VLINDER

VLINDER
Yukari p.3


__ADS_3

Keesokan harinya yukari kembali bersekolah, sebelum itu ia berpamitan dengan ibunya. Barulah yukari berangkat sekolah. Setengah dari perjalanan yukari melewati salah satu rumah teman sekelasnya, mika. Kebetulan ayahnya mika sedang mengeluarkan sepeda motor untuk mengantar mika ke sekolah. Rencananya yukari mengabaikan seorang ayah dengan anaknya, tetapi... “Yukari. Bareng yuk.” Ajak ayahnya sebelum menjalankan sepeda motor. Dengan wajah keraguan, yukari bingung untuk menjawabnya. Sesekali melirik mika. “Ayo. Sebelum terlambat.” Ajaknya lagi.


“Baik.” Lalu yukari duduk tepat di belakang mika. Berangkat lah mereka ke sekolah.


Sesampainya, tepat di gerbang sekolah ada teman-temannya mika sedang jajan di luar sekolah. “Mika...?” Terkejut melihat mika berangkat sekolah bersama yukari.


Yukari turun, mika pun juga ikut turun. “Terima kasih om.” Tidak lupa yukari berterima kasih karena sudah mengantarkannya ke sekolah. Lalu yukari mencuekkan mereka dan melangkahkan kakinya menuju kelas melewati lapangan karena ia tahu dirinya tuh di pandang aneh oleh teman-temannya. Sisi lain, mika masih berurusan dengan ayahnya, mungkin semacam meminta uang saku atau sedang bersama empat temannya itu.


Bel masuk. Sebagai wali kelas. Jadi, bu heni lebih full mengajarkan bidang studi di kelas empat. Hari ini bu heni menerangi cara menyelesaikan matematika di papan tulis. Semua muridnya memerhatikan bu heni dengan serius sebelum di beri pertanyaan. 


Setelah dijelaskan, sekarang bu heni memberikan pertanyaan kepada murid – muridnya. “Oke, sekarang kerjakan halaman 8 bagian A dan B." Mulailah murid mengerjakan soal dan fokus pada soal matematika. Mengenai materi, kemampuan yukari sangat dangkal dibandingkan dengan teman-temannya. Itulah kelemahan yukari dalam pelajaran. Satu pun pertanyaan tidak ada yang bisa ia jawab. Walaupun sudah diterangkan contoh soal matematika, dalam sekejap ia sudah lupa. Jadi, tidak salahnya yukari mendapatkan nilai nol.


Next. Masih guru yang sama. Lanjut ke pelajaran kedua, yaitu ilmu pengetahuan alam. "Buka halaman 20. Disitu tertera buatlah bentuk kelompok pembelajaran, lalu cari jenis tanaman, akar dan daun di sekitar halaman sekolahmu." Jelas bu heni sambil membaca bukunya. "Oke. Mari kita buat kelompok. Ada 30 murid yang berarti lima kelompok. Satu kelompok terdiri dari enam orang. Baiklah, mari kita mulai pembagian kelompok. Ibu minta perwakilan lima orang maju ke depan. Gina, mika, putri, tasya, dan rara silahkan maju ke depan." Nama – nama yang disebut itu maju dan berdiri di depan kelas. "Jangan mendekat sedikit menjarak." Ujarnya. "Oke. Gina, mika, putri, tasya, dan rara. Sekarang kalian boleh bebas terserah pilih siapa untuk menjadi kelompok kalian. Mulai dari gina."


Gina yang berdiri di dekat pintu berpikir sejenak untuk memilih siapa yang akan menjadi teman kelompoknya. "Aku memilih reni."


“Ayo reni maju.” Panggil bu heni. Kemudian reni beranjak dari kursinya dan bergabung dengan gina.


“Sekarang mika. Pilih siapa?”


“Saya pilih chika.”


“Oke chika maju.” Pinta bu heni.


“Putri?”


“Aku pilih reina.”


“Tasya?”


