
POV Rohim
Sejak pertama kali aku bertemu wanita itu, perasaan ku sering galau entah mengapa rasanya ingin selalu berdekatan dengan nya. Atau sekedar melihatnya lewat dari kejauhan rasa nya sudah membuatku tenang. Sengaja aku menunggu duduk di sekretariat racana agar bisa melihatnya berjalan masuk kampus. Sampai aku berusaha mengingat jadwal dia kuliah dihari apa dan jam berapa saja.
Sampai suatu saat karena masalah di keluargaku membuat ku tak lagi bersemangat datang ke kampus. Tapi gejolak hati yang ingin sekedar melihatnya mengalahkan rasa galau karena urusan keluargaku. Sampai tak ku perhatikan bagaimana penampilanku kusut dan terkadang rambut tak sempat ku sisir. Kumis tipis melintang pun sampai agak lebat karena tak sempat ku cukur untuk merapikan.
Aku beranikan diri mendekati wanita itu dengan perantaraan sahabatnya. Coba ku utarakan niatku ingin mengenalnya lebih dekat syukur syukur dia mau menerima dan membalas perasaanku yang masih tersimpan kuat untuknya. Tapi sekali lagi aku berpikir apa kira kira dia berkenan menerimaku yang seperti ini. Aku bukan tipe mahasiswa aktif dan berprestasi di kampus, sementara dia jelas seperti tak punya kekurangan. Yabg aku tau dari sahabatnya kriteria pria idamannya adalah lelaki cerdas dan berprestasi yang bisa memacu semangat nya dalam belajar. Apalagi eia wanita supel ceria sepertinya banyak juga yang aku dengar suka membicarakan kelebihannya. Dan itu membuatku semakin penasaran tentang dia.
Di mataku dia terlihat manis baik hati dan selalu menjaga pergaulan dengan lawan jenis meskipun dia banyak bercanda dengan kami kaum adam. Tapi aku tau kalau dia berusaha menjaga diri dan menjaga jarak dari lelaki yang bukan mahrom dan itu nilai plus yang tidak semua dimiliki oleh wanita.
Tapi justru ini semua yang membuatku insecure dihadapannya. Tapi apa salahnya aku coba mengungkapkan isi hatiku untuknya. Dan tanpa aku duga ternyata dia menerimaku meski dengan satu syarat "mencoba dulu untuk saling mengenal".
" Yes... " alhamdulillah rasanya ingin melompat setinggi tingginya karena penerimaan yang membahagiakanku.
Sejak saat itu timbul lagi semangat belajarku bahkan aku pun berusaha memperbaiki penampilanku agar aku pantas jika jalan bersamanya. Tak apa jika dia belum bisa mencintaiku, aku akan terus berusaha menarik perhatian dia agar dia bisa mencintaiku.
Meski cara kami berhubungan tak layak seperti anak muda yang boleh dibilang berpacaran saat ini. Tak pernah ada kontak fisik bahkan ketika kami berbicara saja saling berjarak tak pernah duduk bersebelahan apalagi berdempetan layaknya orang pacaran jaman now. Tali aku cukup bahagia dan menikmatinya.
Hingga saat ini sikapnya pun masih biasa saja terhadapku, kadang ada rasa cemburu ketika dia berakrab ria dengan teman teman lelaki yang lain. Seperti halnya pagi tadi saat tanpa sengaja aku memergoki tatapan Susilo teman seangkatanku yang menatap intens ke arah wanitaku. Sepertinya bukan tatapan biasa seorang teman atau kakak kelas. Tapi tatapan orang yang suka dengan lawan jenis. Jelas aku cemburu dibuatnya. Tapi aku berusaha menahan diri karena belum terbukti dugaanku ini.
Sebenarnya aku menawarkan untuk lanjut ke pos enam karena ingin punya waktu lebih banyak dengannya jadi aku punya kesempatan bicara dari hati ke hati padanya. Dan rasanya ingin ku ungkapkan semua uneg uneg ku agar dia tau kalau aku cemburu. Tapi ya sudahlah. Sepeti ya Allah memang ingin menjaga dia untuk tidak berduaan denganku. Lamunanku berakhir ketika Kak Fitri menegurku
"Jalan tu lihat ke jalan jangan melamun bahaya itu inikan pinggir tebing" kak Fitri mengingatkanku
"Ya kak" hanya cengiran lebar yang aku tunjukkan
-----
Lama kami menunggu sambil membantu packing hadiah yang besok akan di bagikan ke peserta sebagai pemenang game semalam. Tanpa terasa waktu berjalan dan jam dinding menunjuk ke pukul tiga sore. Satu persatu kelompok mulai berdatangan. Tampak wajah lelah dan sebagian pakaian yang nampak kotor lumpur. Untung mereka diwajibkan memakai pakaian ah raga jadi seragam pramuka nya masih bersih dan siap dipakai upacara penutupan besok pagi.
