
Tahanan sudah bebas dari ikatan – ikatan yang mengikat kedua tangan dan kaki mereka. Sekarang mereka berdiri membentuk setengah lingkaran di depan kamera yang terhubung ke proyektor polisi untuk mengungkapkan kesalahan mereka. Siapa lagi kalau bukan perbuatan galen yang memiliki kemampuan luar biasanya, sedangkan devin, marco, luffy, alex, elvan, alvaro berdiri di belakang kamera yang akan mendengarkan sebuah kejujuran yang diungkapkan oleh tahanan itu. Disisi lain hazel, temari, mirai dan oliv memeriksa kondisi yukari yang terbaring lemah.
“Ayah.” Mewakili dari para pembully, ben berdiri paling depan dengan kegugupan yang dia rasakan. Panggilan ben membuat ayahnya menoleh meskipun sekarang hanya berhadapan dibalik layar. “Kami semua disini. Kami baik – baik saja.” Sesekali ben menundukkan kepalanya karena malu. “Benar. Jadi, laki – laki keren saja tidak cukup kalau hanya jadi laki – laki berandalan. Jadinya seperti inilah aku, tidak, maksud ku, seperti inilah kami semua yang ada disini.” Jeda. “Seperti yang ayah lihat. Inilah hasil perbuatan kami yang mengakibatkan masalah besar.” Ben serta lain meneteskan air mata atas pengakuan yang terungkap. “Mengganggu hidup mereka, bahkan sampai membuatnya malu dan akhirnya berujung kematian. Karena siapa? Karena kami ayah! Karena kami semua! Kami membully teman kami sendiri! Mengambil duitnya! memperbudaknya, mengejeknya, mengancam, membuatnya malu, dan, dan...” Tak kuasa menahan, ben melepas tangisannya dengan kata – kata yang tak bisa dia ungkapkan lagi. Disinilah para orangtua mengetahui perilaku anaknya selama ini, hanya perasaan terkejut dan sedih yang bisa mereka rasakan sementara polisi sudah paham alasan terjadinya penculikan ini. Ben kembali menenangkan dirinya dan mengangkat wajahnya lurus ke kamera. “Jika ayah ingin menangkap siapa pelakunya, tangkaplah kami. Karena semuanya itu adalah kepuasan, kesenangan, kesengajaan yang kami lakukan. Kami bodoh ayah, pengecut, dan ya... lemah. Seperti yang ayah lihat, aku dan kami semua, berdiri di hadapan kalian, telah menyesali semuanya, perbuatan kami, perlakuan kami, dan, dia tidak salah, dia tidak salah.” Lalu menundukkan kepalanya lagi.
Kelompok vlinder terisak jika teringat kembali perlakuan mereka. Akhirnya semuanya itu telah berakhir dan pembully itu membuktikan penyesalannya.
“Mah, ded. Jika kalian di sana,” Sambung bunga matanya sudah berkaca – kaca. “Ini bukan sebuah kebohongan atau main – main yang kami sampaikan. Ini pengakuan dan kejujuran atas kenakalanku.” Bunga mengontrol tangisannya agar terdengar jelas saat berbicara. Sangat malu sebenarnya berkata jujur kepada orangtunya yang terhormat itu. “Ya, inilah sifat bunga. Bunga membully teman bunga sendiri....” Disinilah tangisan bunga pecah. “Bunga sangat malu. Seharusnya bunga mengerti bagaimana itu sangat menyakitkan,” Bunga menangis sampai terengah – engah. “tapi bunga.. sendiri yang jadi aib.” Dari semua orangtua, hanya orangtua bunga yang tidak merasakan kesedihan dengan anaknya, justru mereka ingin memarahi bunga jika bertemu nanti. Karena sudah membuat kedua orangtuanya terbilang terhormat menjadi malu akibat perbuatannya.
