VLINDER

VLINDER
Vlinder


__ADS_3

Yukari's POV


Hari ini yukari kedatangan tamu. Ada empat perempuan bernama mirai, hazel, oliv dan temari di tambah tujuh laki - laki bernama luffy, marco, alex, devin, elvan, alvaro dan galen berdiri gagah dengan serempak mengenakan jaket hoodie jumper berwarna hitam.Tampang - tampang seperti mereka lah yang disebut penjahat tingkat tinggi. Hanya berstatus pelajar biasa yang berhasil membuat strategi yang sebentar lagi masuk ke tahap terakhir. "Semua berjalan lancar sesuai rencana. Tentunya mereka tidak akan dapat menemukan bukti. Sekarang cctv bisa kita kuasai." Ucap galen. Orang yang bisa diandalkan dalam melakukan penerobosan sistem komputer dan jaringan atau biasa disebut hacker. Dia juga dapat menghilangkan bukti gerakan mereka yang terekam cctv di setiap tempat sehingga polisi tidak bisa mengidentifikasi mereka.


"Tinggal beberapa orang lagi semua akan selesai." Sambung mirai dengan senyum menyeringai.


"Bagus." Walaupun yukari terbaring dengan tubuh tak berdaya, dia juga terlibat dalam insiden ini. "Tetaplah seperti ini. Polisi terus mencari siapa pelakunya."


"Saat ini polisi mulai bergerak untuk mengawasi di setiap tempat yang mungkin bagi mereka pelaku hanya ada di tempat - tempat tertentu." Jelas marco.


"Oh, begitu. Jadi mereka tidak mematuhi isi surat itu." Surat yang tadinya terdapat di setiap rumah korban sekarang bertukar di tangan polisi. "Itu tidak akan mempengaruhi apa yang telah kita lakukan bersama. Sementara kita tetap tenang, polisi tidak akan tahu siapa pelakunya dan siapa target kita berikutnya. Karena kita hanya seorang pelajar biasa." Yukari mencoba membangunkan badannya sendiri untuk duduk dan bersandar di tempat tidur. "Sebentar lagi kita akan tunjukan pada mereka tujuan kita sebenarnya." Senang rasanya melihat yukari berhasil bersadar di tumpukkan bantal. Belum lama, batuknya kambuh. Dengan cepat, yukari menutup mulutnya dengan serbet. Kepekaan sebagai teman, mereka bergegas untuk membantunya, tetapi yukari melarang mereka untuk tidak ikut campur. Apa yang yukari perintahkan mereka selalu menurutinya. Perlahan batuknya mulai mereda. Untungnya batuknya tidak terlalu parah. Namun, sesuatu yang aneh terjadi pada yukari. Badannya membungkuk dan kepalanya tertunduk, diam seperti sudah tak bernyawa.


"Kak." Hazel memanggilnya dengan sangat ketakutan. "Kak yukari.."


"Hai kak. Lu tidak bercanda kan?" Devin juga ikut cemas dan ketakutan jika terjadi sesuatu pada yukari.


Semua pikiran menjadi kacau melihat situasi yang terjadi padanya. Hanya perasaan panik, ketakutan dan bingung harus berbuat apa. "Kak." Dengan keberanian devin perlahan mendekatinya. Tiba-tiba...


"Tapi boong. Hahahahahaha..." Tak di sangka yukari membuat tipuan dengan cara seperti itu. Padahal perasaan hati sudah sangat panik melihat keadaannya tadi, tetapi yukari begitu bahagia berhasil menipu mereka.


"Kakak bodoh! Kakak kira bercanda kakak itu lucu!" Devin begitu marah sambil bertolak pinggang.

__ADS_1


Hazel langsung mendekatinya dan memukul kepalanya itu. Devin pun meringis kesakitan. "Lu yang bodoh. Jangan memanggil kak yukari dengan sebutan bodoh."


Sebagai kakak tertua, yukari sangat senang bisa mengenal mereka sejauh ini. Meski hidupnya tidak lama lagi, tapi yukari menghabiskan waktunya dengan sedikit candaan. Demikian juga mereka. Mereka menerima yukari sebagai teman, kerabat, bahkan kunci perdamaian. Yukari lah yang mengumpulkan mereka saat mereka dalam masalah terpuruk dan menganggap sudah tidak ada harapan lagi.


"Kakak yukari..." Panggil temari dengan nada sedihnya. "Aku mohon sama kakak jangan lakukan hal seperti itu lagi..." Temari menangis membuat semua tertuju padanya. "Aku kira kakak, kakak, su-sudah mati."


