
Namaku Hafifahani Merdia. Aku dilahirkan oleh seorang ibu bernama Musdalifah. Ibuku seorang ibu rumah tangga yang sore harinya menjadi seorang guru ngaji bersama ayahku di rumah sederhana kami yang cukup luas.
Dan ayahku seorang petani bernama Mustofa. Kami hidup sederhana di sebuah desa di dekat gunung Ungaran.
Aku sepuluh bersaudara dan posisiku sebagai anak bungsu. Beberapa orang kakak ku sudah berkeluarga dan merantau ke Jakarta. Diantara sepuluh bersaudara ada dua orang yang menjadi abdi negara.
Sedangkan Olif dia dua bersaudara, dia anak pertama dan adiknya hanya satu perempuan juga masih duduk di bangku kelas 6 SD. Demikian juga dengan Olif, ayahnya selain seorang ASN beliau juga seorang guru ngaji di lingkungan nya. Banyak anak kecil usia TK sampai SD ikut belajar mengaji di rumah Olif.
Maklum lah meski aku dan Olif sama -sama dari desa, dan desa yang sama, kehidupan di kampung tak membuat kami terbiasa masak di dapur setiap hari. Paling hanya sekedar membantu mengupas bawang, memotong motong sayuran dan menyiangi nya saja. Tak sampai paham bagaimana cara membuat sebuah menu khas dari menyiapkan bahan mengolah nya sampai menjadi sebuah sajian lezat yang menarik mata dan menggugah selera di meja makan.
Ibu ku lebih suka melihat aku belajar dan punya prestasi yang bisa dibanggakan dari pada aku sibuk bergelut di dapur membantunya. Satu keuntungan buat ku, entahlah apa karena aku malas atau memang itu bentuk kelemahan ku
Berbeda perlakuan beliau kepada kakak kakak ku yang memang sedari kecil sudah terbiasa ikut banting tulang bekerja seperti memanen padi atau hasil palawija dari sawah yang ditanam oleh ayah ku, atau membawa beban berat sekarung padi ke tukang seleb untuk diolah menjadi beras.
Mungkin karena aku anak bungsu yang dipandang masih manja sehingga ibu ku memperlakukan ku sedikit berbeda dari kakak ku. Aku tidak pernah dipaksa oleh orang tua ku untuk mahir dalam hal masak memasak.
Sama hal nya dengan Olif, meskipun neneknya seorang penjual sayur matang dia pun jarang membantu nenek dan ibunya di dapur. Padahal Nenek Olif biasa berjualan masakan matang seperti lauk dan juga cemilan tradisional (seperti kue basah dengan bahan dari singkong) yang dijual di pasar tradisional di desa kami.
Yah begitulah kehidupan kami meski tinggal di desa namun sudah tidak menerapkan kehidupan kolot yang mengharuskan wanita pandai memasak dan melarang kami para wanita untuk mengecap pendidikan tinggi.
Dulu sering dengar orang bilang "buat apa wanita berpendidikan tinggi? Toh nanti kalau sudah nikah kerjaannya berkisar di dapur di kasur dan di sumur saja.
Lain halnya dengan cara pandang ibu ku meski beliau bukanlah wanita karir dengan background pendidikan strata satu atau pasca sarjana, namun pola pikirnya sudah maju ke depan.
Nasehat yang sering beliau ucapkan kepada ku adalah,
" Kamu sebagai anak bungsu jangan sampai seperti ibu, ga mengenyam pendidikan tinggi, padahal mbah mu dulu secara ekonomi boleh di bilang orang mampu" kenang ibu sambil menatap ke depan seolah sedang menyesali sesuatu
"Pakde mu bisa jadi perwira TNI bulik mu ada yang jadi guru, bidan tapi ibu ga punya profesi yang membanggakan dan membuat mbah berani menegakkan kepala di hadapan orang lain" seolah sesal menyelimuti hati ibu.
" Bu, jangan salah menjadi ibu rumah tangga itu justru profesi yang paling mulia dari seorang perempuan bu, dia rela bekerja tapi ga dapat gaji tetap yang formal, tapi anak jadi keurus, ga ada yang terlantar" jawab ku dengan bangga agar ibu ku juga bangga menjadi ibu rumah tangga.
"ibu sebenarnya tak pernah menuntut anak anak nya ibu harus membalas budi pada kami, tapi apa salah kalau ibu punya harapan besar sama kamu nduk ? "
__ADS_1
"Ibu kepengen setidak nya satu diantara anak ibu yang bisa mengangkat harkat dan derajat keluarga dengan modal pendidikan yang cukup. " ibu menghela nafas kasar.
