
Minato kembali menemui Akane untuk membantunya bertemu dengan seseorang yang sudah Minato janjikan.
"Akane, ini Takigawa Masaki-san. Pelatih Kazemai dan juga pendeta senior di Kuil Yata"
Ternyata ini Takigawa Masaki-san.
Akane membungkukkan badannya penuh hormat.
"Saya Hanamura Akane. Mohon maaf atas segalanya, saya jadi merepotkan Anda, Takigawa-san."
"Tidak masalah, aku sudah mendengar semuanya dari Minato" jelasnya tersenyum ramah.
"Ano, Takigawa-san apa benar tidak apa-apa jika Anda melatih saya? Etto.. hm, itu.. Anda adalah pelatih Kazemai juga pendeta kuil ini, apa tidak masalah jika direpotkan kembali oleh saya?" Tanya Akane bingung dan ragu. Dia ingin bermain Kyudo tapi merasa tidak enak kepada Takigawa Masaki.
"Ah hm, kurasa tidak masalah. Aku juga senang mendapatkan muridku sendiri telepas dari Kazemai dan Kuil ini" jelasnya tersenyum kepada Akane.
Mata Akane berbinar. Netra safirnya memantulkan pemandangan Takigawa Masaki yang ada di depannya. Dia benar-benar senang dan lega mendengar perkataan Takigawa Masaki.
"T-terima kasih Takigawa-san. Terima kasih banyak" Akane kembali membungkukkan badannya penuh hormat.
"Panggil saja aku Masaki, beberapa orang memanggilku Masa-san" ucapnya tersenyum.
"B-baik Masa-sensei, mohon bantuannya!"
Sensei?!
"H-hm mohon bantuannya juga" ucap Masaki tersenyum gugup. "Tapi Hanamura-san, aku bisa mengajarimu Kyudo tapi cukup sulit jika melakukannya di siang hari. Selain menjadi pelatih di sekolah Kazemai, kuil ini cukup ramai di siang hari. Apa tidak masalah jika kita belajar di malam harinya?" Tanya Takigawa Masaki dengan ragu.
"T-tentu saja sensei. Anda sudah repot-repot menyisihkan waktu istirahat Anda untuk mengajari saya, saya tidak bisa mengajukan protes." Jelas Akane tersenyum canggung.
"Baiklah jika seperti itu" jelas Takigawa Masaki tersenyum.
"Syukurlah, Akane" ucap Minato tersenyum.
"Hm. Minato juga, terima kasih banyak" ucap Akane yang juga tersenyum.
"Kalau begitu, sudah diputuskan ya" ucap Masaki lagi sambil tersenyum.
"Terima kasih banyak sensei."
Akane kembali membungkukkan badannya penuh hormat. Meskipun agak canggung karena ini pertemuan pertama mereka, tapi Akane cukup senang karena akhirnya dia bisa belajar Kyudo sesuai keinginannya. Tanpa harus bertemu dan berhubungan dengan Shuu.
"Untung saja Masa-sensei mau membantuku ya" ucap Akane tersenyum. Dia benar-benar senang bisa belajar Kyudo.
"Syukurlah. Aku juga akan menontonmu berlatih."
"Menontonku berlatih? T-tunggu Minato, sebaiknya kamu tidak melakukannya. Aku tidak bisa menampilkan Kyudo buruk ku kepadamu. Aku malu" jelas Akane memainkan jarinya. Dia menyadari bahwa dirinya benar-benar payah bermain Kyudo.
"Kenapa harus malu?"
"Aku bahkan tidak bisa menarik panahnya dengan benar" jelas Akane menundukan kepalanya.
"Lalu bagaimana denganku yang sudah terkenal sebagai orang yang menghancurkan diri di turnamen nasional?"
"A-ah i-itu.. maaf" ujarnya sambil menundukan pandangannya, dia menyesal.
__ADS_1
"Aku bercanda Akane. Jika kamu malu aku tidak akan melakukannya" ucap Minato kembali tersenyum.
"Tidak, tidak. Silahkan lihat latihanku dan beri masukan nanti. Aku benar-benar membutuhkannya" jelas Akane kembali bersemangat.
"Kamu serius?"
"Hm, serius"
"Baiklah kalau begitu, aku akan menontonmu" ucap Minato tersenyum.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
Untuk kesekian kalinya, Akane kembali menghembuskan nafasnya kasar.
"Maaf sensei, aku mengacaukannya lagi" ucap Akane kesal.
"Hm.. posturmu sampai hikiwake sudah bagus tapi bahumu terlalu tegang. Rileks saja. Pertahankan tarikan busur sedikit lebih lama dan lebih rendah. Bayangkan ada garis lurus di hadapanmu untuk membenarkan posisi tubuhmu."
"Baik."
Malam demi malam sudah Akane lewati dengan berlatih Kyudo bersama Takigawa Masaki. Dia mengajarkan Kyudo dengan seksama dan memperhatikan detail-detail Kyudo Akane.
