TSURUNE : KAZEMAI KOUKOU KYUUDOUBU YABAI - FUJIWARA NO AI (FUJIWARA'S LOVE) -

TSURUNE : KAZEMAI KOUKOU KYUUDOUBU YABAI - FUJIWARA NO AI (FUJIWARA'S LOVE) -
Kyudo Akane


__ADS_3

Beberapa kali Shuu mengotak atik handphonenya, menghubungi nomor yang sama sejak 30 menit yang lalu. Pandangannya tak lepas dari jendela kamar yang terlihat gelap di seberang sana. Jendela yang tertutup rapat dengan gorden yang tak terlihat terbuka lagi, seolah menyembunyikan hangatnya sebuah kebersamaan.


"Apa dia sudah tidur ya?"


Shuu kemudian menyimpan handphonenya dan pergi menuju rumah Akane.


Diketuknya pintu rumah Akane beberapa kali tanpa ada tanda-tanda akan dibuka.


Padahal ada banyak hal yang ingin aku katakan kepadamu


Netranya fokus menatap langit cerah yang ditaburi ribuan bintang itu.


Aku harus bertemu Takigawa-san sekarang juga. Kesalahpahamanku tentang cinta yang dia maksud, sudah membuat Akane ikut terkena masalah.


"Meskipun aku bisa pergi ke tempat Takigawa-san besok pagi, tapi aku tidak bisa tenang. Aku harus menemuinya sekarang."


Ditemani cahaya perak bulan purnama dengan langkah yang tegas, Shuu berjalan menuju Kuil Yata. Langkahnya terhenti saat netranya menangkap sosok Akane yang akan menembakkan panahnya.


"Akane?! Apa yang dia lakukan disini?"


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


"...hubungan mereka bukan suatu kesalahan!"


Meskipun puluhan anak panah sudah menancap tepat di target, tapi pikiran Akane tetap dipenuhi oleh kalimat yang Minato katakan tadi sore.


Akane menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan.


Mengapa semua orang sangat egois? Tak peduli seberapa tajamnya sebuah kata, tak peduli kepada siapa kata itu diucapkan, tak peduli sesakit apa perasaan orang lain yang menerimanya, tanpa berpikir semua orang langsung mengatakan apa yang ingin mereka katakan. Ya itu memang bagus tapi cukup kejam.


Netra safir itu menatap fokus target di depannya. Dia kemudian melakukan 'Ashibumi', Akane merentangkan kaki sejajar dengan panah.


Dari awal aku tidak bisa menerima pernyataannya. Mengapa aku harus menjauhi Shuu hanya karena dia memiliki kekasih? Tidakkah itu karena dia cemburu saja? Wajar sih, karena aku lebih tahu Shuu daripada dirinya. Tapi kurasa dia tidak harus melakukan semua ini.


Akane memfokuskan tubuhnya melakukan 'Dozukuri'.


Apa ini adalah sesuatu yang benar? Hanya karena aku selalu bersamanya, semua orang memanggilku pengganggu. Padahal aku juga tidak mencampuri urusan pribadinya.


Akane kemudian melakukan 'Yugamae'. Dia memegang tali busur dengan lekukan di dasar ibu jari dan meletakkan anak panah di atas tangannya.


Cinta kah? Omong kosong tentang itu. Aku ingin kemampuan Kyudonya meningkat tapi aku tidak mau menjauh dari Shuu.


Akane mengangkat kedua tangannya di ketinggian yang sama. Dia melakukan 'Uchiokoshi'.


Pada akhirnya, aku juga egois. Padahal aku ingin menyapanya saat bertemu. Aku ingin melihat senyumannya, aku ingin tertawa bersamanya, tapi kini aku malah menjauhinya. Otak dan hatiku sudah tidak sinkron. Aku bahkan ragu apa aku masih baik-baik saja sampai sekarang?


Akane berada dalam posisi 'Hikiwake'. Dia menarik tali tanpa melepaskan pandangan dari target yang ada di depannya.


Akhir-akhir ini Shuu terlihat murung. Sekarang dia memiliki kekasih, teman-teman dan senpai lainnya yang masih mendukungnya tapi mengapa dia selalu murung? Ah, aku ingin menghiburnya, aku ingin berada disampingnya, aku ingin membuatnya kembali tersenyum. Kyudonya berubah, tsurunenya juga berubah. Aku memiliki banyak pertanyaan tetapi tidak memiliki satupun jawaban atau alasannya.


