Ujung Penantian

Ujung Penantian
episode 5 # AKTIFITAS PAGI


__ADS_3

Setiap pagi bulik Padmi melakukan aktifitas memasak membuat rempeyek kacang (dengan aneka kacang) ada kacang tanah, kacang hijau, ataupun kacang kedelai. Aktifitas ini beliau lakukan setiap malam setelah isya dan sebelum subuh. Dengan telaten bulik Padmi menggoreng rempeyek satu persatu dengan cetakan agar berbentuk lingkaran dan menarik pembeli.


Sekali waktu aku dan Olif suka membantu dia jika tidak ada tugas kampus yang mengharuskan aku atau pun Olif lembur di depan laptop.


Di depan perapian tungku mungil yang masih menggunakan kayu bakar. Aku mendudukkan diri di bangku kecil agar kaki ku tak mudah kesemutan karena kelamaan jongkok. Aku masih memperhatikan bagaimana cara bulik Padmi menggoreng rempeyek-rempeyek itu.


Bulik kula angsal nyobi? " (Bulik saya boleh mencoba?) rasa penasaran ku ingin mencoba membantu menggoreng.


Tapi faktanya tak semudah yang aku lihat ketika bulik Padmi yang melakukan. Sambil tertawa karena malu aku serahkan kembali centong cetakan yang aku pegang,


"Ngapunten bulik lha kok malah gagal niki, mangkeh panjenengan malah rugi " (Maaf bulik lha kok malah gagal ini, takut bulik nanti merugi) alasanku dengan ku katupkan kedua tangan ku di depan dada dan tawa renyah bulik Padmi terdengar tulus saat tingkah bodoh ku terlihat.


"Yo ra papa mbak, mengko bisa dicoba maneh" ( Ya ga papa mbak nanti bisa dicoba lagi) dengan sabarnya bulik Padmi menenangkan hatiku sambil mengelus kecil punggungku.


"Njih bulik, nyuwun pangapunten" (ya bulik mohon maaf)


"Wis kono sampeyan nek meh adus mbak Olif wis rampung kae, mengko mundak kawanan ngampuse" ( Udah sana gantian kamu mandi, itu Olif sudah selesai, nanti malah kesiangan ke kampusnya) ucap bulik Padmi menyuruhku mandi.


"Njih bulik" (ya bulik) jawabku sambil beranjak dari bangku kecil yang aku tempati.


Sekarang giliran Olif yang menggantikan ku duduk disana.


Terdengar canda tawa riang antara Olif dan bulik Padmi yang aku dengar cukup keras dari bilik kamar mandi. Sepertinya kegagalan ku dalam mencoba membuat karya indah rempeyek dialami juga oleh Olif, makanya jadi bahan tertawa bersama.


"Wes sampeyan karo mbak Ifa ki pada wae, wes setahun nyoba kok durung sukses goreng rempeyek, payah.. payah" sambil terkekeh bulik Padmi mengambil alih pekerjaannya.


Begitulah aktifitas kami hampir setiap pagi selama setahun kemarin. Meski sudah sering mencoba menggoreng rempeyek dengan cetakan tapi usaha kami belum bisa dikatakan berhasil, karena sepertinya percobaan kami kurang serius.


Olif, dia teman ku sejak SD, SMP, SMA sampai sekarang kami kuliah di fakultas dan jurusan yang sama. Padahal aku akrab sama dia baru di bangku SMP dan kami termasuk aktifis di organisasi OSIS maupun ekskul di sekolah kami.


Olif termasuk gadis manis yang banyak dilirik laki-laki dari teman sebaya, kakak kelas maupun guru yang mata keranjang. Sebenarnya body nya tidak bagus-bagus amat, tapi wajah nya yang hitam manis memang punya daya tarik tersendiri. Itu kelebihannya. Anaknya pun sederhana. Ayahnya seorang ASN di DEPAG lumayan mapan untuk ukuran ekonomi orang di desa kami.


Hanya dalam hal prestasi akademik aku lebih unggul darinya maaf bukan mau ujub ya. Adalagi hal yang menjadi nilai plus darinya adalah setia pada pacar nya yang notabene kakak kelas waktu SMP.


# Flash back on


Siang itu sepulang sekolah ketika aku memasuki kamar Khadijah di blok B (gedung 2) di Pesantren tahfidz kami, sayup sayup ku dengar suara isak tangis yang tidak terlalu keras namun cukup mengusik gendang telingaku.

__ADS_1


Perlahan aku masuk dan pemandangan yang tidak biasa kulihat di sudut kamar yang biasa aku gunakan sebagai singgasana peraduan merajut mimpi.


Olif sedang duduk meringkuk dengan kaki ditekuk dan tangan memegang erat lututnya. Raut mukanya sedih jelas terlihat sedang ada masalah.


Jelas rasa penasaranku muncul


"Ada apakah gerangan? " batinku


"Yang sabar, namanya juga cobaan. Menjalani hubungan jarak jauh (LDR) itu penuh resiko jika pasangan tak setia tikung menikung itu dianggap hal biasa" Winda menasehati Olif dengan kata kata bijaknya.


