
Setelah berjalan jauh, akhirnya Alzam dan Ash pun sampai ke tempat tujuan mereka. Disana tampak ada dua orang yang menjaga pintu luar, tapi mereka sedang tertidur pulas
Kesempatan yang emas, mereka masuk melalui pintu itu dan terlihat di dalam rumah banyak sekali pintu-pintu dan kamar yang misterius
"Etdah, ini pintu banyak banget kayak ujian hidup" ucap Alzam seraya membuka buka kan setiap pintunya
"Anisha.. dimana ya? Zam gw pengen ke kamar paling belakang. Kali aja Anisha disana" ucap Ash sambil berlari ke arah belakang
"Iyaa dah, si paling bucin sama Anisha" celetuk Alzam
Setelah Alzam membuka kamar itu, ia melihat ada sesuatu yang janggal dari dalam ruangan jadi ia memutuskan untuk memasuki kamar itu dan melihat ke kolong kasur. Sontak Alzam terkejut ia melihat sebuah mayat perempuan di bawah kolong kasur yang sudah membusuk
"Allahuakbar!! Ya Allah, gila.. tuh anak SMA pembunuh kah? Kalau iya.. duh! bisa-bisanya gw ninggalin Ash di kamar belakang sendirian, kenapa dari tadi gw gak nyamperin dia bodoh!" Ucap Alzam sambil berlarian ke kamar belakang
Ternyata suara Alzam terdengar oleh kedua penjaga pintu rumah, Alzam di jegat tidak boleh kabur dari lorong itu sontak dengan kekuatan dan kecepatan yang Alzam punya. Ia melawan kedua anak SMA itu dengan tangan kosong, tapi sayang Alzam kena pukulan yang keras di perut nya sehingga ia sudah tidak kuat melawan mereka.
Sementara di tempat Ash berada, ia sedang berhadapan dengan Aldo yang sudah siap untuk melawan Nya dengan sebuah potongan kayu, Anisha belum juga sadarkan diri jadi Ash menaruh nya di lantai dengan posisi terduduk. Kini Ash tidak memegang alat bantuan untuk melawan Aldo, ia memakai tangan kosong
"Really? Emang.. Lu bisa ngelawan gw pake tangan kosong? Hahaha" ledek Aldo memancing amarah Ash untuk keluar dan segera menyerang nya duluan
"Pfth- coba kita liat aja nanti, siapa yang mati duluan" ucap Ash yang berhasil membuat Aldo menyerang nya, pukulan kayu seakan tak mempan di tubuh Ash bahkan kayu itu pun patah ketika Aldo memukul nya. Aldo tak menyerah dan membuat tangan nya menggengam sebuah kaca besar, ketika Ash sedang berusaha membuka ikatan tali di lengan Anisha
Prang!! Suara pecahan kaca pun terdengar hingga seisi lorong rumah
"See? Mungkin yang akan mati duluan itu Lu Ash!" Ucap Aldo
Di saat mereka bertengkar Anisha sadar jika ada suara pukulan keras dan ada suara pecahan kaca, ia membuka matanya sontak ia terkejut Ash di pukul pakai sebuah kaca besar oleh Aldo. Pukulan nya mengenai kepala Ash, yang membuat Ash pingsan dan terjatuh di hadapan Anisha
"A-ash?.. kepala kamu berdarah.." bisik Anisha sambil mengangkat kepala Ash dan menaruh nya di pangkuan Anisha
"Hah.. Anisha.. akhirnya kamu sadar juga, aku khawatir.." ucap Ash seraya menghela nafas
"Ugh!! Ash bisa lihat Anisha dengan jelas kan? Ya kan Ash? Kepala Ash mengalami pendarahan.." tanya Anisha khawatir
"Sedikit.. buram, Ash boleh kan tidur sebentar aja.." ucap Ash yang dari tadi ingin memejamkan matanya seakan ia sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang ia rasakan
"Tapi janji yah sama Anisha, nanti kalau aku udah beresin anak-anak SMA ini.. kita pulang bareng-bareng yah?" Ucap Anisha sambil mengelus kepala Ash perlahan
"Iyah.." jawab Ash dan ia segera memejamkan matanya.
__ADS_1
Anisha bergegas menaruh Ash di tepi ruangan itu, mengelus kepala nya untuk yang kedua kalinya dan mengatakan "tenang ya sayang, semuanya akan baik-baik saja.."
