
Matahari masih terik menyengat kulit yang setia menemani laju motor matic yang kami kendarai. Cukup waktu lima belas menit untuk sampai ke kostan ku yang lama.
Sebelum balik ke kostan aku mengajak Rini mampir ke masjid Pancasila masjid kampus yang adem jika kita memasukinya untuk melaksanakan sholat dhuhur terlebih dahulu. Karena kamar kost ku agak sempit.
"Kita solat dulu ya, kalau solat di kost takut kamu ga nyaman" ucapku setelah Rini memarkirkan motornya.
"Siap" jawab Rini sambil melepas helm yang masih melekat di kepalanya. Kami berjalan beriringan memasuki area masjid Pancasila.
Usai solat barulah aku dan Rini berangkat menuju kostan ku yang lama rumah mbah Darmo yang mungil dan sederhana. Rumah yang berada tidak jauh dari lapangan Pancasila, lingkungan padat penduduk dan rata rata di sana bangunan tua seperti bangunan dengan pondasi kuat bercat hitam putih di jaman Belanda menjajah negeri ini. Jalan masuk ke rumah ini berupa gang sempit yang hanya muat dilalui satu buah motor saja.
Sebenarnya tempat kost ku yang lama ini letaknya juga tidak terlalu jauh dari kampus ku, rumah mungil milik Mbah Darmo yang masih ada hubungan saudara dengan Olif teman satu kost ku.
Rini memarkirkan motornya dan masuk mengikuti langkah ku
"Assalamu 'alaikum " aku membuka pintu depan rumah Mbah Darmo dan mengajak Rini masuk ke kamarku.
Tak ada sahutan dari dalam rumah sepertinya penghuninya sedang beraktifitas semua di luar rumah.
"Duduk dulu aku ambilkan air putih, doyan kan? " ledek ku sambil meletakkan tas punggung yang selalu membersamai ku ketika aku ke kampus.
"Resek lo, sok sok an, kalau aku nawar minta minum jus emang ada? " candanya dengan lirikan mautnya ditujukan padaku
"He he he... Ada sih tapi harus beli dulu" kata ku
"Sebentar ya" ku tinggalkan Rini sendiri di kamar sementara aku pergi ke dapur mengambil air putih sebagai suguhan untuk Rini.
"Ini minumnya" ku sodorkan gelas berisi air putih untuknya istirahat dulu baru nanti kita packing barangnya.
__ADS_1
"Olif kemana? Dari tadi aku ga lihat dia di kampus? Tanya Rini
" Tadi pagi sih dia bilang habis stadium general dia ijin mau pulang ke rumahnya, mau bilang ke bapak nya kalau mulai semester ini dia mau pulang pergi saja dari rumahnya, jadi kemungkinan malam ini dia ga nginep sini" jawab ku
"Oh... Fa gimana ceritanya kamu bisa ngekost disini?"
"Ya di awal registrasi aku sempat nyari kost tapi namanya belum kenal orang, agak ragu juga, belum tau dimana kost yang lingkungan nya aman" terang ku
"Olif mengajakku untuk nemenin dia tinggal di rumah ini, rumah saudaranya, saudara jauh sih sama Olif" lanjut ku "tapi sepertinya dia pengen balik ke rumah nya lagi entah alasan tepat nya apa aku juga kurang tahu."
Sejenak kami istirahat melepas lelah dan panas yang tadi kami rasakan sepanjang perjalanan mencari kost dengan merebahkan punggung di kasur kapuk berukuran seratus dua puluh centi meter kali dua ratus centi itu.
Setelah rasa lelah hilang, sambil berbincang aku mulai menata satu persatu baju di dalam tas, dan merapikan pernak pernik dan juga buku buku yang aku punya ke dalam kardus yang tadi sempat aku beli di warung sembako.
"Fa pindahannya besok saja ya, lumayan nih pinggang, biar encok ga kambuh" sambil menampakkan barisan gigi putihnya rini memberi saran.
"Ya, aku juga mau pamitan dulu sama keluarga ini, juga telpon bapak ibu ku laporan hasil survey mencari kost tadi" jawab ku mengiyakan usulan Rini.
"Makasih ya Rin, dah mau mau bantuin dan jangan bosan aku repotin ya"
"Siap, tenang aja kapan pun kamu butuh asal aku bisa in syaa Allah aku siap bantu kok" sambil bersiap memakai helm "dah ya aku pulang dulu, assalamu 'alaikum" sambil mengangkat tangan simbol dada.
