VLINDER

VLINDER
Kenapa?


__ADS_3

Seorang wanita berjalan di koridor rumah sakit. Dia mengenakan sepatu nike putih karena harus menyeimbangkan dengan celana jeans denim nya sambil membawa rangkaian bunga di tangannya. Wanita itu bernama sabrina berjalan menuju ruang rawat inap yukari. Tiba di ambang pintu. Tangannya sangat ragu untuk membuka pintu. Takut yukari sudah lupa dengan dirinya. Meskipun demikian sabrina memberanikan diri membuka pintu dan masuk ke dalam. Rupanya ada seorang perawat sedang memeriksa yukari.


Kemudian perawat itu mendekati Sabrina. "Ada yang bisa saya bantu?"


"Apakah sudah waktunya bagi yukari untuk istirahat?"


"Anda siapa ya?"


"Oh saya temannya." 


Dengan senangnya perawat itu memegang bahu sabrina. "Syukurlah saya sangat senang dengan kedatangan temannya. Sudah lama tidak ada yang mengunjunginya. Saya khawatir jika yukari merasa bosan dan stres." Sabrina sedikit terkejut mendengarnya. "Sini biar saya bantu untuk masukin bunganya ke dalam vas." Tawarnya. 


Sabrina pun memberikan bunganya kepada perawat tersebut. "Oh terima kasih." Kemudian perawat meninggalkan ruangan. Sabrina merasa senang ada seorang perawat yang baik hati merawat temannya, tetapi ketika dia melihat kondisi yukari ekspresinya berubah. Dia mendekatinya dan berdiri di sampingnya. "Hai." Sapa sabrina. "Apakah kamu masih mengingatku?" Yukari hanya bersandar di tempat tidurnya dengan tatapan bingung. "Aku yakin kamu sudah lupa. Sekarang kita sudah dewasa, wajah kita sudah pasti berubah. Jadi, agak aneh tiba-tiba aku datang di hadapan mu seperti orang asing. Aku-"


“Sabrina. Kenapa lu bisa tahu?” 

__ADS_1


Mata sabrina melebar, tak menyangka yukari masih mengenal dirinya. Padahal perpisahan mereka sudah cukup lama, walaupun hanya berstatus teman SD. “Lu masih mengenal gue?” 


“Bagaimana tidak. Lu kan teman gue.” Jawabannya jelas. Sabrina langsung menundukkan kepalanya karena ucapannya itu membuat dirinya menangis. Sedihnya yukari masih menganggap dirinya teman dan sedihnya lagi melihat yukari masih bisa tersenyum meskipun dalam kondisi sakit. “Teman yang hanya diam melihat temannya menderita.” Sambungnya lagi dengan sedikit memiringkan kepalanya dan senyum menyeringai. “Ia kan? Hanya saja lu takut terkena imbasnya jika mencampuri urusan orang lain.” 


“Yukari.”


"Bahkan lu lebih menyedihkan dari mereka." Yukari terus mengucapkan kata – kata yang membuat sabrina tidak mengerti. 


“Yukari stop!” Bentaknya. “Apa maksud lu itu?!” Tidak peduli keributan di rumah sakit, sabrina hanya ingin yukari menghentikan omong kosongnya.


Yukari berhenti berbicara dan memalingkan pandangannya. Awalnya sabrina menanggapinya dengan ekspresi marah, tetapi dia berpikir bahwa yukari sedang sakit, mungkin itu dapat mempengaruhi pikirannya. “Sepertinya lu harus istirahat.” Sabrina bergerak untuk membantu membaringkan tubuh yukari, tapi yang sabrina dapatkan adalah penolakan. Yukari menghempas tangan sabrina dengan kasar. Namun, hal itu sabrina tidak menganggapnya serius. 


“Cih.” Yukari tersenyum miring tepat setelah perawat menutup pintu. "Lu menganggap gue sudah mati?" Kemudian pandangannya berpaling lagi melihat ke luar jendela tepat di seberangnya. Sabrina tidak tahu lagi kenapa yukari bersikap dingin padanya. Tidak tahu di mana letak kesalahannya bahkan yukari mengungkit yang tidak ia ketahui. Sekarang sabrina memilih untuk diam dan duduk di tempat tidur dekat kaki yukari untuk mendengar apa yang membuat yukari marah. “Ternyata benar. Masih ada orang yang tidak bisa lupa dengan masa lalunya. Padahal masa lalu itu bukan untuk di lupakan, bukan juga untuk terus di kenang.” 


