
"Turnamen Nasional kah?"
Akane terlihat tidak bersemangat menyusuri jalanan yang cukup ramai dengan orang-orang yang memakai hakama dan juga membawa busur.
"Jika saja bukan karena Ketua Motomura dan senpai lainnya, aku tidak akan kemari. Aku tidak ingin bertemu dengan Sugawara bersaudara yang menyebalkan itu. Ditambah juga dengan Shuu.. Aku tidak ingin bertemu dengan Shuu. Hah.. aku ingin kembali ke rumah saja" gerutu Akane di sepanjang jalan.
Beberapa kali terdengar helaan nafas kasar dari bibir ranumnya.
"Tidak masalah bukan? Lagipula aku kemari untuk mendukung sekolah Kirisaki bukan untuk Shuu. Hm, kurasa tidak masalah."
"Akane?"
Seseorang memanggil namanya. Netra hijau bening yang memantulkan langit berkabut itu menatap dalam mata Akane. Teman lain yang dikagumi Akane selain Shuu, Narumiya Minato.
"Mi-Minato?" Ucap Akane terkejut.
"Ternyata benar Akane. Lama tidak berjumpa" ucapnya tersenyum.
"Minato! Lama tidak berjumpa." Ucap Akane yang juga tersenyum. "Bagaimana kabarmu? Shuu mengatakan bahwa kamu masih bermain Kyudo. Aku benar-benar merasa sangat senang dan lega mendengarnya" ujar Akane tersenyum berbeda dengan Minato yang terlihat terdiam.
"Aku masih belum mengatasi target panic ku tapi aku akan berusaha" jelas Minato kembali tersenyum.
"Hm, kamu pasti bisa mengatasinya. Lakukan saja dengan perlahan, Minato" ujar Akane tersenyum. "Tapi aku benar-benar bersyukur kamu masih bermain Kyudo. Setelah kamu bisa mengatasi target panic mu, tolong biarkan aku mendengarkan tsurune milikmu lagi" ucap Akane bersemangat.
"Tentu saja" jawab Minato yang juga tersenyum. "Ngomong-ngomong, apa yang kamu lakukan disini? Shuu sedang bertanding sekarang, apa kamu tidak melihatnya?"
Akane yang tampak terkejut itu, dengan cepat mengalihkan pandangannya.
"Etto.. sepertinya aku terlambat ya" ucap Akane tersenyum canggung.
"Eh?"
Netra hijau bening itu terlihat terkejut menatap Akane.
"Ada apa? Apa ada yang salah?"
"Bukan seperti itu. Kamu selalu mendukung Shuu ketika bertanding dan tidak pernah melewatkannya. Aku cukup terkejut mendengar bahwa kamu terlambat. Apa terjadi sesuatu?"
"Itu.. tidak ada. Aku hanya terlambat saja. Jalanan hari ini juga sangat lancar" jelas Akane tersenyum. "Ayo kita dukung Shuu."
"Hm."
Akane dan Minato berjalan bersama menuju tempat turnamen digelar. Seperti teman yang terpisah pada umumnya, mereka membicarakan banyak hal sambil sesekali tersenyum dan tertawa bersama.
Sesampainya disana, terlihat Shuu dan Ketua Motomura yang sedang bertanding di final. Keduanya tidak berniat untuk mengalah satu sama lain. Mereka menghasilkan 10 poin secara bergantian.
Shuu..
__ADS_1
Wajah Akane terlihat murung menatap Shuu. Rasa bersalah dan kesedihan masih menyelimuti dirinya. Namun dia cukup tersentak saat Shuu melepaskan anak panah dari busurnya. Matanya melebar menatap Shuu.
Tsurunenya!
Bukan hanya Akane, Minato yang berada di sebelah Akane juga ikut tersentak, dia terkejut melihat Shuu.
Meskipun dia mencetak 10 poin, tapi tsurune yang didengar oleh Akane dan Minato sangat berbeda dengan apa yang biasa mereka dengar. Berdentum cukup keras seperti sebuah batu yang sedang dilempar.
Ini bukan tsurune milik Shuu. Ini bukan tsurune yang biasa aku dengar. Apa yang terjadi?
Pertandingan pun ditutup dengan kemenangan Shuu atas Ketua Motomura dengan selisih 2 poin. Akane dan Minato berjalan keluar dojo, berniat untuk menemui Ketua Motomura dan juga Shuu. Tapi langkah mereka tidak sampai karena berpapasan dengan Shuu juga Shiragiku Noa di jalan.
Netra Akane dan juga Shuu bertemu. Selama beberapa detik mereka saling bertukar pandang sebelum Akane mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Akane-"
Merasa bersalah dan melihat Akane yang terus memalingkan wajah darinya, Shuu tidak melanjutkan perkataannya. Dia kembali menundukan pandangannya.
"Ayo Shuu," ujar Noa menarik lengan Shuu, pergi menjauh dari Akane juga Minato.
Minato kebingungan dengan sikap kedua temannya ini yang berbeda dari biasanya. Tidak ada sapaan. Tidak ada ucapan selamat. Bahkan tidak ada senyuman sedikitpun.
