VLINDER

VLINDER
Realita


__ADS_3

Yukari mengakhiri cerita tentang masa lalunya yang menyedihkan itu bahkan sempat meneteskan air matanya. "Dan akhirnya gue sadar, karena gue siswa paling bodoh di kelas, tidak bisa berbaur, jadi kalian seenaknya menyudutkan gue di kelas. Perlakuan kalian tuh terngiang – ngiang di otak gue! Jangan merasa hebat kalau tidak punya attitude baik. Badan hebat otak nol! Orang yang tidak peduli dengan rasa sakit orang lain pasti akan menerima hukumannya kelak."


"Itukah sebabnya lu melakukan semua ini?" Tanya gina. “Hei yukari. Itu sudah lama sekali. Justru lo dan teman – teman lo melakukan ini hanya untuk minta belas kasihan, artinya kalian merendahkan diri. Lagi pula semua sudah berlalu, untuk apa lo mengungkitnya lagi. Toh, yang malu kalian sendiri kan.” Jelasnya panjang lebar.


“Memori manusia tidak seperti kartu memori yang bisa dihapus. Kalian itu bermain dengan harga diri, lho. Harga diri orang lain yang kalian permalukan. Harga diri tidak boleh diremehkan. Harga diri adalah bagian sensitif dari diri manusia. Tidakkah kalian berfikir, banyak orang diluar sana bunuh diri hanya karena harga diri mereka dipermalukan. Tidakkah kita berfikir dewasa tentang hal itu. Belajarlah untuk melindungi perasaan orang lain. Jangan senangnya aja melakukan sesuka hati. That is the guardian of hell.”


Boy membuang muka dan terkekeh. “Berfikir dewasa kata lo?” Boy tertawa lebar. “Perlu kalian ketahui. Dari sini kita bisa lihat bahwa orang pendiam bisa saja lebih jahat dari yang kita kira.”


Alex sangat geram dengan ucapannya. "Apa maksud lo?!" Dan menatap boy dengan tatapan dingin.


Boy terlihat senang melihat alex mudah terbawa emosi. Boy memiliki karakter yang tidak pernah takut pada siapa pun. Dia akan menantang kembali dengan tatapan khas miliknya. “Semua manusia di bumi ini hidup dengan kemunafikan. Bahkan orang baik pun dapat bersikap manis di depan, tapi di belakang...” Boy memiringkan sedikit kepalanya. “Jadi, jangan berpikir lo tidak seperti itu." Perkataannya menyinggung tahanan lain, bahkan vlinder sendiri terdiam mendengarnya.


Sebagai teman sekelas, pasti sudah mengenal boy adalah sosok preman di sekolah, tapi belum ada yang mengetahui juga yang sebenarnya kecuali alex. Alex pun melangkahkan kakinya mendekati boy dan terjongkok di hadapannya. “Ya. Ya itu benar. Lu ingin tahu orang munafik seperti apa?” Lalu alex mengeluarkan hpnya dari saku jaketnya dan menyetel sebuah vidio yang berhasil dia rekam dengan volume full. Rekamannya adalah sekumpulan siswa sekolah yang sedang nongkrong di sebuah warung pinggir jalan.


Alex tidak sengaja saat pulang sekolah mendengar sebutan nama boy dari perbicangan mereka. Lalu dia rekam di balik tembok. “Sudah beberapa hari boy tidak sekolah. Masa orang seperti dia bisa di culik? Tertangkap begitu saja? Aneh sih menurut gue, masa penjahat tangkap penjahat.” Ucap cowok yang terjongkong di bawah sambil merokok dan sesekali mengisapnya, sedangkan teman – temannya duduk di kursi kayu panjang. Saat itu posisi boy sudah tertangkap oleh kelompok vlinder.

__ADS_1


Salah satu temannya tertawa kecil. “Haha. Kalau ngomong ada benarnya lu. Ngapain kita cari orang seperti dia. Memangnya apa gunanya dia ada di geng kita. Mau berkuasa, mau seenaknya memerintah kita. Justru tidak ada dia disini kita senang malah. Benar gak guys. Itulah akibatnya mencari masalah dengan orang lain.”


“Yoi.”


“Yap.”


“Benar sekali.”


“Bebas woi.”


“Benar juga sih.. Gue juga kesal jika dia ada disini. Ngatur.”