Sabrina mengerutkan kening. “Masa lalu? lu membicarakan masa lalu?” Berbicara tentang masa lalu, ia ingat satu hal. "Jangan bilang..." Spontan sabrina bangkit berdiri. "Lu." dan juga membekap mulutnya. “Jadi itu benar. Lu pelakunya?” Yukari menoleh ke sabrina dan menatapnya selama 10 detik lamanya. Dengan jengkelnya, sabrina menggenggam kedua bahu yukari dan menyejajarkan wajahnya. “Jujur sama gue! Lu yang melakukan pada teman – temannya kita?” Sabrina sangat serius tentang pertanyaannya dan bahkan matanya meneteskan sebutir air mata. “Yuuukari...” Semakin lama sabrina semakin geram dengan yukari. “atau... lu menyuruh orang lain untuk menculik teman kita?" Yukari tetap diam dengan semua pertanyaan sabrina. "Jawab Yukari! Jawab!" Sambil menggoyangkan-goyangkan badannya ke depan dan ke belakang, meskipun tahu kondisi yukari sedang sakit. Akhirnya yukari mau membuka mulutnya. Di dalam hati sabrina berharap yukari berkata tidak. Namun, yang terjadi adalah yukari mengangkat tangan kanannya perlahan ke belakang kepala sabrina dan memegangnya. Sabrina tidak tahu apa yang akan dilakukan yukari, lalu yukari mendorong kepala sabrina untuk mendekat dengan wajahnya. 

__ADS_1


Sekarang tatapan mereka cukup dekat. "Semuanya akan berjalan dengan sempurna. Tujuan gue menculik mereka adalah membuat mereka sadar dan mengakui kesalahan mereka yang pernah menyakiti gue. Jadi, tidak ada alasan semuanya sudah berlalu." Jelas yukari. 


Secara spontan, sabrina menjauhkan wajahnya sebelum yukari melepas tangannya. Menurut sabrina, ini adalah sesuatu di luar narasinya sehingga mulutnya tidak bisa berkata – kata lagi dengan tindakan yukari bisa sejahat ini. Ternyata yukari memiliki sifat balas dendam yang tidak diketahui olehnya. "Lu. Lu tau gak, kalo perbuatan lu tuh jahat! ada banyak polisi di luar sana sedang mencari pelakunya bahkan polisi datang ke rumah gue dan bertanya-tanya. Apakah lu gak takut?" 


"Berani berbuat berani bertanggung jawab." Balas yukari. "Lagi pula gue diam di sini bukan berarti gue gak tau apa-apa tentang polisi. Sebelum polisi ke rumah lu, mereka pergi ke SD kita dulu, barulah ke tempat kalian. Dan hasil interogasi dari kalian, polisi mulai curiga kalau gue pelakunya, dari situ lah ternyata kalian masih ingat murid bodoh yang selalu kalian bully."


“Y-ya, tapi...” Sabrina memegang kepalanya merasa frustasi yang tak menyangka perbuatan yukari mencakup hukum. "Berapa banyak mereka?"


"Sebelas."


Sabrina sangat terkejut sehingga dia menutup mulutnya, kemudian terkekeh. "Lu enak di sini gak ngapa-ngapain. Hanya duduk dan tidur. Kalau suatu saat mereka tertangkap, apa yang bisa lu lakukan? Padahal lu lah dalangnya."


Yukari hanya diam dengan pandangan lurus ke depan. "Ketika tubuh gue masih kuat. Gue berjalan – jalan tanpa tujuan. Hanya ingin menghirup udara segar. Di tengah perjalanan. Di depan mata, gue melihat hal serupa seperti gue dulu. Diintimidasi, dihina, dikucilkan, dan diperlakukan kasar oleh temannya sendiri. Hal-hal seperti itu dapat terpikirkan seseorang untuk bunuh diri. Dan ya. Gue melihatnya sendiri. Gue tahu apa yang dia rasakan saat itu. Jadi, dengan pergerakan hati, gue membujuknya. Setelah itu, kami pun berteman." Yukari tertegun sejenak lalu menoleh ke sabrina. "Apakah lu tahu bagaimana caranya bebas dari penindasan? dan siapa yang bisa menghentikan itu? Orangtua? Guru? Belum tentu suatu masalah mudah terbuka untuk menceritakan ke orang lain." Sabrina terdiam. "Itulah yang mereka katakan pada gue saat itu. Mereka hanya ingin semuanya berakhir dan bukan pada diri mereka saja, tetapi juga pada orang lain," Jelasnya panjang lebar. "Itu lah jawabannya kasus ini terjadi." 


Dari semua penjelasannya. Yukari terlihat tidak main – main akan tindakannya serta teman – temannya yang bekerja sama dalam melakukan tindakan kejahatan. “Kalian yakin dengan tindakan kalian akan berhasil?” 

__ADS_1


“Kita lihat saja nanti.” 


Kalau begitu apa yang bisa sabrina lakukan. Ini mengingatkan sabrina tentang masa lalunya. Kemudian ia duduk di sebelah yukari dan memegang kedua tangannya. Melihat wajahnya yang pucat itu membuat sabrina merasa iba. Dengan sedihnya, ia pun memeluknya dan menangis di pelukan yukari.


__ADS_2