
Venus berjalan santai, pikirannya masih melayang fokus dengan siapa dokter muda itu. Hari ini memang hari cerah bagi Venus, tidak ada jadwal operasi membuatnya santai bagaikan di pantai.
Tepat jam istirahat para dokter. Venus menghampiri dokter yang baru saja ia kenal, dokter Anna.
" Hai dok! " Sapa Venus hangat sembari membawa nampan berisi pangsit goreng miliknya.
" Oh! Selamata pagi, dokter Venus! " Anna menarik ujung bibirnya tersenyum. Dia mempersilahkan Venus untuk duduk di depannya.
Venus mengobrol ringan dengan Anna. Ia memang cepat sekali akrab dengan seseorang, sifatnya yang mudah bergaul membuatnya disenangi banyak orang.
" Anna, apa kau tahu siapa dia?? " Venus menunjuk dengan sumpitnya kearah dokter tampan yang tadi bertemu dengannya.
" Siapa?? " Anna mengikuti arah sumpit Venus, ia menggulum senyum melihatnya. Sampai Venus harus mengerutkan alisnya, bingung.
" Itu Dokter Langit, dokter spesialis bedah saraf. Biasanya dia menangani operasi tumor otak,tapi, karena tidak ada pasien kali ini, dia benar-benar free jadwal. Lagi pula dia juga sekretaris rumah sakit ini "
Venus menganga mendengarnya, tanpa ia sadari dokter tampan seperti Ji Chang Wook itu, mempunyai sebuah jabatan yang menggiurkan di rumah sakit ini.
" Serius?? " Venus melotot sanking terkejutnya. Entah kenapa ia mengincar dokter muda itu untuk menjadi pengganti Mars di hidupnya.
" Gak percaya?? Ya sudah!! " Anna kembali fokus kepada mie ayam di depannya ia menyendok dan melahapnya dengan nikmat tanpa memperdulikan Venus yang masih bertanya-tanya.
" Widih .... Hebat juga! " pekik Venus girang ia bertepuk tangan layaknya anak kecil yang mendapatkan mainan kesukaannya.
" Cih ... semua disini juga pasti akan menyukainya, bahkan para dokter senior sekalipun " Anna menggeleng kan kepalanya.
__ADS_1
Venua menyeduh dinginnya es capucinno. Dia memang ingin memulai hidup baru si kota Y, tapi, ini diluar perkiraan jika dia menemukan pengganti Mars juga di kota ini. Memang setelah perceraian dengan Mars, Venus lebih memilih untuk menutup hatinya, ia tidak mau tersakiti lagi. Tapi, sekarang dia seperti menemukan harta karun di pulau tersendiri, ia pasti akan berusaha mendapatkannya.
" Wajar sih soalnya dia memang tampan! " Venus tertawa kecil ia kembali menatap Dokter Langit dengan senyum yang mengembang.
" Tunggu! Apa kau juga menyukainya, Anna? " pertanyaan konyol simbol posesif Venus muncul. Dia curiga bahwa ia mempunyai saingan kali ini.
" Uhukkkk ... " Anna terbatuk ia meraih lemon tea miliknya dan meminumnya dengan rakus. Bagaimana bisa dokter didepannya berfikir bahwa ia menyukai dokter Langit.
" Ya siapa tahu saja kau memendam rasa " ujar Venus dengan santainya. Ia kembali memakan pangsit gorengnya dengan tenang.
Memang diakui Venus, bahwa dokter langit memang tampan bak pangeran kerajaan. Tapi, ada yang mengganjal dihatinya selain sifat dingin dokter Langit. Ada seorang perempuan berambut panjang duduk dan makan bersama dengan dokter Langit, membuat emosinya membuncah dan lumer seperti lava gunung berapi.
" Hu-uuu .... " Venus meletakan gelasnya dengan keras hingga membuat Anna di depannya menjadi tersentak kaget.
" Apa jika tanganku ini ingin menampar seseorang, kau mau mewakilinya Anna?? " tanya Venus dengan nyala api di sorot matanya.
" Ya?? " Anna mengerutkan keningnya bingung.
Parrrrr!!
Gubrakk!!!
Wahhaaaa!!
" Awwwww! " Anna memegangi pipinya yang terasa panas akibat ditampar dengan keras oleh Venus.
__ADS_1
" Maaf, kau tadi yang bilang iya " Venus tanpa rasa bersalah pun kembali menatap kearah dokter Langit yang mengobrol akrab dengan perempuan itu, bahkan sampai berpegangan tangan.
" Lupakan perasaanmu itu. Dia sudah punya istri! "
.
.
.
.
.
.
.
.
.
" Demi apa! Aku semakin tertantang untuk menikung istrinya, bosque! "
****
__ADS_1