TSURUNE : KAZEMAI KOUKOU KYUUDOUBU YABAI - FUJIWARA NO AI (FUJIWARA'S LOVE) -

TSURUNE : KAZEMAI KOUKOU KYUUDOUBU YABAI - FUJIWARA NO AI (FUJIWARA'S LOVE) -
Cinta Pada Kyudo


__ADS_3

"Akane, kamu baik-baik saja?" Tanya Minato khawatir. "Maaf aku jadi ikut campur masalahmu tadi."


"Kenapa kamu yang meminta maaf? Seharusnya aku yang berterima kasih. Terima kasih sudah menolongku" ucap Akane tersenyum.


Meskipun dia tersenyum tapi sepasang manik safir itu terlihat redup. Sepanjang jalan dia hanya menundukan pandangannya dan sesekali melamun.


"Minato, apa aku seburuk itu? Apa aku juga mengganggumu?" Gumam Akane lirih. Netra safirnya tidak berani menatap Minato.


Manik hijau itu membulat, dia terkejut dengan pertanyaan Akane.


"Apa maksudmu? Tentu saja tidak. Kamu tidak menggangguku sama sekali, Akane. Jangan memikirkan hal yang tidak benar seperti itu. Kamu bukan pengganggu."


"Tapi Minato, semua yang dia katakan itu benar. Aku sangat berisik, tidak bisa diam dan selalu heboh. Maaf karena sudah merepotkanmu selama ini" sendu Akane.


Netra hijau itu perlahan ikut sendu, merasakan apa yang dirasakan oleh temannya ini.


"Justru itulah yang membuatku ikut bersemangat, Akane. Sikap optimis mu telah menularkan pemikiran yang optimis juga kepadaku. Kamu sudah memberikan banyak hal berharga kepadaku oleh karena itu aku dan Shuu sangat menyukaimu. Kamu bukan pengganggu dan aku yakin Shuu juga berpikiran sama sepertiku. Kau tahu? Para pria memang terkesan selalu tertutup apalagi untuk seseorang yang tenang seperti Shuu. Tapi kami juga sesekali bercerita tentang banyak hal. Aku tahu dia juga menyukaimu, dia tidak menganggapmu sebagai pengganggu. Kamu adalah teman kami yang paling berharga."


Perlahan Akane menatap Minato dengan mata yang berbinar. Mata safirnya memantulkan cahaya ungu jingga kemerahan yang menghiasi langit sore itu.


"Benarkah? Apa kamu dan Shuu benar-benar merasa seperti itu?"


"Itu sudah pasti. Kamu sangat berharga bagi kami" ucap Minato tersenyum hangat.


"Tapi Shuu.."


"Aku sangat yakin Shuu juga berpikiran yang sama denganku"


"Semoga saja seperti itu. Terima kasih banyak Minato, kamu juga salah satu teman berharga yang aku miliki. Sungguh, terima kasih banyak." Senyuman tipis mengembang di wajah cantik Akane tapi tidak dengan manik safir yang masih terlihat redup itu.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


"Sensei, aku ingin menjadi kuat. Aku ingin Kyudoku menjadi lebih baik. Tolong ajari aku, mohon bantuannya!" Akane membungkukkan badannya penuh hormat kepada Takigawa Masaki.


"K-kamu sangat bersemangat ya. Tentu saja. Kita akan belajar bersama" ucapnya tersenyum.


"Masa-san, ano, kalau aku boleh tahu kapan Masa-san kembali?"


"Hmm karena aku tidak menginap sepertinya tengah malam nanti juga aku sudah kembali."


"Begitukah? Masa-san, bolehkah aku meminjam dojo ini sampai tengah malam? Anggap saja aku sedang menjaga dojo ini hingga Masa-san kembali" Tanya Minato ragu.

__ADS_1


Takigawa Masaki cukup terkejut dengan permintaan Minato.


"Akane, dia- banyak hal buruk terjadi padanya. Jika dia berhenti sekarang, aku merasa bahwa dia akan berhenti melakukannya juga" jelas Minato menatap Akane yang sedang fokus berlatih.


"Jika seperti itu, pasti masalah yang dihadapi cukup serius. Aku sih tidak keberatan, tapi apa kalian diizinkan?"


"Aku akan meminta izin sekarang"


"Hm, aku mengerti" ucap Masaki tersenyum. "Pantas saja dia sangat bersemangat tadi" gumamnya.


Masaki kemudian berjalan mendekati Akane.


"Akane, ayo istirahat sebentar" ajak Masaki tersenyum.


"Tunggu sensei, satu anak panah lagi" jawab Akane masih fokus pada latihannya.


"Lanjutkan saja itu nanti. Cepatlah kemari dan minum tehnya" titahnya lagi.


Akane sedikit bingung karena Masaki cukup memaksanya hari ini tapi dia tetap menghampiri gurunya itu.


