahabatnya.


Pangeran Muda, julukan yang diberikan kepada Fujiwara Shuu. Seorang anak jenius berdarah setengah Jepang dengan rambut coklat yang terurai di dahi dengan mata ungu yang besar dan mengkilap. Seseorang yang suka menyendiri dan tenang, tetapi relatif sopan kepada orang-orang yang ditemuinya. Dia jarang berbicara kecuali jika diperlukan dan tipe orang yang tenang. Bagaimanapun situasi dan kondisinya, dia tidak pernah kehilangan ketenangannya.


Fujiwara Shuu terbukti sangat kompetitif, dan agak lugas dalam menyuarakan perasaannya. Fujiwara Shuu juga memiliki aura menakutkan di sekelilingnya.


"Tadi itu keren sekali Shuu, aku juga ingin melakukannya" ucap Akane bersemangat.


"Terima kasih" ucapnya tersenyum tipis. "Aku akan mengajarkanmu nanti."


"Benarkah?"


"Hm" dia berdehem mengiyakan. "Akane, apa kamu benar-benar berpikir bahwa aku melakukan yang terbaik tadi?" Tanya Shuu menundukan pandangannya.


"Hm, kamu sudah melakukan yang terbaik tadi. Memangnya ada apa?"


Wajah Shuu tenang seperti biasanya, tetapi sedikit kaku. Dia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu dengan keras tetapi tidak menemukan jalan keluarnya. Dia sedang kebingungan.


"Ada apa Shuu?" Tanya Akane kembali. Tidak biasanya Shuu terlihat seperti ini.


"Aku merasa bahwa aku harus meningkatkan kemampuan Kyudoku, Akane. Aku merasa jika aku terus seperti ini, aku akan tertinggal oleh Minato dan yang lainnya" jelasnya tanpa menatap Akane. Netra violetnya menatap jalan yang ia lalui.


"Kita memang tidak boleh merasa puas terlebih dahulu, tapi kurasa Shuu sudah melakukan yang terbaik, kamu sangat hebat. Tetapi jika Shuu berkata seperti itu, kenapa tidak tanyakan saja kepada Saionji-sensei?" jelas Akane memberikan saran. Shuu memang orang yang kompetitif, dia akan meraih segala kemampuan agar tidak tertinggal oleh teman-temannya. Dia juga tidak pernah puas dengan kemampuan dan pencapaiannya.


"Aku sudah menanyakannya tapi sensei mengatakan hal yang sama sepertimu tadi. Sensei mengatakan bahwa teknik dan kemampuanku sudah sangat bagus tapi tetap saja aku merasa ada yang kurang" jelasnya lagi.


"Hmm kalau begitu susah juga ya" ucap Akane ikut bingung. "Bagaimana jika kita mencari tahu dulu apa sesuatu yang kurang itu? Mari kita cari tahu apa yang harus kamu tingkatkan dan bagaimana cara menyelesaikannya. Dengan begitu kamu bisa menjadi lebih kuat" jelas Akane tersenyum. Sebenarnya dia tidak tahu perkataannya itu dapat memuaskan Shuu atau tidak, tetapi sebagai sahabat, Akane tidak bisa membiarkan Shuu kebingungan seperti ini.


"Kurasa kamu benar."


"Hm, mari lakukan dengan perlahan. Aku akan membantumu" jelas Akane tersenyum. 


"Hm." Shuu menganggukan kepalanya pelan.


"Oiya Shuu, apa aku boleh belajar bersamamu lagi hari ini? Bahasa Inggrisku benar-benar sudah tidak tertolong. Sangat buruk." Jelas Akane tersenyum miris.

__ADS_1


"Sepertinya permasalahanmu itu tidak pernah selesai dari dulu" ucap Shuu tersenyum.


"Maaf. Aku juga tidak tahu mengapa, tapi otakku tidak mau menerima sedikit pun tentang Bahasa Inggris. Sepertinya tidak ada kapasitas tersisa untuk menyimpan memori mengenai bahasa Inggris."


Perlahan senyuman Shuu mengembang di wajahnya yang tenang.


"Bukankah kamu hanya malas mengingat pelajaran Bahasa Inggris?" Tanya Shuu sambil tersenyum.


"Ah, itu juga benar. Intinya apa boleh aku belajar bersama lagi?"


"Tentu saja. Lagipula rumah kita berseberangan, kamu tinggal masuk saja."


"Kalau seperti itu tidak bisa, nanti aku dikira pencuri."


"Padahal sewaktu kecil kamu suka seenaknya masuk ke rumahku."


"Itukan saat aku masih kecil. Sekarang aku sudah dewasa, otakku sudah berjalan."


"Terserahmu saja" ucap Shuu tersenyum.


Kegiatan seperti bermain, bercerita, berangkat dan pulang sekolah bersama, belajar bersama, mendukung satu sama lainnya, sudah menjadi keseharian yang tidak bisa dilewatkan bagi Shuu dan Akane semenjak mereka kecil.


Kepribadian mereka yang berbanding terbalik, membuat keduanya saling mengisi dan melengkapi. Shuu yang tenang dan tidak banyak bicara dapat meredam semangat berlebihan dari Akane dan sikap Akane yang selalu optimis dan terbuka membuat Shuu ikut terbuka dan tidak menyimpan masalahnya sendirian.


Menghilangkan ego, tidak ada sajak ataupun alasan, masuk saja dalam perasaan yang disebut cinta kah?


"Shuu, wajahmu sangat kaku. Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Akane.