Vidio tersebut terpampang di depan muka boy. Seperti Itulah hasil rekaman vidio yang alex dapat. Alex sangat senang bisa merekam identitas tersembunyi dari kumpulan boy yang terpendam. Jadi, suatu hari nanti alex bisa menunjukan vidio ini. Dan tanggapan mengenai vidio itu boy tidak bisa membalas. Tanpa diduga ternyata di belakang teman – temannya tidak memperdulikan dirinya saat ini. Mereka merasa sangat senang tanpa ada boy hadir di tengah – tengah mereka. “Inilah maksud lu kemunafikan yang lu katakan barusan. Ya... itulah mereka. Didepan manis di belakang..., wow, apa tanggapan lu soal ini. Lu dengan teman – teman lu selalu nongkrong bareng, jalan bareng dan apapun itu selalu bareng. Apakah ini di namakan solid? Kurasa tidak, karena lu selalu menjadi beban buat mereka.” Penjelasan selesai. Sebelum berdiri, alex menepok – nepok bahu boy. “Pikirkan itu baik – baik.” Lalu ia kembali bergabung dengan teman – temannya.


Bukan hanya boy saja yang tidak bisa berkutik. Tanggapan tahanan lain juga tidak bisa berkomentar mengenai video yang baru saja mereka dengar.

__ADS_1


Tiba – tiba bunga menyadari satu hal, dia menoleh ke kirinya terdapat dua temannya yaitu naomi dan indah dengan memasang wajah cemas, dia berpikir apakah dua temannya akan melakukan hal yang sama seperti teman – temannya boy seandainya mereka berdua tidak menjadi tahanan. "Apa? lu menganggap gue juga sama seperti mereka?" Tanya naomi. Bunga hanya menggeleng lugu.


Setelah mengetahui semua kebenaran, boy jadi terus memikirkan mengenai vidio tadi, dia menundukkan kepalanya dan merenung. Sekarang apa yang akan boy lakukan terhadap teman – temannya jika dia di pertemukan kembali. Apakah harus menghajarnya atau akan berpura – pura nantinya. Elex meliriknya dengan senyuman menyeringai.


Tidak terasa yukari berdiri cukup lama. Tubuhnya yang lemah itu tidak lagi cukup kuat untuk berdiri. Akhirnya dia memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya, dia berbalik dan menyerahkan sisanya kepada teman – temannya. Teman – temannya menahan diri untuk mengabaikan yukari, sebenarnya ada rasa peka terhadapnya, akan tetapi mereka mengikuti apa yang sudah di perintahkan.


"Yukari." Panggil chika tiba – tiba. Yukari berhenti lalu perlahan kepalanya menoleh setengah. "Seburuk apapun manusia. Masih bisa diperbaiki. Ia kan?" Sambungnya lagi, tetapi yukari mengabaikan ucapannya dan melanjutkan untuk merebahkan tubuhnya tanpa alas. "Hai kalian." Panggil chika ke sebelas anggota vlinder. "Bagaimana kalian bisa mengenal yukari?"


Diam sejenak, mirai pun angkat bicara dengan tatapan mata tanpa tujuan. “Pertemuan itu terjadi ketika dia melihat kami menderita! karena kalian.”


Chika mengangkat sebelah alisnya. “Ma-maksudnya?”


“Awal mulanya gue bertemu dengannya,” Sambung oliv. “jika tidak ada kak yukari saat itu. Mungkin.. gue tidak berdiri di hadapan kalian, atau orangtua gue sedang berduka.”


“Memangnya apa yang lu lakukan saat itu?” Tanya naila sebagai teman sekelasnya.

__ADS_1


Dengan cepat oliv membalas. "Bunuh diri!" Naila tercengang mendengarnya. "Gue pikir. Mungkin dengan cara seperti itu gue bebas dari penderitaan. Gue gak peduli itu dosa, gak peduli surga tidak akan menerima gue nantinya, yang gue inginkan, gue bisa hidup damai dari orang – orang seperti kalian! Gue tidak bisa, gue tidak bisa mengubur semua perbuatan kalian!" Oliv menangis sambil memegangi dadanya, dia menunjukkan bahwa dirinya benar – benar sakit. "Tubuh gue, tubuh gue memang kuat, tapi hati gue--" Tak kuasa menahan air mata, oliv menundukkan kepalanya. "Gue tidak bisa terus tersenyum kepada dunia bahwa gue baik – baik saja." Kemudian oliv mengangkat kepalanya kembali. "Gue punya harga diri kali! Gue juga punya rasa malu! Tolong... jangan menyiksa perasaan orang lain! Dengar lah penjelasan orang sebelum menghakimi. Jangan menyebarkan rumor kalau bukan faktanya." Oliv terus saja menangis, tidak peduli wajahnya yang cantik itu dipenuhi air mata, oliv telah menahan rasa sakit ini sejak lama dan ini waktu yang tepat untuk melontarkan semua unek – uneknya. Bahkan hazel dan temari merasakan apa yang oliv rasakan. Mereka berdua juga meneteskan air mata. Namun, tetap berdiri tegar.


__ADS_2