
Semua anggota vlinder memiliki kisah masing-masing. Seperti terjadi pada oliv. Kisah oliv juga sangat menyedihkan. Dirinya yang cantik saja punya pengalaman buruk. Dari satu mulut ke seribu mulut. Dari satu orang menjadi ribuan orang. Banyak rumor mengatakan karena kecantikannya, cowok yang disukai oleh banyak perempuan lebih menyukai oliv. Maka dari itu oliv di juluki two face.
*Flashback*
Kelas oliv saat ini sedang pelajaran bahasa jepang. Pak hiroshi menulis di papan tulis dengan tulisan jepang. Siswanya tinggal menuliskan apa yang ada di papan tulis. Menit kemudian bel berbunyi pertanda waktu pembelajaran telah selesai dan waktunya siswa istirahat. Jadi, semua siswa keluar kelas menuju kantin sekolah. Sebelum itu seperti biasa untuk mengakhiri pelajaran pak hiroshi biasanya menyampaikan beberapa pesan untuk siswanya mengenai pelajarannya. “Sampai di sini pelajaran kita hari ini. Tugas yang saya berikan di depan tolong dikerjakan bukan individu. Jadi, saya tidak mau mendengar ada yang mengerjakan sendirian. Jawabannya bisa dicari dari internet dan jangan lupa dijabarkan secara jelas. Tugas ini akan saya masukkan ke dalam penilaian saya.” Jelas pak hiroshi panjang lebar dengan logat jepangnya ketika menggunakan bahasa indonesia. “Oke saya akhiri pelajaran hari ini. Konnichiwa.”
“Konnichiwa. O sewa ni nari dōmo arigatōgozaimashita.” Balas satu kelas. Lalu pak hiroshi keluar kelas.
Sebelum keluar kelas oliv merapihkan bukunya terlebih dulu. Naila serta teman – temannya menghampiri oliv. “Eh muka dua.” Sambil mencolek bahunya. “Karena pak hiroshi milih gue satu kelompok dengan lu. Jadi, tugasnya lu yang ngerjain, karena gue gak sudi bekerja sama dengan muka dua seperti lu!” Puas melontarkan kekesalannya, naila dan kawan – kawannya pergi keluar kelas. Oliv melirik ke siswa lain yang masih ada di dalam kelas, tapi mereka memilih untuk diam, tidak peduli dan tidak mencampuri dalam urusan oliv. Memiliki sifat cuek, oliv juga tidak mau mempermasalahkan hal ini.
Sebelum ke kantin untuk mengisi perutnya, kebiasaan oliv adalah ke kamar mandi sesudah itu barulah dia ke kantin seorang diri. Sesampainya di kantin, oliv berjalan ke tempat pemilik nasi goreng dan memesan seporsi nasi goreng. Tiba – tiba seseorang mendekati oliv dan menyenggol lengannya, tanpa sepengetahuannya itu membuat oliv kaget. “Hai” Cowok itu bernama peter. Cowok terganteng di sekolah. Tidak heran cewek – cewek terpesona dengan kegantengannya termasuk naila, tapi hanya oliv cewek paling beruntung. Karena itulah naila sangat membenci oliv. Peter menyukai oliv tapi oliv tidak menyukai kepribadiannya, di posisi lain naila sangat menyukai peter, tapi peter tidak merespon cintanya. Oliv tidak merespon sapaan peter, justru dia mendongak kepalanya ke belakang mengintip naila ada di ujung sana duduk bersama teman – temannya sedang menatap ke arahnya dengan tatapan marah. Oliv menghembuskan napas. Pertanda masalah datang lagi. Mengapa ini terus terjadi padanya.
Semangkok nasi goreng sudah jadi oliv duduk di kursi yang masih kosong. Begitu juga peter mengikutinya duduk di hadapannya dan memberikan segelas minuman untuk oliv. Peter hanya memerhatikan oliv sedang makan, saat oliv sedang makan peter selalu berkata "Cantik" Tetapi oliv sedikitpun tidak pernah tersipu dengan gombalannya itu, dia hanya menikmati makanannya sesekali melirik ke naila. Dilihat dari wajahnya, naila sudah marah, cemburu, bahkan kesal sampai – sampai dia mengepal tangannya sendiri. Di dalam hati oliv juga merasa kesal dan risih terhadap tingkah peter. Terkadang oliv dapat masalah hanya kerena kesalahpahaman, di kira oliv terlalu genit pada peter, padahal sebaliknya.
“Peter. Pergi dari hadapan gue sekarang.” Kesal oliv dengan suara bisiknya.
“Tidak bisa.” Balas peter dengan santainya.
“Gue yang pergi atau lu yang pergi?" Tanya oliv geram.
