
"Udah lah Sha, Lu sama Ash udah gak ada apa apaan kan? Jangan terlalu mikirin cewe yang deket sama dia. Itu hak dia" ucap Laras di chat
"Bener.."
Classmeet ketika hari jumat di tunda karna ada kegiatan bersih-bersih, dan classmeet di lanjutkan hari Senin.
Hari Senin pun tiba…
Laras, Icha, Damian tidak masuk di hari itu. Hanya Raven dan Rafael yang berada di tempat duduk nya masing-masing.
"Sha, nih coklat buat lu" ucap Raven sambil memberikan coklat susu kepada Anisha
"Wahh, tumben nih Rav?"
"Gw lagi ada duit aja, jadi beliin lu coklat. Sebagai tanda terima kasih gw ke lu, karna lu udah jadi sahabat gw yang slalu ngertiin gw".
"Hahaha, yaudah deh thanks ya".
Raven adalah sahabat ku di saat aku memasuki kelas 9. Di hari pertama memasuki kelas 9, aku melihatnya yang duduk sendiri dan terdiam. Aku menghampiri nya dan memulai pembicaraan kita
"Hey, lu kok ga main sama yang lain?" Tanya Anisha penasaran
"Gak, males gw" jawab Raven
"Ohh, lu biasa nya main apa? Moba?" Lanjut Anisha
"Gak, gw main pubg"
"Owalahh, hahaha oke deh"
"Oh ya, gw Anisha. Lu namanya siapa?"
"Ravendra, panggil aja Raven" bisik Raven
"Vivin? Siapa nama lu? Gak kedengeran"
"Raven, nama gw Raven" teriak Raven
"Pfth- sorry, suara lu abisnya kecil sihh gw gak denger Raven" ucap Anisha sambil tertawa kecil
__ADS_1
"Iya, gapapa" jawab Raven singkat
Semakin hari Anisha semakin mengenal Raven dan Raven menganggap Anisha sebagai satu-satunya sahabat perempuan yang bisa mengontrol emosi Raven.
.
.
Tiba- tiba saja Rafael menghampiri Anisha dan duduk di atas meja tepat di hadapan Anisha. Sementara Raven duduk di belakang kursi Anisha
"Eh, Laras sama Al kok sama-sama gak masuk ya? Jangan-jangan….." ucap Rafael
"Hush- jangan ngomong kayak gitu" jawab Anisha sambil memakan coklat
"Yahh Damian gak masuk, gak seru."
"Icha paling males-malesan di rumah nya" "Sha, liat deh" Ucap Rafael sambil menunjukkan sebuah meme di HP nya
"Damian banget kan?" Tanya Rafael
"Pfth- Hahaha iya" jawab Anisha
Rafael mengajak ku berbincang dengan nya, membicarakan hal yang ia ketahui tentang… pengalaman dia saat di hotel, Study tour ke Jogja, dan tentunya ia selalu membuat ku tertawa kencang
"Lu kalau lagi makan pipi nya tembem, imut" ucap Rafael
"Lu ngatain gw gemuk?" Tanya Anisha
"Gak, hahaha" jawab Rafael
Rafael langsung beranjak dari kursi nya dan segera keluar dari kelas, mungkin ia salah tingkah? Hahaha lucunya..
sebelum Anisha mengenal Ash, Rafael sudah duluan menyatakan cinta nya kepada Anisha. Namun karna Rafael ingin hubungan nya dengan Anisha sebatas Sahabat, tapi Rafael yang punya perasaan yang istimewa menyatakan perasaan nya waktu itu.
"Hishh- nge bosenin banget, hari ini"
"Pulang duluan aja kali ya? Hehe.."
"Raven, pulang yuk" ucap Anisha sambil mengajak Raven untuk pulang bareng
__ADS_1
"Ayuk aja, eh lu duluan aja pulang nya " ucap Raven
"Ck- yaudah lah"
"Anisha, pulang sendiri? Mau pulang bareng sama aku ga?" Tanya Rara
"Boleh" jawab Anisha singkat
Malamnya ketika Anisha nge chat Laras..
"Laras.. gw kok jadi punya feeling gak enak sama Ash ya?…"
"Dia.. kayaknya pacaran sama tuh cewe deh.."
"Apa, gw tanya Dhika aja ya?"
"Tanya aja Sha, kalau lu khawatir sama Ash" jawab Laras
Ketika Anisha menanyakan Ash ke Dhika, Dhika pun menjawab..
"Iya, Ash udah punya cewe"
"Barusan tadi pas pulang sekolah, mereka fotbar"
"Kayaknya Adik kelas 7"
"Lu jangan nangis, wkwk"
"Iya, thanks info nya"
.
.
.
"Udah yah Sha.. ikhlasin Ash kalau lu bener-bener sayang sama dia, cinta kan gak selamanya bisa memiliki. Yuk move on! Lu pasti bisa. Redain perasaan lu aja deh, okay Sha?"
"Okay.. thanks Laras"
__ADS_1
Sekarang yang hanya di fikiran Anisha hanyalah teman-teman dekatnya yang slalu peduli dengan Anisha dan fokus mengejar impian nya menjadi seorang Dokter, terkadang jika ada laki-laki yang menyatakan perasaan nya kepada Anisha. Anisha langsung tolak dan tidak ingin mengetahui apapun tentang laki-laki itu.
"Kamu berhasil membuat ku tidak mempunyai rasa lagi kepada laki-laki lain yang datang menghampiri. Karna hati ku sudah tertutup rapat, tidak ada siapa-siapa di dalam sana. Kamu bertanya, kenapa aku bisa seperti ini? Karna di saat aku sudah tulus mencintai mu sedalam apapun rasa di waktu itu. Kamu berhasil membuat ku tidak bisa bernafas, mungkin kamu hanyalah sebuah laki-laki yang memberikan ku materi Tentang keikhlasan dan melepaskan”. Gumam Anisha ketika ia sedang menuliskan ceritanya di sebuah buku khusus untuk Ash