"Hei temari." Tegur oliv yang berdiri di sampingnya.


Ucapan temari merubah raut wajah yukari menjadi sedih. Semua langsung menyalahkan atas ucapan temari barusan. Melihat kondisinya sekarang ini memang ada benarnya juga. Mungkin tinggal hitungan hari atau hitungan waktu hidupnya tidak akan lama lagi. Seluruh tubuhnya memucat, kurus, bahkan rambut kepalanya sudah habis. "Begitu ya. Tidak apa - apa. Gue baik - baik saja kok." Untuk menyembunyikan kesedihannya, yukari menunjukkan senyum lebarnya bahwa dirinya benar - benar baik - baik saja, tapi senyumannya itu tidak mempan bagi mereka. "Kenapa?" Tampaknya ekspresi mereka sangat serius kali ini "Hei, hei gue baik-baik saja kok. Kenapa kalian memasang wajah seperti itu?"


"Jangan pernah. Jangan pernah kakak tersenyum, jangan pernah kakak tunjukan senyum palsu itu!" Alex menunjukkan kegagahannya di depan yukari meskipun tercampur aduk dengan kesedihannya. "Kakak tidak bisa bersembunyi dari kami lagi. Apa yang kakak rasakan, kami juga bisa rasakan. Kenapa, kenapa kakak diam saja? Kami hanya ingin, kak yukari hidup. Itu saja."


Yukari terdiam. Tidak menyangka mereka berfikir sampai sejauh ini, tapi apa yang bisa yukari lakukan. Untuk menghilangkan suasana sedih ini, dia tersenyum lagi. "Senyum adalah cara terbaik untuk mengatasi situasi. Meskipun senyum itu palsu. Luffy, hazel, marco, alex, devin, mirai, elvan, alvaro, galen, oliv dan kau temari. Rasa sakit biar seseorang saja yang merasakan. Tidak perlu orang lain tau. Dan. Jika seseorang waktunya pergi biar lah orang itu pergi dengan damai."


"Itu sebabnya aku mengumpulkan kalian." Balas yukari dengan nada tingginya. Keributan pun terjadi. Hazel berbalik menyembunyikan air matanya. Alvaro bergerak dan berdiri di sudut tembok sambil melipat tangannya di dada. Oliv menundukkan kepalanya sambil merangkul temari yang terus menangis. "Kesedihan, penderitaan dan kekesalan. Itu hanya pelampiasan saja, tapi kebahagiaan yang sedang kalian raih akan datang suatu hari nanti." Tegasnya.


"Kesedihan, penderitaan, dan kebahagiaan?" Temari terkekeh. "Itulah yang selalu kita rasakan, kak. Dikucilkan, malu, dieksploitasi, diremehkan. Terkadang aku bingung. Memangnya ada yang lucu ya? Mereka dengan mudahnya menertawakan hal-hal yang tidak penting hanya untuk mempermalukan kita. Jadi, kita ini seperti orang-orang bodoh. Tidak jelas. Ejekan mereka tuh bukan lelucon biasa..." Dari sini kita bisa tahu. Alasan mengapa temari, mirai, luffy, oliv, alex, elvan, alvaro, devin, galen, hazel, dan marco melakukan penculikan pada teman sekelas mereka sendiri. "Kakak ngerti kan maksudku? ahhh!! Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Tidak ada gunanya." Temari menghapus air matanya yang sudah membasahi pipinya. Apa yang dikatakan temari itu benar dan bukan hanya dia saja yang mengalaminya. Oliv, galen, alvaro, elvan, mirai, devin, alex, marco, hazel dan luffy juga merasakan hal yang sama. Pengalaman bersama orang-orang di sekitar mereka membawa hal-hal buruk. Rasa sakit yang terus-menerus dalam persahabatan bukanlah sesuatu yang mengenakan.


"Ya kakak paham perasaan kalian." Melihat mereka menangis membuat yukari ikut bersedih, tetapi yukari sebagai perempuan dewasa, tidak ingin terlihat lemah di hadapan mereka. "Kakak juga sama seperti kalian. Bedanya, kakak memang murid bodoh," Yukari tersenyum malu. "Makanya mereka selalu mengejek kakak, tapi kakak tunjukkan pada teman-teman kakak kalau kakak punya kemampuan yang tidak bisa mereka lakukan. Dengan bangganya kakak ajarkan kepada mereka dan kakak pikir itu bisa memperbaiki hubungan pertemanan, tetapi ternyata, itu hanya pencitraan mereka saja. Setelah itu, semua berubah. Kakak kembali menjadi murid pendiam deh."