Dilihat dari matanya, oliv sangat serius dengan pertanyaannya. "Baik." Akhirnya peter memilih untuk pergi. Kemudian dia bangkit dari kursinya. Baru saja peter mengangkat pantatnya, dia kembali duduk. "Tidak bisa." Oliv tercengang akan hal itu. Oke, jika peter tidak memilih untuk pergi. Sebaiknya oliv yang akan pergi dari hadapannya meskipun dia hanya makan beberapa sendok. Menurut peter tingkah oliv itu sangat menggemaskan, dia tidak bisa jauh darinya. Dia selalu mengikuti kemana oliv pergi. Kejadian itu banyak yang memperhatikan oliv dan peter, ditambah lagi kecemburuan naila sudah memanas.
__ADS_1
“Uh... Manis banget sih mereka. Kaya di film – film drakor aja. Cinta di sekolah.”
“Oliv beruntung banget, dapat kakak kelas terganteng di sekolah.”
“Tapi menurut gue ya. Mereka berdua tuh cocok. Oliv cantik dan peter juga ganteng. Kaya... Kim ji-won dan jin goo gitu, tapi ini versi terbalik. Di drakor kim ji-won yang ngejar – ngejar, versi lokal peter yang ngejar – ngejar. Wah... So cute.” Sebagai teman seharusnya membantu temannya yang sedang cemburu, anehnya siva, sarah, tiara, dan dewi sengaja memanas – manasin hati naila yang sedang membara.
Naila menatap empat temannya dengan tatapan sinis, tetapi mereka hanya tersenyum seolah – olah tidak merasa bersalah. "Bacot!" Lalu pergi dari kantin.
Oliv membawa peter ke belakang sekolah tanpa sepengetahuan siswa lain dan langsung mendorong peter ke dinding. Memang sakit, tapi peter tidak marah padanya. Selain mendorongnya, oliv mencekik leher peter, tetapi tidak terlalu serius. “Lu.” Tidak marah atau semacamnya, peter malah tersenyum dan menggigit bibir bawahnya. Seolah ada kesenangan di hati melihat oliv begitu dekat.
Oliv terdiam, tidak tahu harus berkata apa lagi kepada peter. Ini sudah sekian kalinya ia menegur peter untuk tidak mendekatinya.
“Muka dua!”
“Lepasin gue. Gue mau cakar-cakar wajahnya!” Bentak naila. “Sini lu, sini!” Rasanya naila ingin menghancurkan wajah oliv yang cantik itu, tapi peter menahan tangannya sangat keras.
“Jangan pernah lu sentuh dia!” Bentak peter. Terjadilah pertengkaran. Untung saja tidak ada yang mendengar pertengkaran ini.
Naila sangat kesakitan peter menggenggam tangannya begitu keras. “Memangnya lu siapanya dia ha? Kenapa lu begitu tertarik pada oliv?"
“Kalau gue tanya balik. Memangnya lu siapanya gue? Melarang gue untuk mendekati oliv.” Naila terdiam. Tidak bisa berkata – kata lagi peter melontarkan pertanyaan seperti itu. Peter melepas tangannya dengan kasar dan mengajak oliv untuk pergi.
__ADS_1
Naila merasa cintanya bertepuk sebelah tangan, dia terdiam di tempat. Wajahnya pemarah itu berubah menjadi sedih. Hatinya sangat sakit. Cowok yang selama ini dia sukai, ternyata tidak memiliki rasa yang sama, bahkan peter tidak melihat betapa cemburunya kalau peter mendekati cewek lain. “Karena gue suka dengan lu peter.”
Sudah siang. Waktunya pulang sekolah. Selain menguntit oliv, peter juga selalu berdiri di tangga lantai dua menunggu oliv untuk pulang bersama.
Sambil melepas dasi dan mengeluarkan seragam dari dalam rok padahal masih di sekolah naila menuruni anak tangga dengan santainya, dia sudah tahu peter akan berdiri menunggu oliv untuk pulang bersama. Semenjak perkataan peter yang kasar itu naila menjadi cuek untuk tidak mendekati peter seperti biasanya. Ketika terakhir menuruni anak tangga dan melewati peter, naila terhenti lalu berjalan mundur dan berhenti tepat di samping peter dengan pandangan lurus ke depan. “Muka dua sudah pulang.” Cetusnya.
“Siapa?”
Dengan berat hati naila mengulang kembali. “Oliv sudah pulang. Kalau lu tidak percaya lihat saja ke atas.”
Peter menatapnya sinis memastikan kalau naila tidak berbohong kali ini. “Jika lu menyebut namanya dengan julukan muka dua. Gue gak akan segan – segan mempermalukan lu di depan banyak orang.” Dengan wajah serius peter pergi dari hadapan naila.