"Akane, bagaimana pendapatmu tentang cinta?" Pertanyaan tiba-tiba Shuu membuat Akane terkejut hingga menghentikan langkahnya. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika Shuu dapat mengatakan hal klasik seperti itu. Akane bahkan tidak percaya jika Shuu tertarik dengan hal percintaan.


"S-Shuu? Ada apa denganmu?"


"Ada apa? Apa aku salah mengatakannya?" Tanya Shuu dengan wajah tenangnya.


"T-tidak, bukan seperti itu. Aku hanya terkejut, aku tidak menyangka Shuu dapat mengatakan hal seperti ini" jelas Akane. Dia benar-benar terlihat syok mendengar kata cinta dari Shuu.


"Hari ini aku mengunjungi Kuil Yata sebagai perantara antara pelatih Kazemai, Takigawa Masaki-san dan Sase-senpai. Disana Takigawa-san mengatakan bahwa untuk meningkatkan kemampuan Kyudoku, aku membutuhkan cinta" jelasnya dengan wajah yang tenang. Surai violetnya berbinar, menatap dalam mata Akane seolah dia ingin mendapatkan jawaban yang dia harapkan.


"A-ah, cinta kah? Etto.. maaf Shuu, aku tidak bisa memenuhi rasa penasaranmu karena aku juga tidak pernah merasakannya" jelas Akane tersenyum canggung. Benar, baik Akane maupun Shuu sendiri belum pernah merasakan hal yang dimaksud oleh Shuu tadi. 


"Ano, cinta itu yang itu kan? Rasa saling menyukai atau semacamnya kan?" Tanya Akane ragu.

__ADS_1


"Aku tidak tahu. Takigawa-san mengatakan bahwa kita tidak butuh sajak atau alasan saat kita merasa jatuh cinta."


"Tidak butuh alasan kah? Seperti kepada orang tua?"


"Kurasa cinta yang dimaksud oleh Takigawa-san berbeda dengan cinta kepada orang tua."


Akane kembali dibuat bingung. Meskipun Shuu mengatakan hal itu kepada Akane, tapi sebenarnya dia juga tidak tahu dan tidak mengerti.


"Hm, apa seperti menolong kucing yang tersesat?"


"Kamu menolong kucing tersesat karena kasihan atau karena kucingnya menggemaskan bukan?"


"Itu benar" jawab Akane tersenyum. "Hmm.. ini cukup menyulitkan. Apa Takigawa Masaki-san itu tidak memberitahumu apa maksudnya?"


"Dia hanya mengatakan bahwa aku jauh dari inti Kyudo karena aku tidak mengerti cinta. Aku tidak pernah merasakannya" jelas Shuu yang kembali membuat Akane kebingungan.


"Hah? Ini benar-benar lebih sulit dari Bahasa Inggris. Sepertinya kita harus mencari 'cinta' yang dimaksud oleh pelatih Kazemai itu" jelas Akane bingung. Otaknya ikut bekerja keras memikirkan 'cinta' yang dimaksud oleh pelatih Kazemai itu. 


"Lagipula Shuu, apa cinta pada seseorang sama dengan cinta pada Kyudo?"


"Aku tidak tahu."


Akane terdiam. Pikirannya tenggelam, mencoba mencari tahu lebih dalam ke dalam ingatannya selama ini. Siapa tahu otaknya tahu sesuatu mengenai cinta.


"Maaf, aku membuatmu ikut kebingungan" ucap Shuu menatap Akane.


"Tidak masalah Shuu, aku juga ikut penasaran sekarang. Shuu, apa jika kamu mencintai seseorang, kamu juga bisa mencintai Kyudo dengan perasaan yang sama begitu?" Tanya Akane kembali. Dia benar-benar tidak mengerti maksud dari ucapan Takigawa-san kepada Shuu.


"Sepertinya begitu?"


"A-ah maaf, kamu juga sedang bingung ya.. baiklah aku mengerti. Bagaimana jika kita menganggapnya seperti itu dulu saja. Jika Shuu mencintai seseorang, Shuu juga bisa mencintai Kyudo untuk meningkatkan kemampuan, bagaimana?"


Hening. Shuu tidak menjawab pernyataan Akane. Otaknya juga sedang bekerja cukup keras di balik wajahnya yang tenang. 


Sebenarnya apa yang dimaksud oleh Takigawa-san?


"Karena cinta yang dimaksud oleh pelatih Kazemai itu cukup menyulitkan, kurasa tidak masalah jika menganggapnya seperti itu, Shuu. Meskipun pada akhirnya cinta yang dikatakan oleh pelatih Kazemai sangat berbeda dengan pemikiran kita sekarang, kamu sudah memiliki pengalaman dengan 'cinta' yang lainnya. Tidak usah terburu-buru, kamu hanya perlu menemukannya. Aku juga akan membantu menemukannya untukmu" jelas Akane tersenyum. Netra safir itu menatap hangat mata violet yang bersinar tepat di hadapannya.


"Sepertinya kamu benar, Akane" sebuah senyuman tipis mengembang di wajah tenang Shuu. Netra violetnya bersinar memantulkan langit jingga agar bisa dinikmati juga oleh pemilik mata safir itu. 


"Terima kasih Akane, aku duluan" pamit Shuu berhenti di depan rumahnya.

__ADS_1


"Hm, sampai jumpa Shuu" ucap Akane tersenyum.


Cinta kah? Aku ingin Kyudoku meningkat. Aku harus menemukannya!


__ADS_2