Ujung Penantian

Ujung Penantian
episode 4 # PAMIT


__ADS_3

Malam ini aku tidur sendiri karena Olif pulang ke rumah orang tuanya. Seperti biasa setelah solat Isya ku buka kembali buku catatan ku kulihat apakah ada tugas dari dosen yang belum aku kerjakan. Tiba tiba aku teringat kalau aku harus menghubungi ibu ku untuk meminta persetujuannya akan pindah kost. Bagaimanapun mereka yang akan bertanggung jawab membayarkan uang bulanan kost ku. Jadi keridhoan mereka lah yang aku cari.


Ku ambil hp dan aku telpon ibu,


"Assalamu 'alaikum bu, lagi apa? Kalau Ifa mau telpon apa mengganggu waktu Ibu? "


"Wa'alaikum salam nduk cah ayu, ora ganggu ana apa? " ( wa'alaikum salam nak, ga ganggu ada apa?) terdengar sahutan suara bapak mungkin menanyakan siapa?


"Niki bu bade matur, kula kadose mulai besok ajeng nyuwun pindah kost, amargi Olif njih pindah Bu, dados kula piyambak sak niki" (ini bu mau bilang, kalau mulai besok saya mau minta ijin pindah kos, karena Olif juga pindah jadi saya sekarang di kost sendiri) jawabku menerangkan maksud dan tujuanku menelpon.


"Oh lha kok ndadak to nduk?" (lha kok mendadak to nak?) tanya ibu


"Njih Bu, kala wau siang sampun nyobi pados kost enggal, alhamdulillah sampun angsal" (Ya bu, tadi siang sudah coba cari kost baru , alhamdulillah sudah dapat) jawab ku


"Yo wis sing penting awak mu nyaman tur yo akih koncone" (Ya sudah yang penting kamu merasa nyaman dan banyak temannya) persetujuan dari Ibu akhirnya aku dapat kan juga.


"Ngoten riyin nggih Bu, mugi mugi Ibu saha Bapak sehat njih" (Begitu dulu ya Bu, semoga Ibu sama Bapak sehat selalu), "assalamualaukum " aku tutup telpon setelah terdengar jawaban salam dati ibu tercinta ku


"Wa'alaikum salam"

__ADS_1


Sesaat aku termenung dalam hati aku selalu berdoa semoga bapak ibu ku selalu dalam lindungan Allah SWT. Dan dilimpahkan rejeki yang cukup dan berkah aamiin.


Ku lihat jam di hp ku masih menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Karena aku masih mendengar sura perbincangan anatara bulik Padmi dan Mbah Darmo maka aku sempat kan untuk keluar kamar untuk minta ijin berpamitan dengan mereka.


"Dereng sare Mbah? " aku sapa simbah yang sedang duduk tak jauh dari bulik Padmi di depan tungku


"Durung mbak, lha iki isih ana sithik rempeyek sing durung di goreng" ( Belum mbak, lha ini masih ada sedikit rempeyek yang belum di goreng) jawab mbah Darmo


"Sepi yo mbak? Mbak Olif ra ana" lanjut nya


"hehe nggih mbah, tapi kan wonten panjenengan kaliyan bulik dados boten sepi banget." (hehe ya mbah, tapi kan ada Mbah sama Bulik jadi ga terlalu sepi) jawabku sambil tersenyum.


"Yo wis kenennek durung ngantuk nfancani simbah karo bulik goreng peyek" (ya sudah kalau belum ngantuk sini temani simbah dan bulik goreng rempeyek) bulik Padmi menimpali.


"lho apa ora betah mbak Ifa nok gone simbah? " (lho apa mbak Ifa ga begah di rumah simbah?) tanya bulik, sementara simbah Darmo hanya diam sambil memperhatikan ku


"Boten ngaten bulik, kula betah tapi menawi piyambak kan sepi dados rencana ajeng pindah supados wonten rencang matur, kaliyan mlampah sekolah wonten rencange" (Bukan begitu bulik, saya betah disini, hanya kalau tidak ada teman kan sepi ga ada teman bicara sama teman berangkat sekolah) terang ku kepada bulik Padmi dan Mbah Darmo.


