Ujung Penantian

Ujung Penantian
episode 12 # POS TIGA


__ADS_3

Pagi ini tugasku menjaga pos yang akan dilalui peserta dengan menyiapkan beberapa pertanyaan seputar materi yang sudah diberikan sejak sore kemarin.


Sebelum mulai mencari jejak dan kegiatan fisik lainnya, usai solat subuh kami semua yang tidak bertugas diharuskan mengikuti senam pagi untuk melemaskan otot otot tubuh sebagai streching. Senam SKJ yang dilanjut dengan senam maumere. Karena instrukturnya kocak maka kegiatan senam pagi kali ini pun lebih banyak diisi dengan gelak tawa yang menghibur.


Tiga puluh menit berlalu kami semua membubarkan diri tapi tak terlihat peluh membasahi dahi bahkan punggung kami.


"Ini sih bukan lemesin otot tangan dan kaki tapi lemesin otot perut" celetuk salah satu peserta sambil berlalu menggandeng teman sekelompoknya.


Ha.. Ha.. Ha...


Kami semua tertawa mendengar ucapannya barusan.


"Tenang tenang setelah sarapan kita beneran mau gerak badan buat tangan dan kaki kok" ucap kak Farida menimpali sambil tertawa.


Ku sempatkan sejenak berkeliling melihat tenda peserta dan melihat aktifitas yang mereka lakukan. Ada yang bersiap mandi ada yang masih selonjoran dan beberapa diantara mereka sibuk dengan peralatan dapur untuk menyiapkan sarapan kelompok mereka.


"Wah aroma masakan nya lezat, masak apa nih dik?" ku coba sapa peserta di tenda paling dekat dengan jalan.


"Ini kak yang simpel saja, dadar telor sama mie nyemek" sahut perempuan manis yang sedang membalik dadaran telor di penggorengan.


"Pantas aromanya seperti familiar" jawab Rini


"Kak ikut sarapan sini aja in syaa Allah enak rasanya, kan yang masak koki handal" sahut teman satunya yang sedang menyiapkan piring.


"Wah baik banget kalian, tapi terima kasih kita sarapan di sana saja, terima kasih tawarannya" ucapku sambil melihat jam di pergelangan tangan


"Rin, sudah jam tujuh yuk siap siap mandi takut antri telat nanti" ajak ku


"Pamit ya dik, nikmati sarapannya yang kenyang karena sampai siang lho" pamitku, "O iya jangan lupa bawa minum secukupnya"


"Siap kak"


---


Bergegas ku ambil handuk dan toiletries yang sudah aku persiapkan tadi sebelum senam. Di luar akau lihat antrian mengular di kamar mandi umum untuk peserta. Ada beberapa yang bercanda selama mengantri ada juga yang hanya diam sambil menunduk entah apa yang mereka lihat. Yang jelas mereka memiliki hajat yang sama.


Di toilet panitia putri masih ada mbak Rofi yang mengantri "Mbak aku habis mbak Rofi ya" pintaku


"Ya" jawaban singkat dari mbak Rofi


"Kita sarapan dulu aja masih lama nunggu antrian" ajak Rini


Aku mengangguk sambil membalikkan badan berjalan menuju ruang makan. Ternyata di Sana masih ada beberapa orang panitia laki laki yang belum selesai sarapan.


"Ini yang belum makan siapa?" tanya Rini karena melihat lauk dan urab yang tinggal sedikit tersisa.


"Yang laki laki kayaknya udah semua" Jawab mas Susilo


"Oh , ok" sahut Rini. Dia mengambil lebih banyak porsi urab dari pada nasinya diet katanya.


"Duduk sini aja" kak Rifai menawarkan masih ada bangku kosong di sebelah kak Rifai dan kak Rohim.


Ketika aku mulai menyuapkan nasi ke mulut, tiba tiba kak Rohim bicara "Fa nanti kita jaga posko 3 sama Rini juga"


"Oh ya kak, jauh ga lokasinya? "


"Lumayan tiga km dari sini"

__ADS_1


Sambil manggut manggut aku meneruskan makan ku.


"Mbok yang mesra dikit sama ceweknya, masak nyapa pagi pagi cima bilangin tugas doang" ledek kak Rifai


Kak Rohim cuma menggelengkan kepla sambil tersenyum, aku pun menunduk malu karena tersipu


"Eh disini bukan ajang pacaran" tegur mas Susilo dengan mimik muka datar, "Tolong ya bedakan urusan pribadi dan tugas negara" lanjutnya namun kali ini matanya sambil menatapku dengan tatapan yang aku tak mengerti artinya.