Dari jauh aku melihat ada seorang peserta yang jalannya dipapah temannya can didampingi kak Rohim. Sgera aku dan beberapa panitia wanita berjalan mendekat
"Kenapa ini?" tanya Zakiyah yang kebetulan hari ini tugas masak jadi tidak ikut jaga pos.
"aoh ini kak tadi kakinya terkilir waktu mau turun tebing" jawab teman yang memapah
"Yuk bawa kesini, duduk dulu di tempat yang teduh" Saran ku
Aku segera berlari ke dalam mengambil kotak P3K. Mencari minyak tawon untuk mengurut kakinya.
"Fa kamu bisa urut? " tanya Zakiya
"ain syaa Allah sedikit sedikit bisa dulu waktu SMA pernah ikut pembekalan PMR dan sempat jadi anggota PMR. Kakayaknya masih ingat" jawabku "Bismillah" aku mulai menggerakkan tanganku ke atas ke bawah di bagian kaki adik kelas itu.
"Aw.. Aw.. Sakit kak... " teriaknya samb mengeluarkan air mata.
__ADS_1
"Sabar ya sebentar lagi selesai" ucapku
"Nah sudah, gimana sekarang masih sakit ga? "
"Lumayan kak sudah berkurang sakitnya"
"Alhamdulillah.. Sekarang istirahat dulu disini juga ga papa biar lebih enakan, nih minum dulu"
"Ya kak terima kasih " sahutnya
"Boleh tiduran dulu, sekarang kami tinggal dulu ya masih ada yang harus dikerjakan."
Dia mengangguk dan kami pun berlalu.
"Fa, sebentar aku mau ngomong" tiba tiba kak Rohim menghentikan langkahku
Ku tatap matanya ada kesenduan disana, "baik kak, tapi jangan sekarang ga enak sama yang lain karena masih ada kerjaan" tolak ku samb menangkupkan tangan di dada. "Bagaimana kalau nanti malam setelah api unggun semoga tidak kemalaman ya kak"
"Ok, ga papa" dengan raut kecewa dia mengiyakan dan berlalu tanpa pamit.
Pas kumandang adzan asar terdengar semua kelompok sudah berada di lokasi camping kembali setelah menyelesaikan misi dari pos satu sampai pos enam. Mereka dipersilahkan beristirahat dan membersihkan diri.
----
Senja mulai beranjak pergi dan mega merah berganti dengan gelapnya malam setelah solat isya kami semua berkumpul di lapangan dekat kamar mandi untuk melaksanakan acara puncak pentas seni yang diiringi nyala api unggun.
Usai lagu hymne pramuka penampilan seni dar panitia berupa ondel ondel manusia yang dibalut kain sarung dan memegang katu penyangga keatas kemudian mereka sedikit bergerak ke kanan ke kiri, namun terkesan seperti goyangan heboh. Ondel ondel ini di pandegani oleh kak Farida.
Penampilan selanjutnya adalah atraksi bermain bola api yang ditendang kesana kemari.oleh pemainnya. Bola api ini terbuat dati kelapa yang sudah dibuang sabut luarnya tapi masih ada sabut kelapanya kemudian diberi minyak dan dibakar. Sangat seru sampai beberapa diantara kami yang duduk melingkar sempat beranjak berdiri karena takut terkena percikan apinya. Kreatif.
Tak kalah seru penampilan dari peserta yang lain bernyanyi merdu diiringi permainan gitar yang apik. Mengingatkanku pada sosok pemuda yang lagi viral di medsos yang suka meng arransemen lagu dengan keunikan bermain gitarnya pakai trataktak nya. Ada juga yang hanya lipsing lagu care bebek fan bergoyang kocak.
Di sela keseruan meriahnya acara api unggun, tanpa sengaja mataku bersitatap dengan kak Rohim yang sepertinya sedang memperhatikanku sedari tadi. Ah.. Sudahlah.. Oh iya aku ingat tadi siang dia bilang mau mengajakku bicara. Baik lah setelah acara ini usai aku akan menemuinya.
Ketika aku palingkan muka untuk menatap peserta yang sedang tampil sekilas mataku juga menangkap sorot mata yang sedari tadi terus mengawasi ku mas Susilo. Aku hanya melempar senyum untuknya. Berharap agar dia mengalihkan pandangannya tak lagi menatapku. Entah ada rasa takut di hati.
