TSURUNE : KAZEMAI KOUKOU KYUUDOUBU YABAI - FUJIWARA NO AI (FUJIWARA'S LOVE) -

TSURUNE : KAZEMAI KOUKOU KYUUDOUBU YABAI - FUJIWARA NO AI (FUJIWARA'S LOVE) -
Aku Menemukannya


__ADS_3

Mentari tidak pernah melupakan sinarnya. Siang berganti malam dan malam berganti pagi. Hari demi hari telah dilalui, musim pun berganti.


Shuu semakin terlihat sangat akrab dengan gadis yang bernama Shiragiku Noa itu. Dia selalu mengajak Shiragiku ke rumahnya dengan alasan belajar bersama atau sekedar bermain. Dia juga selalu melihat Shuu berlatih Kyudo di dojo milik Saionji-sensei.


Perlahan Akane merasa kesal, sedih dan kesepian. Sahabat satu-satunya serasa diambil oleh orang lain meskipun dia tahu itu tidaklah benar.


Gadis bernama Shiragiku itu terlihat sangat terobsesi kepada Shuu. Dia selalu mencari celah agar bisa mendekati Shuu, setidaknya itu yang dirasakan oleh Akane. Shuu juga perlahan berubah menurutnya. Shuu sering kali mengabaikan Akane dan memilih berbicara dengan Shiragiku meskipun ini memang sering terjadi pada Akane sebelum kedatangan Shiragiku Noa.


Akane sadar dia tidak memiliki hak untuk mengatur hidup Shuu ataupun marah kepada Shiragiku. Dia juga mengerti bahwa tidak ada yang salah dari sikap kedua nya. Mereka menjalani kehidupan seperti biasanya. Akane tahu bahwa pikirannya lah yang akan membuatnya terjatuh dalam kegelapan tapi dia tidak bisa menghilangkan pikiran buruknya itu.


...****...


"Akane, aku rasa aku sudah menemukan cinta yang dimaksud oleh pelatih Kazemai" jelas Shuu dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.


Angin berhembus kencang, cukup untuk mencerai beraikan kelopak bunga sakura serta menerbangkan daun-daun kering yang berguguran. Detik itu juga Akane terdiam. Dia tahu bahwa dia sedang terkejut tetapi detak jantungnya bekerja lebih cepat. Nafasnya sedikit tidak karuan.


"Ada apa?"


"A-ah tidak ada apapun. Aku pikir tempat pensilku tertinggal tadi, tapi sepertinya tidak" jelas Akane tersenyum. Dia mencoba untuk kembali seperti biasanya. "Jadi bagaimana?"


Wajah Shuu yang tenang perlahan terlihat ramah dengan senyuman yang mengembang dan tatapan yang lembut.


Berbeda dengan Akane yang semakin merasa sesak saat melihat wajah Shuu yang sedang tersipu ini. Dia takut dengan apa yang akan Shuu katakan selanjutnya.


"Shiragiku-san, kurasa aku menyukainya"


Pertama kalinya Akane melihat Shuu yang tersenyum lebar. Sesenang dan sebahagia apapun Shuu, ini pertama kalinya dia tersenyum seperti ini.


Shuu..


"Begitukah?"


"Hm. Dia gadis yang cukup rapuh yang bisa hancur kapanpun jika ada yang menyentuhnya. Aku merasa aku harus bersamanya dan melindunginya. Aku juga merasa senang berada di sampingnya" jelas Shuu masih dengan senyuman yang sama.


Bibir Akane bergetar. Pikirannya sedikit tidak karuan. Dadanya semakin sesak.


Berbeda dengan Shuu yang terlihat tenang dan bahagia dengan senyuman yang tidak luntur.


"Kalau begitu kejarlah" ucap Akane yang juga tersenyum.


"Hm."


"Syukurlah jika kamu menemukannya. Dengan ini, kamu akan menambah pengalamanmu tentang cinta dan menjadikanmu lebih kuat."


Akane tersenyum seolah tidak terjadi apapun padahal di dalam hatinya dia sedang kebingungan dan sedih. Semakin kuat dia mencoba tersenyum, semakin kacau juga sesuatu di dalam dirinya.