"Apalagi diantara kalian belum ada ikatan resmi sebagai suami istri atau tunangan resmi yang disetujui kedua belah pihak keluarga kalian" lanjutnya


"Kalau saran ku kalian pisah saja maksudku putusin aja hubungan pacaran kalian, bukannya dalam agama kita itu juga dilarang? " Kak Yani menimpali


"Bukan kami mau menghasut mu Lif, tapi demi kabaikan kamu juga , kan kamu bisa lebih fokus belajar, pikiran tidak terbagi harus mikirin si " Dia" di sana" tambahnya.


Awalnya aku tak paham dengan situasi apa yang sedang terjadi. Tapi dari ucapan Winda dan Kak Yani baru aku ngeh. Ternyata Olif barusan diputusin sama pacarnya lewat surat yang tadi diterimanya dari Pak Pos di sekolah.


Perlahan aku mencoba mendekat dan kupeluk Olif


" Semangat, jangan putus asa, in syaa Allah Allah sudah sediakan jodoh terbaik untukmu yang saat ini masih jadi rahasia" hibur ku


Kalau aku tahu begini ahir nya pasti aku dampingi Olif ketika dia pamit mau pulang duluan. Kami memang tidak pulang bersama hari ini karena aku jadwal piket kelas. Jadi harus bertanggung jawab agar kelasku tetap terlihat rapi dan siap dipakai pembelajaran esok pagi.


"Aku kaget mbak ga ada angin ga ada hujan tapi dia tiba tiba mutusin aku," isakan nya semakin kencang


Sambil ku rangkul pundaknya aku duduk di sebelah Olif Sementara beberapa teman sekamarku hanya terdiam duduk memperhatikan Olif.


"Apa salahku? Rizal tak menjelaskan apa apa padaku." jelasnya "Kalau memang aku ada salah bilang dong baik baik" masih dalam mood sedih matanya terlihat sembab


"Ya aku tahu" lirih aku berucap berempati pada situasi hatinya yang sedang labil.


"Tapi apa mau begini terus? " tanyaku


"Ya sudah sekarang tenangkan hatimu dulu, nanti kalau sudah tenang baru kita bahas lagi, ok! " rayuku


Lama Olif terdiam dengan masih menahan sesak karena hidungnya masih penuh dengan cairan ingus yang sedari tadi mengalir tanpa henti.

__ADS_1


"Sekarang istirahat dulu saja, cuci muka wudhu terus istirahat dulu biar tenang"


Perlahan dia mengangguk tapi masih enggan beranjak dari tempatnya. Dan satu persatu kami meninggalkan Olif dan memberi ruang kepadanya agar bisa berpikir jernih untuk menyelesaikan urusannya dengan sang pacar.


Bergegas aku mengambil baju ganti dan berjalan ke kamar mandi untuk ganti baju dan mengambil air wudhu untuk melaksanakan solat dhuhur.


Pikiranku mulai berkata "ya apa untungnya berpacaran, kita sibuk memikirkan dia tapi si dia belum tentu ada kita di hatinya"


Huh.... Ku lepas nafas dengan kasar. Tapi hati kecilku terus berkata " Bukan kah Tuhan tidak akan memberi cobaan yang kita tidak sanggup memikul nya? "


Aku hanya berharap Olif bisa melalui masalah ini dengan baik.


Sebenarnya banyak diantara teman seangkatanku yang menaruh hati pada Olif, dari sudut pandang yang aku lihat sampai guru ekskul pramuka pun sepertinya menaruh hati pada Olif. Tapi sepertinya Olif sengaja menutup hati untuk pria lain karena dia merasa sudah memiliki pacar kakak kelasnya di SMP dulu.


Inilah bentuk kesetiaan yang dia tunjukkan pada kekasihnya. Tapi sayang kekasih Olif sepertinya tidak tahu akan hal ini.


#flash back off


"Lif yuk siap siap sudah jam tujuh nih" ajakku sambil menyematkan peniti di hijab yang aku kenakan.


"Bulik, nyuwun pangapunten boten saged nerasaken bantu goreng njih " (bulik, maaf ga bisa bantu goreng lagi) pamit Olif kepada bulik Padmi.


"Tunggu sebentar aku pakai kerudung dulu ya" sambil membuka lemari kecil tempat kami menyimpan pakaian, "Fa, Pak Fachrudin jam berapa ya kuliahnya? " lanjutnya


"Jam delapan kan? Oh iya jangan lupa bawa bukunya, biasanya kalau lupa bawa diktat yang di karang nya suka ga diijinkan masuk ikut kuliah nya" jawab ku mengingatkan.


"Ya" sahut nya


"Lif kita makan di warteg depan kampus aja ya, peeut ku sudah melilit minta diisi nih" pintaku


"Ok, siap"


"Yuk " ajak Olif ketika kami sama sama sudah siap.


"Bulik kami berangkat dulu ya" sambil mengulurkan tangan kami untuk mencium tangan bulik Padmi.


"Mbah nyuwun pamit, assalamu 'alaikum " salam kami ucapkan

__ADS_1


"Ya mbak sing ati ati muga muga entuk ilmu sing manfaat, ojo lali sarapan ben ra semaput ya mbak" (Ya mbak hati hati semoga dapat ilku yang bermanfaat, jangan lupa sarapan takut pingsan nanti) pesan mbah Darmo mengiringi kepergian kami ke kampus sambil tersenyum.


__ADS_2