Hening.

__ADS_1


Suasana menjadi suasana sedih. Yukari merenungkan masa lalunya sementara temari, mirai, luffy, oliv, alex, elvan, alvaro, devin, galen, hazel, dan marco merenung teman-teman sekelas mereka sendiri yang diperlakukan tidak layak. Jadi, usaha yang sedang mereka lakukan adalah menyadarkan seorang teman kalau semua itu membuat orang menjadi down, mudah tersindir, pesimis, dapat merusak kepercayaan diri, bahkan bisa berujung kematian, meskipun tidak patut untuk di contoh.


Yukari merasakan embusan angin mengenai kulitnya dan ia pun tersadar dari lamunannya yang ternyata dirinya ikut merenung kesedihan. Seharusnya ia tidak pantas melakukan seperti tadi di depan temari, mirai, luffy, oliv, alex, elvan, alvaro, devin, galen, hazel, dan marco. Sebelum berbicara yukari segera menyeka air matanya. "Dengar. Setiap manusia memiliki penderitaannya masing-masing. Ada yang bisa lalui dengan caranya sendiri dan ada juga mengakhiri hidupnya padahal itu perbuatan yang sangat salah. Jadi, di dunia ini bukan hanya kalian saja yang menderita, itulah yang disebut keadilan. Kakak percaya suatu hari nanti kalian akan melakukan hal yang sama, sama seperti yang kakak lakukan pada kalian. Mengerti kan maksudku?"


"Lalu bagaimana dengan kebencian?" Tanya alvaro. "Aku benar-benar membencinya, hanya karena kesalahpahaman, aku dipanggil sebagai siswa pengadu."


"Kekesalan tidak harus di kendalikan oleh kebencian, tetapi harus mampu mengendalikan kebencian. Tidak ada kehidupan manusia selalu bahagia. Di dunia ini, kita harus siap menghadapi cobaan dan belajar menjadi manusia tangguh, itulah dinamakan meraih kebahagian." Jelas yukari. "Jika kalian ingin mewujudkan mimpi. Lakukan! Jangan menjadi orang yang menyedihkan karena itu tidak berlaku di masa depan." Bagaimanapun manusia tidak di ciptakan untuk bersenang - senang, tetapi harus merasakan penderitaan dan menemukan jalan kebahagian. "Angkat kepala kalian!" Teriak Yukari. Dengan hati yang berat mereka mengangkat kepalanya. "Hapus air mata kalian yang berharga itu. Kalian tuh sama saja menangisi diri kalian lemah. Tetaplah kuat. Semuanya akan segera berakhir. Jika semua sudah beres, kita akan tunjukan identitas kita untuk segera mengakhiri ini."


"Mm." Paham mirai. Hatinya mulai ada ketangguhan mendengar inspirasi yukari yang ada benarnya juga. 


"Pergilah. Hari sudah mulai sore. Aku akan menunggu kabar dari kalian." Ucap yukari mengakhiri pertemuannya. Lalu membaringkan tubuhnya kembali dengan posisi menyamping ke arah jendela. 


"Baik." Ucap marco. 


"Baik kak." Sambung hazel. 


Galen langsung berinisiatif merapihkan perlengkapannya. Seperti laptop di atas meja yang dijadikan sebagai layar cctv untuk berjaga-jaga dari pintu masuk rumah sakit sampai menuju ruang rawat inap yukari. Semua sudah beres barulah mereka bergegas pergi sebelum perawat datang. "Kami pergi." Pamit galen bersama dengan yang lain, tetapi baru beberapa langkah tepat di ambang pintu tiba-tiba temari mendadak berhenti. 


"Kak Yukari." Panggilnya. "Siapa orang yang berharga di hidup kakak?"


Pertanyaannya itu membuat semua tertuju pada yukari dan diam menunggu jawaban darinya, tetapi yukari tak kunjung menjawab.

__ADS_1


"Sudah lah. Kak yukari butuh istirahat. Lebih baik kita keluar sebelum ada yang melihat kita." Terpaksa oliv menyeret temari keluar dan yang lain pun menurutinya. 


Keadaan sudah sepi. Yukari membuka matanya setelah semua meninggalkan dirinya sendirian. "Percuma ada orang yang berharga di hidup gue. Sebentar lagi gue akan mati." Detik itu juga sebutir air mata keluar ketika ia memejamkan matanya dan menangis di balik selimut. "Aaaaaaaaaa!" Sebenarnya ada penyesalan di hati. Merasa kuat padahal sangat pedih meninggalkan orang yang ia sayangi.


__ADS_2