
"Rin bangun yuk berangkat ke kampus lagi" ajak ku samhil menggoyangkan kakinya.
Setelah meminta ijinku Rini tadi sempat tertidur sebentar. Dari wajahnya terlihat kelelahan. Bisa kebayang sih mengendarai motor pulang balik dari rumahnya di daerah Suruh ke kampus hampir setiap hari dilakoninya. Dengan mengerahkan konsentrasi penuh di jalanan agar selamat dan terhindar dari kecelakaan.
Makanya aku biarkan dia melepas lelah. Sementara Rini tertidur aku mulai membereskan sebagian barang ku yang kira kira aku butuhkan siang ini.
Sisanya biar nanti malam aku lanjut merapikannya.
"mmmh... Emang jam berapa sih?
" Sudah jam satu, makanya bangun solat dulu terus ke kampus lagi ada kuliah siang ini"
Rini bangun dari tidurnya menggerakkan badan ke samping kiri dan kanan dengan tangan disatukan di atas kepala melakukan peregangan.
"Nih, minum biar nyawa nya balik dengan sempurna dulu"
"hmm... makasih ya". Diraihnya gelas berisi air putih dr tanganku.
" kamu dah solat? " hanya Rini
"Sudah dong, dah buruan keburu telat nih"
"Iya, iya.. Sabar napa"
Usai solat dhuhur aku dan Rini bersiap pergi ke kampus.
Siang itu meski panas terik menerpa tubuh kami, namun kami tetap semangat berangkat ke kampus karena masih ada kuliah di siang ini.
"Mata kuliah Tafsir kan siang ini? " tanya Rini seolah tak yakin
"Ya"
"Kamu udah punya fotocopy yang kemarin disuruh copy sama Muna?" tanyaku pada Rini
"Sudah"
##
Ketika memasuki area parkir aku melihat Olif yang berjalan memasuki gerbang, dia berjalan beriringan dengan Salamah dan Ettin. Rupanya dia baru datang dari rumahnya.
"Lif, kamu baru sampai? " tegurku dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Olif.
"Pantas saja aku cari tadi waktu statistik kamu ga kelihatan" sapaku sambil berjalan mendekati Olif.
Aku ulurkan tangan untuk bersalaman dan ku lempar senyum ke Salamah dan Ettin teman seangkatanku dan kebetulan satu jurusan juga.
"Bareng di angkot tadi sama Olif? " tanyaku ke Salamah dan Ettin bersamaan
Sekali lagi hanya diangguki kepala sebagai jawaban mereka
"Ada tugas tuh statistik" lanjutku
__ADS_1
"Ya mbak aku tadi harus bantu ibu dulu nenek ku sakit jadi yang menggantikan nenek jualan di pasar ibuku" jawab Olif
"Oh.. Emang nenek sakit apa? " tanyaku
"Biasa beliau suka pegel pegel ditambah batuk dan serak tenggorokannya" terangnya
"Kan gimana gitu masak jualan matengan tapi yang jual batuk batuk, nanti pembelinya menjauh dong"
" Oya Lif, aku pagi tadi sudah jadi pindahan nya "
"O ya?, aku mungkin besok Kamis setelah selesai kuliah langsung pamitan, tapi kalau barang ga bisa aku bawa sekalian barangnya nunggu hari ahad nanti diambil sama bapak"
"Ya ga papa, yang penting kan sudah ada omongan ke simbah atau bulik"
"Eh Rin kamu tadi yang bantu mbak Ifa angkut barang? " jangan lupa minta ongkos Rin kan dia baru cair tuh beasiswanya" ledek Olif kepadaku
"He.. He.. He.. Udah kemarin dapat traktiran beef fettuciny aku" jawab Rini
"Waah, curang aku belum kebagian nih rejekinya" sambil tertawa dia melirikku penuh arti
"Tenang bapakmu masih banyak stok tabungannya Lif, " elakku
"Yah itu mah beda keles... "
Candaan kami terhenti ketika kami sampai di depan kelas yang sama yang kami masuki tadi pagi
Karena memang mata kuliah Tafsir ini pun banyak peminatnya termasuk kating kating yang tertinggal nilainya belum memenuhi standar maka harus mengulang
Suasana mulai hening ketika suara fantofel terdengar
Tok... tok... tok....
Langkah dosen keibuan yang wajahnya adem kalau dilihat, mulai memasuki podium yang tersedia di depan.
Bu Tasnim ya beliau adalah dosen Tafsir yang kali ini mengenakan setelan baju coklat chaky dan kerudung warna senada. Tampilannya sederhana tak bermake-up tebal seperti dosen bahasa Inggris. Bedak tipis dan lipstik tipis menghiasi wajah paruh baya nya.
Bu Tasnim mulai perkuliahan yang kali ini membahas ayat al-Quran tentang sifat sombong.