"Sepertinya begitu. Sampai jumpa Akane" Shuu berpamitan pada Akane sambil tersenyum.


"Hm, sampai jumpa Shuu" ucap Akane yang juga tersenyum. Keduanya melangkah ke arah yang berbeda dan kecepatan yang berbeda, dengan ekspresi yang berbeda pula.


Langkah Akane terus melambat hingga memasuki kamar.


Apa-apaan ini? Apa yang sebenarnya terjadi kepadaku? Apa aku sakit? Kenapa dadaku sesak sekali? Ini pertama kalinya aku melihatnya tersenyum bahagia seperti itu tapi kenapa aku tidak senang? Sebenarnya ada apa ini?!


Akane mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia tidak memiliki jawaban apapun untuk segala pertanyaan yang ada di benaknya.


"Sahabat macam apa aku yang tidak senang saat sahabatnya bahagia? Aku tidak bisa menjadi sahabatmu lagi, Shuu!"


Pikiran Akane sedikit kacau. Dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri. Badannya bergetar dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya.

__ADS_1


"Aku.. aku takut. Aku.. aku.. berhentilah. Ku mohon jangan menangis, berhentilah!" Akane mencoba dengan keras mengendalikan tubuhnya sendiri, tapi itu sia-sia. Air matanya mengalir dengan sangat deras tanpa tahu mengapa dia menjadi aneh seperti ini.


Shuu..


...****...


Beberapa kali Shuu terlihat sedang melirik ke arah pintu masuk dojo milik Saionji-sensei.


"Ada apa Shuu? Apa ada sesuatu di pintu masuk?" Tanya Shiragiku Noa memberikan beberapa anak panah kepada Shuu.


"Tidak, tidak ada apapun. Terima kasih" ucap Shuu menerima anak panah tersebut. Dia kemudian memfokuskan dirinya kembali kepada target.


Malam yang sangat cerah dengan bintang yang bertaburan di langit, cukup untuk membuat orang lain bersemangat menjelajahi malam hari. Berbeda dengan Akane yang terlihat lesu. Dia berjalan pelan menuju dojo Saionji-sensei. Pikirannya masih sedikit kacau tapi hati kecilnya mengatakan bahwa dia ingin bertemu dengan Shuu dan menyemangatinya berlatih.


Akane disambut oleh Saionji-sensei di depan rumah.


"Selamat datang Akane, tumben sekali kamu terlambat. Shuu dan Noa sudah ada di dalam" jelasnya sambil tersenyum.


Lagi-lagi, dada Akane terasa sesak. Jantungnya benar-benar bekerja sangat keras sekarang.


"Ada apa Akane? Kamu baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja sensei" jelas Akane tersenyum. Meskipun dia tersenyum tapi matanya tidak bisa berbohong jika dia sedang kesakitan.


"Syukurlah kalau begitu. Ayo masuk, disini dingin."


"Baik sensei."


Semakin masuk ke dalam dojo, langkah Akane semakin melambat. Pandangannya terus menatap ke bawah, sibuk memikirkan apa yang akan ditemui ke depannya.


"Sensei, maaf sepertinya aku akan pu-"


"Hm.. tidak ada, tidak ada apapun Shuu. Hanya ketiduran" jelas Akane tersenyum.


"Kamu ini," Shuu tersenyum kecil mendengar penuturan Akane. "Ayo, Shiragiku sudah menunggumu."


"Hm, ayo" Akane kembali tersenyum di depan Shuu.


"Akane, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Sensei memegang pundak Akane.


"Hm, aku baik-baik saja sensei" jelas Akane tersenyum tipis. Akane kemudian menyusul Shuu memasuki dojo.


Aku tidak tahu apa yang akan terjadi disana, tapi aku hanya ingin menemani Shuu.


Selama latihan, Akane terlihat menundukan kepalanya. Wanita paruh baya itu menyadari tingkah aneh Akane dan menghampirinya.


