TSURUNE : KAZEMAI KOUKOU KYUUDOUBU YABAI - FUJIWARA NO AI (FUJIWARA'S LOVE) -

TSURUNE : KAZEMAI KOUKOU KYUUDOUBU YABAI - FUJIWARA NO AI (FUJIWARA'S LOVE) -
Fujiwara no Ai


__ADS_3

"Apa mereka baik-baik saja? Tidak, tidak, mereka akan baik-baik saja. Mereka pasti baik-baik saja," ujar Minato meyakinkan dirinya sendiri.


Sepasang manik hijau itu terlihat cemas. Sejak dia memutuskan untuk meninggalkan Akane serta Shuu di dalam, Minato terlihat beberapa kali mondar-mandir di depan dojo dan sesekali berjinjit akan mengawasi dari balik jendela meskipun hasilnya nihil. Jendela itu sangat tinggi.


Merasa lelah, dia berjongkok dengan mulut yang terus bergumam melontarkan kata penenang bagi dirinya sendiri.


"Minato?"


Suara yang tak asing membuyarkan pikiran Minato. Dia adalah Takigawa Masaki.


"Masa-san? Selamat datang" ujar Minato tersenyum.


"Terima kasih," jawab Masaki tersenyum. "Apa yang sedang kamu lakukan disini? Dimana Akane, apa latihannya sudah selesai?"


"Ano.. etto.. Akane sedang menyelesaikan masalahnya dengan Shuu di dalam" ujar Minato menundukan pandangannya. Jarinya menggenggam erat jaket yang Ia kenakan.


"Ternyata benar dugaanku, mereka sedang terlibat masalah" gumam Masaki.


"Masa-san, ano.."


"Kenapa?" Tanyanya bingung.


"Itu.. a-aku mengkhawatirkan mereka" lirihnya menatap sang Guru.


"Kalau begitu ayo masuk" 


"Tapi mereka sedang menyelesaikan masalah mereka. N-nanti kita mengganggu"


"Kamu mengkhawatirkan temanmu bukan? Aku juga bertanggung jawab atas Akane. Kita akan masuk ke dalam" ucap Masaki dengan yakin.


"Masa-san.." manik hijau itu berbinar. "Aku mengerti."


Kedua insan ini kemudian berjalan memasuki dojo dengan sedikit cepat. Langkah yang terburu-buru itu menjadi sedikit tenang setelah samar terdengar suara tsurune yang hangat dan tenang dari kejauhan. Langkah mereka terhenti tepat di depan dojo. 


Semilir angin malam berhembus mengusap lembut wajah mereka. Netra Minato maupun Masaki terlihat berbinar menatap kagum dua manusia yang ada di depan mereka itu.


"Ini.."


"Sepertinya kita terlalu khawatir. Mereka lebih dari baik-baik saja" ucap Masaki tersenyum. Matanya fokus memandangi Akane dan Shuu secara bergantian.


Kyudo yang saling melengkapi, membuatnya semakin indah. Kalian berdua berhasil mengubah dojo ini sebagai lautan sakura dengan rintikan air hujan yang menemaninya. Kalian benar-benar hebat.


"Kyudo milik Shuu memang sangat indah" ujar Akane tersenyum.


"Kyudomu juga" ujar Shuu yang juga tersenyum.


Berbeda dengan situasi beberapa menit yang lalu, Shuu dan Akane sudah terlihat baik-baik saja. Senyuman manis yang terukir di wajah masing-masing menjadi salah satu buktinya.


"Otsukare Akane, Fujiwara-kun" ucap Masaki tersenyum.


"Sensei!" Akane kemudian menghampiri gurunya itu. "Cepat juga pulangnya, sensei."


"Begitulah" ujar Masaki tersenyum sambil mengusap kepala Akane gemas.


"Takigawa-san, maaf karena aku tiba-tiba datang kemari dan mengganggu latihan Akane. Terima kasih sudah membimbingnya hingga saat ini" ujar Shuu membungkukkan badannya penuh hormat.


