
Kenyang sudah rasa perut ini, pagi pagi bulik Padmi sudah menawari aku sarapan dengan nasi liwet khas mbak Darmo sama lauk sambel terong kesukaanku ditambah rempeyek kacang bikinan bulik Padmi. Sederhana tapi rasanya begitu nikmat dilidahku, entahlah apa karena aku sudah sangat lapar atau memang masakan mbah Darmo ini lezat?
Usai sarapan aku cuci puring dan ku bersihkan tangan setelah itu masuk kamar untuk siap siap berkemas berangkat ke kampus.
Seperti janjiku sama Rini kemarin dia akan membantuku menjadi tukang ojeg gratis untuk keperluan ku pindah kost. Bukan memanfaatkan jasa gratis, tapi memang sahabat baikku itu tak pernah pandang bulu dalam membantu orang lain dan bukan hanya aku yang sering ditawari bantuannya.
"Mbah, Bulik in syaa Allah mangkeh menawi sios kula sios pindahan nggih", pamit ku
(Mbah, Bulik in syaa Allah hari ini saya jadi pindahan kalau jadi)
" Jam piro mbak? nek rada isuk mungkin simbah karo bulik durung mulih bakulan seko pasar" jawab bulik Padmi (Jam berapa? Kalau agak pagi mungkin simbah sama bulik belum pulang dari pasar)
" Dereng ngertos bulik jam pintene, nengga rencang ingkang bade bantu beta barang" ( Belum tau jam berapanya bulik, sebab nunggu teman yang mau bantu bawa barang)
"Oh ya wis, menawa mengko bulik durung mulih, ya derekke ya mbak, muga muga sampeyan betah nok kost anyar" doa bulik Padmi diiringi senyum khas mbah Darmo yang terkesan imut karena banyak giginya yang sudah ompong. (O iya ga papa, kalau nanti bulik belum pulang sahkan kalau mau pindahan, semoga nanti kamu betah di kost yang baru)
"Nggih Bulik" sambil ku ulurkan tangan untuk salim dan kucium tangan bulik dan mbah Darmo bergantian
"Assalamu'alaikum " bergegas ku langkahkan kaki menuju kampus
"Wa'alaikum salam " jawab bulik Padmi dan simbah bersamaan
***
Sesampai di gerbang kampus aku melihat lambaian tangan memanggilku.
"Fa... Sini dulu, masuk jam berapa? " tanya Rini
Aku tersenyum dan berjalan ke sekretariat Racana yang terletak sebelah kiri dari gerbang kampus.
Di Sana biasanya tempat mangkal para pengurus organisasi kampus seperti MENWA, teater dan juga Racana. Sementara ruang senat mahasiswa berdekatan dengan KOPMA yang terletak di belakang aula utama gedung pertemuan.
"Ada kuliah jam delapan sampai jam sepuluh". Jawabku
Aku lihat Rini duduk berjajar di bangku luar sekretariat racana bersama mbak Rofi, dan mbak Titin. Keduanya kating dua tingkat diatasku.
" Rajin amat Fa, sini duduk dulu, sekali waktu ngobrol lah sama kita kita, " mbak Titin menarik tanganku agar duduk di sebelahnya.
"Hehe.. Ya mbak, suka sungkan kalau mau ikutan nongkrong takut mengganggu" kilahku sambil ku tutup mulut karena tertawa kecil.
"Alaah bis aja, ganggu apa? Biasanya kita nunggu jam masuk sambil diskusi di sini, atau bercanda biar saling akrab sama yang pengurus yang lain" lanjutnya
Hanya senyum yang aku tampilkan sebagai jawaban.
"Oya besok sore ada rapat pengurus ya, jangan lupa" mbak Rofi mengingatkan
"In syaa Allah mbak"
"Hari ini rencana mau pindahan dulu saya"
"Oh kenapa pindah kost? Tanya mereka berdua
" Pengen suasana baru saja mbak, biar tambah teman baru juga" kilahku
"Fa kamu sudah sarapan? " tanya Rini
"Alhamdulillah sudah, tadi disuruh sarapan sama simbah di kost"
"Yah... Ga ada teman dong ke warung... "
"Nanti saja ya, selesai jam baru aku antar kamu makan, kalau sekarang tanggung nih.. Lima belas menit lagi mulai" usul ku
"Ya sudah deh nanti saja, yuk masuk kelas, siap siap dosen killer nih" ajak Rini
"Emang siapa? " tanya mbak Titin, "Itu Pak Benny, dia mah kalau mahasiswi nya cantik telat juga ga ngaruh bis termaafkan, tapi kalau wajah sedang sedang saja macam kita nih, he.. He tau sendiri lah"
"Ha... Ha... Ha.... "
Serempak kami tertawa karena memang seperti itulah adanya. Sudah jadi rahasia umum. Tiap dosen punya ciri khas masing masing.