Aku hanya tersenyum menanggapi. Sementara Rini dengan sigap membelaku " Tenang ada satpam yang mengawal" sambil menunjuk ke dadanya sendiri.


Sekilas aku melihat mas Susilo masih menatapku dengan tatapan yang sama.


Selesai sarapan aku dan Rini bergegas ke kamar mandi untuk menyelesaikan hajat kami membersihkan diri. Ku lihat mbak Rofi sudah tidak ada di depan pintu berarti dia sekarang yang ada di dalam. Tak selang lama dia keluar dengan kerudung yang belum sempurna. Kulitnya yang putih bersih tampak sampai ke leher.


"Mbak maaf lehernya kelihatan di ruang makan tadi masih ada beberapa laki laki" aku mencoba mengingatkan agar aurat indahnya tak terekspos orang lain.


"Ya makasih ya dik" dia melangkah pergi dengan balutan handuk di kepala ampai ke leher.


----


"Semua sudah siap? Yang piket jaga tenda cukup satu orang masing masing kelompok" kak Yani mengawali pengumuman, "kita akan memulai kegiatan pagi ini seperti yang sudah ada di rundown acara, ada enam pos yang akan kalian lalui dan kerjakan tugas dari tiap pos nya. Usahakan tetap kompak apapun nanti yang terjadi menjadi tanggung jawab kalian masing masing kelompok, jelas? "


"Jelas kak" jawab mereka kompak


Kami bertiga berjalan duluan karena posko kami agak jauh dr area camping kita. Danaku tidak mendengar lagi instruksi dari kak Yani selanjutnya. Tapi kira kira tak jauh beda isinya saat briefing tadi malam sebelum tidur.


Tak banyak pembicaraan antara aku Rini dan kak Rohim. Aku sendiri berjalan di depan awalnya sampai di pertigaan jalan setapak yang agak menanjak menuju pas tiga, aku berganti menjadi di belakang karena takut salah jalan. Kami memang sengaja meniti jalan pintas agar lebih dekat sampai ke pos jaga.


"Alhamdulillah sampai juga akhirnya" Rini nampak gembira dia bersuara sambil merentangkan tangan seolah mau menghirup semua udara sejuk disekitarnya.


Ku lempar senyum tipis ke arahnya sambil melihat kemanakah gerangan sahabat baik ku berada.


Rini dan kak Rohim yang justru banyak berbincang setelah kami sampai di pos. Saat itu lah aku teringat bahwa sebenarnya aku dan kak Rohim sedang terlibat hubungan pertemanan lebih dekat. Tapi aku tak ingat bagaimana awalnya kami bisa dekat, atau boleh dibilang pacaran ala anak muda. Meski kami tak pernah melakukan kontak fisik sekalipun.


Ya aku awalnya hanya merasa kasihan dan ada keinginan untuk merubah kak Rohim kala itu. Dia yang awalnya terlihat kusut tidak rapi dan tak ada semangat dalam belajar saat kuliah, padahal kalau dilihat dari fisik dia punya kelebihan, wajah yang cukup manis karena tidak putih tapi sawo matang. Dan postur tubuh yang cukup proporsional untuk lelaki indonesia tinggi seratus tujuh puluh cm. Tapi sayang nya kurang rapi dalam penampilan jadi mengurangi kharisma yang ada dalam dirinya.


Ya sekarang aku ingat kondisi itu yang mendorongku untuk menerima dia ketika mengungkapkan isi hatinya kepadaku. Apa aku cinta sama dia? Sejauh ini aku mencoba mencari jawabnya dalam hatiku tapi rasanya tidak. Ya betul hanya karena kasihan dan ingin dia berubah menjadi lebih semangat belajar saja niatku. Tapi aku sadar manusia itu tak bisa merubah seseorang kecuali dia sendiri yanag ingin merubahnya.


"Fa,... Fa.. Kamu melamun? " tanya Rini, "pantas aja dipanggil dari tadi ga nyahut" eia menepuk jidatnya karena ulahku.


