VLINDER

VLINDER
Yukari p.1


__ADS_3

Delapan tahun yang lalu. Saat itu, yukari berusia sepuluh tahun. Duduk di bangku di kelas empat. Sebelum berangkat ke sekolah seperti biasa, yukari berpamitan kepada ibunya dengan wajah bersemangat seperti murid lainnya. Sebenarnya, jauh di lubuk hati. Yukari tidak ingin pergi ke sekolah, tetapi dia tidak punya alasan lain untuk bolos sekolah. Setiap masalah yukari harus bisa mengatasinya sendiri. Jadi, dia menutupi semua masalah dari ibunya. Karena sekolahnya hanya beberapa kilometer jauhnya, ia berjalan kaki tanpa perlu diantar. Saat tiba di sekolah datang dari belakang kantin, sudah ada banyak adek kelas dan kakak kelas bermain di lapangan sebelum bel berbunyi, tetapi yukari menuju ke kelasnya lalu duduk di bangkunya. Meskipun yukari memiliki teman sebangku, temannya tidak merasakan kehadirannya. Hal-hal seperti itu sudah terbiasa baginya. Beberapa menit kemudian, bel akhirnya berbunyi.


Semua siswa diwajibkan untuk masuk ke kelas tanpa kecuali, kecuali mereka yang terlambat. Masing-masing guru wali kelas masuk untuk memulai pelajaran. Hari ini kelas empat dibimbing oleh seorang guru bernama pak adi. Beliau adalah guru olahraga yang sudah siap untuk mulai pelajarannya. "Selamat pagi anak – anak." Sapanya.


“Pagi pak adi.” Balas murid dengan serempak.


“Kalian bawa baju olahraga?”


“Bawa...!”


“Yaudah bapak tunggu di lapangan. Waktu kalian hanya sepuluh menit dari sekarang.”


Tanpa bertele – tele lagi murid segera mengambil pakaian olahraga dari dalam tas masing – masing dan berlari menuju toilet untuk mengganti pakaian. Mulai satu per satu ke luar kelas seperti berlomba – lomba siapa sampai berarti dia menggunakan toilet terlebih dahulu.


Terjadilah antrian di depan toilet. Yukari dapat berbaris di belakang nomor tiga. Sambil menunggu antrian untuk menggunakan toilet, depan dan belakang yukari sedang membahas suatu topik, tetapi yukari hanya berdiri diam sambil memegang pakaian olahraganya dan matanya melihat luasnya lapangan sekolah. Sedikit demi sedikit antriannya mulai berkurang. Mereka yang telah mengganti pakaian, segera menuju lapangan. “Reni, reina. Kita berempat ganti baju sama – sama yuk. Biar cepat.” Ajak chika kepada dua orang di belakang yukari.


“Oh yaudah, ia biar cepat. Soalnya kan di kasih waktu cuma sepuluh menit.” Balas reina. Lalu berpindah barisan bergabung dengan chika dan mika.


Padahal di tengah – tengah mereka ada yukari. Yukari terasa tersendiri. “Hmmm... teman – teman aku ikut ya?” Pintanya.


Reni, reina, chika, dan mika menoleh ke belakang dan saling melirik seakan ragu untuk menjawab. "Maaf, yukari. Tidak akan muat lagi jika kita berlima ganti baju di kamar mandi." Balas chika. Setelah pergantian selanjutnya selesai, barulah mereka berempat masuk ke toilet meninggalkan yukari di depan pintu sendirian. Yukari hanya bisa menerima jika itu yang di katakan temannya.


Di lapangan sudah berkumpul sambil bermain dan menunggu yang masih ada ganti baju. Yukari merasa tidak nyaman beberapa temannya di lapangan memandanginya yang masih menunggu antrian karena waktu yang di berikan pak adi telah habis. Akhirnya chika, reni, reina dan mika keluar dari toilet, dengan begitu yukari langsung masuk dan cepat – cepat menggantikan pakaiannya sebelum olahraga dimulai. Dia membuka kancing seragamnya satu per satu dan membuka ritsleting roknya untuk mengenakan baju dan celana olahraga. Setelah itu dia merapihkan pakaiannya yang tergeletak di lantai, tetapi sebelum keluar yukari diam sejenak. Memikirkan apakah benar toilet ini benar sempit untuk lima orang, dia pun memisalkan dirinya berdiri di tiap – tiap jika teman – temannya bergabung dengannya. Ternyata perkiraan itu salah. Toilet ini masih cukup untuk lima orang bahkan tujuh orang. Yukari menghela nafasnya, daripada di bawa pusing lebih baik ia segera keluar.


