Ujung Penantian

Ujung Penantian
episode 2 # MENCARI KOST BARU


__ADS_3

Selesai makan aku dan Rini langsung cabut dari cafe untuk mencari tempat kost baru. Tentu saja dengan kriteria yang tidak terlalu jauh dan harga terjangkau untuk ukuran kantong ku.


Maklum aku bukan berasal dari keluarga borju yang bisa leluasa memilih dimana aku tinggal dengan segala fasilitas lux seperti teman-teman ku yang lain. Makanya mendapat beasiswa sebagai mahasiswa berprestasi adalah salah satu obsesi ku agar orang tua ku tak terbebani dengan banyaknya anggaran yang harus dikeluarkan.


Sedangkan Rini sahabatku yang aku kenal diawal semester dua kemarin. Kebetulan kami sama-sama mengambil unit kegiatan mahasiswa yang sama yaitu RACANA.


Dia secara ekonomi lebih mapan dari pada aku. Ayahnya seorang Kepala Desa dan 3 orang kakaknya sudah berkeluarga dan cukup mapan. Meskipun dia anak ke lima dan masih ada satu lagi adiknya laki-laki yang sama-sama masih kuliah juga namun beda kampus dengan Rini, tapi ayahnya ada penghasilan tetap setiap bulannya.


Sementara aku hanya anak seorang petani sederhana yang mencoba peruntungan menimba ilmu karena menurut orang tua ku aku memiliki otak yang encer. Lagi pula aku anak bungsu dari sepuluh bersaudara, jadi ayah ibu ku punya harapan besar kepada ku agar minimal satu diantara anak-anak nya ada yang bisa mengangkat harkat dan martabat keluarga dengan berbekal ilmu yang lumayan.


"Sebentar aku telpon teman ku dulu ya" kata Rini sambil mengeluarkan android dari tas nya.


Aku hanya mengangguk tanpa berucap kata.


"Assalamualaikum Yenny"


"Wa'alaikum salam, ya Rin, ada apa? Tumben telpon" kata Yenny teman sejurusan Rini yang masih satu angkatan dengan ku.


"Yen maaf nih mau tanya, kamu kost di daerah belakang lapangan Pancasila kan?"


Tanya Rini sambil duduk di jok motor dan tas masih ada di pundak nya.


"Ya, betul, emang kenapa? "


"Ini ada temen yang lagi cari kost, apa di tempatmu masih ada kamar kosong? "


"hmm... Sepertinya ada kemarin katanya mbak Vina sudah mau boyongan pulang" jawab Yenny.


"Oh ok kalau gitu aku ke kostan kamu ya


Sekarang sama teman ku yang lagi cari kost"


"Ya ga papa kesini aja kalau mau lihat-lihat dulu"


"Fa di belakang lapangan pancasila ada tuh kamar kosong tempat Yenny, kamu kenal kan sama dia? " sambil menstater motornya Rini mengajak ku melihat kost Yenny.


"Alhamdulillah ayo lah, mulai panas nih kepala" kilah ku

__ADS_1


Aku langsung duduk di jok belakang dan motor pun melaju ke arah lapangan pancasila. Melewati bundaran depan Polres Rini membelokkan motornya ke arah kiri ke arah Kalicacing.


Aku dibonceng Rini karena aku memang tak bisa mengendarai motor sendiri. (kalau sepeda onthel sih aku bisa 🤭)


Sampai di rumah itu Rini memarkirkan motornya dan berjalan untuk mengetuk pintu


Tok tok tok (suara pintu diketuk)


"Assalamualaikum " salam yang diucapkan Rini dari depan pintu


"Wa'alaikum salam, ya sebentar" tak lama terdengar jawaban salam dari dalam rumah.


"Eh ayo masuk, ... Silahkan duduk" ajak Yenny.


Dengan senyum aku dan Rini melangkah masuk dan duduk berhadapan dengan Yenny di ruang tamu kecil yang terletak paling depan pada denah rumah kost itu.


"Mau minum apa? " tawar Yenny sebagai kalimat basa basi penghormatan kepada kami.


