TSURUNE : KAZEMAI KOUKOU KYUUDOUBU YABAI - FUJIWARA NO AI (FUJIWARA'S LOVE) -

TSURUNE : KAZEMAI KOUKOU KYUUDOUBU YABAI - FUJIWARA NO AI (FUJIWARA'S LOVE) -
Pengganggu


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap. Sinar dengan rona merah kekuning-kuningan dan sedikit warna ungu membentang di langit barat, menyinari segala sesuatu yang ada di bawahnya. Pemandangan yang indah untuk disaksikan bersama tetapi berbeda dengan dua insan yang saling berhadapan ini.


"Shuu, katakan dengan jujur padaku, apa aku pengganggu bagimu?" Akane membulatkan tekadnya untuk bertanya langsung kepada Shuu. Dia akan mengambil keputusan sesuai jawaban yang akan diberikan oleh Shuu sekarang.


Hening. Shuu tidak mengatakan apapun. Tidak ada yang berubah di wajahnya yang tenang, dia hanya menatap dalam netra safir itu. 


"Shuu, katakan sesuatu! Apa aku pengganggu bagimu? Aku mengganggu hubunganmu?" Pinta Akane lagi. Netra safirnya tajam dan mengkilap menandakan dia sedang bersungguh-sungguh.


Lagi-lagi hening. Shuu kembali tidak mengatakan apapun kepada Akane. Netra mereka bertemu tapi detik kemudian Shuu membuang pandangannya.


"Shuu! Jawab aku!"


"Noa sedikit terganggu" jawabnya mengalihkan pandangannya. Dia tidak menatap mata Akane seperti biasanya.


"Aku tidak bertanya tentangnya, aku bertanya kepadamu. Aku bertanya tentangmu!" 


Shuu lagi-lagi terdiam yang membuat Akane semakin geram. Tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya tapi sepertinya Shuu tidak ingin menjawab pertanyaan Akane. 


Mata Akane memanas. Tangannya mengepal dengan kuat. Dia menggigit bibir bawahnya, mencoba menetralkan nafasnya.


Saat Shuu membuka mulut akan berbicara, Akane terlebih dulu memotong pembicaraan Shuu.


"Baik, dengan diammu ini aku menganggap jawaban dari pertanyaanku adalah benar."


Akane membungkukan badannya penuh hormat di depan Shuu.


"Maaf untuk selama ini Shuu. Maaf karena aku selalu mengganggumu. Maaf karena aku menjadi pengganggu hubunganmu dengan Shiragiku Noa. Aku sungguh minta maaf. Aku tidak akan mengganggumu lagi, aku tidak akan menjadi pengganggu bagimu lagi. Sungguh maafkan aku."


Tanpa menunggu jawaban dari Shuu, Akane langsung pergi meninggalkan Shuu yang masih terdiam di tempatnya. 


Dadanya kembali sakit. Netra safir yang indah itu dibalut oleh lapisan air bening yang sudah siap diterjunkan. Detik kemudian, butir air bening itu perlahan jatuh membasahi pipinya. Aliran sungai yang tenang perlahan berubah menjadi derasnya air terjun.


Maaf Shuu.. aku minta maaf


Kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal? Jika saja kamu mengatakannya lebih awal, aku akan pergi lebih awal juga dan aku tidak akan sesakit ini, Shuu. 


Maaf..


Disisi lain.


Apa yang kamu lakukan Shuu?! Ini bukan sesuatu yang aku inginkan!


"Akane, tunggu!" Shuu memanggil Akane yang terus menjauh dari pandangannya.


Akane..


...****...

__ADS_1


Setelah kejadian hari itu, keseharian Akane dan Shuu berubah. 


Diamnya Shuu saat itu menandakan bahwa Akane memang pengganggu untuk Shuu, sehingga membuat Akane mengambil keputusan untuk menjauh darinya.


Tawa canda mereka sudah tak terdengar lagi. Kebersamaan mereka berkurang. Mereka bahkan tidak pernah terlihat saling bertegur sapa seperti dahulu. Pandangan mereka selalu dialihkan ketika mereka berpapasan. Tali yang sudah mereka untai bersama sejak kecil, kini perlahan terlepas dari ikatannya. Persahabatan mereka mulai memudar.


"Akane sudah pergi tadi. Akhir-akhir ini dia terlihat sibuk, dia juga selalu mengurung dirinya di kamar. Jika Shuu tahu sesuatu, tolong beritahu bibi ya" jelas Ibu Akane.


"Baik bi. Kalau begitu aku permisi" ucap Shuu membungkuk hormat.


Ini pasti salahku. Bagaimana caranya agar aku bisa berbicara dengan Akane?


