
Dibawah sinar bulan yang menerangi seluruh kota, dengan nafas yang tidak beraturan, Akane terlihat sedang berlari menuju dojo milik Saionji-sensei. Langkahnya terhenti menatap sosok Shuu yang sedang dalam posisi Kai. Seperdetik kemudian anak panah itu dilepaskan dengan anggunnya.
Akane terpaku di tempat. Angin malam menerpa wajah cantiknya. Netra safirnya melebar, terkagum dengan tsurune milik Shuu yang menggema di tengah sunyinya malam. Terdengar jernih dan indah bagaikan rintikan air hujan.
"Kamu terlambat, Akane" ucap Shuu membuyarkan lamunan Akane yang masih mematung di tempat.
"Yo!" Sapa Akane tersenyum. "Maaf Shuu, aku ada perlu tadi."
"Aku mengerti" jawab Shuu tersenyum tipis.
"Akane kah? Masuklah, disana dingin" titah Saionji-sensei.
"Terima kasih sensei."
Akane kemudian duduk dengan tenang melihat Shuu yang sedang berlatih. Mata safirnya berbinar, dia tidak mengalihkan pandangannya bahkan setelah Shuu melepaskan anak panahnya. Dia hanya fokus, menatap kagum sosok yang sedang berdiri di hadapannya sambil menarik busurnya dengan elegan. Fujiwara Shuu.
"Apa kamu menyukai Kyudo Shuu?" Tanya Saionji-sensei ikut duduk di samping Akane.
"Sensei," sapa Akane tersenyum. "Hm, aku menyukainya" jawabnya bersemangat.
"Apa yang kamu suka dari Kyudo Shuu?"
"Jika sensei bertanya seperti itu, aku sangat menyukai ketenangannya. Seburuk apapun situasi dan kondisinya, Shuu tidak pernah kehilangan fokus dan ketenangannya, aku sangat mengaguminya. Shuu juga memiliki postur tubuh yang bagus. Mulai mengambil kuda-kuda, menarik anak panah dan saat melepaskannya, semuanya sangat elegan. Aku menyukainya."
Akane tersenyum kepada Saionji-sensei. Pandangannya kembali teralihkan pada Shuu yang bersiap menembakan anak panahnya.
"Bahkan tsurunenya pun terdengar- tersampaikan dengan jelas di telingaku, sangat jernih dan indah seperti rintikan air hujan. Tsurune khas 'Pangeran Muda'. Meskipun tidak sehangat tsurune Minato, tapi aku menyukainya" jelasnya kembali dengan mata yang berbinar.
Saionji sensei terdiam mendengar penjelasan Akane. Senyum tipis mengembang di wajahnya.
"Kamu benar-benar menyukainya ternyata. Kalau begitu, kenapa tidak mencobanya? Aku bisa mengajarimu."
"A-aku tidak yakin sensei. Aku selalu mengacaukannya."
Akane mengalihkan pandangannya sambil tersenyum canggung. Selama dia melihat dan menemani Shuu juga Minato berlatih, dia juga beberapa kali ikut mencoba Kyudo dan sebanyak itu juga dia menimbulkan kekacauan.
Saionji-sensei tersenyum. "Tidak apa, lagipula saat itu kamu masih sangat kecil jadi wajar jika tanganmu tidak memiliki tenaga untuk memegang busur yang cukup berat."
"Tapi.."
"Coba dulu saja Akane, aku akan mengajarimu."
Shuu menurunkan busurnya. Dia datang menghampiri Akane dengan wajah ramah dan senyuman yang tidak biasa dari Shuu yang terkesan dingin. Wajah yang jarang diperlihatkan pada semua orang, wajah yang sangat disukai Akane.
__ADS_1
Semilir angin yang menerpa, menyapu kulit dengan lembut, menerbangkan beberapa anak rambut mereka. Netra violet itu terlihat bersinar di gelapnya malam. Shuu membungkuk dan mengulurkan tangannya.
"Ayo."
...****...
"Pertahankan bahumu, fokus pada target dan.. lepaskan."
Shuu mengajarkan Akane dengan sangat terurut dan mudah dipahami agar Akane bisa mengikutinya.
"Aarrrgghhh!!! Maaf Shuu, aku kembali mengacaukannya."
Akane terlihat frustasi. Ini ketiga kalinya dia mengacaukannya. Semua anak panah yang dia lepaskan tidak ada satupun yang mengenai target dan malah menukik tajam ke rumput.
"Sepertinya tarikanmu kurang kuat" ujar Saionji-sensei menghampiri Akane dan Shuu. "Posisimu sampai hikiwake sudah cukup baik, hanya saja setengah bagian bawah kurang seimbang dan bahumu terlalu kaku. Kamu harus berlatih meningkatkan otot lengan, dan berlatih menjaga keseimbangan, Akane."