Kasus ini dapat dikatakan sebagai peringatan apa yang tidak boleh dilakukan apalagi bagian dari pribadi seseorang. Merendahkan orang harus lah melihat dirinya sendiri terlebih dahulu. Lakukan apa yang harus dilakukan, tetapi dengan tidak menyakiti perasaan orang lain. Terima kesalahan dan lakukan kebenaran. Semua sama seperti waktu yang terus berputar tanpa henti. “Untuk itu, semuanya sudah berakhir. Ya, sudah berakhir. Tidak ada lagi kesedihan, tidak ada lagi intimidasi, tidak ada lagi. Kami menyadari, perbuatan kami hanya lah kesenangan semata, dan kami sadar jika itu terjadi pada kami, itulah yang akan kami rasakan. Kami juga belajar apa artinya dalam satu lingkup. Mengubah perspektif dan yang paling penting adalah kebersamaan karena akan selalu ada hari yang baik ketika kebersamaan itu ada.“ Kata – kata bijak ben tampaknya membangkitkan jiwa kesenangan dan meyakinkan vlinder akan kata – katanya. Dari otak yang keras kepala menjadi pemikiran orang dewasa.
Mati.
Setelah mengklik. Galen sengaja memutuskan kamera yang terhubung ke proyektor polisi. Selama galen memantau polisi dari cctv melalui komputernya, menurutnya, sampai disini sudah cukup pengakuan kesalahan dari pembully itu. Sebelum beranjak, ben ungkapan rasa senangnya dengan senyum sedih yang ia tutupi. Semua sudah berakhir dan selesai. Galen menyeka air matanya segera. “Sudah cukup.” Lalu bergabung dengan teman-temannya, bukan, melainkan lurus terus mendekati tahanan. “Kalian tidak perlu lanjutkan lagi. Gue harap seperti yang kalian ucapkan tadi bukan omong kosong.” Entah kenapa semuanya terasa canggung. Tidak ada tanggapan. Ben seperti memikirkan sesuatu, dia hanya diam dengan menundukkan kepalanya.
Dengan keberanian luffy menghampiri ben dan berdiri di hadapannya lalu mengulurkan tangannya. “Teman.”
Dibenak ben, tak menyangka luffy masih menganggap dirinya teman. Dengan tegasnya ben menerima tangan itu dengan senyum simpul. “Teman.” Inilah yang namanya perdamaian. Tak sia – sia semuanya telah berhasil dan bisa kembali seperti semula. Begitu juga devin dengan jiro, marco dengan raihan, alex dengan boy, elvan dengan maikel, dan alvaro dengan bayu saling berjabat tangan.
“Maaf sudah membuat lu seperti ini.” Ucap marco tidak enak hati sudah membuat teman sekelasnya ditahan selama beberapa hari ini.
Raihan terkekeh. “Tidak apa – apa. Sepertinya gue harus mandi.”
“Hehehehe.” Balasnya lagi sambil menggaruk – garuk kepalanya padahal tidak terasa gatal.
“Sumpah gue benar – benar bersalah banget sama lu, gue sudah salah paham sama lu, kalo lu yang melaporkan ke guru. Seharusnya gue gak berlebihan sampai gue nyuruh anak – anak untuk menjauhi lu.” Bayu juga merasa bersalah dengan alvaro, dan tidak tahu lagi harus dengan cara apa dia menebus kesalahannya.
“Its okey. Itu masalah sederhana. Lu tinggal meluruskan saja nantinya.” Balas alvaro.
__ADS_1
“Ha... Lu benar.” Angguk bayu.
“Jujur, sebenarnya gue iri dengan kemampuan lu, gara – gara gue mencuri perangkat hasil buatan lu, lu selalu kehilangan nilai.” Kenzo memasang wajah bersalahnya lagi pada galen.
Dengan cepat galen membalas. “Tidak apa – apa.” Sambil menepuk – nepuk pundak kenzo. “Gue juga sadar, sebenarnya gue terlalu egois yang tak pernah mengajarkan kepada teman sekelas gue sendiri. Jadinya, gue menang sendiri.”
Kenzo hanya mengangguk. Lalu muncul sepintas pertanyaan. "Bagaimana dengan kalian?" Pertanyaan itu terdengar ke lain.
“Mereka akan segara datang.” Balas galen.