"Tidak masalah. Aku juga senang mendapatkan seorang murid" ujar Masaki tersenyum. "Begini Fujiwara-kun, apa kita bisa bicara sebentar? Tentu saja Akane dan Minato juga ikut"


"Baik."


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


"Jadi benar, permasalahan kalian itu berkaitan dengan pembicaraan kita tentang cinta? Maaf, ini salahku karena tidak menjelaskannya dengan baik" Masaki terlihat menyesal.


"Tidak Takigawa-san, jangan meminta maaf. Ini salahku karena salah mengartikan cinta yang dimaksud" ujar Shuu membungkukkan badannya.


"Itu benar sensei, ini karena kami yang terlalu bodoh. Tolong jangan meminta maaf seperti itu, sensei" ujar Akane ikut membungkukkan badannya.


"Aku juga minta maaf" ucap Minato ikut membungkukan badannya. Semua orang yang melihat itupun hanya saling menatap bingung dengan perilaku Minato.


"Kenapa Minato juga ikut minta maaf?" Tanya Akane.


"Habisnya kalian semua meminta maaf, tidak enak jika hanya aku yang tidak meminta maaf. Aku merasa dikucilkan" jelas Minato canggung.


Suara tawa kemudian mengisi ruangan dojo ini. Disaksikan sang Purnama, mereka sudah terlepas dari segala beban pikiran mereka masing-masing, khususnya bagi Akane dan Shuu. Mereka terlihat bahagia.


"Apa apaan itu?" Ujar Akane sambil tertawa.


"Kamu ada ada saja Minato" ujar Masaki mengusap kepala Minato.


Syukurlah. Shuu dan Akane kembali tersenyum.


"Hehe.. Pantas saja kalian sangat canggung saat itu," ujar Minato mengerti.


"Maaf" Shuu menundukan kepalanya, dia terlihat sangat menyesal.


"Shuu, kita sudah berjanji bukan?" Protes Akane.


"Tapi, masa muda itu memang menyenangkan ya. Di umur kalian sekarang, kalian sedang berada di masa ketika kalian merasakan segala emosi. Senang, sedih, bahagia, sakit, cinta, kalian akan merasakannya. Apalagi Akane dan Fujiwara-kun sampai bertengkar gara-gara hal ini. Ini akan menjadi pengalaman berharga untuk masa depan nanti, tentu saja untukku juga" jelas Masaki tersenyum.


Netra safir itu menatap hangat sosok Shuu yang duduk disampingnya.

__ADS_1


Sensei benar. Aku mengambil banyak pelajaran dari kejadian ini. Aku menyesal dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Menjauhi Shuu sungguh menyakitkan.


"Fujiwara-kun, kamu adalah orang yang sangat berbakat. Seiring berjalannya waktu, kamu juga akan semakin keras berlatih Kyudo. Menurutku kamu sudah sangat hebat, aku berani menjaminnya. Aku mungkin mengatakan bahwa kamu jauh dari inti Kyudo, tapi tidak ada salahnya jika kamu mulai mencintai Kyudo dari awal," 


Mau bagaimana pun, dirinya adalah seorang guru dan ikut andil dalam permasalahan muridnya itu. Memberi saran bukanlah hal yang tabu.


"Cinta itu berawal dari rasa suka. Sekarang kamu menyukai panahan jadi kamu pasti akan mencintainya juga meskipun membutuhkan sedikit waktu" jelas Masaki lagi. "Jika bisa, tolong jangan bertengkar karena hal seperti ini lagi" pintanya menatap Akane dan Shuu secara bergantian.


"Aku mengerti, sensei" ujar Akane menundukan pandangannya.


Netra violet itu ikut menundukan pandangannya sebelum kembali menatap Masaki.


"Aku mengerti Takigawa-san. Sesuai dengan perkataan Anda, aku akan melakukannya. Aku juga belajar dari kejadian ini, aku tidak ingin mengulanginya" jelas Shuu dengan yakin.


"Shuu.."