"Hmm, ohh jadi ini rencana kakak? Membunuh gw atau Ash? Atau mungkin.. keduanya untuk di jadikan santapan makan malam kalian ya? Organ kami di perjual belikan? Sayangnya.. kakak berhadapan dengan orang yang salah. Salah satu dari kami memang lemah, tapi.. apakah kakak tau? Aku sudah tidak tahan untuk membunuh kakak" ucap Anisha sambil mendekati Aldo dan mencekik leher nya sekuat tenaga yang Anisha punya
"Kh- lepasin! Gw gak bisa nafas" ucap Aldo yang sudah hampir kehabisan nafasnya
"What? I Can’t hear you, do you want to die? Of course i will make you die" ucap Anisha yang semakin kencang mencekik Aldo
"Anisha Stop! Jangan buat dia mati, kita bisa lapor dia ke polisi dan.. dia bisa di penjara. Itu lebih baik, daripada lu jadi pembunuh gini.." teriak Alzam
Ucapan Alzam membuat Anisha terhenti melakukan pencekikan terhadap Aldo, lalu Aldo pun terjatuh dan nafas nya tergesa gesa
"Pfth- Jangan pernah bertemu dengan kami lagi dan melukai salah satu diantara kami. Understand?" Ucap Anisha
"Understand.. ugh- im sorry" ucap Aldo sambil menarik pergelangan kaki Anisha
"Let me go! Gw gak akan pernah jatuh cinta sama lu, hati ini cuma buat Ash. bye loser"
"Com’on Alzam, bawa Ash ke rumah sakit terdekat. Gw bisa balik sendiri" ucap Anisha
Di perjalanan pulang Alzam menceritakan bagaimana Anisha melawan Aldo kepada Ash, Ash yang sudah hampir kehabisan darah itu masih bisa tertawa mendengarkan cerita
Dari Alzam
"That’s my girl.." celetuk Ash
"Hadeh, lu diem deh darah lu dari tadi keluar mulu. Masih bisa bucin ternyata sama Anisha" ucap Alzam yang sedang memarkirkan motornya di parkiran dekat ruangan UGD
"Masih kuat jalan kok gw, gak usah pake kursi roda". Ucap Ash yang menolak di ambilkan kursi roda oleh Alzam
"Yaudah bagus kalo gitu, sini gw bantu jalan aja. Jangan belagu jalan aja kayak orang mau mati. Kayak zombie tau gak" omel Alzam
Di ruangan UGD Ash menerima donor darah, setelah itu Ash masih disuruh oleh dokter untuk beristirahat di kamar pasien. Alzam menemani Ash sebentar sebelum Anisha ke ruangan nya Ash.
Sementara di tempat nya Anisha, ia hampir membunuh mereka bertiga. Untung saja polisi datang untuk menangkap mereka, polisi dapat panggilan dari Laras. Laras pun menghampiri Anisha yang sedang melamun dan terduduk di tanah
"Sha.. are you okay?" Tanya Laras khawatir
__ADS_1
"Hm.. im okay" jawab Anisha
"Jangan takut sama gw ya Ras, gw kalau udah ada orang lain yang nyakitin seseorang yang gw sayang. Mereka bakalan kehabisan nafas dan darah.. " "tapi gak sampe mati juga, hahaha" lanjut Anisha sembari tertawa kecil
"Ng.. iya Sha, gw gak takut kok. Justru gw salut ternyata lu berani banget ya melawan kakak kelas yang jauh umur nya sama lu. Kerenn" "sekarang pulang yuk? Atau mau jenguk Ash di rumah sakit?"
"Ke rumah sakit" jawab Anisha singkat
Mereka berdua pun ke rumah sakit yang di tempati oleh Ash, setelah sampai di kamarnya Anisha pun berlari kecil ke arah tempat tidur Ash dan langsung memeluk nya erat.
"Eh- Sha.. aku baru sadar lho.." ucap Ash
"Heum, Sha tau tapi aku khawatir.." jawab Anisha sembari mendekap Ash
"Hadeuh, gw balik ya Ash ntar gw jadi nyamuk disini. Gws ya bro" ucap Alzam sembari meninggalkan ruangan
"Yoi, thanks zam" jawab Ash
"Hehee, Sha gw juga pengen balik.. bolehkan?" Tanya Laras
"Ee.. yaudah deh, ntar gw balik sendiri aja. Tiati ya ras, thanks juga udah bantuin gw" ucap Anisha
"Masama Sha, gw balik ya" ucap Laras meninggalkan ruangan
Mereka berdua tiba-tiba saja canggung dan terdiam membisu. "Eum, Ash.. udah makan?" Tanya Anisha
"Belum hehe.." jawab Ash meledek sembari tertawa kecil
"Gak mau makan, kalaupun mau. Mau nya disuapin hehe.." lanjut Ash
"Haha, manja" jawab Anisha yang sedang bersedia untuk menyuapi Ash.
Disisi lain atau lebih tepatnya di mana Aldo berada yaitu di penjara. Mereka merencanakan pembunuhan untuk Anisha, mengapa Anisha?
"Lu tau kenapa gw pengen banget, bunuh Anisha? Atau Ash?" Tanya Aldo kepada kedua temannya
"Karena, lu mau rebut harta nya Anisha kan? Secara nenek nya punya perusahaan yang di warisin buat dia. Tapi kenapa lu bunuh bukan nya di nikahin?" Jawab salah satu temannya
"Ohh.. ya juga, rasanya gw punya ide bagus setelah Anisha lulus dari SMP gw bakalan ancam dia. Secara dia kan gak satu sekolah lagi sama Ash, Hahaha" ucap Aldo sambil tertawa jahat.
__ADS_1