"Oh ngono?, yo sak kersa sampeyan mbak bulik ora iso ngomong, tapi sing penting nok ngendi wae sliramu manggon tetep ati ati yo mbak" (Oh gitu, ya terserah kamu mvak, bulik ga bisa ngomong apa apa lagi, tapi yang penting dimana pun kamu berada tetap hati hati ya mbak) pesan dari bulik Padmi dan aku mengangguk sebagai tanda setuju.

__ADS_1


"Kapan meh pindahane mbak? " (kapan mau pindahannya mbak?) tanya nya lagi


"In syaa Allah menawi benjang boten padat jam kuliah dalem bade beta barang barang kula bulik" ( In syaa Allah kalau besok tidak padat jadwal kuliah saya mau bawa barang saya)


"Nyuwun pangapunten menawi dalem asring bandel boten nurut kaliyan panjenengan, jarang bantu simbah kaliyan bulik, matur suwun sanget kawula sampun ditampi wonten mriki dipun rumati kanthi kasih sayang bulik saha simbah"


( Saya minta maaf jika selama disini saya sering bandel ga nurut sama bulik dan simbah, jarang bantu pekerjaan, dan terima kasih sudah menerima saya disini dan memperlakukan saya dengan penuh kasih sayang) tanpa terasa mataku berkaca kaca.


"Yo podo podo yo mbak simbah karo bulik jaluk ngapura durung iso menehi panggonan karo maem sing layak" jawab bulik sambil menahan air mata yang hampir tumpah karena haru. (Ya sama sama ya mbak simbah sama bulik minta maaf juga belum bisa memberi tempat dan makanan yang layak)


Sambil menahan isakan agar tak terdengar oleh yang lain, aku pamit undur diri masuk ke dalam kamar. Jujur rasa tak tega melihat ketulusan mereka kepadaku. Tapi mau bagaimana lagi hidup adalah pilihan. Yang penting kepindahan ku bukan karena ada konflik sama mereka. Dan aku berjanji meskipun aku sudah tidak tinggal disini lagi aku akan menengok mereka jika ada kesempatan.


Sebelum mataku terpejam aku berusaha menyelesaikan apa yang menjadi tugasku, baik tugas kampus maupun tugas yang lain.


Ketika kami ngobrol bertiga aku simbah dan bulik , om Tries tidak kelihatan batang hidungnya. Entah lah apa dia ada di kamar atau sedang keluar, karena tak kulihat motor butut warna hijau yang biasa ada di teras depan. Yang aku tahu motor itulah satu satunya fasilitas kendaraan yang di miliki keluarga ini.


Ah sudahlah besok pagi saja kalau aku ketemu pamit ke om Tries nya. Perlahan mata ku melihat berkeliling melihat seisi kamar yang sebentar lagi akan aku tinggalkan. Langit langit kamar yang sudah berubah warna putih kecoklatan, dengan hiasan sedikit sarang laba laba dipojok ruangan, dinding bercat putih yang juga sudah usang, sepertinya lama tak dicat ulang. Lemari pakaian kecil di sudut ruang, disampingnya meja dari bahan kayu belanda yang juga sudah hilang pelitur nya.


Dalam hati aku selalu bersyukur dengan kesederhanaan keluarga ini masih bisa menebar kebaikan nya dengan menampung ku memberi ruang untuk ku dan Olif mengistirahatkan tubuh, padahal bulik dan simbah jadi terpaksa tidur satu kamar karena satu kamar dipakai oleh aku dan Olif. Menyediakan makan untuk kami disaat kami sudah lelah beraktifitas seharian di kampus, walau dengan menu yang tidak mewah.

__ADS_1


"Ya Robb semoga Engkau cukupkan kebutuhan mereka dan Engkau limpahkan keberkhan atasnya dan menjadikan keluarga sederhana ini menjadi keluarga yang sakinah, Engkau limpahkan juga kebahagiaan untuk mereka ya Allah" doa tulus ku dalam hati.


Malam pun beranjak aku coba memejamkan mata agar besok pagi bisa ku sambut dengan keceriaan dan kesegaran tubuh karena istirahat yang cukup. Semoga simbah dan bulik tidak kecewa karena keputusanku akan pindah dari sini.


__ADS_2