“Siapa?” Tanya ben tiba – tiba.
“Ayah mu. Gue sudah memberitahu keberadaan kalian di sini.” Balas galen.
“Kalian menyerahkan diri pada polisi?!” Tanya kenzo terkejut.
Sepuluh teman sd-nya yukari ikut merasakan kesedihan melihat yukari tertidur di paha mirai dengan kondisi sekarat. Mereka tidak sempat untuk meminta maaf kepadanya.
"Bagaimana kondisinya?" Datang - datang luffy menanyakan kondisi yukari pada mirai dengan penuh kekhwatiran.
Sedari tadi mirai hanya menangis tanpa berbuat apa – apa. “Jantungnya masih berdenyut, tapi samar.”
“Kalau begitu kita bawa dia ke rumah sakit sekarang juga!” Tegasnya pada yang lain. “Cepatlah!” Tapi tidak ada satupun yang bergegas menggotong yukari. Teman – temannya hanya menundukkan kepala sambil menangis. Dengan geram luffy mencengkeram baju alvaro dihadapannya di depan yukari terbaring. “Lu sengaja?! Ha? Gak ada banyak waktu hanya untuk menangis disini.” Sesekali melirik juga ke devin dan alex.
Bertentangan dengan itu, mirai di sampingnya menatap luffy dengan ekspresi kesal. Jika yukari sudah seperti ini, itu berarti tanda bahwa dia akan pergi untuk selamanya dan tidak ada lagi kesempatan, tapi luffy masih saja tidak mengerti.
Sebuah tangan dingin tiba – tiba memegang pergelangan tangan luffy. Disitu yukari membuka matanya dan tangannya melepaskan tangan luffy dari baju alvaro yang dia cengkeram. “Tidak perlu pakai emosi.” Balasnya dengan suara serak. Meski samar – samar, yukari masih bisa melihat sekelilingnya sedang mengerumuni dirinya. “Sudah selesai?”
__ADS_1
Mirai mengangguk – ngangguk dengan senyum kebahagiaan dan melegakan hati semua orang. “Ya... sudah berakhir.”
Yukari tersenyum simpul. “Aku harap kalian akan selalu bahagia.” Detik itu air mata mirai jatuh tepat di pipi yukari. Perlahan tangan kanan yukari menghapus air matanya. “Jelek.” Mirai menggenggam tangannya dan menghapus air matanya sendiri. Yukari tersenyum yang kedua kalinya. Lalu bola matanya perlahan melihat ke atas seperti melihat bayangan malaikat maut sedang menjemputnya. “Mirai, oliv, hazel, temari, devin, galen, marco, luffy, alex, elvan, alvaro.”
“Ya.” Ucap mirai dan hazel.
“Aku disini.” Ucap luffy.
“Ka yukari.” Ucap alex.
“Ada yang harus ku beritahukan pada kalian.” Sambungnya lagi. “Setiap kali aku tidur. Mimpi itu selalu datang. Tidak jelas dan aneh, tapi ketika aku bangun... aku lupa apa yang barusan aku mimpikan. Dokter bilang, aku selalu meneteskan air mata ketika tidur, tapi katanya lagi itu hal yang wajar. Aku harap itu mimpi yang indah dan itu tentang kalian.” Mirai, luffy, oliv, alex, elvan, alvaro, delvin, galen, hazel, marco, dan temari. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menangis. “Apapun yang terjadi, tetap menjadi orang baik.” Semua mengangguk serempak. Yukari senang mendengarnya. “Sayang sekali, disaat – saat seperti ini. Aku meninggalkan kalian.” Temari langsung membekap mulutnya dan menangis di pundak oliv. Oliv menggelengkan kepalanya karena itu tidak benar. “Tapi aku punya kenangan besar bersama kalian semua, jadi itu tidaklah sulit. Semua akan terlihat baik – baik saja.” Batuk. Ini sudah kesekian kalinya batuknya terus bereaksi dan itu membuat semua yang ada disekitarnya khawatir. “Sekarang aku sudah tidak punya penyesalan lagi. Kalian akan tumbuh besar dengan cara kalian sendiri, lakukanlah yang terbaik. Aku masih merasakan kebahagiaan ini dan akan aku kenang di sana, tapi kalian harus melupakan itu.”