"Ga usah, kebetulan barusan kita makan kok, ga usah repot-repot" tolakku


"Kemarin dia sempat kost di rumah saudaranya Olif, tapi karena Olif sekarang mau di laju dari rumahnya, ga mau kost lagi dia merasa kesepian di kostan nya, makanya dia mau pindah dari sana" Rini menerangkan kenapa aku berencana pindah kost.


"Kalau boleh tau disini tahunan apa bulanan ya Yen? " tanya ku


"bisa bulanan bisa tahunan, tapi kalau menurutku sih lebih hemat kalau kita bayar tahunan Fa" Yenny memberi penjelasan.


"Gimana? Apa kira-kira kamu tertarik mau kost disini? " tanya Yenny lagi


"Kalau memang minat kamu lihat dulu saja kondisi kamarnya"


"Boleh ya aku masuk ? " pintaku


"Boleh, yuk aku antar, " Yenny beranjak dari tempat duduk dan berjalan ke dalam.


Melewati tiga kamar yang tertutup pintunya, Yenny membuka pintu kamar ke empat yang akan menjadi calon kamar kost ku nanti nya.


Aku melongokkan kepala ke dalam sebelum masuk kamar sengaja aku kerling kan mata menelisik kondisi diluar kamar dan tengak tengok kepala melihat rumah kost itu, baru aku langkahkan kaki masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Cukup bersih dilihat dari lantai dan tembok kamar yang membatasi ruang itu dengan ruang disebelahnya. Ada dipan dan kasur busa seukuran 100x200 cm cukup untuk satu orang tidur dan merebahkan badan di atas nya. Ada juga lemari kecil dan meja tapi tak ada kursi sebagai pasangannya.


"Berapa kalau tahunan Yen? " aku bertanya sambil masih melihat lihat seisi kamar


"Kalau tahunan kemarin aku diminta tujuh juta lima ratus ribu sih" Yenny menjawab sambil tubuhnya bersandar di dinding dan tangannya memegangi handle pintu.


"Oh " sambil mengangguk angguk kan kepalaku otakku berpikir kira-kira ibu ku keberatan tidak ya?


"Jadi gimana, kalau memang minat aku kasih no ibu yang punya kost ini, biar dia tidak tawarkan ke orang lain" terang Yenny


"Dari kampus tidak terlalu jauh kok, anak-anak yang kost disini juga baik baik, care juga sama teman, tapi tergantung kita nya juga sih bisa bawa diri atau tidak" Yenny menjelaskan panjang lebar dan meyakinkan aku agar menerima


"Baik lah aku minta no kontak ibu kost ya" akhirnya aku menerima tawaran Yenny untuk bergabung di kost yang baru untuk ku.


"Ini nomor nya 0817.... Nama nya ibu Kosasih"


"Ok sudah aku simpan. Terima kasih ya Yen, kalau gitu aku pamit pulang dulu


" Assalamualaikum " salam pun kami ucapkan sebagai tanda perpisahan kami.


"Wa'alaikum salam " jawab Yenny


"Gimana Fa, cocok sama tempatnya? " pertanyaan Rini tak serta merta aku jawab.


"Aku harus minta persetujuan dulu sama bapak ibuku Rin, kan mereka yang keluar uang" sahutku "tempatnya sih enak, ga jauh juga dari kampus, lumayan strategis lah dekat pusat kota juga"


"Yo wis kemana lagi sekarang? Pulang atau kemana? " tanya Rini sambil terus melajukan motor matic nya berbalik ke arah stadion Kridanggo.


"Pulang dulu saja Rin, in syaa Allah besok ketemu lagi, sekalian mau packing barang-barang ku dulu buat pindahan"


"Mau dibantuin ga? Mumpung ada tenaga gratis nih? " sambil tertawa Roni menawarkan bantuan tenaganya.


"Wah dengan senang hati bestie" ku jawab dengan tertawa renyah juga


"Berarti kita langsung ke kostan kamu nih? " serunya


"Ya, kalau kamu ga keberatan" sambil ku acungkan jempol tanda persetujuan

__ADS_1


__ADS_2