Setelah kejadian hari itu, Akane selalu terlihat menghindari Shuu. Dia selalu membuat alasan untuk bisa menjauh darinya baik di sekolah maupun di rumahnya.


"Akane-chan!" Panggil Ibu Shuu. Merasa dipanggil, dengan cepat Akane menghampiri Ibu Shuu.


"Ada apa bi?" Tanya Akane.


"Kamu pasti akan ke dojo Saionji-sensei kan? Boleh bibi titip ini? Shuu belum makan dari siang, bibi takut dia kenapa-kenapa" jelas Ibu Shuu terlihat khawatir.


"B-benarkah? Baiklah bi, akan aku bawakan untuknya" ucap Akane menerima kotak makan dari Ibu Shuu.


"Terima kasih ya, maaf merepotkanmu"


"Tidak masalah bi, aku tidak merasa direpotkan" jawab Akane sambil tersenyum. Akane membungkukkan badannya sebelum dia pergi.


Bagaimana aku menghadapi Shuu nanti? Aku sangat takut..


Aku tidak begitu ingat bagaimana semua ini bisa terjadi. Aku sungguh ingin bertemu dengannya, aku ingin berbicara kepadanya, aku juga ingin mendengar Kyudonya lagi, tapi bagaimana caranya? Aku sudah tidak memiliki hak untuk melakukan semua itu.


Perlahan dia menengadahkan wajahnya. Mata safirnya mencerminkan ribuan bintang yang menghiasi langit malam. Akane perlahan tersenyum.


"Indah sekali"


Bintang, tidak bisakah engkau mengabulkan permohonanku? Aku ingin hubungan kami kembali seperti dulu, aku tidak ingin pertemanan kami berakhir seperti ini.


Akane terdiam menghentikan langkahnya. Mata safirnya membulat karena terkejut. Perlahan senyuman Akane semakin mengembang di wajahnya.


Sebuah bintang jatuh melintas tepat di atas kepala Akane, tertangkap dengan jelas oleh mata safirnya.


"Aku harap permohonanku bisa dikabulkan."


...****...


Akane menghela nafasnya dalam. Dia berdiri di tempat dojo Saionji-sensei.


"Ini tidak akan mengganggu Shuu, mungkin."

__ADS_1


Akane kemudian menekan bel dan tak lama kemudian wanita paruh baya itu keluar menghampiri Akane.


"Akane kah? Lama tidak bertemu. Kamu jarang sekali kemari, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Saionji-sensei khawatir.


"Maaf karena jarang menghubungimu, sensei. Aku baik-baik saja" ucap Akane tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu. Ayo masuk, Shuu sedang berlatih di dalam" ajak sensei tersenyum.


"Maaf sensei, tapi aku tidak bisa. Aku kemari hanya akan mengantarkan bekal Shuu, sensei. Bibi bilang, Shuu belum makan dari tadi siang jadi aku mengantarkannya kemari. Bolehkah aku menitipkannya pada sensei?" Tanya Akane ragu.


"Sensei tidak masalah, tapi kenapa kamu tidak memberikannya sendiri?"


Akane menundukan pandangannya dengan sorot mata yang sendu.


"Aku tidak bisa sensei. Aku tidak ingin mengganggunya."


Saionji-sensei yang melihat ekspresi tidak biasa dari Akane, langsung mengerti jika dia dan juga Shuu sedang ada masalah.


"Baiklah, sensei mengerti" ucap Saionji-sensei mengambil alih kotak makan dari tangan Akane.


"Terima kasih banyak sensei" ucap Akane membungkukkan badanya hormat. "Aku harus pergi sekarang, sekali lagi terima kasih banyak."


"Hm, hati-hatilah saat pulang ya."


"Baik sensei."


Akane dan Shuu pasti sedang ada masalah, tidak biasanya mereka berdua seperti ini.


...****...


"Shuu, istirahatlah sebentar. Ibumu membawa bekal untukmu" ucap Saionji-sensei pada Shuu.


"Ibu? Apa Ibu kemari, sensei?"


Saionji-sensei menggelengkan kepalanya pelan. "Akane yang mengantarkannya."


Wajah Shuu yang tenang terlihat terkejut.


"Akane? Lalu dimana dia sekarang?"


"Dia sudah pulang. Percuma saja jika kamu mengejarnya sekarang. Makanlah, jangan buat usaha Ibumu dan Akane yang mengantarkannya jadi sia-sia" jelas Saionji-sensei lagi.


Terlihat sorot kecewa dari netra violet itu. Begitu juga dengan Shiragiku Noa yang tampak kecewa dengan alasan yang berbeda.


"Baik. Terima kasih, sensei" ucap Shuu lemah.


Akane.. bagaimana caranya agar aku bisa berbicara denganmu? Aku ingin meminta maaf padamu.

__ADS_1


__ADS_2