Ketika keluar dari toilet pemanasan sudah dimulai. Yukari berlari melewati tiga kelas ke kelasnya untuk menyimpan seragamnya setelah itu berbaris bersama dengan yang lain. Yukari kebingungan untuk berbaris, karena membentuk satu baris empat orang sudah pas. Ia pun terpaksa membentuk barisan tersendiri dan mengikuti gerakan pemanasan yang diajarkan oleh pak adi.


Pemanasan pertama telah terlewatkan, sekarang pemanasan kedua adalah menundukkan kepala dengan menekan bagian belakang kepala menggunakan kedua tangan sambil menghitung bersama. "1,2,3,4,5,6,7,8." 


“Sekarang ganti. Angkat kepala ke atas. Hitung bersama-sama. 1~” Ujar pak adi.

__ADS_1


“1,2,3,4,5,6,7,8.”


“Menoleh ke kanan dan ke kiri. 1~”


“1,2,3,4,5,6,7,8.” 


“Patahkan leher ke kiri dan ke kanan. 1~”


“1,2,3,4,5,6,7,8.”


“Terakhir. Loncat lima kali!”


“1,2,3,4.”


“Teriak aa!”


“Oke. Pemanasan selesai. Sekarang berkumpul.” Murid kelas empat berkumpul mengerumuni pak adi. “Hari ini perempuan bermain basket dan dibagi menjadi dua tim, sedangkan laki – laki boleh istirahat, tapi... tidak boleh jajan.” Perintahnya.


“Yah...”


“Haus pak.” Ucap salah satu kaum adam.


“Makanya bawa air minum dari rumah.” Balas pak adi. “Oke. Perempuan ada berapa, ketua kelas?”


“Ada dua puluh pak.” Balas chika.


“Oke. Dua puluh di bagi dua, jadi sepuluh – sepuluh ya. Sepuluh sebelah kanan, sepuluh sebelah kiri. Sekarang.” Pak adi memerintah muridnya membagi menjadi dua tim untuk duel olahraga basket tanpa harus banyak bicara.


Mulailah membagi kelompok. Ada yang menginginkan satu tim dan ada juga kekurangan anggota tim. “Eh, eh, sebelah sini, kekurangan satu orang lagi. Yukari kamu sudah dapat tim belum?” Tanya chika dengan raut wajah kesal. Yukari menggelengkan kepalanya dengan polosnya. “Sini. Gimana sih.” Ajaknya dengan menarik tangan yukari untuk masuk ke dalam timnya.

__ADS_1


Pembagian kedua tim selesai dan berdiri di posisi masing – masing. Pak adi akan memulai permainannya. Dia berdiri di tengah – tengah antara dua tim sambil memegang bola basket di tangan kirinya. “Perwakilan dari masing – masing tim maju." Salah satu tim chika maju yaitu dirinya sendiri dan salah satu perwakilan tim lawan bernama adel.


Bersiap – siap duel tim untuk merebut bola. Pak adi memulai aba – abanya dengan melemparkan bola basket ke atas. Chika dan adel melompat ke atas untuk meraih bola dan orang yang berhasil mencapainya adalah chika, dia langsung mendrible bola basket ke tempat lawan untuk memasukkan bola ke dalam ring lawan. "Chika, chika! oper!" Kata dua, tiga timnya sambil melambai tangan, tetapi bola itu tidak dioper juga. Chika memaksakan diri untuk mencoba memasukkan bola basket ke ring lawan. Ternyata usahanya tidak masuk. Bola tersebut keluar dari garis lapangan. Padahal timnya menunggu agar bolanya di oper. Jika, bola itu dioper, bola bisa masuk dari jarak dekat, jika itu terjadi. Timnya berkecil hati, tim lawan merasa senang.


Ini baru permulaan. Pertandingan masih berlanjut. Waktu masih banyak untuk mendapatkan poin. Sekarang lemparan bola basket dari anggota lawan. Lawan melempar bola ke temannya dan temannya langsung berlari sambil mendrible bola basket ke kawasan tim chika. Tim chika tidak mungkin hanya diam saja, mereka berusaha merebut bola dari tangan lawan. Karena tim lawan saling mengoper, sedikit sulit untuk menggapainya. Ketika bola basket berhasil terlempar ke ring dalam jarak dekat. Lemparannya tidak masuk. Bola tersebut terpantul. Dengan sigap salah satu tim chika berbadan tinggi dan memiliki kaki yang panjang langsung merebut dan mendrible bola basket ke area lawan dengan gerakan zig – zag. Belum mendekati ring lawan, dirinya sudah di kepung, tanpa berpikir panjang dia melempar bola ke depan daripada bola berhasil direbut lagi. Bola basket hasil lemparannya terlalu kencang membuat semuanya menghindar, takut jika terkena bola basket, tetapi yukari ada di sekitar itu mencoba menangkap bola walaupun sangat ketakutan juga, keberaniannya itu pun berhasil dia tangkap dan langsung memasukkan bola ke dalam ring lawan. Hasilnya... masuk! Timnya bersorak kegirangan dan saling berpelukan dengan perasaan senang bisa mendapatkan skor pertama. Namun, perayaan itu tidak pada yukari padahal yang memasukkan bola ke ring lawan adalah dirinya, karena berkat dia, timnya bisa mendapatkan satu skor.