“Ayu.”


“Rara?”


“Indah.”


“Nah sekarang pilih yang cowok – cowoknya. Mulai dari rara.”


“Aduh... Berat. Aku pilih iqbal deh.”


“Oke iqbal maju. Ciee rara.” Ledek bu heni.


“Hah? Apa sih bu.” Balas rara malu – malu. Satu kelas jadi ikutan meledekinya.


Bu heni hanya tersenyum simpul. “Oke lanjut.”


“Aku pilih mario.” Ucap tasya.


“Bayu. Maju.” Ajak putri.


Mika dan chika bernegosiasi satu sama lain untuk memilih anggota cowok yang akan menjadi teman kelompoknya. “Aku pilih... Mmm... Akmal deh.”


“Gilang.” Panggil gina.

__ADS_1


“Lanjut ya. Ibu tunggu. Nanti kalo sudah selesai tulis nama anggota di kertas lembar. Enam anggota, jangan lupa.” Ujar bu heni lalu duduk kembali untuk menyiapkan apa yang perlu disiapkan.


“Oh oke bu.” Balas beberapa muridnya.


Terjadilah keributan saling merebut memilih anggota. Ada yang mau sama ini ada yang mau sama itu. Tergantung siapa yang dapat. “Putra.”


“Randi.”


“Helda.”


“Prilly sini.”


“Nabila!”


“Raka.”


“Patrick!”


“Suara, suara. Tolong di kecilkan ya.” Ucap bu heni.


“Ia bu...”


Lanjut. Sekarang tersisa lima murid lagi masih belum terpilih. Salah satunya yukari, duduk di bangku dengan tertibnya siap untuk di panggil.


“Aku pilih siva.” Ucap rara.


“Layla.” Panggil mika.


“Sabrina.” Panggil tasya.


“Aku duluan.” Balas putri.


“Lah aku duluan.” Sambung gina tidak mau kalah. Mulailah terjadi pertengkaran antar dua kelompok dalam memilih anggota. Seharusnya masing – masing kelompok mendapatkan jumlah yang sama, anehnya mereka hanya memilih irene untuk menjadi bagian kelompoknya.


Kelompok putri berunding sebentar untuk menyelesaikan masalah. “Yaudah deh ngalah. Yukari sini.” Dengan ketidak ikhlasan putri terpaksa memilih yukari masuk ke dalam kelompoknya.


Akhirnya permasalahan selesai dan pembagian kelompok juga selesai waktunya untuk laporan. “Permisi bu. Sudah selesai.” Ucap rara.


"Sudah. Oke, bawa alat perlengkapan tulis kalian. Lalu kita pergi ke halaman sekolah." Ajak bu heni berjalan keluar kelas. Kelompok yang telah ditentukan kembali ke tempat duduk masing – masing untuk mengambil alat tulis lalu bersama – sama ke halaman sekolah. "Duduk bersama kelompok masing – masing ya, Kelompok putri di sana, kelompok gina di sana. Dimana terserah kalian yang penting jaga jarak dengan kelompok lain. Oke."


“Oke bu.”


Setelah lima kelompok sudah duduk di bawah membentuk lingkaran. Bu heni menerangkan apa yang harus murid kerjakan. “Nah. Yang kalian lakukan adalah hanya menempelkan daun saja di buku tulis. Jadi, contohnya daun melengkung tempel di buku, daun menjari tempel, dan seterusnya. Untuk nama jenis tumbuhan tentunya ditulis dan akar tumbuhan kalian hanya kumpulkan saja tidak perlu di tempelkan. Okey...”


“Oke bu...” Balas murid dengan kompak.


"Silahkan kerjakan.” Kemudian bu heni kembali masuk ke kelas membiarkan muridnya belajar mandiri.