Jam setengah sebelas malam acara api unggun pun selesai. Semua membubarkan diri masuk ke tenda masing masing. Aku masih menunggu apakah kak Rohim jadi akan bicara denganku dan apa yang akan dibicarakan aku pun tak tahu.
Benar saja dia mencari ku dan mengajak ngobrol sebentar.
"kita duduk disini saja, biar tidak menimbulkan fitnah karena berduaan kak"
"Baiklah" suaranya terdengar agak lesu
"Ada apa? to the point aja"
__ADS_1
"Kalau aku cerita apa kamu nyaman? Disini di tempat terbuka yang semua orang mungkin bisa mendengar?" ucapnya
"Terus gimana? Kita ga mungkin menyendiri di tempat sepi. Yakan? "
"Ya sudah semoga tidak ada orang usil yang sengaja kepo urusan kita" aku mengangguk dan duduk di kursi tak jauh darinya namun masih tetap berjarak satu kurai kosong.
"Jujur aku ingin memastikan apa kamu sudah bisa menerimaku dengan hatimu?"
Aku terdiam dan tak menjawab, takut apa yang aku ucapkan menyinggung perasaannya
"Kenapa diam? Apa sampai saat ini kamu masih belum bisa nerima aku? Coba buka lah hatimu untukku "
"Apa kira kira kalau aku jujur kakak ga akan marah? Itu saja pertanyaanku. Kalau kakak ga marah aku akan jawab jujur. "
"Katakanlah, aku akan berusaha menerima apapun keputusanmu, dalam hal ini aku yang mengawali menyatakan perasaanku untukmu." Suaranya mulai pelan dan aku tak tega mengungkapkan kejujuranku.
"Kak... Kakak tahu kan diawal aku kenal kakak dari Rini, sedikit dia cerita apa yang sedang kakak alami. Tujuanku hanya satu mau mendampingi kakak agar kakak muncul lagi semangat belajar kakak. Tak ada tujuan lain." aku menjeda ucapanku
"Kakak tau aku bukan berasal dati keluarga berkecukupan, aku sekolah dengan membawa misi harus berhasil merubah kehidupan keluargaku kedepannya. Jadi rasanya tak ada waktu untuk memikirkan hal yang buatku kurang fokus belajar. Diantaranya pacaran"
"Yah aku punya prinsip kita mengalir saja. Jika seiring berjalannya waktu timbul rasa yang lain di hatiku untuk kakak seperti yang kakak mau, berarti Allah ijinkan tapi kalau sampai keinginan itu hilang dengan sendirinya tolong jangan paksa aku ya kak, biarkan semua mengalir saja tanpa ada paksaan"
Ku lihat matanya memerah dan posisi duduknya pun sudah berubah melorot dengan kepala disandarkan ke sandaran kurai dengan kaki selonjor di bawah. Dia menarik nafas dalam dan kuat kemudian dihembuskan dengan bersuara
"Heh.... "
Aku paham bagaimana perasaannya. Tapi aku juga tidak bisa membohongi diriku sendiri. Rasa itu ternyata tak juga muncul setelah beberapa bulan kami menjalani kebersamaan. Tapi aku juga tak berpaling dan membuka hati untuk yang lain, karena memang fokus aku untuk sekolah dulu.
"Ya sudah lah aku tak akan memaksa perasaanmu, tapi aku juga masih belum rela jika ada lelaki lain yang menaruh perhatian padamu"
Sontak aku berpaling ke arahnya ku tatap dengan intens manik matanya ada kecemburuan nampak di sana.
"Kenapa tiba tiba kakak bang begitu? memangnya pernah aku jalan dengan laki laki lain? Kemana mana kan aku selalu sam Rini. Apa kakak cemburu? "
"Ya bisa dibilang begitu, ketika aku lihat ada orang lain yang juga menaruh perhatian padamu rasanya sakit hati ini" Aku tersenyum menanggapinya.
"Itu hak dia lah kak untuk menyukai dan tidak menyukai seseorang, kita tidak berhak melarangnya bukan? "
"Memang kakak tahu ada yang suka memperhatikan aku selain kakak? " aku tersenyum
"Sudah lah sudah malam, tidurlah"
"baik lah... Aku tidur dulu"
❤❤❤❤❤
__ADS_1
Yuk dukung author, kasih komen like atau apapun yang bisa buat author tetap semangat menulis 🙏🙏
"