"Ada apa? Jika ada masalah cerita saja, siapa tahu sensei bisa membantu"


"Sensei, aku-"


Pandangan Akira teralihkan kepada sang Pangeran Muda yang sedang melakukan 'Kai' dengan elegannya. Mata violetnya yang tajam, menatap fokus target di depannya. Hembusan angin malam menerpa wajahnya dan mengayunkan lembut rambut coklat miliknya.


Detik kemudian terdengar suara tsurune yang sangat indah, khas Fujiwara Shuu bersamaan anak panah yang menancap dengan kuat pada target.


Shuu..


"Shuu sangat hebat, kamu keren" jelas Shiragiku bersemangat mendekati Shuu sambil tersenyum.


"Terima kasih Noa" jawab Shuu sambil tersenyum.

__ADS_1


Kenapa aku merasa risih hanya karena mereka saling memanggil nama depan?


Shuu terlihat menatap Akane yang juga sedang menatapnya.


"Nice, Shuu" ucap Akane tersenyum kepada Shuu.


"Shuu bisakah kamu mengajariku? Aku jadi bersemangat melihat kamu berlatih."


"Tentu."


Shuu kemudian mengajarkan Shiragiku yang membuat Akane kembali mengingat saat Shuu mengajarinya juga.


Ini buruk. Rasanya aku ingin pulang ke rumah, aku tidak bisa berada disini.


"Maaf sensei, aku izin pulang terlebih dahulu. Sepertinya asmaku kambuh" gumam Akane menundukan kepalanya.


"Eh? Itu sangat berbahaya. Ayo sensei antar"


"Tidak perlu sensei, terima kasih. Aku akan pulang sendiri saja. Tolong sampaikan pada Shuu dan Shiragiku-san. Aku permisi sensei" ucapnya kemudian pergi meninggalkan dojo tersebut.


Apa apaan kau ini,?! Shuu bukan milikmu! Kau tidak seharusnya berpikiran seperti itu, Akane! Ini salah, sangat salah! Jangan egois seperti anak kecil! Kau sudah besar, dia bukan mainan yang akan kau dapatkan jika kau menangis! Dia bukan milikmu!


Akane berlari sekuat tenaga kembali ke rumah. Dia tidak peduli dengan suara Saionji-sensei yang terus memanggilnya dan orang-orang yang melihatnya. Dia hanya ingin segera sampai di rumah.


Saat Saionji-sensei akan mengejar, Akane sudah tidak terlihat batang hidungnya.


"Akane.."


...****...


Saionji-sensei kembali ke dalam dojo dengan panik dan khawatir.


"Shuu, tolong kejar Akane. Di-"


Sensei terdiam melihat Shuu yang terkejut. Pupilnya melebar menghiasi wajahnya yang tenang.


"Tidak, lupakan saja. Sensei akan mengatasinya, kalian lanjutkan saja latihannya."


Akane tidak ada disini dan aku tidak menyadarinya!


"Ada apa sensei? Apa yang terjadi pada Hanamura-san?" Tanya Shiragiku bingung.


"Tidak ada. Akane pulang duluan karena badannya kurang sehat" jelas Saionji-sensei tersenyum.


Shuu kemudian berjalan akan menyusul Akane namun lengannya ditahan oleh Shiragiku Noa.


Meskipun Shuu tidak mengatakan apapun kepada Shiragiku, tapi sorot matanya seolah mengatakan 'kenapa?'


"T-tunggu dulu Shuu, kamu mau kemana?" ucapnya pada Shuu.


"Apa Hanamura-san baik-baik saja?" Shiragiku Noa menatap sensei dengan wajah khawatirnya.


Akane..


"Tidak biasanya kamu tidak menyadari kepergian Akane" gumam Saionji-sensei menatap Shuu. "Sensei rasa dia akan baik-baik saja. Ini sudah malam, kalian teruskanlah latihannya biar sensei yang menghubungi orang tua Akane" jelasnya lagi sambil tersenyum.


"Baik" Shuu mengangguk paham meskipun dirinya merasa khawatir pada Akane. Dia merasa memiliki tanggung jawab untuk melatih Shiragiku Noa mengingat dia sudah menyetujuinya.


Akane.. kuharap dia baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2