"Meskipun nanti setelah kamu menikah ujung ujung nya pasti akan bergelut dengan urusan dapur, tapi setidaknya kamu punya modal bagaimana cara kamu mendidik anak anakmu kelak. "
"Njih Bu, in syaa Allah Ifa akan ingat pesan ibu dan Ifa bisa mewujudkan harapan besar Ibu agar Ifa bisa mengangkat harkat dan martabat keluarga, doakan Ifa selalu ya Bu" pintaku yang tanpa sadar mataku mulai berkaca kaca.
Ya rasa haru bangga dan takut jika aku tak bisa mewujudkan mimpi dan harapan besar dari orang tuaku.
"Makanya kamu belajar yang benar jangan suka bolos meskipun kuliah ga setiap hari, apalagi pacaran pantangan itu" Imbuhnya
"Bu kalau seandainya ada cowok yang melirik Ifa dan menyatakan suka sama Ifa apa kira kira ibu mengijinkan Ifa pacaran Bu? " tanyaku
"Eh.. Tak tutuk gundulmu gelem pora?" (eh... Tak pukul kepalamu mau tidak?) sambil memelototkan matanya ibuku mengangkat tangan seolah mau memukul kepalaku.
Dengan senyum lebar aku mundurkan badan ku agar tak terkena pukulan tangan ibu meski hanya bercanda.
"ibu lebih suka lihat kamu serius dan tekun belajar dari pada melihat keringat kamu bercucuran karena bantu ibu masak" sambil tersenyum ibu mengelus punggungku pelan.
"Awas aja kalau kamu berani menjalin hubungan sama lawan jenis secara diam diam" ancam ibu tapi hanya aku jawab dengan senyum merekah
Aku memang lebih dekat dengan ibu dibanding bapak. Bapak agak kaku kalau mengajak berbincang dengan kami anak anaknya. Tapi aku selalu yakin dibalik sifat diam nya pastilah tersusun bait doa yang selalu beliau panjatkan di setiap ahir solat nya.
Pikiranku sempat melayang teringat pesan dan keakraban ku dengan ibuku.
#flash back on
"Fa hari ini berapa mata kuliah ya? Aku belum hafal jadwal baru semester ini" Olif bertanya sambil terus melangkah
"Mmh ... Bukannya hari ini hanya ada studium general ya? Mulai kuliah aktif kan besok Lif" jawabku
"oh iya... Aku lupa kan ini hari Senin ya?" sambil menepuk jidatnya sendiri olif menyesali kealpaannya "tapi kenapa tadi pagi kamu ga ingetin, malah nyuruh aku bawa buku diktat pak Fahrudin sih? " sungutnya
"he he he.. Maaf.. Tapi bukannya kamu rencana mau pulang sebelum angkut semua barangmu dari kost? " elak ku
__ADS_1
"Maksud aku kalau kamu mau nyicil bawa barang dulu kan lumayan meringankan beban saat kamu pindahan nanti"
"Iya juga ya, brilian juga ide mu" sambil mepuk pundak ku dia menampakkan barisan giginya.
"Makanya jangan nyalahin orang dulu dong, kan tujuanku baik" seolah bangga dengan usulanku aku menjawab dengan jumawa sambil tertawa kecil.
"Iya deh iya.. " Olif mengalah sambil memutar bola matanya. "Oya Lif kita mampir warung biasa dulu ya, cacing di perut dah minta jatah ini"
"Ya"
Dan kami pun sampai di warung nasi langganan tempatnya bersih dan nyaman. Aku duduk di bangku panjang persis di depan etalase tempat menaruh berbagai jenis makan agar terhindar dari debu dan lalat.
"Mbak Pur saya nasi rames seperti biasa ya, lauk telor ceplok sama teh manis hangat mbak"
"Siap, mbak yang satunya makan pakai apa?" tanya mbak Pur pemilik warung nasi
"Aku nasi sambel tumpang saja mbak lagi pengen yang berkuah" jawab Olif
"Minumnya? " tanya mbak Pur sambil mengambil nasi untuk kami
"air putih saja mbak" pilih Olif.
"Baik, tunggu sebentar ya" kami mengangguk bersamaan
"O iya Fa hari ini aku jadi pulang ya setelah stadium general nanti" lanjut olif "sekalian diskusi sama bapak ibu ku bagaimana baiknya nanti"
"Siqp boss... " jawabku sambil melakukan hormat dan senyum lebar, "hati hati ya, "
"By the way kenapa kamu ga pindah waktu libur semester kemarin? " kan leluasa aku bisa bantu kamu packing sama angkut angkut barang"
"Iya sih, belum kepikiran aku kemarin" jawab Olif.
Tanpa terasa makanan di piring kami ludes tak tersisa semua masuk ke dalam perut kami.
__ADS_1
#flash back off