Kelompok belajar mulai berunding tugas yang di berikan tentang jenis – jenis tanaman, daun, dan akar di sekitar halaman sekolah. Kemudian tiap – tiap anggota kelompok berpencar untuk mencari jenis tanaman yang telah ditugaskan, berbeda dari ketua kelompok hanya duduk ditempat membaca buku tentang tanaman dan juga yang akan mengatur segalanya jika pembagian tugas terkumpul menjadi satu.


"Daun menyirip..." Salah satu anggota kelompok berdiri di bawah pohon mangga, mencocokkan daun mangga dengan penjelasan di bukunya. "Ha! Cocok." Kemudian dia memetik selembar daun mangga dan membawanya ke kelompoknya.


“Daun melengkung...” Salah satu dari kelompok lain berdiri di depan tanaman sirih sambil mengamati ciri – ciri daun tersebut yang menjalar ke batang pohon besar. “Sama!” Dengan senangnya mendapatkan daun yang diinginkan maka ia memetiknya hanya selembar daun. “Tapi ini daun apa ya?” Dengan rasa ingin tahu ia mengendus daun tersebut. “Uweeek... bau.” Ia langsung menjauhkan daunnya dari pandangannya dan membawa ke kelompoknya.

__ADS_1


Berbeda lagi dengan dua cewek dari kelompok putri. Helda dan reina sibuk mengidentifikasi tumbuhan – tumbuhan di depan mereka dengan menyesuaikan buku pelajarannya. “Ini benar nih. Jenis daun sejajar, tapi ini gede banget untuk di tempel.” Yaitu tumbuhan pandan. “Helda sini deh.” Panggil reina ketika helda sibuk mencari daun melengkung.


“Ha dapat!” Helda sudah mendapatkan jenis daun melengkung, lalu ia memetik selembar daun sirih. Setelah itu menghampiri reina.


“Lihat deh. Ini daun sejajar kan, tapi ini gede banget.” Tanya reina sambil menunjuk tumbuhan pandan.


Helda berpikir sejenak mencari solusi untuk mendapatkan daun sejajar lebih kecil. Secara tidak sengaja matanya tertuju pada rumput liar. “Ha, aku tahu. Kenapa tidak ini saja.” Helda mencabut daun rumput liar dalam jumlah banyak. "Lihat, sama kan. Hanya saja itu besar dan yang ini kecil.” Dengan polosnya reina hanya mengangguk paham. Lalu kembali ke kelompoknya seperti anak kecil berlari sambil bergandengan tangan.


Sesampainya. “Gimana kalian sudah dapat?" Tanya putri selaku ketua kelompok.


“Aku dapat daun sirih.” Balas helda.


“Kalo daun sejajar seperti ini boleh ga?” Tanya reina menunjukkan daun yang ia dapatkan.


Putri melihat daun rumput dari tangan reina lalu mengambilnya. "Ya, tidak apa – apa. Waktunya hampir habis." Segera putri menempel daun melengkung dan daun sejajar ke buku catatannya. Anggotanya hanya memperhatikan putri sedang menempelkan dengan rapi dan hati – hati menggunakan solatip bening.


“Apakah semuanya sudah lengkap?” Tanya salah satu anggotanya.


“Tinggal satu. Akar serabut. Dari tadi gue tungguin tuh orang gak kemari – mari.” Balas putri.


“Siapa?”


“Yukari.” Balas putri.


“Astaga tuh anak.” Dengan bergegasnya ia menyusuri yukari. Ternyata yukari masih sibuk mencari akar serabut diantara tumbuhan – tumbuhan. “Yukari. Sudah dapat belum?” Tanyanya dengan ekspresi kesal.


“Belum.” Balas yukari dengan wajah polosnya.


"Memangnya kamu tahu akar serabut seperti apa?" Yukari menggelengkan kepalanya dengan polos. "Ampun deh." Frontal ia menepuk dahinya. "Gampang banget tau. Kamu tinggal cabut rumput ini." Keluarlah akar serabut dari tanah. "Gampangkan. Ini namanya akar serabut." Ekspresi yukari hanya diam menatap akar itu. Ternyata itu sangat mudah dari yang ia kira. "Bodoamat dah." Sesudah itu kembali lah mereka ke kelompoknya untuk melengkapi tumbuhan yang sudah di tentukan.