Naila mencengkeram kedua tangannya. Semua tentang oliv, selalu tentang oliv. Dengan kesal dan kemarahan yang tak tertahankan lagi, dia kembali ke tempat kelasnya berada, lebih tepatnya bertemu teman – temannya yang sadang bersembunyi di atas atau lantai tiga. Hanya beberapa siswa saja masih berkeliaran di koridor sekolah dan tidak ada yang melihat oliv sedang disekap. “Lewat belakang, lewat belakang, dia sudah pulang, buru – buru.” Ucap naila kepada keempat temannya dan membawa oliv ke suatu tempat. Kemudian oliv berhasil dibawa kabur.
Sampai diluar sekolah lewat pintu belakang karena tidak ada yang pernah melewati pintu itu. Di tempat yang sama saat pertengkaran antara peter dan naila. Naila mendorong oliv ke tembok hingga jatuh. Oliv pun meringis kesakitan. Lalu naila meminta gunting pada temannya. Mulailah naila memberi aba-aba untuk menahan kedua tangan dan kedua kaki oliv serta wajahnya agar oliv bisa diam ketika naila memotong rambut oliv. “Ini lah akibatnya lu bikin malu gue di depan peter. Sudah berapa kali gue peringatkan, sekali lagi lu melakukan, gue tidak akan segan – segan melakukan sesuatu kasar terhadap lu.” Naila terus memotong rambut oliv tidak beraturan hingga pendek. Sementara oliv terus berjuang untuk lepas dari genggaman mereka. “Persetanan dengan teman kelas, gue benci banget dengan orang yang bermuka dua. Muka polos, tapi ternyata busuk. Menikung teman dari belakang. *****!” Puas memotong rambut oliv, naila kembali berdiri lalu menebar – nebarkan potongan rambut oliv dengan ekspresi kesenangan. “Bangun guys. Kita selesai.” Teman – temannya pun bangun dan berdiri di sisi naila. “Dengar ya. Ini belum seberapa dengan malunya gue di perlakukan oleh peter.” Lalu pergi meninggalkan oliv tergeletak di tanah yang sudah tidak berdaya. Baju dan roknya menjadi kotor. Rambut indahnya sudah habis terpotong dengan tidak beraturan. Oliv menangis sejadi – jadinya sambil memungut rambutnya yang berserakan. Dia juga tersungkur dan berteriak sekencang – kencangnya untuk melampiaskan kemarahannya. Perlakuan teman – temannya membuat dirinya menderita dan sakit hati. Hanya karena salah paham, hanya karena laki – laki. Oliv menjadi korban.
*End of Flashback*
Oliv berusaha menahan diri agar tidak larut dalam kesedihan. Sesekali mendongak untuk menahan air matanya yang terus keluar. “Lu itu salah menyukai orang. Lu seharusnya bersyukur, peter menyukai gue. Kenapa? Karena dia cowok tidak sesuai ekspektasi. Peter itu cowok playboy, ada banyak cewek di luar sana selain dia merayu gue. Bahkan teman lu sendiri sudah tau tentang itu.” Jelas oliv pada naila. “Mereka sengaja menyembunyikan agar lu dipermalukan dan terus mengejar peter yang bukan sebuah harapan. Sayangnya lu keliru menjuluki teman sekelas lu sendiri. Seharusnya bermuka dua bukan gue melainkan empat sahabat lo itu!” Mulut naila melebar, dia benar – benar sangat terkejut. “Karena itu gue tidak ada setitik! pun menyukai cowok brengsek seperti dia. Gue rasa lu harus banyak belajar. Jangan tertarik pada ketampanannya saja, lu juga harus tau bagaimana kepribadian peter sebagai sosok laki – laki.”
Naila tak tahu harus berkata apa jika itu adalah sebuah kebenaran yang dikatakan oliv. “Kenapa, kenapa lu tidak bilang soal ini sebelumnya?”
__ADS_1
Oliv terkekeh. “Teman – teman lu sendiri aja yang selalu menghalangi gue, bahkan mereka segala mengancam gue. Mereka tuh sengaja agar kita berdua terlihat seperti orang bodoh.” Tidak bisa berkata – kata lagi dengan kejujuran oliv. Jadi, selama ini naila salah menilai oliv dan membela yang salah. “Saat lu memotong rambut gue. Disitu gue sudah menyerah. Gue sudah tidak kuat lagi terus bersabar. Kejahatan kalian selalu mengganggu mental gue. Perlu kalian ketahui, itu akan membuat orang depresi dan membentuk sebuah keinginan untuk mengakhiri hidup."