Setelah latihan yang cukup keras dan ketat, dia berhasil menarik anak panah dengan kuat. Dia terlihat sangat fokus pada dirinya sendiri maupun pada anak panah dan target yang berada di depannya. Posisi 'Kai' yang sangat indah.


Tapi dia tetap Shuu, Fujiwara Shuu. Temanku, sahabatku yang baik dan hebat dengan wajah dan kepribadian yang selalu tenang. Seseorang yang bisa diandalkan walaupun aura dingin selalu menyelimutinya. Seseorang yang tidak humoris dengan pemikiran rasional yang kuat.


Aku ingin menjadi egois. Tidak masalah jika aku hanya bisa menemuinya sekali dalam seminggu. Tidak masalah jika aku dibenci semua orang. Aku bahkan tidak peduli jika gadis itu kembali merundungku dengan cara yang lebih kejam. Tapi aku tidak mau kami berakhir seperti ini. Aku tidak ingin pertemananku dengan Shuu berakhir. Hubunganku dengan Shuu bukanlah suatu kesalahan!


Angin berhembus cukup kuat menerpa wajah Akane, bersamaan dengan terlepasnya anak panah dari tangannya.

__ADS_1


Tsurune Akane cukup keras namun indah. Membawa ketenangan dengan kesedihan di dalamnya. Bagaikan angin musim gugur yang sejuk, menggugurkan daun momiji yang penuh cahaya dan warna di hari-hari terakhir mereka. Akane telah mengubah seluruh dojo ini sebagai lautan daun momiji merah.


Shuu..


Butiran air bening menetes di sudut mata Akane seiring dengan menancapnya anak panah tersebut. Pandangannya yang sedikit memburam tidak terlepas dari target bahkan saat Akane menurunkan busurnya.


"Akane.." gumam Minato menatap kagum sebelum menatap Akane khawatir.


Akane terduduk di lantai. Dengan air mata yang masih mengalir, dia menatap satu anak panah terakhir yang masih ada di tangannya.


Akane menatap sendu busur yang Ia pegang lalu menyimpan anak panahnya. Salah satu tangannya dia gunakan untuk menutupi wajahnya. Dia mulai terisak.


"Akane, kamu baik-baik saja?" Tanya Minato khawatir. "Ada apa? Apa kamu terluka?"


"Aku tidak ingin pertemananku dengan Shuu berakhir."


"Aku- aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa menjauh darinya, Minato"


Tangis Akane pecah saat itu juga. Kedua tangannya sibuk menyeka air mata yang mengalir dengan deras.


Dengan cepat pemilik netra hijau itu mengelus punggung Akane untuk menenangkannya. Netranya ikut sedih melihat sahabatnya menangis.


"Bagaimana ini? Aku tidak bisa melakukannya Minato. Aku ingin mendengar suaranya. Aku ingin menyapanya. Aku ingin tersenyum dan tertawa bersamanya. Aku tidak ingin menjauh darinya. Aku ingin melihat Kyudonya. Aku ingin mendengar tsurune milik Shuu-"


Sesaat setelah Akane mengatakan perasaan yang sebenarnya, terdengar bunyi tsurune yang indah juga jernih seperti rintikan air hujan. Tsurune khas Pangeran Muda.


Akane dengan cepat mengangkat wajahnya. Dia melihat sebuah anak panah sudah menancap bersentuhan dengan anak panah yang tadi dia lepaskan.


"Tanpa dimintapun, aku akan selalu menunjukan Kyudoku kepadamu."


Suara ini!


Netra safir itu membelalak, terkejut dengan apa yang dia lihat saat ini.


"Aku bersalah. Aku minta maaf, Akane" ucap Shuu memegang pundak sahabatnya itu.


"Dari awal aku tidak ingin kamu menjauhiku" jelasnya menatap dalam kedua manik safir itu.


"Aku minta maaf karena kesalahpahamanku mengenai arti cinta, telah menyakitimu. Sungguh maafkan aku. Sama sepertimu, aku juga ingin menyapamu. Ada banyak hal yang ingin aku katakan kepadamu. Aku tidak ingin pertemanan kita berakhir seperti ini" jelas Shuu menatap hangat netra safir yang sembab dan penuh air mata itu.