"Anak panahmu juga terlalu tinggi" ucap Shuu menimpali.
"Itu benar. Tepatkan anak panahnya lebih rendah dari mulutmu" ucap Saionji-sensei lagi.
"Aku mengerti sensei, Shuu. Tolong sekali lagi," pinta Akane bersungguh-sungguh.
"Hm, kita mulai dari awal."
"Aaargghhh! Aku kesal sekali. Padahal Shuu dan sensei sudah mengajariku tapi tetap saja tidak ada anak panah yang menancap pada target" gerutu Akane kesal.
"Meskipun Shuu adalah ace di prefektur ini, bukan berarti dia bisa menembak tepat pada target saat pertama dia mencobanya. Tembakan pertamanya bahkan lebih buruk darimu" jelas Saionji-sensei tersenyum.
"Sensei benar."
"Sensei benar. Kamu hanya perlu banyak berlatih, Akane" ucap Shuu menimpali.
"Baiklah aku mengerti. Terima kasih sensei, Shuu. Aku akan meningkatkan otot lenganku dan memperbaiki semua kesalahanku" ucap Akane tersenyum.
"Aku akan memperlihatkan Kyudo terbaikku kepadamu" jelas Akane tersenyum kepada Shuu. Netra safirnya berkilauan dibawah sinar bulan. Dia mulai bersemangat tentang Kyudo.
"Aku menunggunya" Shuu ikut tersenyum mendengar perkataan Akane. Dari dulu Akane selalu ingin bisa menancapkan anak panah pada target, tapi kenyataan selalu membuatnya kecewa.
"Terima kasih Shuu, sensei. Aku rasa latihanku cukup sampai disini saja. Maaf sudah membuatmu kehilangan banyak waktu, Shuu. Aku akan menonton saja dari sana" jelas Akane tersenyum. Dia menunjuk tempat biasa dia menonton Shuu.
"Kenapa? Aku masih bisa mengajarimu" Tanya Shuu bingung.
"Ini sudah semakin malam tapi aku malah menyita waktu latihanmu dengan sia-sia. Aku akan menonton Shuu saja" jelas Akane kembali tersenyum.
__ADS_1
"Kamu yakin?"
"Yakin" jawab Akane tersenyum.
"Baiklah kalau seperti itu, aku mengerti" jawab Shuu kemudian mengambil alih busur di tangan Akane. Dia kembali fokus dengan latihannya sendiri.
Sudah menjadi kebiasaan bagi Shuu dan Akane menghabiskan sebagian waktu malam mereka untuk berlatih di dojo milik Saionji-sensei. Shuu yang terus berlatih untuk meningkatkan Kyudonya dan Akane yang bersemangat melihat pemandangan favoritnya itu.
...****...
"Otsukare Shuu, kamu selalu hebat" ujar Akane menunjukan senyuman manisnya.
"Itu berlebihan, Akane" jawab Shuu dengan wajah yang tenang seperti biasa.
"Kalian berdua, hati-hati di jalan ya" ucap Saionji-sensei.
"Baik."
"Wajahmu kaku Shuu, apa yang sedang kamu pikirkan?"
Shuu tidak menjawab pertanyaan Akane. Netra violetnya tidak lepas dari jalanan yang ada di hadapannya.
"Apa tentang cinta lagi?" Akane mencoba menebak, karena beberapa hari yang lalu mereka membicarakan tentang cinta.
"Aku sudah mencari banyak informasi tentang cinta tapi aku belum bisa menemukannya" jelasnya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Semua butuh proses bukan? Pelan-pelan saja Shuu" ucap Akane tersenyum.
"Aku tahu."
Senyum tipis mengembang di wajah cantik Akane. Dia kemudian memukul pelan punggung Shuu.
"Seperti bukan Shuu saja. Aku yakin semua akan baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja, karena kamu adalah Shuu" ucapnya tersenyum manis. Detik itu juga, netra violet Shuu menatap Akane. Senyum tipis mengembang di wajah tenang Shuu.
"Begitukah?"
"Hm. Karena kamu adalah Shuu, aku yakin semua akan baik-baik saja."
Shuu mulai kembali tenang dari pikiran nya tentang cinta yang cukup mengganggu dan membuatnya sedikit kesal. Otaknya bekerja cukup keras hanya untuk memikirkan hal tersebut.
"Kamu ada-ada saja Akane, terima kasih" ucap Shuu tersenyum.
"Don't mind." Ucap Akane yang ikut tersenyum.
__ADS_1