Seiring berjalannya waktu. Permainan masih berlanjut. Dua tim semakin meningkat mendapatkan skor, karena matahari menerangi lapangan, beberapa anggota dari kedua tim pemain berkurang, sudah sangat lelah sehingga mereka beristirahat sambil menonton pertandingan yang masih berlanjut.


Pukul 08.30, pak adi meniup peluitnya yang artinya pertandingan usai. Tim chika bersorak kegirangan karena tim mereka lah memenangkan pertandingan ini. Kemudian berkumpul mengerumuni pak adi. "Tim siapa yang menang?" Tanya pak adi.


“Tim kami!” Sorak serempak tim chika.


“Banding berapa?”


“3 banding 2.” Balas chika.


"Oh. Bagus... Sekarang saatnya kalian boleh istirahat. Bagi cowok – cowok mari berkumpul, ayo.” Pinta pak adi. Apa yang diberikan waktu untuk istirahat kaum hawa menggunakannya dengan baik. Mereka pergi ke kantin untuk membeli minuman dan makanan.


Berbeda dengan yukari, dia melangkahkan kakinya menuju kelas. Di kelas, yukari mengambil kotak bekal miliknya di kolong meja dan tidak lupa botol minum di saku tasnya. Kemudian meninggalkan kelas dan duduk di lantai di depan kelas untuk makan siang sambil menonton kaum adam yang sedang bermain bola tendang. Hari ini yukari membawa lauk telur dan sup bening, dia memakannya tanpa seorang teman yang mau makan bersamanya. Teman – temannya berkumpul membentuk kelompok atau geng sambil berbicara tentang apa yang mereka diskusikan. Dari dulu yukari memang tidak memiliki teman, tapi itu normal baginya untuk selalu sendirian.


Sembari mengunyah makanan, sembari yukari membuat burung mainan dari selembar kertas origami yang ia ambil ketika mengambil kotak bekal. "Yukari. Kamu bisa membuatnya?" Tiba-tiba salah satu geng bernama gina, berjarak lima meter darinya, melihat yukari dapat membentuk burung dari kertas origami. Suaranya itu membuat semua teman-temannya menoleh padanya dan membuat yukari gugup. Kemudian gina beranjak menuju kelas, yang dia lakukan adalah mengambil kertas origami miliknya dan duduk di depan yukari untuk meminta yukari mengajarinya cara membuat burung dari kertas origami. "Bagaimana pertamanya?" Yukari terdiam, tidak menyangka hal ini bisa terjadi. "Mm?" Yukari pun tersadar dari lamunannya lalu mengajarinya per tahap dari setiap lipatan. Agak rumit dan sulit, tetapi yukari mengajarinya dengan baik sampai akhirnya bentuk burung berhasil dengan sempurna. Meski hanya satu kali mengajari gina, gina ingin mencoba melakukannya sendiri. Ini adalah sejarah bagi yukari, senang bisa mengajarkan sesuatu kepada temannya yang selama ini mereka menjauh dengan alasan tertentu.


Gina terlihat serius membuat burung sampai-sampai dia kebingungan lipatan apa lagi selanjutnya. "Setelah ini apa lagi ya?" Yukari mengajarinya lagi dengan sukacita. "Oh... Astaga, aku lupa." Gina mencoba lagi secara menyeluruh sampai akhirnya dia pun berhasil. "Yeay."


Sangat penasaran, teman sekumpulan nya datang dan duduk di sebelah gina hanya untuk melihat apa yang sedang dilakukan olehnya. Sudah tiga burung origami di tambah satu di tangannya. Sepertinya gina sudah mulai mahir membuatnya. “Gina. Ganti baju yuk.” Ajak temannya. “Bentar lagi masuk.”


“Oh ayo.” Lalu geng gina pun bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya ke dalam kelas untuk mengambil baju seragamnya.


Saat gina dan teman – temannya sudah masuk ke dalam kelas. Yukari berkata. “Sama – sama.” Dengan senyuman paksa. Sudah di bantu tapi gina tidak ada mengucapkan terima kasih kepadanya. Lalu mereka keluar lagi dan menuju toilet. Sebelum yukari mengganti baju, ia menghabiskan makanannya terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2