"Terima kasih, sensei" ucap Akane menerima tehnya.


"Apa ada masalah? Kamu tidak fokus, kamu sedang memikirkan hal lain bukan?"


"Sensei memang hebat" gumam Akane masih menatap terkejut Masaki.


"Itu.. aku hanya menebaknya" ujar Masaki tersenyum canggung. "Jadi ada apa? Siapa tahu aku bisa membantumu."


"Sensei, sensei tahu Fujiwara Shuu bukan? Dia bilang dia menerima latihan dari sensei saat berurusan dengan Noririn" jelas Akane mulai membuka pembicaraan.


"Ah Pangeran Muda kah? Dia memang pemanah yang hebat, tentu saja aku tahu." 


"Sensei, saat itu Shuu menceritakannya kepadaku bahwa sensei mengatakan dia membutuhkan cinta untuk meningkatkan Kyudonya. Sebenarnya cinta yang sensei maksud itu apa?" Tanya Akane penasaran. Bagaimana pun juga dia telah dihantui oleh cinta yang dimaksud oleh gurunya ini.


"Eh? Apa aku mengatakannya? Kalau tidak salah sih iya" ucapnya bingung.


"Jangan bilang sensei melupakannya?"


"Tentu saja.. tidak" ucapnya panik. "Cinta ya? Apa kamu pernah merasakan jatuh cinta?"


Akane menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Cinta itu hal sederhana yang rumit, aku sampai tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya."


"Sederhana yang rumit? Sensei, aku sudah tidak bisa mengikuti perkataan sensei" sendu Akane bingung. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang gurunya ini katakan.


"Ah maaf, maaf. Etto, pernah mendengar kalimat saat merasa jatuh cinta serasa dunia milik berdua?" 


Akane menganggukan kepalanya antusias.


"Saat kita merasakan jatuh cinta, tidak peduli situasi dan kondisi lingkungan sekitar. Seseorang akan mengorbankan apapun untuk cinta yang dia percaya. Dia menghilangkan egonya sendiri untuk cintanya dan berusaha membuat kenangan yang indah bersamanya"


"Tunggu sensei, apa cinta yang sensei katakan pada Shuu itu sama seperti perasaan cinta terhadap lawan jenis?"


"Yang aku maksud adalah cinta terhadap Kyudo" Masaki tersenyum menatap Akane yang masih kebingungan.


"Pola pikir yang ideal untuk seni Kyudo adalah menghilangkan ego. Kalian tinggalkan keinginan duniawi untuk mencapai sasaran, dimana hanya ada haluan, panah dan target. Dimana hanya kalian sendiri yang bisa memasuki dunia tersebut. Seseorang yang mencintai Kyudonya akan melupakan segalanya kecuali Kyudo miliknya sendiri. Saat dia melakukan pergerakan pertama, saat itu juga egonya sudah menghilang. Tak peduli seburuk apapun Kyudonya, tidak peduli berapa banyak orang yang menyukainya atau tidak menyukainya. Tidak peduli jika nanti tali busurnya akan lepas atau dia akan terluka, dia hanya memikirkan tentang Kyudo miliknya seorang. Menurutku, seseorang yang mencintai Kyudonya akan jauh lebih indah dan hebat daripada seseorang yang jago menembak. Kira-kira seperti itu?"


"Etto.." Akane terlihat kebingungan dengan penuturan panjang lebar dari gurunya ini.


"Tenang saja, perlahan-lahan kamu pasti akan mengerti. Jika kamu sudah mencintai seseorang kamu pasti akan lebih mengerti" ucap Masaki mengelus pelan pucuk kepala Akane.


"Ah! Apa ini yang membuatmu tidak fokus?" Tebak Masaki.


"Tidak sensei, bukan ini. Tadi aku terkena sedikit masalah, tapi sekarang sudah tidak apa-apa" jelas Akane tersenyum.


"Begitukah? Syukurlah jika seperti itu. Aku harus bersiap sekarang. Minato akan menggantikanku ya."


"Baik sensei. Hati-hati di jalan"


"Hm. Minato aku titip Akane ya. Jangan melakukan hal aneh. Ingat ini adalah kuil, mengerti?"


"Aku mengerti Masa-san. Terima kasih banyak, hati-hati" ucap Minato tersenyum.


Takigawa Masaki kemudian meninggalkan Akane dan Minato berdua di dojo itu.


"Akane, aku sudah meminjam dojo ini hingga tengah malam. Aku juga meminta izin pada orang tuamu. Kamu bebas berlatih hari ini" jelas Minato tersenyum.


"Benarkah?"


"Hm."


Senyuman manis terlukis di wajah Akane dengan netra safirnya yang berkilauan.

__ADS_1


"Terima kasih Minato, kamu memang yang terbaik. Aku akan memanfaatkan waktu yang kamu dan sensei berikan dengan baik."


__ADS_2