"ha.. Ada apa? " jawabku " Ga aku ga melamun kok" kilahku


"Eh jangan curiga aku sama kak Rohim cuma ngobrol biasa" ledeknya samb tertawa yang ditahan


"Astaghfirullah apaan sih. Ga ada curiga sedikitpun, aku percaya seratus persen sama kalian." jawabku dengan mantab


"Siap siap sepertinya kelompok pertama sudah dekat" kak Rohim mengingatkan


Aku segera mengeluarkan kertas soal yang sudah aku persiapkan. Pos satu tugasnya baris berbaris, pos dua pengetahuan umum, pos tiga semua perihal tentang kepramukaan dan sejarah racana kampus didirikan, pos empat tali temali, pos lima P3K dan pos terakhir pos enam adalah halang rintang seperti merangkak merayap di atas sungai dan sejenisnya. Karena jika peserta kotor kotoran pakaiannya mereka sudah akan kembali ke tenda dan bisa membersihkan diri.


Benar saja tak lama kelompok pertama memasuki pos kami. Ternyata mereka bukan dari kelompok satu melainkan kelompok tiga.


"Siang adik adik, selamat datang di pos tiga, tugas kalian di pos ini untuk menjawab soal yang sudah kami siapkan, sudah siap? " aku yang mengawali menyapa kelompok ini, "ini soalnya" sambil kuberikan selembar kertas kepada ketua regunya.


"Sahkan dikerjakan" perintahku


"Siap kak" mereka membubarkan diri dan berkerumun di sebelah gubug yang kami tempati.

__ADS_1


Tak berselang lama terlihat rombongan peserta memasuki pos tiga.


"Silahkan berbaris sesuai kelompoknya" kak Rohim kali ini yang menyapa,


"Kami dari kelompok sembilan siap menerima tugas" ketua regunya lapor dengan suara lantangnya.


"Bagus silahkan kerjakan tugas berikut" sambil mengulurkan kertas ke ketua regunya.


"Siap, laksanakan"


Demikian bergantian semua kelompok datang dan mengerjakan tugas dari pos 3 usai.


"Mau ikut nyusul ke pos enam ga? " tanya kak Rohim.


Aku dan Rini saling tatap dan mengacungkan dagu sebagai isyarat bertanya setuju atau tidak lanjut jalan ke pos enam.


"Aku balik aja deh butuh ke kamar mandi nih" kilahku


"Ya sudah kita balik saja" kak Rohim mengikuti kemauan kami


"Tunggu, kak... Di pos enam kan butuh banyak orang, sebaiknya kakak kesana aja, biar aku sama Rini yang balik ke sana"


"Kalian ga papa kalau jalan berdua saja? "


"Ga papa kak, ini kan masih siang, in syaa Allah masih ingat kok jalan pulangnya" jawabku


"Ya sudah aku lanjut jalan ke pos enam ya"


Kami berdua mengangguk dan berbalik arah untuk kembali ke area camping. Rini menepuk pundakku, "Fa kayaknya kak Rohim mau ngomong deh sama kamu"


Aku menoleh ke arah Rini dan ku tatap matanya


"Emang tadi kalian bicara apa? " tanyaku


"Ga dia tadi cuma sedikit ngeluh katanya kamu terlalu cuek sama dia"


"Masak sih? perasaan sikapku biasa saja"


"Apa mungkin dia lagi sensi ya? " lanjut Rini " tapi Fa, sebenarnya gimana sih perasaan kamu ke dia? "


"Kepo ya? " jawabku dengan tawa lepas


Hahaha...


"Kamu kan tau alasanku nerima dia kan?"


"Apa belum tumbuh tu rasa cinta di hati kamu? "


"Entahlah... Aku belum bisa memastikan, maaf bukan aku jual mahal, tapi biarlah sementara mengalir saja" jawabku


"Ya itu hak kamu sih , Fa... tapi saranku jangan gantung perasaan orang kayak gitu kasihan kalau memang kamu ga cinta ya bilang terus terang saja, biar dia bisa ambil keputusan terbaiknya, Fa dia itu berharap banyak lho sama kamu"


Ku anggukkan kepalaku sebagai tanda setuju. "Btw makasih sarannya nanti aku pertimbangkan lagi" dalam hatiku terus berperang tidak ada niatan untuk menyakiti hati nya, serius.


❤❤❤❤❤


Yuk dukung terus cerita ini dengan menekan like dan komen biar author tetap semangat nulisnya 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2