
"Harusnya kamu tuh ngehibur dia, kok gak ngerti kodean sih bukannya kamu jauh lebih berpengalaman? "
Ucapan Hendri membuat Venus melotot kesal. Apa yang dia maksud dengan kata berpengalaman?.
" Berpengalaman soal apa yang kamu maksud? " ujar Venus dengan bola mata berapi
" Ya bukan, maksudnya kaya gini, kan kamu dah punya pengalaman berumah tangga jadinya kan tahu yang namanya menghibur. Gimana sih?! kayak gitu aja gak ngerti! "
" Hah! "
Dengus Hendri sebal. Ia kesal karena Venus tidak mengerti maksud dari perkataannya.
Venus menggangguk, dia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Langit, cowok itu terlihat frustasi sekali. Entah kenapa, hati Venus merasa iba melihat itu.
Perlahan dengan perasaan bergejolak dan pertimbangan yang matang, Venus melangkahkan kaki menuju tempat dimana Langit berada.
" Kamu gak papa?? " tanya Venus berusaha menutupi rasa grogi dari nada suaranya.
" Hah? "
Kaget ada seseorang yang menghampirinya, Langit segera menegakan posisi tubuhnya, bagamanapun dia harus menjaga imagenya sebagai dokter di rumah sakit ini.
" Kamu gak papa? " ulang Venus atas pertanyaannya beberapa detik lalu
" Gak papa, memangnya kenapa? " bagaimanapun juga Langit harus menjaga perasaan istrinya, dia harus tetap dingin terhadap cewek lain.
" Oh ... enggak! Kok aku lihat kamu kayak sedih gitu, ada masalah? " kali ini Venus mendekat dan duduk disebelah Langit, menipiskan jarak antara mereka berdua.
__ADS_1
" Gak ada, lagi pula kenapa kamu yang khawatir? "
" Hah? "
Mendapat penolakan? Oh tidak bisa dibayangkan bagaimana malunya Venus sekarang. Ia tidak sadar bahwa ia sedang berbicara kepada suami orang.
" Yha! Wajarkan aku khawatir, aku kan calon direktur rumah sakit ini. Aku harus memperhatikan karyawan dokterku! "
" Gak usah khawatir, karena ada yang sudah mengkhawatirkanku! "
Langit bangkit ia menghampiru Mercury yang rupanya sudah berdiri tidak jauh dari sana. Ia memeluk Mercury dengan mesra, memberikan semua bebannya pada istrinya.
'Deg'
Sakit?
'glek'
Tidak mau terhanyut perasaan itu lagi. Venus langsung memalingkan mukanya. Dia berjalan menjauh dari sana. Berharap jika sudah begitu, ia akan melupakan penolakan mentah Langit kepadanya.
" ****!! Ini sih bukan kenalan sama incaran, tapi, ditolak sebelum berperang! "
Venus menghentakan kakinya kesal. Dia tahu perasaan ini salah, dia tahu bahwa dia tidak seharusnya menyukai suami orang. Lagi pula dia juga tidak mau dicap pelakor oleh Mercury.
Tapi, ada satu hal yang mengganggunya sampai saat ini. Kenapa perasaan ini tetap bertumbuh?? Kenapa dia bisa jatuh hati kepada seorang yang sudah beristri?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
" Kesel aku lama-lama! " Venus meletakan minuman kaleng bersodanya diatas meja dengan kasar.
" Kalau gini terus aku bisa janda lama dong! "
" Kalau gak pengen ngejanda lama ya, cari cowok. Tapi, gak boleh yang sudah beristri. Emangnya kamu mau dimadu?? Lagi pula kasihan juga kan istri pertama yang sudah mendampinginya selama lebih dari 2 tahun. Belum tentu kamu mengerti sifatnya secara jelas. Kamu kan juga gak ngerasain bagaimana suka dukanya ketika mereka melalui bahtera rumah tangga. Coba tempatkan posisimu sebagai istri pertama, kamu juga akan sakit hati kan?? "
Entah dari mana bisikan itu merasuki jiwa dan raga Venus. Ia seakan tersadar, bagaimana lancangnya ia masuk kekehidupan rumah tangga orang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
" Dah ah! Nyerah gue, gue akui gue kalah sebelum berjuang! "
__ADS_1