VLINDER

VLINDER
Kabar buruk!


__ADS_3

Kelompok vlinder mulai bereaksi dan menyebar di berbagai tempat pada malam yang sepi untuk melacak target yang di inginkan. Agar wajah mereka tidak ketahuan, mereka mengenakan jaket hoodie jumper hitam dan memakai topeng. Tidak ada seorang pun melihat, mendengar atau tahu tentang penculikan ini. Korban ditangkap dengan cara apapun sehingga penangkapan mereka mudah dan tidak memakan banyak waktu. Satu per satu korban pingsan dan dimasukkan ke dalam mobil tanpa meninggalkan bekas di jalan.


Kamis, beberapa hari setelah kejadian. Ini adalah hari ke empat. Di mana kasus masih belum terselesaikan. "Selamat siang pemirsa. Masih kasus yang sama. Hari ini adalah hari ke empat korban belum di temukan. Dan hari ini kami mendapatkan laporan bahwa bertambahnya lagi lima siswa SMA di culik." Kata reporter berita.


 


"Polisi terus berusaha mencari pelaku di setiap tempat," Kata reporter berita lain. “tapi tidak ada petunjuk pelaku di temukan.”


Berita penculikan ini sudah tersebar di TV, surat kabar dan internet. Bahkan siswa-siswi sekolahan lebih sering membahas penculikan dibanding topik lain dengan teman sebaya mereka dan masyarakat menjadi takut jika terjadi sesuatu juga kepada anak mereka nantinya. Namun, dalam penyelidikan kasus tersebut, korban bukan terjadi pada anak kecil melainkan pada usia remaja.


"Jika kamu (pelaku) menonton ini. Tolong. Kembalikan anak saya." Ucap salah satu orangtua korban menangis di depan kamera yang tak rela anak perempuannya di culik.


"Kami mendesak warga untuk lebih berhati-hati. Tidak ada yang tahu pelaku mengambil tindakan kapan dan di mana saja." Kata seorang petugas polisi yang sedang diwawancarai oleh beberapa wartawan berita.


Polisi's POV

__ADS_1


Siang ini polisi dari tim detektif kim yang menangani kasus penculikan sedang berkumpul di bangku mereka masing-masing di suatu ruangan khusus untuk membahas kasus yang mereka tangani belum terselesaikan. Pelaku menculik korban dengan sangat mudah. Tidak ada sidik jari, tidak ada saksi dan bukti lainnya. Dengan semua itu polisi menjadi kesulitan melacak pelaku. "Melangkah sejauh ini adalah tindakan yang sangat berani." Sebagai seorang detektif, sampai sekarang kim tidak bisa menemukan indikasi pelaku.


"Tersangka tampaknya sangat pintar dan licik. Tidak ada sedikit pun bukti bisa di temukan.” Kata polisi bernama kevin.


"Tidak ada yang tahu juga bagaimana pelaku melakukan tindakannya. Bahkan warga setempat tidak mengetahui adanya tanda-tanda mencurigakan." Sambung polisi bernama hendri.


Di tengah perbincangan, polisi bernama kirana dan polisi bernama lisa datang membawa laporan ditangannya. "Detektif Kim. Kami mendapatkan laporan baru untuk anda." Dengan wajah seriusnya detektif kim menerima laporan tersebut. "Saya sudah berbicara dengan semua orangtua korban. Ternyata anak-anak mereka satu kelas di sekolah dasar dulunya." Polisi kevin dan hendri tertegun mendengarnya.


Namun jika dipikirkan kembali, menurut polisi kevin ada sesuatu yang aneh pada laporan tersebut. "Semua korban dulunya sekolah di sekolah dasar yang sama, tapi itukan sudah beberapa tahun yang lalu, sedangkan umur korban saat ini sekitar dua puluh tahun. Kenapa insiden ini bisa terjadi pada mereka? Mungkinkah..."


*Flashback*


Sekitar jam tujuh malam. Di dalam ruangan hanya ada detektif kim seorang diri sibuk dengan komputernya. Kirana datang kepadanya untuk memberinya sesuatu yang penting. "Detektif, maaf mengganggu anda, tapi ada sesuatu yang harus anda ketahui. Saya mendapatkan amplop ini dari masing-masing orangtua korban." Detektif menerima amplop tersebut lalu membuka isinya. Ternyata selembar kertas. "Seperti perkiraan saya. Setelah pelaku menculik. Secara tidak sengaja dia membuat surat itu hanya untuk mengatakan bahwa anak mereka telah dia culik." Sambungnya lagi.


Isi suratnya adalah... Kami menculik anakmu. Dia akan baik-baik saja jika kalian tidak terlalu resah. Kami akan mengembalikannya lagi jika semua sudah berakhir. Itu pun jika anakmu yang memulainya.

__ADS_1


“Apa artinya ini?!” Setelah mengakhiri bacaan, detektif membuka amplop lain, dan ternyata isi bacaannya sama.


“Detektif, apakah kita harus menurutinya?” Tanya kirana. “Tapi banyak orangtua tidak setuju dengan hal itu.”


Detektif kim mengepal kedua tangannya setelah membaca surat dari pelaku. Sekarang apa yang akan harus dia lakukan sebagai seorang detektif kepolisian.


*End of Flashback*


 


Setelah mengakhiri bacaan. Detektif langsung melecek surat itu dan membuangnya ke tempat sampah kecil yang ada sebelahnya. “Saya tidak peduli dengan surat ini.” Keselnya. Merasa pusing dengan kasusnya, kim merenung sejenak untuk memikirkan strategi. Setelah itu dia menoleh ke polisi kirana dengan ekspresi tidak antusias. "Apakah kamu sudah mendatangi sekolah itu?"


"Belum detektif, tapi saya sudah tahu di mana alamat sekolah itu berada."


"Bagus. Saya ingin kamu datang ke sana dan menggali semua informasi sebanyak mungkin."

__ADS_1


“Baik detektif.” Tegas polisi kirana lalu pergi bersama rekannya, polisi lisa.


__ADS_2