"wa'alaikum salam, hati hati di jalan " lambaian tangan ku berikan melepas kepergian Rini
## --
Rumah sederhana yang mungil namun terlihat lumayan asri dari luar, adalah milik seorang nenek janda. Mbah Darmo namanya. Rumah yang memiliki 3 kamar tidur kecil ukuran dua setengah meter kali tiga meter termasuk kamar yang aku tempati bersama Olif, satu kamar mandi sederhana ruang tamu sekaligus ruang galery dan dapur di sebelah kamar tidurku. Ada sepasang kursi dan meja tamu model lama yang sudah lumayan usang. Tv tabung di atas nakas terletak diantara kamar ku dan kamar Om Tries putra kedua mbah Darmo.
__ADS_1
Mbah Darmo adalah wanita tangguh single parent berusia hampir tujuh puluhan, tapi masih terlihat gesit diusia senja nya. Jalan pun masih tegak, hanya giginya saja yang sudah banyak yang ompong tinggal dua biji di bagian depan samping. Yang kadang terlihat lucu ketika beliau makan sesuatu yang ukurannya agak besar dan utuh seperti kimpul (talas) ataupun bakso.
Mbah Darmo memiliki seorang putra dan seorang putri yang sudah sangat dewasa, aku memanggilnya Bulik Padmi dan Om Tries. Bulik Padmi seorang janda karena suaminya meninggal dan sekarang aktifitasnya berjualan rempeyek kacang yang dia buat sendiri.
Sedangkan Om Tries dia seorang seniman lebih tepatnya seorang pelukis namun beliau belum mempunyai galeri sendiri sehingga ruang tamu rumah mbah Darmo menjadi ruang privasi Om Tries untuk menuangkan ide-idenya menjadi karya indah sebuah lukisan. Di sana banyak berjejer lukisan hasil karyanya dari jenis natural seperti pemandangan alam, pantai, pegunungan sawah dan juga lukisan seorang ibu dan anak kecil yang sedang duduk di teras rumah reyot dengan background banyak barang rongsok disekitar rumah, semua nampak indah di mataku. Ada juga lukisan abstrak yang tidak aku pahami gambar apa itu, seperti ekor burung tapi tak jelas kepalanya, entahlah namun tetap menarik jika dipandang. Aku termasuk pengagum keindahan karena aku juga suka melukis atau menggambar.
"Bagus dan betul betul berbakat beliau menuangkan ide dan jemarinya sangat luwes menari di atas kanvas." batin ku
Yang aku tahu hampir setiap malam sepertinya Om Tries ini jarang sekali tidur, mungkin karena sedang mencari inspirasi.
Kepulan asap dari mulutnya karena menghisap rokok sering aku lihat ketika aku terbangun di sepertiga malam untuk melaksanakan ritual agamaku solat tahajud.
Selain itu bau menyengat asap rokok sebenarnya sangat mengganggu hidungku yang sangat sensitif dengan bau-bau tak enak. Tapi apa boleh buat, untuk sementara waktu aku berusaha bertahan disini.
"Om, sudah bangun? " tanyaku ketika aku keluar kamar untuk ke kamar kecil pagi ini.
"Dah biasa Dik, malah durung turu" (malah belum tidur) jelas Om Tries sambil menjentikkan puntung rokok dari sela jarinya, dan mulutnya terus mengepulkan asap.
"Oh njih Om, napa boten ngantuk to Om? " (oh iya Om, apa ga ngantuk to Om?) tanyaku menghilangkan kecanggungan antara kami berdua.
"Haha... Biasa ngalong iki Dik, nek bengi ga iso turu tapi awan dadi bengi ku" (Biasa ngalong /ga tidur ini Dik, kalau malam ga bisa tidur tapi siang malah jadi waktu malam ku) jawab Om Tries sambil tertawa
"Oh njih Om, derek langkung njih badhe ten kamar mandi" (oh iya Om, permisi saya ke kamar mandi dulu) pamit ku.
Om Tries hanya mengangguk. Dari sorot matanya sepertinya Om Tries sedang mencari inspirasi untuk lukisannya.
Begitu lah aktifitas sehari hari om Tries.
__ADS_1
Selesai aku bebersih badan aku tunaikan amalan sunnah solat tahajud. Sementara Olif masih tertidur pulas di ranjang sempit yang kami tempati. Menjelang subuh barulah dia bangun untuk menunaikan solat subuh bergantian dengan ku karena tempatnya tak muat untuk melaksanakan solat berjamaah.
to be continue....