"Shuu.." Tangis Akane kembali pecah dia kembali menangis.


"Terima kasih karena kamu sudah menepati janjimu. Kamu telah menunjukan Kyudo yang sangat indah" ucap Shuu tersenyum. Tangannya mengusap sudut mata Akane, menyeka air matanya.


Minato yang berada tidak jauh dari mereka ikut tersenyum lega. Akhirnya kedua temannya ini bisa berbaikan dan kembali seperti semula.


"Syukurlah.. Aku akan keluar sebentar. Kalian berdua sudah bekerja keras, bicaralah dan selesaikan masalahnya" jelas Minato tersenyum.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


Kecanggungan kembali menjalar di seluruh tubuh Akane. Netra safir yang sembab itu hanya menunduk menghitung lipatan hakama yang dia kenakan.


"Maaf Shuu" gumam Akane membuka pembicaraan.


Netra violet yang sedang asik menatap sang Purnama itu, mengalihkan pandangannya pada pemilik netra safir.


"Akane, aku tidak pernah sama sekali merasa telah terganggu olehmu. Aku justru sangat terganggu saat kamu tidak ada disampingku" jelas Shuu dengan manik violetnya yang tegas menatap dalam Akane, dia bersungguh-sungguh mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Sejujurnya aku ingin mengatakan hal ini saat kamu bertanya kepadaku saat itu, aku sangat menyesal Akane."


Meskipun Shuu sudah mengatakan kebenarannya tapi Akane tetap tidak bergeming. Netra safir itu masih fokus memperhatikan hakama yang ia kenakan.


"Tapi Shuu, Noa-"


"Aku sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi dengannya. Aku sudah tidak peduli lagi dengan cinta. Aku hanya ingin bersamamu, aku hanya ingin bermain Kyudo bersamamu. Tolong kembalilah, Akane" perlahan intonasi Shuu semakin sendu. Netra violetnya ikut menunduk.


Akane menggigit bibir bawahnya, tidak ingin kembali menangis.


"Tapi Kyudomu-"


"Kamu tidak perlu memikirkan Kyudoku. Aku telah membuatmu menangis karenanya, aku sungguh menyesal."


"Maaf Shuu"


"Aku yang seharusnya minta maaf. Maafkan aku Akane" ujar Shuu menatap dalam Akane yang masih menundukan kepalanya.


Hening. Daun-daun di ranting itu bergoyang, terdengar sangat berisik. Suara burung hantu yang juga terdengar, seolah ingin mencairkan keheningan diantara kedua insan ini.


"Akane, tolong jangan pernah berjalan di belakangku karena aku tak akan memimpin. Tolong jangan berjalan di depanku juga, karena aku tak akan mengikutimu. Cukup berjalan di sampingku dan jadilah sahabatku. Maukah kamu bermain Kyudo bersamaku?" Netra violet itu menatap dalam pemilik mata safir. Sinar violetnya terpantul dalam netra safir itu. Dia mengulurkan tangannya.


Netra safir itu perlahan menatap Shuu. Butiran bening kembali menetes dari matanya. Namun kali ini bukan air mata kesedihan, karena senyuman manis terukir di bibir ranumnya. Ini adalah air mata kebahagiaan. Perlahan dia menerima uluran tangan Shuu dan tersenyum.


"Hm, aku mau."


Uluran tangan itu diterima dengan baik oleh Akane. Senyuman manis dan lega terpampang di wajah mereka masing-masing.


"Okaeri, Akane" ujar Shuu tersenyum.


Akane terlihat terdiam namun seperdetik kemudian dia kembali berucap,


"Tadaima, Shuu."


...🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹...


Dalam memanah, Kyudo berpatokan pada Shaho Hassetsu, "8 langkah dalam memanah", yaitu:



Ashibumi, meletakan kaki/kuda-kuda.


Dozukuri, memposisikan badan.


Yugamae, menyiapkan busur.


Uchiokoshi, mengangkat busur sampai atas kepala.


Hikiwake, menarik tali busur, sembari menurunkan busur sampai di depan kepala.


Kai, posisi ketika tali busur telah tertarik penuh.


Hanare, melepaskan tali busur/panah.


Zanshin, posisi setelah melepaskan panah.


__ADS_1



__ADS_2