Masaki menganggukan kepalanya antusias. "Keputusan yang bijak" ujar Masaki setuju.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


Tepat di depan kelas Akane, terlihat Shuu yang sudah menunggunya. Tak butuh waktu lama untuk Akane menghampiri sahabatnya itu.


"Maaf membuatmu menunggu," ujar Akane tersenyum.


"Tidak masalah. Ayo" ajak Shuu yang juga tersenyum.


"Apa sebaiknya aku langsung pulang saja ya? Aku takut, Shuu" 


"Tidak biasanya kamu seperti ini"


"Habisnya.."


"Tidak apa, Akane. Tidak akan ada yang memarahimu"


"Tapi tetap saja takut.." ujar Akane mempoutkan bibirnya.


Di dojo.


"Apa benar tidak masalah Shuu? Aku benar-benar takut sekarang" ujar Akane menarik ujung jaket yang dikenakan Shuu.


"Tidak apa Akane, kamu tidak akan bertemu hantu atau iblis dan semacamnya. Percaya kepadaku" ujar Shuu menarik Akane agar lebih dekat.


"Shuu!" Panggil Sugawara bersaudara.


"Siapa?" Tanya Manji setelah menemukan seseorang yang bersembunyi di punggung Shuu.


"Y-yo.." gumam Akane di balik punggung Shuu.


"Eehh.. kamu berani datang lagi ternyata. Kemana saja selama ini hah? Kamu tidak jadi pengkhianat bukan?" Gerutu Senichi.


"Aku tidak yakin. Jika dia bukan pengkhianat dia sudah pasti pembohong!" Jelas Manji menimpali.


"Ayo kembali, Akane" ujar Shuu akan berbalik.


"Eehh tunggu Shuu, kami hanya bercanda!"


"Itu benar, kami hanya bercanda!" Senichi ikut memihak saudara kembarnya itu dengan sedikit panik. "Kamu kemana saja Akane? Kami merindukanmu" jelas Senichi lebih pada merengek.


"Itu benar, kami merindukanmu. Kamu harus mendukung kami lagi" pinta Manji memohon.


"A-apa kalian serius?" Gumam Akane menundukan pandangannya.


"Aku serius!"


"Kami sangat-sangat serius!"


"Hanamura kah? Lama tidak bertemu" ujar Ketua Motomura menghampiri mereka sambil tersenyum.


"Senpai!" Akane dengan cepat membungkukan badannya penuh hormat.


"Maaf senpai. Karena berbagai alasan aku tidak bisa datang untuk mendukung kalian. Tolong izinkan aku menjadi pendukung klub Kyudo lagi"


"Apa yang kamu katakan? Kamu adalah pendukung setia kami. Kamu sudah menjadi bagian dari klub Kyudo Kirisaki" jelas Ketua tersenyum.


"Senpai.."


"Okaeri, Akane" ujar Ketua lagi.


Netra safir itu berbinar, air matanya sudah tertimbun di sudut mata. Senyuman manis terukir di wajah cantiknya.


"Tadaima.. terima kasih banyak senpai" ucap Akane kembali membungkukan badannya penuh hormat.


"Syukurlah" ucap Shuu ikut tersenyum.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


Jika dipikir kembali, aku memang orang yang br*ngsek. Ini benar-benar keluar dari jalan hidupku. Mencintai Noa karena suatu kebutuhan adalah kesalahan yang sangat tidak bisa dimaafkan.


"Shiragiku Noa, aku benar-benar minta maaf untuk segalanya. Tidak masalah jika kamu tidak memaafkanku karena aku memang tidak pantas untuk dimaafkan. Tapi aku tahu aku salah dan aku sangat menyesal. Aku minta maaf" ujar Shuu membungkukan badannya penuh hormat. 


"Tidak apa Shuu, aku juga minta maaf" ujar Shiragiku Noa menundukan pandangannya. Dia juga merasa bersalah dengan perilakunya kepada Shuu dan Akane selama ini.

__ADS_1


Netra violet itu tenggelam dalam cerahnya langit biru. Manik itu menangkap angin yang menyapu awan dengan cukup lambat, merasakan hembusan angin yang mengelus wajahnya.