“Apa maksud kakak? Kenapa kita harus melupakan semua kenangan dimana kita merasakan kebahagiaan bersama?” Tanya temari.
“Kalian sanggup?”
Diam. Tidak ada yang bisa menjawabnya. “Aku tahu kalian akan diam.” Jika dipikirkan kembali, memang ada benarnya juga. Jika kita ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi akan susah untuk dilupakan. Yukari tersenyum simpul. “Kalian sangat menggemaskan.” Lalu ia memejamkan matanya. Sontak membuat semuanya curiga.
“Kak yukari.” Mirai membangunkannya perlahan. Temari, oliv dan devin juga membangunkannya. Bahkan luffy menghitung satu sampai lima. Dia mengira yukari hanya bercanda. Namun, saat hitungan kelima yukari tidak bereaksi sedikit pun. Disitulah semua mengira yukari telah tiada dan genggaman tangannya sudah melemas. Yukari telah menghembuskan nafas terakhirnya. Tidak ada yang menduga itu adalah kata – kata terakhir yukari. Hanya menangis yang bisa mereka ungkapkan. Sangat sedih, ini benar – benar sangat menyedihkan. Yukari telah pergi dengan semua kebaikan yang telah dia lakukan.
Disaat sedang bersuasana duka tiba-tiba polisi datang. Sekitar dua puluh petugas polisi berhasil menemukan tempat tahanan dan pelaku. Tanpa ragu lagi polisi sudah tahu tahanan mana yang harus diamankan dan pelaku mana yang harus ditangkap. Semua anggota vlinder ditangkap secara paksa, namun yang membuat mereka berontak adalah terpisahkan dari yukari. Awalnya mirai berusaha melindungi yukari walaupun yukari sudah meninggal, tapi polisi harus menangkapnya. Yukari dievakuasi dan akan diperiksa lebih lanjut. Vlinder berteriak sekeras-kerasnya melihat yukari disentuh oleh polisi. Ben melihat hal itu, ada rasa ingin menghampiri temannya, tapi ayahnya menahan dan memerintah untuk tidak ikut campur, karena semuanya akan diurus.
Bagaimana dengan perasaan teman – teman SD-nya yukari? Tentunya perasaan mereka juga terpukul atas kematian seorang teman yang tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menangis.
Markas. Di malam yang sama. Semua tahanan sudah kembali ke orangtua masing-masing dan kembali ke rumah. Jadi, kasus ini sudah selesai, tetapi mengkhawatirkan temannya yang sedang ditangkap polisi.
Satu hari setelah kejadian. Semua telah berakhir. Kembali dengan normal. Bagaimana dengan nasib yukari? Pagi ini cuaca tidak mendukung seperti awan ingin menangis.
__ADS_1
Devin, galen, hazel, marco, temari, mirai, luffy, oliv, alex, elvan, alvaro harus merelakan kepergian yukari walaupun berat rasanya. Berdiri di samping tempat peristirahatan yukari membuat mereka tidak bisa menahan kesedihan ini, tapi mereka harus bisa. Tidak ada kata – kata terakhir yang bisa mereka ungkapkan, biarlah ini tersimpan di lubuk hati meskipun menyakinkan. Ada lagi yang harus mereka lakukan. Bukan berarti apa yang sudah mereka perbuatan kemarin bisa terbebas. Tidak. Ada beberapa polisi ikut berdiri di samping kuburan atau lebih tepatnya membimbing dan menjaga tahanannya untuk memberikan kesempatan yang terakhir kalinya. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab. Itulah yang mereka janjikan. Harus menerima hukuman akibat kasus penculikan. Dan saatnya mereka kembali kepada polisi – polisi itu. “Aku tahu ini sangat berat, tapi kalian semua harus diberi bimbingan.” Ucap salah satu polisi pada luffy dan membimbing jalannya ke mobil van polisi. “Mari.”