Waktu pelajaran ilmu pengetahuan alam selesai. Semua murid masuk ke kelas dan menunggu penilaian, tetapi di dalam kelas tidak ada bu heni. Sambil menunggu bu heni masuk, yang tadinya sepi, kelas menjadi berisik. Ada yang saling mengobrol satu sama lain, ada juga berpindah – pindah tempat. Melihat sekelilingnya ngobrol yukari hanya duduk diam di kursinya, memang dengan siapa dia akan berbicara, semua menjauh darinya bahkan teman sebangkunya saja tidak mengajaknya bermain. “Eh, semuanya dengar.” Cowok bernama patrick mulai menghebohkan suasana dan berjalan ke area meja yukari. “Kari, kari apa ada dua?” Tanyanya dengan pertanyaan teka – teki.


“Kari, kari apa ada dua?”


“Kari ada dua?”


“Kari apa?”


Semua temannya bingung dengan teka – teki patrick. “Nyerah dah nyerah.”


“Menyerah...?” Tanyanya. Teman – temannya menganggukkan kepala. “Oke. Dengar ya.” Sebelum menjawab patrick mendekati yukari. Dia mulai menggodanya. “Kari kedua... pada yang sama...” Sambil memegang rambut yukari, tapi dengan kejijikan bahkan pada bajunya juga. "Ih." Seolah - olah sangat gemes pada yukari, dalam arti yukari berbeda dari yang lain. Satu kelas pun menertawakan tingkah kocaknya. Itu adalah lirik lagu dari artis penyanyi terkenal bernama raisa yang sengaja mengejek atau mempermalukan yukari bukan untuk menggodanya. Yukari hanya diam di bangkunya dengan sikap teman – temannya. “Ssst. Ada lagi guys." Kelas kembali hening. "Kari, kari apa yang menolak?”


“Apa?”


“Ya, kari gue suka sama lu! Hahahahahah!” Ejeknya lagi membuat satu kelas tertawa senang. Itu benar – benar penghinaan untuk harga diri yukari. Dirinya selalu di buat lelucon, candaan atau ejekan oleh teman – temannya.


Sekilas terlihat dari pintu bu heni berjalan menuju kelas, semua langsung kembali ke tempat duduk masing – masing tanpa meninggalkan suara gaduhan antara meja dan kursi. “Sudah selesai semua? Maaf ibu ada keperluan sebentar.”


“Sudah bu...”


“Oke kita bahas sama – sama ya hasil kerja kelompok kalian. Silahkan pindah duduk dengan kelompoknya masing – masing.” Ujar bu heni.


“Ia bu.” Mulailah berpindah tempat dengan kelompok masing – masing untuk melakukan pembahasan hasil kerja kelompok tadi. Semua sudah duduk pada tempatnya, tetapi yukari duduk sendiri paling belakang pojok walaupun sesuai dengan kelompoknya.

__ADS_1


Begitulah gambaran perlakukan teman – temannya pada yukari di sekolah. Dimanfaatkan, dikucilkan, dijauhkan. Terkadang bingung jika dipikirkan. Sebenarnya apa yang membuat mereka semena – mena merendahkan orang. Apakah yang yukari alami hanya terjadi pada orang yang lemah atau bodoh? ataukah hanya sebuah candaan saja? Diluar pertanyaan itu, bukan hanya yukari saja murid yang bodoh. Beberapa temannya juga lebih dari itu, termasuk patrick. Terkadang yukari juga diperlakukan seperti sampah, jijik untuk disentuh dan digosipkan memiliki wajah kasihan. Jadi, apa yang harus yukari lakukan? Dengan siapa ia harus mengeluh dan dengan siapa ia harus mengatakan semua tentang masalah di sekolahnya.


*End of Flashback* 


__ADS_2