Ada yang asal membeli diktat hasil karya nya lebih tepatnya hasil ringkasan yang dia bukukan, pasti dijamin nilai bagus ada juga yang memberi penilaian karena kecantikan para mahasiswanya, tapi banyak juga dosen yang memang realita bekerja secara profesional. Mereka memberi nilai bagus asal hasil ujian bagus dan rajin mengerjakan tugas yang di berikan.
"Mbak masuk dulu ya" pamit ku kepada mbak Rofi dan mbak Titin, dan dijawab dengan anggukan
__ADS_1
"Kita sama kan matkul statistik? " tanya Rini
"Ya"
"setelah statistik kamu ada jam lagi ga? "
"Sebentar aku ingat ingat dulu" sambil mengerutkan dahi, "ada jam lagi sore kayaknya, kenapa?
" Kamu lupa kemarin kan kamu janji mau bantu aku angkut barang neng... "
"Iya, aku ingat, jangan hawatir aku teman setia kok" hi.. Hi.. Hi.. Sambil tertawa kami terus melangkah ke gedung B masuk ruang 2.
Ketika memasuki ruang ternyata sudah penuh karena banyak kating yang semester ini mengulang mata kuliah statistik karena nilai masih belum memenuhi standar. Seperti kuliah umum saja, ruang penuh.
Sambil menebar pandangan mencari tempat duduk yang masih kosong, tanganku ditarik Rini mendekati pemangku adat Racana kating juga yang kebetulan baru mengambil matkul ini bersama kami. Tepat di barisan kedua.
"Sini" panggil mbak Hana
Aku mengikuti langkah Rini mendekati Hna dan duduk bersebelahan di bangku sebelahnya.
Dengan penuh konsentrasi aku mengikuti kuliah statistik ini dengan penuh antusias, karena memang aku sangat menyukai matematika. Jadi cocok jika ada hitung hitungan yang berkaitan dengan angka. Sementara Rini mengeluh kesusahan untuk memahami nya.
Tak terasa aku melihat jam tangan ternyata sudah jam sepuluh. Pantas saja pesan terakhir dari dosen itu "jangan lupa mengerjakan tugas pekan depan harus dikumpulkan".
###
" Yuk keluar" ajak Rini setelah susana agak hening karena banyak mahasiswa yang membubarkan diri dati ruang B2.
"Kita lihat mading dulu ya" pintaku
"Ada apa?" tanya Rini
"Kemarin aku dikasih info kalau mulai besok sudah bisa mendaftar beasiswa dari perusahaan rokok terkenal itu, aku mau mencoba, siapa tau rejeki, kan lumayan bisa meringankan beban ortuku"
"Ya Allah enak nya punya otak encer ya, bisa cari beasiswa sana sini"
"Alhamdulillah, semua disyukuri, mungkin ini bentuk kasih sayang Allah padaku karena kondisi ortuku yang berbeda sama kmu, Allah cukupkan rejeki kamu lewat orang tua mu yang bergaji tetap. Sementara orang tuaku tidak"
Allah itu Maha adil, Dia bagi rejeki-Nya kepada yang membutuhkan tanpa terkecuali.
" Iya sih... Tapi aku pengen seperti kamu punya prestasi yang membanggakan Fa" kata Rini
"Yakin lah pasti ada kelebihan di kamu yang tidak aku punya" jawabku meyakinkan Rini
"Sudah yuk berdoa saja pasti saat nya nanti kamu juga bisa kok" sambil ku rangkul pundak Rini kami berjalan ke arah mading.
Rini hanya mengangguk
"Alhamdulillah, IP ku semester ini memenuhi syarat bisa ikut mengajukan beasiswa ini." batinku
Tapi ada syarat surat Kelakuan baik dan pernyataan dari Kecamatan, berarti aku harus pulang juga untuk mendapat syarat pernyataan itu.
Selesai aku mencatat semua persyaratan itu aku tutup buku catatan dan aku masukkan ke dalam tas.