Penjelasannya begitu runtut dari penggalan kitab Tafsir Jalalain.
"Apa makna al-Kibr? Dalam tafsir ayat ini? Tanya beliau ditengah waktu beliau menerangkan
Sekilas aku tadi seperti sudah pernah membaca fotocopy yang dibagikan oleh Muna tadi pagi usai matkul statistik.
Aku tunjuk tangan dengan penuh percaya diri. " al-Kibr bi ma'na bithrul haqq wa ghamtun naas" jawabku "kesombongan itu adalah mengingkari kebenaran dan merendahkan manusia" dengan lantang aku menjawab berdasarkan apa yang sudah beliau sampaikan barusan
"Benar, " kata bu Tasnim membenarkan jawabanku sambil mengacungkan jempol.
"Alhamdulillah dari sekian banyak mahasiswa yang hadir ternyata masih ada yang benar benar berniat belajar " ucap bu dosen menyindir kami para mahasiswanya.
Sekilas aku melirik kating yang duduk di sebelahku, dia semester ahir yang mengambil matkul ini karena pernah dapat nilai D dan harus mengulang.
__ADS_1
Dia seorang aktifis kampus yang vokal dan sering mengkritisi kebijakan kampus yang berkaitan dengan kondisi mahasiswa. Apalagi tentang keuangan. Dia juga aktifis teater.
"Terima kasih Ibu" ucapku dengan tersipu malu karena telah dipuji dosen didepan halayak ramai yang jumlahnya lebih dari 50 orang dalam satu kelas.
"Bukan aku cari muka tapi memang aku tipe orang yang berani menyuarakan suatu kebenaran. " batinku.
Dan kebetulan hal ini aku kuasai jadi apa salahnya jika aku berani menjawab ya kan?
Waktu dua jam pun berlalu. Satu persatu kami beranjak dari tempat duduk setelah bu Tasnim meninggalkan podiumnya.
"Dik, aku boleh pinjam catatan mu ga? " kata katingku yang tadi duduk di sebelahku karena aku pun belum kenal baik dengannya
Hanya suka melihat keaktifannya ketika sedang berorasi di depan sekreteraiat dan ruang dosen.
"Wah maaf mas saya ga punya buku catatan cuma foto copy ini" sambil aku tunjukkan lembar copy an yang aku pegang
"Oh gitu? " lanjutnya "ya sudah dik ga papa ga jadi"
"Ya mas"
Aku berjalan bersama Rini menuju sekretariat racana. Sementara Olif langsung pulang ke kost mbah Darmo untuk mengambil barangnya.
"Assalamualaikum, sambil mengetuk pintu yang sudah terbuka, Rini dan aku memasuki ruangan kecil itu.
Di sana ada mas Fitri sang ketua Racana, mbak Farida dan beberapa orang lagi di balik satir rotan yang membatasi meja resepsionis dan ruang ganti dekat kamar mandi.
" Fa kamu ternyata pinter ya " sapa mas Fitri sang ketua dengan wajah ganteng dan ke-bapak-an itu.
"Bisa aja jenengan mas", jawabku, " semua orang juga pasti bisa kok kalau tadi konsentrasi waktu bu Tasnim menerangkan" kilahku, kan sudah ada di fotocopy"
"Nah itu Fa hal kecil yang kadang terlewatkan dari pendengaran kami sebagai mahasiswa" kata mas Fitri lagi
Aku hanya tersenyum lebar mendengar penjelasannya.
Dari slentingan kabar yang aku dengar mas Fitri ini lagi PDKT sama mbak Farida, menurut aku cocok sih sama sama cakep dan cantik serasi, tapi katanya juga mbak Farida yang tidak suka karena dia sudah ada lelaki idaman yang juga sama sama aktif di racana ini.
Ya sudahlah itu hak mereka. Karena cinta tak bisa dipaksakan meski wajah enak dipandang, tapi ternyata tak mampu menggetarkan hati semua orang.
"Teman teman jangan sampai lupa ya besok kita ada rapat untuk membahasa pendadaran mahasiswa baru yang rutin setiap tahun" kata Mas Fitri mengingatkan
"In syaa Allah mas", jawab semua yang ada di ruangan itu
Aku lihat kak Fattah, Soleh, Makin dan Muflih sedang membereskan tali temali yang berantakan, sepertinya habis dipakai.
Kak Hana yang sedang menulis di balik meja resepsionis, entah apa yang dia tulis karena memang dia sebagai sekretaris racana.
Di pojok Rini seperti sedang berbincang serius dengan Kak Fatiya.
Beginilah kegiatan teman temanku pengurus yang masih aktif di organisasi kampus ini. Mereka meskipun sering bercanda tapi saat kerja mereka semua menunjukkan keseriusan dan rata rata akhlak mereka boleh dibilang stabil ga neko neko.
Ini yang menjadi alasanku memilih bergabung disini.
__ADS_1