Kurasa ini yang terbaik. Tidak masalah jika saat ini Kyudoku stagnan di tempat karena semua itu butuh waktu dan aku tidak ingin kehilangan apapun saat ini.


Tidak perlu terburu-buru. Tidak perlu bersinar. Aku hanya perlu menjadi diriku sendiri.


"Aku tidak ingin kehilangan lagi.." 


"Kamu mengatakan sesuatu, Shuu?"


"Tidak ada Ketua" jawabnya singkat.


"Baiklah, mari kita mulai latihannya" ucap Ketua Motomura.


"Baik."


...♡°•【藤原の愛】•°♡...


...TSURUNE KAZEMAI KOUKOU ー YABAI...


...FUJIWARA NO AI 【藤原の愛】/ FUJIWARA'S LOVE...


...END...


Tambahan


...♡°••°♡...


Perlahan langkah yang tenang itu berubah menjadi larian kecil, berusaha mengejar seseorang tatkala netranya menangkap seseorang yang berharga untuk gadis ini.


Ditepuknya punggung sahabat baiknya itu.


"Yo, Shuu!" 


Pemilik surai coklat itu berbalik. Netra violetnya menatap hangat sahabatnya tanpa melupakan senyuman tipis yang mengembang di wajah tenangnya.


"Kamu lama, Akane"


"Maaf maaf" ujar Akane tersenyum.


Angin senja itu berhembus sangat kuat. Surai panjang Akane berterbangan bersama kelopak sakura yang menghujaninya.


"Anginnya cukup kencang ya" jelas Akane merapikan kembali rambut dan seragamnya.


"Akane,"


"Apa?"


Tanpa berkata lebih lanjut, tangan kekar itu menyentuh surai Akane.


"Ada kelopak sakura di rambutmu" jelas Shuu menunjukan kelopak yang baru saja Ia ambil.


"Ah, terima kasih Shuu. Apa masih ada?"


"Ada, tunggu sebentar"


Shuu kembali menyentuh pucuk kepala Akane, namun kali ini dengan usapan lembut pada surainya.


"Shuu?"


"Sudah" jelasnya tersenyum.


"Ah! Di kepala Shuu juga ada kelopak sakura. Tundukan kepalamu sebentar" ujar Akane memang lebih pendek dari sahabatnya itu.


Sebenarnya Akane cukup tinggi untuk sesosok siswa SMA pada umumnya, hanya saja tinggi Shuu yang tidak masuk akal. Tinggi Shuu bahkan melebihi teman-teman dan juga anak-anak seumurannya. 180 cm di tahun pertama sekolah, bukankah itu sangat keterlaluan?


Shuu kemudian menurut. Dia menundukan kepalanya menunggu Akane membuang semua kelopak sakura itu. Namun bukannya diambil, Akane malah mengacak-acak rambut Shuu gemas.


"Akane, kamu hanya membuat rambutku berantakan" ucap Shuu dengan wajah dan intonasi tenang seperti biasa.


"Memang itu tujuanku, hahaha" ujarnya tersenyum jahil.


"Kamu-"


Akane langsung berlari menjauhi Shuu sebelum Shuu menangkapnya. Tidak tahu apa yang akan terjadi jika Akane tertangkap oleh Shuu.


Senyuman hangat mengembang di wajah tenangnya. Netranya tak lepas dari Akane yang terus berlari menjauhi dirinya dengan senyuman manis di bibir ranumnya.


"Jahil sekali"


Tapi aku tidak membencinya


"Shuu! Kamu lebih lama dari sesosok keong. Cepatlah, jangan sampai tertinggal" teriak Akane melambaikan tangannya.


Senyuman hangat semakin melebar di wajah tenang Shuu. Dia berlari kecil untuk bisa mengejar sahabatnya itu.


"Ha'i ha'i, Aku datang."


...♡°••°♡...


...Thanks for reading! ...

__ADS_1


^^^-Akane^^^


__ADS_2