"Akane, aku tidak bertanding di turnamen tunggal hari ini. Mari kita bicara sebentar" ajaknya sambil tersenyum.
"A-ah hm. Tapi apa tidak masalah? Nanti teman-temanmu akan mencarimu."
"Semua akan baik-baik saja, ayo."
Udara segar berhembus menyelimuti dua teman yang sedang berdiri memandang hamparan rumput di hadapannya. Mentari menyusup ke celah daun, untuk sekedar memberikan kehangatan.
"Apa kalian bertengkar?" Tanya Minato membuka pembicaraan. Matanya memperhatikan wajah Akane yang terlihat murung.
"Bertengkar? Dengan siapa?" Tanya Akane bingung.
"Akane dengan Shuu."
"Ah.. kami baik-baik saja kok" jawab Akane menundukan pandangannya.
"Jangan berbohong. Aku siap mendengarkanmu" jelas Minato kembali tersenyum.
"Minato.." Netra safir Akane menatap mata hijau bening itu cukup lama sebelum dia membuka pembicaraan.
"Hm, banyak hal yang terjadi" Akane menundukan kepalanya. Netranya menatap lurus ke depan dengan kesedihan yang tersirat dalam sekali pandang.
"Aku mengganggunya."
"Mengganggu?"
__ADS_1
"Hm. Aku mengganggu hidup Shuu."
Sorot mata Akane semakin sendu. Setelah berbicara dengan Shuu terakhir kali, kesedihan, penyesalan, rasa sesak selalu menghantui diri Akane.
"T-tunggu Akane, aku tidak mengerti apa maksudnya. Mengganggu? Apa kamu melakukan suatu hal buruk pada Shuu?"
"Aku tidak yakin, tapi sepertinya begitu. Gadis yang bersamanya tadi adalah kekasihnya. Dia mengatakan bahwa aku adalah pengganggu dan Shuu tidak menyangkalnya. Aku.. aku bukan teman yang baik untuknya. Aku benar-benar menyesal. Oleh karena itu, sebisa mungkin aku harus menjauhinya. Aku tidak ingin mengganggunya. Jika bukan karena Ketua dan klub Kyudo Kirisaki, aku juga tidak akan datang kemari."
Netra hijau bening itu membelalak. Dia terkejut dan tidak menyangka dengan apa yang baru dikatakan oleh temannya itu.
Kekasih? Shuu memiliki kekasih? Ternyata Shuu juga seorang pria biasa seperti pada umumnya.
"A-apa apaan ini? Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu kepadamu?"
"Itu kenyataannya. Jika saja Shuu mengatakannya sejak awal.."
"Pasti ada kesalahpahaman disini, Akane. Dia selalu terlihat senang saat bersamamu. Meskipun ekspresi wajahnya tidak pernah berubah, aku tahu dia merasa senang saat bersamamu"
"Kamu mungkin benar, tapi itu dulu. Aku juga baru menyadarinya. Seharusnya aku menjauhinya dari dulu. Dia juga tidak menyangkal pernyataan bahwa aku adalah pengganggu, sih. Tidak apa Minato, aku dan Shuu akan baik-baik saja. Kami sudah memutuskan untuk seperti ini" jelas Akane sambil tersenyum.
"Tapi-"
Perkataan Minato terhenti saat melihat netra Akane yang mengkilap, siap menumpahkan air yang dibendungnya kapanpun juga. Minato kemudian mengusap pelan punggung Akane untuk memberikannya ketenangan.
" -Apa yang akan kamu lakukan sekarang?"
"Aku ingin berlatih Kyudo. Aku masih memiliki janji yang belum aku tepati kepadanya. Tapi aku tidak tahu harus belajar dimana karena aku tidak bisa melakukannya di Kirisaki atau di dojo Saionji-sensei karena aku pasti akan kembali bertemu dengannya."
"Begitukah?"
"Hm. Setelah aku menepati janjiku, mungkin aku bisa menjalani kehidupan ku dengan tenang. Rasa sesak yang memenuhi tubuhku juga mungkin akan sedikit berkurang"
Akane memegangi dadanya sendiri. Rasa sesak dalam dirinya semakin menguat dan menguat setiap harinya. Meskipun pasokan oksigen di dunia ini besar tapi dia tetap merasakan sesak di dadanya.
"Aku akan membantumu" ucap Minato tersenyum.
"Benarkah?"
"Tentu saja. Aku tidak bisa melihatmu terus bersedih seperti ini. Aku juga tidak bisa menghadapi kalian yang sedang bertengkar seperti ini. Kita akan tersenyum seperti yang kita lakukan bersama dulu" jelasnya sambil tersenyum.
"Terima kasih banyak, Minato." Ucap Akane yang juga tersenyum.
"Tapi kamu benar, aku juga tidak bisa mengajakmu ke Kazemai" ucap Minato bingung.
Melihat wajah Akane yang kembali murung, Minato tiba-tiba teringat seseorang yang yang dapat mengajari Akane dengan bebas.
"Aku tahu tempat dimana kamu bisa belajar Kyudo dengan bebas, Akane" ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Eh? Benarkah?"
"Hm, aku akan mengantarmu."