"Yuk sudah selesai " aku mengajak Rini menjauh dari mading
"Fa jangan lypa isi perut dulu ya" pinta Rini
"Siap,... Mau makan dimana? " tanyaku
"Warung rames aja deh"
Kami berjalan ke parkiran dan Rini memberikan helm untuk ku. Aku pun bersiap dengan cekatan ku pakai helm dan duduk di jok belakang motor matic Rini.
"Sudah siap? "
"Siap "
###
Sampai di depan warung nasi sederhana milik mbak Pur, Rini memarkirkan motornya, dan aku pun turun dari motor serta melepas helm. kami berjalan masuk dan mencari tempat duduk yang tidak terlihat panas.
"Sini aja ya?"
__ADS_1
"Ok"
"Mbak Pur saya nasi sama ikan nila ya, jangan lupa lalap dan sambelnya mbak" pintaku
"Kalau aku nasi pecel tahu bacem rempeyek, sama ayam goreng serundeng mbak Pur" Rini memilih menu, "minumnya dua duanya air putih saja mbak" lanjutnya
Aku duduk terlebih dahulu sambil aku acungkan jempol sebagai tanda persetujuan
###
"Mana dulu yang mau dibawa? " tanya Rini
"Kalau tas bisa aku gendong di belakang, kardus buku ga cukup ya di taruh depan? " tanyaku balik
"Coba dulu" Jawab Rini
"Muat kok" teriak Rini ketika menaruh kardus yang berisi buku buku di dasboard depan, sementara aku menggendong tas punggung besar berisi pakaian ku dan aku jinjing box sedang yang berisi pernah pernik perempuan.
"Alhamdulillah muat kan emang barangku ga banyak "
"Eh tunggu bentar ya aku pamitan sama om Tries dulu tadi sepertinya beliau ada di dalam"
"Ya sudah aku tunggu sini saja ya"
Aku . Elangkahmasuk kembali ke dalam rumah untuk berpamitan kepada om Tries putra kedua mbah Darmo, karena sepertinya simbah dan bulik belum pabg dari pasar
Kebetulan om Tries baru keluar dari kamarnya
"Om punten saya mau pamitan, untuk pindah kost, tadi pagi sudah bilang sama simbah dan bulik"
"Lho tenan to iki? " pertanyaan Om Tries seperti agak kaget karena memang aku baru bang saat ini kepadanya
"He.. He.. Nggih Om, ini mumpung ada teman yang berkenan mengantar bawa barang"
"Oh ya wis dik, sing ati ati yo" pesannya (oh ya dik hati hati ya)
"Assalamualaikum Om" pamitku sambil melangkah keluar rumah
"Ayo Rin semakin siang makin panas nih"
"Siap... Cus... Ha.. Haa.. "
Dengan semangat empat lima Rini melajukan motornya ke rumah kost baruku di Kalicacing.
Sesampai di rumah itu masih dibantu Rini aku membawa barang barang ku . menuju kamar baruku.
"Assalamualaikum " aku mengucap salam sambil membuka pintu dan mengajak Rini masuk ke rumah
"Wa'alaikum salam, eh Ifa... Ayo silahkan masuk, wah gercep nih... " sapa mbak Lestari salah satu penghuni kost itu.
"Iya mbak, kemarin langsung minta ijin ibu dan alhamdulillah beliau tidak keberatan, jadi ya langsung saja"
"Permisi ya mbak" sambil tersenyum aku melangkah masuk ke arah kamarku
"Taruh sini dulu saja, nanti aku beresin sendiri" Ucapku setelah kami memasuki kamar
"Beneran nih? Ga perlu banyuan lagi? "
Hehe... Sambil kugaruk kepala meski tak gatal sambil meringis
"Benaran kok, barangnya ga seberapa jadi beberesnya cuma sebentar nanti"
"Ya sudahlah" sahut Rini
"Kita istirahat sebentar, nanti baru ke kampus lagi" ucapku
"Aku boleh ga numpang istirahat tiduran disini? " tanya Rini
"Tentu boleh dong" jawabku "Tapi sebentar, aku pasang sprei dulu biar lebih enak menikmati tidurnya" sambil tertawa aku mengambil sprei di tas gendong ku tadi dan memasangnya di kasur kecil yang cukup seukuran seorang saja
"Sudah nih sudah siap, silahkan tuan putri" candaku sambil terkekeh
To be continue....
__ADS_1