Usaha yang Akane lakukan setiap malam membuahkan hasil. Untuk pertama kalinya anak panah yang Akane lepaskan menancap di target cukup kuat.
Tubuh Akane membeku. Matanya berbinar menatap anak panah yang menancap pada target.
"A-apa aku berhasil, sensei? Apa aku melakukannya?"
Senyuman itu mengembang di wajah Masaki. Dia menganggukan kepalanya pelan, membenarkan apa yang dikatakan Akane.
Akira tersenyum bahagia. Untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun dia ikut belajar Kyudo bersama Shuu dan Minato, dia berhasil mengenai target. Senyuman bahagia terpancar di wajah Akane, seolah menular kepada Minato dan Masaki yang juga ikut tersenyum bahagia melihat keberhasilan Akane.
"Kerja bagus Akane, selamat" jelas Minato tersenyum.
"Terima kasih, Minato"
"Terima kasih sensei. Berkat sensei, aku bisa mengenai target setelah lama mencoba Kyudo" jelas Akane tersenyum. Dia benar-benar bahagia bisa menembak mengenai target.
"Kerja bagus untuk hari ini, Akane. Selamat untuk tembakan pertamanya" ucap Masaki tersenyum.
"Syukurlah, sekarang kamu sudah bisa menembak dengan baik, Akane" ucap Minato tersenyum.
"Hm, aku benar-benar senang Minato tapi aku masih jauh dibawah Minato dan Shuu jadi aku harus lebih giat berlatih" jelasnya tersenyum. "Terima kasih banyak, sensei. Mohon bantuannya lagi esok hari."
Netra safir itu mengalihkan kembali pandangannya pada target dan langit yang sudah gelap secara bergantian dengan tatapan sayu. Senyuman itu perlahan memudar.
Seharusnya Shuu juga ada disini.
Maaf Shuu, tapi aku masih ingin bersamamu.
"Ah benar, besok datanglah sepulang sekolah. Aku harus mengunjungi keluargaku jadi jadwal kita juga ikut dimajukan. Tidak apa kan, Akane?" Tanya Masaki ragu.
"Tentu sensei, aku akan kemari sepulang sekolah" ujar Akane tersenyum.
Tunggu aku, Shuu. Aku pasti menunjukan Kyudo terbaikku kepadamu.
__ADS_1
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
Shuu berjalan menuju kelas Akane yang berada di samping kelasnya.
Aku harus berbicara dengannya!
Shuu berdiri di depan pintu memperhatikan Akane yang sibuk menulis di bukunya.
"Akane, Fujiwara memanggilmu!" Teriak salah satu siswa menghentikan aktivitas Akane. Tak butuh waktu lama untuk netra safir itu menemukan sosok Shuu yang berdiri tidak jauh dari pintu masuk.
Akane kemudian menghentikan segala aktivitasnya dan melangkahkan kakinya menghampiri Shuu.
"Ada apa Shuu?"
"Kita harus bicara, Akane"
"Maaf Shuu, tapi aku tidak bisa lama. Tugasku belum selesai" ucap Akane menundukan pandangannya.
"Aku harap kamu bisa datang ke klub hari ini, mereka benar-benar merindukanmu" netra violet itu menatap tenang Akane.
"Maaf Shuu, hari ini aku sudah ada janji dengan seseorang. Tapi lain kali aku pasti datang, maaf" ujar Akane menyesal. Netra safir itu menundukan pandangannya.
Begitu juga dengan Shuu. Netra violet itu terlihat kecewa. Dia menundukkan pandangannya.
"Kalau begitu, jangan menghindariku" gumamnya yang masih bisa didengar oleh Akane.
Tubuh Akane seketika tersentak. Netra safir itu melebar, namun seperdetik kemudian Akane hanya menunjukan senyuman tipis.
"A-"
"Shuu!" Panggil Shiragiku Noa yang membuat Shuu maupun Akane menoleh ke sumber suara.
"Sepertinya kamu harus pergi Shuu. Aku juga akan pergi sekarang, sampai jumpa" ucap Akane kemudian kembali masuk ke kelas dan melanjutkan aktivitasnya.
Ini juga aku lakukan untukmu, Shuu. Lagipula apa maksudnya itu? Semua orang merindukanku, apa Shuu juga termasuk?
Disisi lain.
Netra violet itu tak lepas dari punggung Akane yang terus menjauh.
Akane..
"Ada apa?" Tanya Shiragiku Noa menatap Akane yang kembali ke dalam kelasnya.
"Tidak ada. Aku hanya berbicara dengan Akane sebentar" jelas Shuu tersenyum.
"Begitukah? Ayo ke kantin sebelum penuh"
"Baiklah."
...🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹...
Hikiwake: menarik tali busur, sembari menurunkan busur sampai di depan kepala. Berikut gerakan Hikiwake,
__ADS_1